Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk kesekian kalinya mengumumkan pentingnya efisiensi anggaran untuk mengantisipasi gejolak ekonomi akibat perang di Timur Tengah. Berkali-kali ia menyebut anggaran operasional kementrian dan lembaga akan disunat sampai 10 persen. Purbaya yakin yang akan dipotong adalah pos yang memang bisa ditunda.
Misalnya, rapat yang tidak
efektif, perjalanan dinas, program yang tidak berdampak signifikan pada
pertumbuhan ekonomi, penundaan proyek infrastruktur multi-years. Program MBG (makan
bergizi gratis) juga akan diubah dari 6 hari menjadi 5 hari seminggu. Program
MBG menjadi 5 hari sudah menghemat Rp 40 triliun per tahun.
Mulai bulan ini, tepatnya 10
April kemarin, ada efisiensi dari mobilitas dan operasional aparatur sipil
negara (ASN) dengan bekerja dari rumah, Work From Home (WFH), Potensi penghematan dihitung Rp 6,2 triliun hanya
dari konsumsi BBM saja. Belum dari penghematan energi dan operasional karena
kantor sebagian tutup. Opsi lain yang sedang dikaji Menteri Purbaya adalah pemotongan
gaji menteri/wakil menteri. Purbaya bilang: “itu gak ada masalah”, tapi diakuinya yang
terakhir ini belum mendapat persetujuan Presiden Prabowo.
Apakah Purbaya memang konsisten dengan efisiensinya ini?
Coba kita periksa. Selasa lalu (7 April 2026) ia menyebut dengan kalimat: “Perjalanan
luar negeri pejabat-pejabat dihilangkan, kecuali kepepet banget.” Ada dua penjelasan
di sini. Pejabat itu paling tinggi Menteri dan kepala badan, bukan presiden.
Lalu tugasnya demikian penting alias “kepepet banget”. Jadi bukan membatasi
perjalanan ke luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Kita tahu, presiden memang gemar ke luar negeri. Prabowo
Subianto dilantik 20 Oktober 2024. Sampai awal April 2026 (sekitar 18 bulan
pertama jabatan), ia sudah melakukan 49 kali kunjungan luar negeri ke berbagai
negara. Bahkan ada beberapa negara dikunjungi lebih dari sekali. Ini rekor
tertinggi dibandingkan presiden sebelumnya di periode awal jabatan. Misalnya
Jokowi tahun pertama hanya 7 kali, SBY sekitar 10 kali. Purbaya berdalih, kunjungan
presiden termasuk diplomasi strategis, menarik investasi, mengikuti konprensi
tingkat tinggi, hubungan bilateral yang harus dijaga yang semuanya dianggap
prioritas negara. Semua itu tergolong “kepepet banget”.
Namun efisiensi di program yang lain, apakah tergolong
“kepepet” juga? Gudang Badan Gizi Nasional (BGN) kini dipenuhi motor trail listrik.
Motor itu untuk mendukung operasional program MBG khususnya dibagikan kepada Kepala
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau “kepala dapur” MBG di daerah yang sulit
dijangkau. Jumlah motor Listrik itu sudah ada 21.801 unit dari rencana 25.000 unit yang
dipesan. Motor itu belum didistribusikan. Kasus ini menjadi viral karena
Menteri Purbaya tak tahu menahu ada pembelian itu.
Bagaimana penjelasannya? Pada tahun 2025 BGN mengusulkan anggaran untuk program pengadaan motor listrik dan komputer untuk Kepala SPPG. Tujuannya: mendukung logistik penyaluran makanan di daerah terpencil.
Purbaya yang dilantik September
2025 menolak usulan dalam jumlah besar tersebut. Alasannya: efisiensi anggaran.
Anggaran MBG harus diprioritaskan untuk beli bahan makanan, bukan kendaraan
operasional. Purbaya bilang mitra bisnis MBG sudah untung cukup, seharusnya
mereka yang menyediakan fasilitas sendiri. Enak saja motor kok ditanggung
pemerintah.
Meski anggaran ditolak namun pengadaan tetap “terlanjur” masuk
APBN 2025: Motor itu tetap dibeli bertahap sejak Desember 2025 lewat mekanisme
e-purchasing pemerintah. Sampai awal April ini sudah 21.801 unit motor itu
tersimpan di Gudang BGN. Ketika fotonya viral di media sosial Purbaya mengaku
kaget. “Tahun lalu sempat kita nggak mau, kita tolak untuk beli komputer dan
beli motor yang terlalu banyak. Yang tahun ini saya enggak tahu, nanti saya
akan cek lagi,” kata dia.
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris menyatakan akan
memanggil BGN untuk meminta pertanggungjawaban. Ia menyebut jika pengadaan
tetap jalan meski sempat ditolak Kemenkeu, itu bisa jadi pelanggaran tata
kelola anggaran negara. BGN sendiri mengakui, cepat-cepat beli motor karena
harganya “lagi promosi”. Hanya Rp 42 juta per unit sementara harga pasar Rp 52
juta per unit.
Kok bisa Purbaya tidak tahu
pembelian itu padahal sudah pernah ditolak? Sebagai Menteri Keuangan, Purbaya
bertugas menyetujui revisi usulan anggaran dan menjaga disiplin fiskal secara
keseluruhan. Penolakan Purbaya tahun lalu tidak disertai “memblokir total”
karena anggaran akhir tetap disetujui DPR. Inilah hebatnya program unggulan MBG
yang membuat orang takut melakukan evaluasi. Jika pun nanti BGN dipanggil DPR
itu pun hanya sekadar formalitas. Barangnya “sudah terlanjur” dibeli.
Sama dengan program Koperasi
Desa Merah Putih. Ada serratus ribu lebih mobil pikap dan truck roda enam yang
dibeli dari India tanpa setahu DPR dan instansi terkait. Ketika heboh itu
muncul dan banyak pihak menganggap ini melecehkan industri otomotif dalam
negeri, jawabannya adalah “sudah terlanjur” dibeli. Dari sudut efisiensi memang
kasus mobil untuk koperasi ini tak mengganggu APBN karena uangnya berstatus
utang ke bank BUMN. Beda dengan motor Listrik program MBG yang uangnya terkait
APBN. Namun satu hal yang jelas, efisiensi itu selalu didengungkan sementara
untuk program unggulan Presiden Prabowo semuanya bisa dilanggar dengan dalih
“sudah terlanjur”. Negeri kita memang aneh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar