Sabtu, 10 Juni 2017

Nastika: Tak Percaya Ajaran Weda

APAKAH dalam agama Hindu ada istilah kafir? Istilah kafir menjadi sangat populer belakangan ini karena begitu maraknya pertautan agama dengan politik di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Kafir memang istilah dalam agama Islam. Arti sederhananya adalah orang yang tidak mengikuti ajaran Islam. Dengan demikian bagi orang Islam, orang yang menganut agama lain adalah kafir.

Sabtu, 03 Juni 2017

Tingkah Laku yang Disebut Dosa

APAKAH dosa dan karma buruk itu sama? Ini perdebatan lama secara teologi yang tak pernah selesai tetapi secara umum orang membedakan antara dosa dan karma buruk. Justru keduanya disebut berhubungan dengan argumentasi bahwa karena perbuatan dosa itu yang menyebabkan adanya karma buruk.

Sabtu, 27 Mei 2017

Mengasuh Anak Jadi Suputra

TUJUAN perkawinan dalam ajaran Hindu adalah meneruskan keturunan. Karena itu ajaran Hindu tidak membenarkan adanya perkawinan sejenis lantaran tak akan memungkinkan mendapatkan keturunan dari perkawinan yang tidak normal itu.

Sabtu, 20 Mei 2017

Pemimpin Bersifat Delapan Dewa

ADA sloka yang terkenal dari Kekawin Ramayana ketika Sri Rama memberi nasehat kepada Wibhisana yang diangkat menjadi Raja Alengka setelah tewasnya Rahwana. Itu adalah sloka Kekawin Ramayana XXIV.52 yang bunyinya: Hyang indra yama surya candra anila, kuera baruna agni nahan wwalu, sira ta maka angga sang bhupati, matang nira inisti astabrata.

Sabtu, 13 Mei 2017

Belajar Mempersiapkan Punarbhawa

DALANG wayang kulit paling populer di Bali, Wayan Nardayana, yang dikenal dengan “merk dagang” Cenk Blong sering kali menitipkan pesan-pesan keagamaan dalam pentasnya. Maklum, dia adalah master philsafat agama Hindu lulusan Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Dan salah satu yang sering disebutnya adalah “mari kita belajar untuk menghadapi kematian”.

Sabtu, 06 Mei 2017

Perbuatan yang Tak Tercela

MARI kita lanjutkan ulasan pada minggu lalu. Betapa pentingnya menjaga pembicaraan yang sumbernya dari pikiran yang terkendali. Segala ucapan yang keluar dari mulut kita hendaknya menjadi sesuatu yang menyejukkan dan berguna untuk kehidupan bersama. Namun, adakalanya ucapan yang kita lakukan mengandung kebenaran tetapi tetap membuat sesuatu yang tidak baik. Apa yang terjadi? Mungkin cara mengucapkannya yang salah atau tempat di mana mengucapkannya tidak pas.

Sabtu, 29 April 2017

Jaga Bicara Mulai Dari Pikiran

Pikiran adalah sumber dari segala aktivitas manusia. Pikiran bisa mengembara ke mana-mana tak terpengaruh oleh waktu dan jarak. Dalam cerita-cerita lama, para pujangga menyebutkan pikiran itu ibarat kuda liar, dia bisa berlari ke mana dia suka. Mau memikirkan yang terburuk dan yang terbaik, bebas dilakukan.

Sabtu, 22 April 2017

Mari Mengetuk Pintu Hati

BETAPA pentingnya menyadari dan belajar mengenal diri sendiri, terlebih di dunia yang konon sudah mengalami kemerosotan moral ini. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupan di masyarakat saat ini yang mengharuskan kita untuk mengetuk pintu hati, apa sesungguhnya yang salah. Kekalahan Basuki Tjahaya Purnama di Pilkada DKI Jakarta, misalnya, bisa diambil sebagai contoh untuk belajar. Prestasi kerjanya menakjubkan dan diakui warga Jakarta, tetapi ketika akan dipilih menjadi gubernur maka kepribadiannya juga harus dilihat. Dan Basuki alias Ahok pun menyadari bahwa kepribadiannya sering menyimpang dan ini mencelakakan, yakni, suka bicara kasar di depan umum. Dan Ahok mengakui hal itu.

Sabtu, 15 April 2017

Mulat Sarira di Hari Kuningan

DI Hari Raya Kuningan saat ini, setelah kita berbhakti kepada leluhur di pagi hari, marilah kita melakukan koreksi diri dengan melakukan mulat saria alias introspeksi diri. Mulat sarira ini penting dilakukan untuk membentengi diri kita agar tidak banyak terpengaruh nafsu-nafsu buruk, baik yang masih di dalam pikiran mau pun yang sudah menjadi perbuatan. Bukankah di Hari Raya Kuningan ini kita membuat tamiang di setiap persembahan dan itu adalah simbul kita membentengi diri.

Sabtu, 08 April 2017

Pengamalan Agama Ibarat Sebutir Telur

Om Asato ma sadgamaya, tamaso ma jyotir gamaya, mrtyor m√£mrtham gamaya.

SLOKA di atas kalau diterjemahkan dengan bebas artinya begini: Om Hyang Widhi, bimbinglah kami dari jalan yang tidak benar, menuju jalan kebenaran. Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran, menuju cahaya pengetahuan yang suci. Bimbinglah kami dari kehancuran, menuju kehidupan yang abadi.