Belum ada tanda perang di kawaan Timur Tengah akan berakhir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memang menyebutkan perang akan berakhir dalam dua atau tiga minggu ke depan. Namun ucapan itu disertai embel-embel: karena sebagian target sudah tercapai. Ucapan ini ditangkap sebagai kemenangan sepihak Amerika Serikat. Iran pun bereaksi. Tetap berperang bahkan menolak gencatan.
Ini bukan sekadar perang. Tapi pamer ilmu dan teknologi. Sains dan teknologi tak bisa mandeg. Selalu ada
pembaruan apalagi jika itu dipicu oleh tantangan. Pesawat tempur Amerika
Serikat yang super canggih yang dikenal selama ini tak bisa dideteksi radar
bisa ketangkap juga radar Iran. Dan dijatuhkan. Teknologi di Iran menemukan pesawat
bisa ditangkap radar hanya lewat getaran.
Secara ideal ilmu pengetahuan selalu dikembangkan untuk
memahami alam semesta agar umat manusia bisa memperoleh manfaat untuk
meningkatkan kualitas hidupnya. Berbagai masalah yang dihadapi manusia
diperkecil karena sains yang semakin maju. Alat peledak dibuat untuk
meringankan pekerja tambang. Kapal semakin canggih untuk memperpendek jarak.
Obat dikembangkan terus untuk kesejahtraan penduduk. Tapi kini – dan tentu sudah
lama terjadi – paradok itu muncul karena sains dan teknologi sudah dijadikan
alat perang. Untuk bermusuhan antarumat. Untuk saling membunuh.
Robert Oppenheimer, adalah fisikawan sejati yang sering
dijadikan conoh klasik dalam paradok sains ini. Tokoh ini terlibat dalam Proyek
Manhattan sebuah penelitian berunsurkan nuklir untuk menciptakan bom-bom dasyat
untuk keperluan berbagai hal, terutama proyek tambang. Penelitian utamanya
adalah inti atom. Namun pada ujungnya, bom atom itu diledakkan di Hiroshima dan
Nagasaki, Jepang. Jadilah dua bom sebagai pemusnah masal. Oppenheimer merasa berdosa
berbilang tahun.
Hampir sepenuhnya peralatan perang saat ini, yang di negeri
kita disebut alutsista (alat utama sistem senjata), hasil pengembangan sains
dan teknologi. Radar, rudal, pesawat pembom, drone, serta senjata hipersonik
lahir dari penelitian para pakar komunikasi, navigasi, komputasi. Para ahli
persenjataan kemudian juga mengadopsi
untuk akurasi tinggi, kecepatan dan seterusnya. Teknologi GPS (global
positioning system), satelit, dan semua perangkatnya yang awalnya untuk pengenalan
lokasi dan umumnya dipakai untuk pemetaan bencana, kini dipakai untuk merancang
sasaran rudal. Persenjataan modern dengan teknologi itu yang justru membuat perang
lebih mudah. Resiko gugurnya pasukan tak banyak karena rudal dan drone tanpa
pilot. Korban justru warga sipil, anak-anak dan kaum ibu, apalagi jika rudal
tak sesuai sasaran.
Ilmu pengetahuan memang
"netral" secara inheren — ia hanya alat. Tapi ketika didorong oleh
kepentingan negara, perlombaan senjata, atau keuntungan industri pertahanan, ia
bisa bertolak belakang dengan prinsip kemanusiaan. Yang mengenaskan, ternyata
negara-negara yang kini terlibat perang itu punya teknologi persenjataan yang
canggih. Iran mengandalkan rudal balistik (seperti Shahab-3, Fattah hypersonic,
Emad, Kheybar Shekan) dan drone seperti Shahed-136. Iran sudah meluncurkan
ribuan drone dan ratusan rudal.
Israel pakai drone canggih (Hermes, Heron, Harop loitering
munition). Juga ada pesawat siluman F-35 milik Amerika. Disebut siluman karena
bertahun-tahun dipromosikan sebagai pesawat yang tak bisa ditangkap radar
musuh. Ternyata Iran membuktikan, kecanggihan radarnya sudah tak lagi hanya
mendeteksi gambar tapi getaran. F-35 bisa ditembak sebelum menembak. Entahlah,
karena siapa yang unggul dalam perang yang masih berlangsung adalah siapa yang
ahli berbohong.
Demikianlah, ilmu pengetahuan ibarat pisau bermata dua. Sarana
untuk memperbaiki hidup namun bisa menjadi pemusnah dan kehancuran semesta. Dan
kini, Sabtu 4 April 2026 umat Hindu Nusantara merayakan Hari Raya Saraswati,
turunnya seorang dewi pembawa ilmu pengetahuan. Hari Saraswati dirayakan umat
Hindu se dunia, namun harinya mengikuti budaya setempat.
Apa yang bisa dipetik dari Dewi Saraswati ini? Dewi ini
digambarkan selalu ditemani seekor angsa. Kita tahu, ras angsa dikenal sebagai hewan
yang biasa mencari makanan di tempat kotor, bahkan di air berlumpur. Tapi
lumpur tak masuk ke perutnya. Angsa bisa memilah-milah mana makanan yang sehat
dan mana makanan yang beracun. (Dagelan Srimulat masa lalu: jika makan tirulah
angsa, pilih makanan yang masuk ke perut, mana pernah angsa kena diare).
Ilmu itu harus dikejar. Tapi gunakan untuk kebaikan. Orang mudah dapat ilmu dari merakit bom, tapi kalau bom diledakkan di gereja atau masjid, korban berjatuhan. Para koruptor di negeri ini kebanyakan adalah orang berilmu tapi tak bijak menggunakannya. Maka kebijakan bisa jadi lebih tinggi nilainya dari keilmuan dan karena itu Hari Saraswati juga dirayakan dengan memuja Dewa Ganesha – pengemban kebijakan yang dijadikan lambang Institut Teknologi Bandung. Para tokoh yang terlibat perang di Timur Tengah saatnya lebih bijak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar