04 April 2026

Ilmu Harus Disertai Kebijakan

Belum ada tanda perang di kawaan Timur Tengah akan berakhir. Presiden  Amerika Serikat Donald Trump memang menyebutkan perang akan berakhir dalam dua atau tiga minggu ke depan. Namun ucapan itu disertai embel-embel: karena sebagian target sudah tercapai. Ucapan ini ditangkap sebagai kemenangan sepihak Amerika Serikat. Iran pun bereaksi. Tetap berperang bahkan menolak gencatan.

Ini bukan sekadar perang. Tapi pamer ilmu dan teknologi. Sains  dan teknologi tak bisa mandeg. Selalu ada pembaruan apalagi jika itu dipicu oleh tantangan. Pesawat tempur Amerika Serikat yang super canggih yang dikenal selama ini tak bisa dideteksi radar bisa ketangkap juga radar Iran. Dan dijatuhkan. Teknologi di Iran menemukan pesawat bisa ditangkap radar hanya lewat getaran.



Secara ideal ilmu pengetahuan selalu dikembangkan untuk memahami alam semesta agar umat manusia bisa memperoleh manfaat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Berbagai masalah yang dihadapi manusia diperkecil karena sains yang semakin maju. Alat peledak dibuat untuk meringankan pekerja tambang. Kapal semakin canggih untuk memperpendek jarak. Obat dikembangkan terus untuk kesejahtraan penduduk. Tapi kini – dan tentu sudah lama terjadi – paradok itu muncul karena sains dan teknologi sudah dijadikan alat perang. Untuk bermusuhan antarumat. Untuk saling membunuh.

Robert Oppenheimer, adalah fisikawan sejati yang sering dijadikan conoh klasik dalam paradok sains ini. Tokoh ini terlibat dalam Proyek Manhattan sebuah penelitian berunsurkan nuklir untuk menciptakan bom-bom dasyat untuk keperluan berbagai hal, terutama proyek tambang. Penelitian utamanya adalah inti atom. Namun pada ujungnya, bom atom itu diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Jadilah dua bom sebagai pemusnah masal. Oppenheimer merasa berdosa berbilang tahun.

Hampir sepenuhnya peralatan perang saat ini, yang di negeri kita disebut alutsista (alat utama sistem senjata), hasil pengembangan sains dan teknologi. Radar, rudal, pesawat pembom, drone, serta senjata hipersonik lahir dari penelitian para pakar komunikasi, navigasi, komputasi. Para ahli persenjataan kemudian juga mengadopsi  untuk akurasi tinggi, kecepatan dan seterusnya. Teknologi GPS (global positioning system), satelit, dan semua perangkatnya yang awalnya untuk pengenalan lokasi dan umumnya dipakai untuk pemetaan bencana, kini dipakai untuk merancang sasaran rudal. Persenjataan modern dengan teknologi itu yang justru membuat perang lebih mudah. Resiko gugurnya pasukan tak banyak karena rudal dan drone tanpa pilot. Korban justru warga sipil, anak-anak dan kaum ibu, apalagi jika rudal tak sesuai sasaran.

 

Ilmu pengetahuan memang "netral" secara inheren — ia hanya alat. Tapi ketika didorong oleh kepentingan negara, perlombaan senjata, atau keuntungan industri pertahanan, ia bisa bertolak belakang dengan prinsip kemanusiaan. Yang mengenaskan, ternyata negara-negara yang kini terlibat perang itu punya teknologi persenjataan yang canggih. Iran mengandalkan rudal balistik (seperti Shahab-3, Fattah hypersonic, Emad, Kheybar Shekan) dan drone seperti Shahed-136. Iran sudah meluncurkan ribuan drone dan ratusan rudal.

Israel pakai drone canggih (Hermes, Heron, Harop loitering munition). Juga ada pesawat siluman F-35 milik Amerika. Disebut siluman karena bertahun-tahun dipromosikan sebagai pesawat yang tak bisa ditangkap radar musuh. Ternyata Iran membuktikan, kecanggihan radarnya sudah tak lagi hanya mendeteksi gambar tapi getaran. F-35 bisa ditembak sebelum menembak. Entahlah, karena siapa yang unggul dalam perang yang masih berlangsung adalah siapa yang ahli berbohong.

Demikianlah, ilmu pengetahuan ibarat pisau bermata dua. Sarana untuk memperbaiki hidup namun bisa menjadi pemusnah dan kehancuran semesta. Dan kini, Sabtu 4 April 2026 umat Hindu Nusantara merayakan Hari Raya Saraswati, turunnya seorang dewi pembawa ilmu pengetahuan. Hari Saraswati dirayakan umat Hindu se dunia, namun harinya mengikuti budaya setempat.

Apa yang bisa dipetik dari Dewi Saraswati ini? Dewi ini digambarkan selalu ditemani seekor angsa. Kita tahu, ras angsa dikenal sebagai hewan yang biasa mencari makanan di tempat kotor, bahkan di air berlumpur. Tapi lumpur tak masuk ke perutnya. Angsa bisa memilah-milah mana makanan yang sehat dan mana makanan yang beracun. (Dagelan Srimulat masa lalu: jika makan tirulah angsa, pilih makanan yang masuk ke perut, mana pernah angsa kena diare).

Ilmu itu harus dikejar. Tapi gunakan untuk kebaikan. Orang mudah dapat ilmu dari merakit bom, tapi kalau bom diledakkan di gereja atau masjid, korban berjatuhan. Para koruptor di negeri ini kebanyakan adalah orang berilmu tapi tak bijak menggunakannya. Maka kebijakan bisa jadi lebih tinggi nilainya dari keilmuan dan karena itu Hari Saraswati juga dirayakan dengan memuja Dewa Ganesha – pengemban kebijakan yang dijadikan lambang Institut Teknologi Bandung. Para tokoh yang terlibat perang di Timur Tengah saatnya lebih bijak.

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar