Dampak perang antara Israel yang bersekutu dengan Amerika Serikat melawan Iran sudah nyata dirasakan berbagai negara. Perang di kawasan sumber minyak itu telah membuat krisis energi. Pasokan minyak terhenti di Selat Hormuz yang dikuasai Iran.
Filipina sudah menerapkan kerja 4 hari dalam seminggu bagi pegawai pemerintah. Juga penghematan energi di kantor dengan mengecilkan suhu air pendingin. Mematikan komputer di saat istirahat. Sri Lanka juga begitu, memilih empat hari kerja dengan tambahan libur hari Rabu. Ada pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) untuk mobil pribadi maksimal 15-25 liter dan truk 20 liter per minggu. Pembatasan serupa terjadi di Bangladesh dan Myanmar dengan pola berbeda. Di Myanmar diterapkan sistem ganjil genap berdasarkan nomor plat kendaraan pribadi. Jadi hanya separoh mobil yang bisa keluar setiap hari.
Apa langkah pemerintah kita? Ada rencana melakukan pekerjaan
dari rumah (work for home – WFH) untuk pegawai negeri yang tugasnya bukan di
bidang pelayanan. Sama seperti di negara lain, kerja di kantor hanya 4 hari. Tentang
harinya diserahkan masing-masing daerah. Kecendrungan dipilih hari Jumat. Mayoritas
penduduk kita Muslim sehingga leluasa menjalankan ibadah sholat Jumat. Lagi
pula berendeng liburnya dengan Sabtu dan Minggu. Namun, pemerintah provinsi
Jawa Timur sudah memutuskan bukan hari Jumat. Tapi memilih Rabu seperti Sri
Lanka. Tak disebutkan alasannya, namun diduga jika memilih WFH di hari Jumat
dikhawatirkan “libur panjang” itu justru orang kepingin piknik. Hemat BBM jadi
tak kesampaian. Siapa yang mengawasi?
Sebelumnya ada usulan anak sekolah belajar dari rumah secara
daring (dalam jaringan). Persis saat wabah Covid. Tapi bagaimana dengan program
makan bergizi gratis (MBG) yang dapurnya sudah ribuan lebih ini? Ditutup
sementara? Pemberian gizi tak boleh terputus, kata pejabat di badan gizi
nasional. Lalu kedua program digabung, anak didik belajar daring tapi wajib
(atau orang tuanya) datang ke sekolah mengambil jatah MBG.
Seharusnya orang tertawa dengan program gabungan ini. Orang
Jawa bilang, ini program “paling gendeng bin edan”. Bagaimana bisa hemat BBM?
Untunglah kemudian Menko Pembanguan Manusia dan Kebudayaan Pratikno membatalkan
ide ini. Dan Menteri Pendidikan Prof Abdul Mu’ti memberi penjelasan dengan cara
waras: pendidikan yang terbaik dengan metode tatap muka antara guru dan murid. Catatan
penting dari ide konyol ini adalah selain tak ada kordinasi antar kementrian,
program apa pun yang ujungnya menghentikan MGB harus dikesampingkan. Punya
dapur MBG adalah karunia, setiap hari ada Rp 6 juta insentif yang membuat
pemilik dapur bisa jogged-joged.
Ide teranyar dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Bahlil
dengan serius meminta agar para ibu-ibu mematikan kompornya jika selesai
memasak. Apa yang salah dari pernyataan ini? Kenapa Balil dihujat ribuan
nitizen? Mungkin tata bahasa lisan Menteri ini kurang pas atau dia memang tak
tahu apa itu kompor. Tapi bisa jadi pula pemerintah sesungguhnya panik
menghadapi krisis energi dan belum menemukan langkah antisipasinya. Padahal
masyarakat sendiri justru tidak panik.
Mumpung masyarakat belum panik harusnya ada langkah yang
lebih kongkrit ke depannya ketimbang imbauan mematikan kompor selesai masak. Jangan
tergantung BBM dari Timur Tengah. Apalagi pernyataan dari pemerintah Iran bahwa
ada sejumlah tanker milik negara lain yang dibolehkan melalui Selat Hormuz tapi
Indonesia tak masuk dalam daftar.
Percepatan program biodiesel. Dengan meningkatkan B40 (40%
biodiesel dari sawit) ke B50 di semester kedua 2026 ini akan mengurangi
pemakaian solar yang harus diimpor. Sedangkan untuk pengganti BBM nonsolar bisa
dikembangkan lebih serius penggunaan motor dan mobil listrik. Lalu program
transportasi umum harus digalakkan. Jakarta adalah contoh yang baik di mana
setiap Rabu seluruh pegawai menggunakan transportasi umum. Kenapa daerah lain
tak menirunya?
Soal motor dan mobil listrik pemerintah hanya gencar
menganjurkan namun kurang memberi pelayanan terutama sarana mencharge baterai.
Memang PLN sudah menyediakan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum)
saat libur lebaraan kemarin yang tersebar di Jawa, Sumatra dan Bali. Tapi itu
belum cukup dan membuat cemas bepergian jauh.
Untuk motor listrik charge baterai sebenarnya bisa sederhana
dan dilakukan di rumah. Cukup colokan biasa. Masalahnya adalah daya yang
minimum 7.700 VA. Biaya pemasangan bisa sampai Rp 20 juta. Kenapa PLN tak
memperbanyaknya di SPKLU? Lagi-lagi alasan klasik, dana tak ada. Padahal
pemerintah sadar salah satu langkah strategis jangka panjang untuk kurangi
ketergantungan impor solar dan bensin adalah transportasi bersumber listrik.
Jika program MBG bisa dievaluasi (sasarannya hanya untuk yang membutuhkan saja) lalu dananya disisihkan untuk membangun SPKLU atau cuma tempat charger baterai kelas motor listrik, kita tak terlalu khawatir dengan perang Irak-Israel.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar