Inilah hari-hari yang penuh berkah, bulan yang istimewa buat semua pemeluk agama. Bukan cuma untuk umat Islam yang memasuki bulan suci Ramadan, tapi juga untuk umat beragama lainnya. Dimulai umat Konghucu yang merayakan Tahun Baru Imlek hari Selasa lalu. Sehari kemudian umat Hindu merayakan Mahasiwaratri di Candi Prambanan, Yogyakarta, dihadiri ribuan orang dengan 33 pendeta Hindu se Nusantara. Ini ritual pertamakali di Prambanan setelah candi yang berstatus benda cagar budaya itu dinyatakan sebagai tempat ibadah Hindu pada 2022.
Di hari yang sama dengan perayaan Mahasiwaratri itu, umat muslim Muhamaddiyah memulai ritual puasa Ramadan, meski pun pemerintah memutuskan awal puasa baru esok harinya. Kemudian kita tahu bersamaan awal puasa Ramadan versi Muhamaddiyah umat Katolik dan (sebagian) Kristen Protestan merayakan apa yang disebut Rabu Abu. Dan nanti, pada saat umat Muslim takbiran menyambut Idul Fitri umat Hindu merayakan Tahun Baru Saka yang dikenal dengan sebutan Nyepi. Diselingi dengan Hari Paskah yang merupakan rangkaian Rabu Abu, bulan berkah ditutup umat Buddha merayakan Hari Waisak.
Ada persamaan dari ritual keagamaan yang beragam indah ini.
Yakni dominan berunsurkan puasa. Dalam istilah Hindu disebut upawasa dan bagi
umat Buddha disebut uposatha. Semua puasa itu intinya adalah pengendalian diri
dengan ciri utama tidak makan dan minum siang hari saat matahari masih ada di
langit. Selebihnya adalah pantangan tambahan yang bisa berbeda-beda. Umat Hindu pada Mahasiwaratri ada tambahan pantang
berbicara terutama hal yang tak diperlukan. Ini disebut monabrata. Tambahan
lain tidak tidur yang disebut jagra.
Pengendalian diri di semua puasa itu bisa berarti sangat
luas. Mengendalikan pikiran, mengendalikan ucapan, mengendalikan tingkah lalu.
Mengendalikan ucapan, misalnya, tidak membiarkan mulut berbicara hal-hal yang
tak perlu, pantang melakukan kebohongan, menghindari caci maki dan ujaran
kebencian. Bahasa singkatnya: jaga lisan dengan baik.
Tak ada sanksi untuk pelanggaran jaga lisan ini yang sampai
membatalkan puasa. Berbohong tidak membatalkan puasa Ramadan. Para ulama
menyebutkan, puasanya tetap sah dan orang tersebut tidak wajib mengulang
puasanya. Namun berbohong merugikan karena dapat mengurangi, menghilangkan,
atau bahkan membatalkan pahala puasa. Puasa tetap terlaksana, tapi bisa jadi
"kosong dari pahala” sehingga orang tersebut tidak mendapatkan manfaat
spiritual dari puasanya. Dalam Hindu pun demikian. Masih mengumbar kata-kata
negatif saat upawasa sama artinya dengan berpuasa hanya menunda makan dan tak
mampu mendengarkan kata hati di saat keheningan berpuasa.
Mendengarkan kata hati dalam keadaan hening adalah waktu
yang tepat untuk instrospeksi. Apakah kita sudah melakukan pekerjaan dengan
benar? Apakah kita lebih banyak melakukan omon-omon dan kurang mendengar suara
lain? Seharusnya kesempurnaan pahala puasa yang kita tuju. Caranya, jauhi sifat
yang mengarah pada kebencian, kebohongan termasuk memuji diri sendiri.
Perbanyak mendengarkan suara di sekitar kita.
Mari kita mencari contoh dalam siatuasi kekinian. Apakah
Presiden Prabowo Subianto dalam kasus makan
bergizi gratis (MBG) sudah banyak mendengar apa yang disuarakan rakyat? Atau
Presiden hanya mengulang kata-kata yang telontar dari pembantunya? Berbagai
kejanggalan terjadi dalam proyek MBG. Bukan sekadar anggaran yang tak masuk
akal dan bagaimana mengalihkan anggaran dari program yang tadinya penting atas
nama efisiensi. Tapi juga bagaimana mungkin polisi mendirikan ribuan dapur MBG
di saat reputasinya disorot. Bagaimana bisa terjadi elit parpol ramai-ramai
bikin dapur MBG.
Lalu, sudah adakah evaluasi, bagaimana para anak didik
memperlakukan MBG itu? Misalnya, jatah MBG dicampaknya anak didik karena mereka
lebih suka makanan dari rumah. Lalu demi tidak menimbulkan kehebohan – takut
dituduh menolak MBG dan resikonya besar – makanan dibungkus lalu dibawa pulang.
Untuk siapa? Untuk anjing sehingga lahir istilah Makan Bergizi untuk Guguk.
Mungkin benar ini kasus kecil, seperti halnya keracunan yang disebut hanya nol
koma kosong. Tapi sudah adakah yang mendata? Rakyat takut – dan capek –
bersuara.
Kasus lain, misalnya, soal kebohongan. Presiden ke 7 Joko
Widodo mendadak menyebutkan dia tak setuju UU KPK yang ada sekarang. Saat
Jokowi menjabat, dia tak menandatangani UU itu. Namun, Pratikno menyebutkan hal
berbeda. Sebagai Mensesneg di saat UU itu disahkan, dia tahu persis Presiden
Jokowi menandatangani UU itu. Siapa di antara dua itu, Jokowi atau Pratikno,
yang berbohong? Rakyat dibiarkan menebak-nebak. Pemerintah tak mungkin mengusut
Pratikno, apalagi Jokowi.
Tentu kita capek jika membaca berbagai contoh lain. Namun,
mari kita sesekali mencoba menyempurnakan ibadah puasa kita dengan jaga lisan, pengendalian
diri, dan introspeksi. Supaya puasa kita lebih bermakna, bukan hanya soal
menunda makan dan minum. Selamat berpuasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar