Presiden Prabowo Subianto terharu. Mengucapkan kata sedikit bergetar tatkala menyampaikan kabar bagaimana bangsa kita begitu merasa berbahagia. Masyarakat Indonesia dinyatakan sebagai yang paling bahagia di dunia menurut sebuah survei global. Survey itu berasal dari Global Flourishing Study (GFS), sebuah penelitian kolaborasi antara Harvard University, Baylor University dan Gallup – sebuah lembaga polling global terkenal. Kabar baik ini disampaikan Prabowo pada pidatonya di acara Perayaan Natal Nasional 2025, Senin lalu, di Jakarta.
Jika sedikit dilacak, survei ini bukan baru. Pengumpulan data dilakukan antara rentang waktu 2022 hingga 2024 dan dipublikasikan di jurnal Nature Mental Health pada 30 April 2025. Penelitian melibatkan sekitar 203.000 responden dari sekitar 22 negara, namun Gallup punya data pembanding di hampir 200 negara. Ada lima hal yang dijadikan domain dalam survei ini. Yakni soal kebahagiaan dan kepuasan hidup (happiness and life satisfaction), kesehatan fisik dan mental (physical and mental health), makna dan tujuan hidup (meaning and purpose), karakter dan kebajikan (character and virtue), dan hubungan sosial yang erat (close social relationships). Indonesia mendapat skor tertinggi 8,47 dari 10. Di atas Meksiko, Filipina, Israel, dan Polandia.
Kekuatan Indonesia terletak pada hubungan sosial, rasa
kebersamaan, partisipasi dalam suatu komunitas, dan nilai karakter. Jika
orang-orang ditanya, terutama yang berada di pedesaan, apakah mereka merasa bahagia,
mereka menjawab, ya.
Hubungan sosial yang erat di pedesaan membuat orang merasa
bahagia meskipun hidup sederhana atau masih prasejahtra (ini kata yang dipakai
untuk memperhalus kata miskin). Faktor kebahagiaan tidak diukur dari materi tapi
dari hubungan sosial itu. Masih hidupnya budaya gotong royong, berbagi makanan
dengan tetangga, budaya arisan, kegiatan keagamaan bersama. Ditambah rasa
syukur pada apa yang mereka peroleh dalam kehidupan ini.
Angka kemiskinan memang ada kecendrungan menurun. Ini tentu
bagus bagi pemerintah. Menurut catatan
Badan Pusat Statistik berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang
diterbitkan Juli 2025 penduduk miskin itu 23,85 juta. Menurun dari 24,06 juta pada
September 2024. Secara prosentase ini disebut sebagai angka kemiskinan terendah
sejak 1960.
Secara umum, kemiskinan tentu menurunkan kebahagiaan. Tapi
di pedesaan, kekuatan budaya dan sosial membuat banyak orang tetap merasa bahagia
meski miskin. Ini tak berarti pemerintah alpa mensejahtrakan masyarakat. Justru
wajib bagi pemerintah untuk membahagiakan masyarakat dengan menyertai materi
yang cukup. Maka pemerintah sebaiknya meninjau ulang cara-cara mengentaskan
kemiskinan dengan memberikan bantuan sosial yang bersifat individu. Atau
setidaknya cara ini bukanlah agenda yang terus-menerus tanpa henti. Dengan
pendataan yang tidak akurat dan juga banyak kejanggalan yang terjadi, pemberian
bantuan sosial untuk kaum miskin ini menimbulkan kerenggangan antarwarga.
Sering kali penerima bantuan sosial adalah mereka yang “tidak lagi miskin”
karena data yang dipakai terlambat diperbarui. Sementara mereka yang harusnya
terbantu tidak mendapatkan apa-apa. Belum lagi ada rumor – dan memang terjadi di
beberapa tempat– aparat desa pilih kasih dalam memasukkan data siapa yang
seharusnya berhak dibantu. Memang pemerintah menyiapkan aplikasi dan semua
orang bisa mencek apakah termasuk penerima bantuan atau tidak. Tapi, tak semua
orang desa punya handphone.
Individu penerima program bantuan sosial disebut dengan
istilah Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Dan KPM ini pun dibagi-bagi lagi,
disektor mana mereka mendapatkan jatah bantuan. Ada yang disebut Program
Keluarga Harapan, jumlahnya sekitar 10 juta keluarga yang mendapat bantuan
tunai bersyarat. Ada program Bantuan Pangan Non Tunai, jumlahnya sekitar 18
juta. Mereka menerima beras 10 kg setara Rp 200 ribu setiap bulan. Ada Bantuan
Langsung Tunai penermanya sampai 35 juta mendapat Rp 300 ribu setiap bulan. Ini
yang baru saja diberikan dengan rapel 3 bulan sehingga masing-masing
mendapatkan Rp 900 ribu.
Pemandangan di pedesaan ketika para KPM ini mendapatkan
jatahnya membuat suasana pedesaan seolah berubah. Aura kebersamaan, semangat
gotong royong, ikatan sosial seperti mendadak senyap. Itu terjadi di komunitas
yang warganya rata-rata berkehidupan setara. Ini ada di banyak pedesaan. Kenapa
pemerintah tidak mengentaskan kemiskinan dengan cara lain. Dengan “memberi
pancing” dan bukan “memberi ikan”. Misal, memperbaiki irigasi dan jalan
pedesaan, pupuk gratis dan seterusnya. Terasa lebih adil. Toh jika ada warga
yang kelaparan para tetangga dengan sigap membantu.
Kebersamaan itulah membuat warga bahagia sampai juara pertama se dunia. Menjadi tugas pemerintah bagaimana memperbaiki ini, menjadikan warga bahagia dan sekaligus terpenuhi materinya. Jika ukuran bahagia itu disertai materi yang cukup, peringkat kita sangatlah jauh. Kita belum layak terharu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar