Seorang ibu muda di Bekasi melaporkan ke polisi tentang perilaku suaminya yang melakukan tindak kekerasan. Laporan diterima dengan baik. Tapi ibu itu merasa laporannya tak segera ditanggapi. Ia pun mengaku depresi dan berniat bunuh diri. Niatnya itu dia sampaikan ke petugas pemadam kebakaran (Damkar) melalui pusat panggilan di nomor 112. Petugas Damkar sigap dan mengirim empat petugasnya menemui sang ibu yang kodisinya luka lebam di paha kiri, telinga keluar cairan, dan kepalanya memar.
Terlepas bahwa ibu ini kurang sabar karena polisi perlu waktu memproses kasus kekerasan itu, kesigapan petugas Damkar patut dipuji. Kita tidak sedang menyoroti bagaimana polisi menanggapi laporan masyarakat. Kita cuma mengapresiasi petugas Damkar sangat peka dalam urusan kamanusiaan.
Kisah petugas Damkar menangkap buaya atau ular berbisa yang
masuk ke rumah, bukanlah sekali dua. Pun menyelamatkan anak yang terjepit pagar
di mall, melepas cincin di jari, membebaskan balita yang tersekap di mobil
terkunci. Semua dilakukan dengan sukses. Gratis pula.
“Mending Lapor Damkar Saja”. Kalimat ini sekarang populer di
percakapan grup pepesanan digital dan media online. Instansi seperti apa Damkar
itu? Struktur organisasi ini bervariasi tergantung peraturan daerah setempat,
meski ada pedomannya lewat peraturan Menteri Dalam Negeri No. 16 Tahun 2020
tentang nomenklatur Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Instansi ini di
bawan kendali bupati atau walikota setempat. Tidak ada jalinan organisatoris
antar kabupaten. Jadi bisa berbeda. Ada
yang berada di bawah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), ada pula di bawah
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tergantung maunya Bupati atau
Walikota melihat kebutuhan wilayahnya.
Petugas Damkar tidak memiliki asosiasi profesi di tingkat
provinsi apalagi nasional. Hal ini karena sifat otonomi daerah yang membuat
operasional Damkar bergantung pada kebijakan dan anggaran pemerintah daerah
masing-masing. Jika pun ada koordinasi lintas kabupaten atau provinsi terbatas
pada kebutuhan operasional atau pelatihan bersama.
Tugas pokok Damkar meliputi pencegahan, pemadaman,
penyelamatan, pemberdayaan masyarakat, dan penanganan bahan berbahaya. Ini
disebut Panca Dharma Pemadam Kebakaran. Semuanya terkait dengan api, karenanya
slogan Damkar adalah: “Pantang Pulang Sebelum Padam”. Hanya saja dalam hal
penyelamatan diperluas ke bidang lain seperti kecelakaan lalu lintas, gedung
runtuh, banjir, gempa bumi, dan menangkap hewan buas. Termasuk evakuasi sarang
tawon, barangkali karena evakuasi itu menggunakan asap dan api.
Tidak ada regulasi yang mengharuskan Damkar untuk menangani
isu sosial seperti urusan rumah tangga atau tindak kriminal. Jika petugas Damkar
merespons laporan semacam itu alasannya cuma soal kemanusiaan.
Alasan ini yang membuat petugas Damkar namanya harum sebagai
instansi penyelamat. Kesigapan dan keberhasilan dalam tugas membuat kepercayaan
masyarakat tumbuh. Itu yang mau kita puji, bagaimana membangun kepercayaan dan
menjaganya. Pantang pulang sebelum padam, tidak hanya berlaku dalam mengatasi
kebakaran, tapi juga dalam aksi kemanusiaan secara luas. Kata “padam” adalah
pertanda apa yang dilakukan langsung tuntas hasilnya. Tidak harus ditunggu
berlama-lama.
Dari sudut ini petugas Damkar patut diteladani dalam menjaga
kepercayaan masyarakat. Di bidang apa pun termasuk masalah politik. Presiden
Prabowo, misalnya, acap kali dalam pidatonya mengancam Menteri sebagai
pembantunya, jika bekerja lambat akan diganti. Jika itu diucapkan berkali-kali
sementara tak ada yang dilaksanakan, bagaimana orang percaya? Juga masalah
efisiensi anggaran. Tak boleh rapat di hotel, ulang tahun jangan menghamburkan
uang, dan seterusnya. Tapi kepolisian negara membuat acara besar-besaran dengan
menampilkan defile melebih era Orde Baru, melibatkan ribuan komponen
masyarakat.
Sesungguhnya apa yang dilakukan petugas Damkar dengan
melebarkan unsur “penyelamatan di luar urusan api” adalah kritik keras untuk
instansi yang slogannya mengayomi masyarakat. Masalahnya saat ini kita berada
dalam era kegelapan yang dalam sastra kuno disebut zaman Kaliyuga. Berbagai penyimpangan
kita rasakan seolah itu hal yang biasa. Doa bersama di rumah dibubarkan kelompok
orang padahal Tuhan ada di setiap tempat dan waktu. Pemuka agama mencabuli para
muridnya. Polisi yang harusnya menjaga keamanan masyarakat diajak menanam
jagung. Kementrian Sosial mengurusi Sekolah Rakyat. Penyimpangan ini masih bisa
ditambah.
Membangun kepercayaan masyarakat tidak mudah. Belajarlah
dari petugas Damkar, sigap menerima laporan dan bergerak cepat melakukan
penyelamatan, meski itu hanya melepaskan panci di kepala seorang bocah. Kurangi
omon-omon.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar