Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, Selasa lalu, diterima Presiden Prabowo Subianto di istana. Gus Yahya, panggilan akrab pucuk pimpinan PBNU ini, melaporkan tentang pelaksanaan makan bergizi gratis yang dikelaola oleh PBNU. Tugas mengelola program MBG ini disepakati pada peringatan Hari Lahir ke-102 NU di Istora Senayan, Jakarta 5 Februari lalu. Semuanya berlangsung baik, begitu Gus Yahya memberi pernyataan.
Adapun sasarannya adalah lima juta santri di pesantren-pesantren binaan NU. Kata Gus Yahya sekarang dikembangkan sejumlah titik lagi yang akan disasar. Target yang dibebankan Badan Gizi Nasional (BGN) adalah menjangkau sekitar 1.000 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau biasa disebut dapur MBG. Target itu diharapkan tercapai pada Agustus nanti di lebih dari 400 pesantren besar, sejumlah madrasah, serta pesantren kecil yang berafiliasi dengan NU.
Tak ada informasi yang terbuka berapa PBNU mendapatkan
pasokan dana dari BGN. Dalam kerjasama ini sepenuhnya urusan dapur MBG dari
menggaji para pekerja sampai mencari bahan untuk makanan, termasuk distribusi
dan segala peralatan dapur dikelola mandiri oleh PBNU. Yang sudah jelas makanan
bergizi itu tetap dipatok Rp 10 ribu jatah per porsi.
Kita semua tahu program MBG diluncurkan awal Januari lalu
dengan target hanya 17,9 juta penerima. Namun target itu akan selalu
ditingkatkan setiap bulan dengan capaian pada angka 82,9 juta penerima di akhir
tahun 2025. Anggaran yang semula disediakan Rp 71 trilyun akan dinaikan menjadi
Rp 171 Trilyun.
Anggaran itu akan terus ditambah sampai mencapai angka
ideal. Pada tingkat ideal semua daerah terjangkau dan dananya diperkirakan
antara Rp 360 trilyun sampai Rp 400 trilyun per tahun. Artinya, sehari
dikeluarkan uang Rp 1,2 trilyun. Angka yang luar biasa ini disampaikan langsung
oleh Kepala BGN Dadan Hindayana, orang yang paling bertanggungjawab soal MBG.
Rupanya porsi besar kucuran dana ini dipakai untuk gaji
pekerja yang menyediakan makanan itu. BGN membuat dapur umum dan merekrut
karyawan. Para pekerja ini disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Gaji
mereka berkisar antara Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta per bulan. Sedangkan
pekerja yang berstatus kepala satuan gajinya lebih tinggi, mencapai Rp 19,3
juta untuk periode tiga bulan. Mereka ini direkrut dari masyarakat yang
berada di sekitar dapur umum BGN. Karena itu Dadan Hindayana menyebutkan program
MBG juga bisa mengurangi kemiskinan dengan memberikan pekerjaan dan pendapatan
bagi ibu-ibu yang sebelumnya tidak bekerja.
Dan kini, ormas keagamaan pun ikut kebagian dana MBG.
Terutama PBNU. Disebut begitu karena ternyata ormas keagamaan lain, seperti
Katolik, Kristen, Hindu yang semuanya punya sekolah khusus bernapaskan agama,
tidak mengambil bagian ini. Juga Muhamaddiyah yang sekolahnya bertebaran di
mana-mana. Kenapa tidak tertarik? Tak ada informasi apa pun. Hanya selentingan
terdengar sayup-sayup, mereka tak mau dijadikan sasaran cemoh karena
beranggapan porsi Rp 10 ribu per orang sangatlah mustahil. Suara sayup-sayup
itu, misalnya, sebungkus sate ayam Madura tanpa nasi saja sudah berharga lebih
dari sepuluh ribu, apalagi lalapan ayam goreng. Lalu gizi makanan sepuluh
ribuan itu di mana letaknya?
Jika masalah “tak mungkin bergizi dengan sepuluh ribu
rupiah” menjadi alasan, barangkali perlu dievaluasi bagaimana jika jatah itu
dinaikkan. Sebagai penggantinya dihemat manajemen pengelolaan dapur umum itu.
Libatkan masyarakat pedesaan di lingkungan terdekat dengan sekolah untuk
mengurus program ini. Setidaknya masalah distribusi bisa dihemat ongkosnya. Bisa
jadi pula pekerja di dapur MBG digaji dengan suka rela. “Kerja pengabdian” ini
ada yang menyebutkan akan disambut baik karena para pekerja itu – ibu-ibu
pedesaan – merasa berkepentingan karena yang menikmati adalah orang-orang
terdekatnya.
BGN agaknya perlu melirik hal ini untuk dikaji. Janganlah
terpaku pada hal yang sangat formal di mana BGN hanya bekerjasama dengan lembaga
yang berbadan hukum. Banyak ada paguyuban di pedesaan yang tak diragukan dalam
mengelola masakan masal, terbukti di setiap ada upacara adat mereka dilibatkan.
Keuntungan lain, makanan yang disajikan benar-benar sesuai dengan selera anak
karena bahan dan cara mengolahnya tidak asing bagi lidah mereka.
Banyak yang harus dievaluasi dari program MBG ini jika mau
berlanjut di tengah ramainya kritik agar program ini dihentikan. Anggaran yang
begitu besar sementara gizi yang tak menentu – bahkan mulai ada sajian berupa
biskuit -- tentu akan sia-sia jika hasilnya tak memadai. Niat baik saja tidak
cukup harus realistis melihat apa yang terjadi di tengah asyarakat.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar