12 Juli 2025

Belajar dari Musibah Selat Bali

Kapal Tunu Pratama Jaya tenggelam secara tragis di Selat Bali pada Rabu malam, 2 Juli lalu. Kapal ini berangkat dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk dengan membawa penumpang 53 orang serta 12 kru kapal. Ini sesuai catatan manifes kapal, sebuah angka yang sudah dipastikan tidak sesuai dengan kenyataan. Sudah lazim banyak penumpang yang tak terdaftar dalam manifes.

Masih ada puluhan penumpang yang belum ditemukan meski segala upaya pencarian dikerahkan dengan optimal. Selain kendala cuaca dan arus laut Selat Bali yang deras, tenggelamnya kapal ini memang tragis. Kapal dihantam gelombang tinggi dan air laut masuk dari pintu yang terbuka di ruang mesin. Kapal pun miring dalam gelap gulita setelah mesin mati. Dalam waktu 2-3 menit kapal tenggelam. Tidak sempat membunyikan alarm dan banyak penumpang tak sempat mengenakan jaket pelampung.

Tabiat penumpang di Selat Bali jika berlayar malam hari banyak yang tiduran di mobil. Di kelas ekonomi mau pun VIP (jika ada) kantin sering tutup. Tak ada hiburan seperti siang hari di mana biasanya musik koplo khas Banyuwangi menggebu-gebu. Kapal ini membawa 22 kendaraan, termasuk 14 truk tronton. Masuk akal jika banyaknya penumpang yang belum ditemukan diperkirakan masih ada di dalam kapal.

Ini malapetaka terburuk di Selat Bali, penyeberangan yang tersibuk kedua di negeri ini setelah Merak-Bakahuni yang menghubungkan Jawa dan Sumatra. Dalam situasi normal ada 28 kapal yang beroperasi di Selat Bali. Jumlah itu bisa bertambah sampai 50 kapal di saat libur lebaran. Bagaimana dengan kelayakan kapal? Ini yang seharusnya menjadi perhatian lebih karena kondisi kapal umumnya sudah tua.

Sudah lama ada ide menyambungkan Jawa dengan Bali lewat jembatan mengingat arus deras di Selat Bali dan ombak yang tinggi. Jarak Jawa dan Bali pada bagian yang terpendek hanya 5,1 km jika dari kawasan yang disebut Segara Rupek – berada di utara Gilimanuk. Andai jarak terdekat itu dibangun jembatan maka lebih pendek dibandingkan jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura dengan panjang 5,4 km. Bahkan di Bali sudah ada jembatan laut Bali Mandara yang menghubungkan Nusa Dua, Bandara Ngurah Rai, dan Pelabuhan Benoa. Panjang jembatan tol Bali Mandara 12,7 km dengan 10 km di atas laut.

Gagasan membangun jembatan Jawa Bali sudah muncul pada tahun 1960 oleh Profesor Sedyatmo dari ITB. Gagasan ini bagian dari proyek "Tri Nusa Bimasakti" untuk menghubungkan Sumatra, Jawa, dan Bali. Lama ide ini dilupakan, baru pada 2012 pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali mengusulkan pembangunan jembatan untuk mengatasi kepadatan penyeberangan di Selat Bali. Pada 2020 Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyebutkan potensi kelanjutan jalan tol Trans-Jawa hingga Bali adalah sesuatu yang mendesak. Tapi tak disinggung adanya jembatan laut.  Konon karena biaya yang diperkirakan begitu besar yang disebabkan wilayah ini berada di jalur ring of fire, risiko bencana gempa dan tsunami.

Selain itu ada penolakan berbasis budaya pada sebagian tokoh Bali terhadap gagasan jembatan ini. Menurut mitologi Hindu Bali, selat ini sengaja diciptakan oleh Dang Hyang Sidhimantra, pendeta yang menyebarkan Hindu di Bali, untuk memisahkan Bali dari Jawa guna menjaga kesucian budaya Bali. Jembatan dianggap dapat mengganggu tatanan masyarakat Bali dengan masuknya pengaruh negatif.  Lalu ada kekhawatiran sosial-ekonomi bahwa jembatan akan memicu pendatang dari Jawa yang mengancam identitas budaya Bali. Alasan yang masih bisa dirembugkan jika memang gagasan membangun jembatan itu kuat. Bukankah dengan adanya jembatan itu orang Bali pun lebih lancar untuk mengunjungi para leluhurnya di Tanah Jawa?

Senyapnya gagasan jembatan Jawa Bali saat ini agaknya lebih dominan karena faktor mahalnya membangun proyek ini karena karakter laut yang punya palungan (cekung kedalaman). Betapa pun tetap saja dengan kapal laut lebih murah. Bahkan bisa jadi lebih menarik sebagai selingan penghilang kejenuhan melaju di jalan tol. Orang yang berlibur ke Bali setelah menempuh ratusan kilometer tol di Jawa sejenak bisa santai di Selat Bali dan melanjutkan menjajal tol Gilimanuk – Denpasar yang kini sedang digarap.

Jadi Selat Bali tetap potensi yang tak akan tergantikan. Nah, bagaimana menciptakan keamanan di selat itu, tak ada lain adalah peremajaan kapal dan menertibkan penumpang sesuai aturan pelayaran. Pelampung dan sekoci benar-benar alat pengaman yang tak bisa disepelekan keberadaannya. Ada baiknya meniru pramugari pesawat terbang yang memperagakan alat keselamatan penumpang ketika pesawat sudah di udara. Musibah memang tak bisa diduga.

** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar