Kapal Tunu Pratama Jaya tenggelam secara tragis di Selat Bali pada Rabu malam, 2 Juli lalu. Kapal ini berangkat dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk dengan membawa penumpang 53 orang serta 12 kru kapal. Ini sesuai catatan manifes kapal, sebuah angka yang sudah dipastikan tidak sesuai dengan kenyataan. Sudah lazim banyak penumpang yang tak terdaftar dalam manifes.
Masih ada puluhan penumpang yang belum ditemukan meski segala upaya pencarian dikerahkan dengan optimal. Selain kendala cuaca dan arus laut Selat Bali yang deras, tenggelamnya kapal ini memang tragis. Kapal dihantam gelombang tinggi dan air laut masuk dari pintu yang terbuka di ruang mesin. Kapal pun miring dalam gelap gulita setelah mesin mati. Dalam waktu 2-3 menit kapal tenggelam. Tidak sempat membunyikan alarm dan banyak penumpang tak sempat mengenakan jaket pelampung.Tabiat
penumpang di Selat Bali jika berlayar malam hari banyak yang tiduran di mobil. Di
kelas ekonomi mau pun VIP (jika ada) kantin sering tutup. Tak ada hiburan
seperti siang hari di mana biasanya musik koplo khas Banyuwangi menggebu-gebu. Kapal
ini membawa 22 kendaraan, termasuk 14 truk tronton. Masuk akal jika banyaknya
penumpang yang belum ditemukan diperkirakan masih ada di dalam kapal.
Ini
malapetaka terburuk di Selat Bali, penyeberangan yang tersibuk kedua di negeri
ini setelah Merak-Bakahuni yang menghubungkan Jawa dan Sumatra. Dalam situasi
normal ada 28 kapal yang beroperasi di Selat Bali. Jumlah itu bisa bertambah
sampai 50 kapal di saat libur lebaran. Bagaimana dengan kelayakan kapal? Ini
yang seharusnya menjadi perhatian lebih karena kondisi kapal umumnya sudah tua.
Sudah lama
ada ide menyambungkan Jawa dengan Bali lewat jembatan mengingat arus deras di
Selat Bali dan ombak yang tinggi. Jarak Jawa dan Bali pada bagian yang
terpendek hanya 5,1 km jika dari kawasan yang disebut Segara Rupek – berada di
utara Gilimanuk. Andai jarak terdekat itu dibangun jembatan maka lebih pendek
dibandingkan jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura dengan
panjang 5,4 km. Bahkan di Bali sudah ada jembatan laut Bali Mandara yang
menghubungkan Nusa Dua, Bandara Ngurah Rai, dan Pelabuhan Benoa. Panjang jembatan
tol Bali Mandara 12,7 km dengan 10 km di atas laut.
Gagasan jembatan Jawa Bali sudah
muncul pada tahun 1960 oleh Profesor Sedyatmo dari ITB. Gagasan ini bagian dari
proyek "Tri Nusa Bimasakti" untuk menghubungkan Sumatra, Jawa, dan
Bali. Lama ide ini dilupakan, baru pada 2012 pemerintah Kabupaten Banyuwangi
kembali mengusulkan pembangunan jembatan untuk mengatasi kepadatan
penyeberangan di Selat Bali. Pada 2020 Menteri PUPR Basuki Hadimuljono
menyebutkan potensi kelanjutan jalan tol Trans-Jawa hingga Bali adalah sesuatu
yang mendesak. Tapi tak disinggung adanya jembatan laut. Konon karena biaya yang diperkirakan begitu
besar yang disebabkan wilayah ini berada di jalur ring of fire, risiko bencana
gempa dan tsunami.
Selain itu
ada penolakan berbasis budaya pada sebagian tokoh Bali terhadap gagasan
jembatan ini. Menurut mitologi Hindu Bali, selat ini sengaja diciptakan oleh
Dang Hyang Sidhimantra, pendeta yang menyebarkan Hindu di Bali, untuk
memisahkan Bali dari Jawa guna menjaga kesucian budaya Bali. Jembatan dianggap
dapat mengganggu tatanan masyarakat Bali dengan masuknya pengaruh negatif. Lalu ada kekhawatiran sosial-ekonomi bahwa
jembatan akan memicu pendatang dari Jawa yang mengancam identitas budaya Bali. Alasan
yang masih bisa dirembugkan jika memang gagasan membangun jembatan itu kuat.
Bukankah dengan adanya jembatan itu orang Bali pun lebih lancar untuk
mengunjungi para leluhurnya di Tanah Jawa?
Senyapnya
gagasan jembatan Jawa Bali saat ini agaknya lebih dominan karena faktor
mahalnya membangun proyek ini karena karakter laut yang punya palungan (cekung
kedalaman). Betapa pun tetap saja dengan kapal laut lebih murah. Bahkan bisa
jadi lebih menarik sebagai selingan penghilang kejenuhan melaju di jalan tol.
Orang yang berlibur ke Bali setelah menempuh ratusan kilometer tol di Jawa
sejenak bisa santai di Selat Bali dan melanjutkan menjajal tol Gilimanuk –
Denpasar yang kini sedang digarap.
Jadi Selat
Bali tetap potensi yang tak akan tergantikan. Nah, bagaimana menciptakan keamanan
di selat itu, tak ada lain adalah peremajaan kapal dan menertibkan penumpang
sesuai aturan pelayaran. Pelampung dan sekoci benar-benar alat pengaman yang
tak bisa disepelekan keberadaannya. Ada baiknya meniru pramugari pesawat
terbang yang memperagakan alat keselamatan penumpang ketika pesawat sudah di
udara. Musibah memang tak bisa diduga.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar