Ambisi besar tim nasional (timnas) sepak bola Indonesia melaju ke Piala Dunia 2026 semakin terbuka. Dengan berhasil memenangi pertandingan melawan Cina pada Kamis lalu di stadion Gelora Bung Karno Jakarta, timnas lolos ke putaran empat. Oktober nanti putaran ke empat bergulir.
Gol tunggal kemenangan timnas dihasilkan dari tendangan penalti Ole Romeny menjelang babak pertama berakhir. Siapa Ole Romeny? Dia adalah pemain hasil naturalisasi yang kini bermain untuk klub Oxford United di Liga Inggris. Punya nama lengkap Ole Lennard Ter Haar Romenij, pemain bola usia 24 tahun ini baru 8 Februari lalu menjadi warga negara Indonesia. Dia lahir dan besar di Belanda. Kaitannya dengan Indonesia – konon ini salah satu persyaratan pemain bola bisa naturalisasi -- nenek dari pihak ibunya yakni Helene Wilhelmina Degenaars, lahir di Medan.
Dalam hal karier menendang bola Ole tak punya sejarah dengan
negaranya yang baru ini. Ia sudah mengenal bola sejak usia 8 tahun dan
bergabung di “sekolah bola” NEC Nijmegen, Belanda. Sampai akhirnya dia menjadi
pemain professional termuda di klub liga Belanda (Eerste Divuisie) itu pada
awal 2018. Dari sinilah akhirnya dia pindah-pindah klub. Klub terlamanya di FC
Utrecht sejak Juni 2023. Ole baru bergabung di Oxford United pada Januari awal
tahun ini dan mencetak gol pertamanya di Oxford pada 1 Maret 2025 melawan
Coventry City.
Perjalanan karir bola Ole Romeny secara singkat ini hanya
untuk menjelaskan bahwa PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) tak punya
andil dalam membentuk Ole. Secara sederhana bisa disebutkan, PSSI hanya “membeli”
yang sudah jadi. Di era modern ini pemain bola profesional bisa didapat dengan
mudah, asal punya uang. Entah dengan sebutan naturalisasi, membela negeri
leluhur, atau apa pun termasuk “membeli”.
Apakah itu salah? Bukankah semua klub bola profesional bisa
membeli dan menjual pemainnya lewat bursa transfer? Tak usah jauh-jauh ke Eropa
atau benua lain di mana klub bola sudah menjadi industri yang menggiurkan. Di
klub lokal Nusantara jual beli pemain sudah terbiasa pula. Pemain Persib dibeli
Bali United, pemain Persik dibeli Persija dan seterusnya.
Apakah PSSI yang bukan klub bola juga etis melakukan hal
itu? Ini yang perlu kita renungkan, apakah sebuah organisasi pembina olahraga
yang bersifat nasional dan sedikit banyak menggunakan anggaran pemerintah juga
“berbisnis bola”, membeli (dan menjual) pemain? Orang bisa saja membantah
dipersamakannya naturalisasi dengan “membeli pemain”, tapi bantahan itu
hanyalah di ranah formal. Hanya beda istilah.
Pro dan kontra naturalisasi memang sudah ada sejak munculnya
ambisi timnas harus ikut ajang Piala Dunia. Namun pro kontra ini ibaratnya
hanya berseliweran di lapangan rumput tak sampai di kursi VVIP tribun. Kongres
PSSI 2025 di Jakarta Rabu lalu bahkan sama sekali tak membicarakan hal ini.
Namun ada keputusan tentang revisi statuta PSSI berdasarkan masukan dari daerah
yakni rencana konsolidasi nasional untuk memastikan pembangunan sepak bola
berkelanjutan dan regenerasi. Dari usulan ini tersirat bahwa cara-cara
naturalisasi itu harusnya dijadikan program jangka pendek hanya untuk ambisi ke
Piala Dunia 2026. Juga cara instan bagaimana meningkatkan peringkat timnas di
FIFA. Dua sasaran ini berhasil. Peringkat PSSI sudah di angka 123 (sebelum
mengalahkan Cina) dan target ikut Piala Dunia 2026 terbuka di putaran ke empat.
Haruskah naturalisasi dihentikan? Program jangka panjang harusnya seperti itu – selain memang stocknya sudah menipis. PSSI harus membina klub-klub yang ada dan bagaimana Liga 1, Liga 2 dan Liga 3 begulir dengan baik. Ketentuan bahwa setiap klub punya tim junior (U-16 sampai U-21) harusnya dipertegas. Sekolah sepak bola (biasa disebut akademi usia muda) dipertimbangkan kembali kehadirannya. Dulu kita punya Sekolah Sepak Bola (SSB) Salatiga yang begitu populer dan menghasilkan pemain sekaliber Bambang Pamungkas, Kurniawan Dwi Yulianto, Septian David Maulana dan lainnya. Sekarang sudah tak ada lagi. Kompetisi di kalangan pemain muda seperti Piala Soeratin (U-17) dan
Elite Pro Academy (EPA) untuk kelompok umur U-16, U-18, dan
U-20 menjadi penting dilakukan secara konsisten. Lihat contohnya Ole Romeny dia
lahir dari akademi muda dan terlibat sejak awal di tim junior Belanda.
Jadi, timnas yang didominasi pemain naturalisasi sebaiknya
dijadikan program jangka pendek – dan terakhir. Kita berharap punya timnas yang
benar-benar produk asli lokal. Dan itulah tugas PSSI yang bukan klub sepakbola.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar