Presiden Prabowo Subianto menelepon Menteri Kordinator Muhaimin Iskandar. Prabowo mengabarkan ia tak bisa menghadiri halal bihalal yang diadakan Cak Imin – sapaan Muhaimin. Tapi presiden memberi pesan, rapatkan barisan di kalangan kabinet Merah Putih.
Tak ada penjelasan lanjut tentang marapatkan barisan itu.
Apakah selama ini barisan kabinet renggang orang hanya bisa menerka. Ada yang menduga
kabinet memang terbelah. Satu kelompok masih berkiblat ke presiden sebelumnya,
dalam hal ini Joko Widodo. Satu kelompok total menunggu arahan dan tugas yang
diberikan Prabowo. Bukti yang dimunculkan untuk kerenggangan ini, misalnya, beberapa
menteri sowan sambil minta arahan ke Jokowi di Solo.
Sementara yang berpikir positif berdalih semua itu adalah silaturahmi biasa setelah lebaran berlalu. Bahwa kenapa yang disowani cuma mantan presiden Jokowi dan bukan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau Megawati Soekarno Putri tak diperlukan penjelasan. Lalu berkembanglah diksi matahari kembar.
Sekali lagi ini adalah salah satu bukti betapa pentingnya
Presiden Prabowo punya juru bicara resmi yang memang dekat dan memahami
pemikirannya. Kantor Komunikasi Kepresidenan yang dipimpin Hasan Nasbi adalah
warisan Jokowi menjelang lengser. Tentu Hasan Nasbi dan stafnya tak bisa
diharapkan karena memang bukan “orang Prabowo”. Terbukti pada akhirnya Prabowo
menunjuk Menteri Sekretaris Negara sebagai juru bicara presiden. Jangan-jangan
ini pertanda bahwa matahari kembar itu bukan saja ada di langit-langit kabinet,
tetapi menyeruak ke lembaga lainnya. Para pengamat bilang – tentu tak harus disepakati
– ada juru bicara matahari satu dan ada juru bicara matahari dua. Ditambah lagi
isu matahari satu punya tentara, matahari dua punya polisi. Ini isu lebih
ngeri, tapi memang ada bau-baunya, tatkala peserta Sespim (Sekolah Staf dan
Pimpinan) Polri bertandang ke rumah Jokowi di Solo. Apa juntrungannya calon
perwira polisi itu minta arahan ke Solo dan bukan juga ke Hambalang?
Pertanda renggangnya hubungan Prabowo dengan para
pembantunya sehingga perlu merapatkan barisan berdampak pada dua hal. Yang
pertama, gagasan Prabowo tak utuh sampai ke masyarakat karena tak ada yang
menjabarkan pikiran presiden dengan jelas. Yang kedua, Prabowo tak mendapat
masukan yang benar dari pembantunya. Ada jarak dan ada hambatan komunikasi
langsung antara para menteri dan kepala lembaga dengan presiden yang mengambil keputusan.
Sepanjang yang diucapkan dalam pidato-pidatonya, Prabowo
punya kepekaan yang tinggi tentang kemanusiaan dan ketidak-adilan. Begitu ada
kabar betapa banyaknya anak-anak yang kekurangan gizi, Prabowo langsung
tersentuh dan “harus berbuat sesuatu”. Maka lahirlah gagasan makan bergizi
gratis. Dari mana dananya sementara membayar bunga utang yang dibuat rezim
Jokowi saja kelabakan? Potong anggaran di kementrian dengan program yang
disebut efisiensi. Dalam praktek di lapangan betapa kacaunya program itu. Mana
mungkin makanan bergizi seharga Rp 10 ribu per porsi. Lalu bagaimana mungkin
menjangkau masyarakat pedesaan karena diperlukan biaya lebih mahal lagi untuk
distribusi. Maka program itu lebih banyak dinikmati anak-anak perkotaan.
Keprihatinan Prabowo akan banyaknya anak-anak yang stunting tak terjawab dengan
program ini. Bahkan yang muncul gerutuan di pedesaan: jalanan rusak tak ada
anggaran perbaikan sementara makan gratisnya hanya janji doang.
Dalam kasus presiden yang minim mendapat masukan dari bawah
ada contoh yang pas. Prabowo tersentuh pada anak-anak di Gaza yang menderita
akibat perang. Anak-anak itu jadi korban: kelaparan, perlu obat, dan
seterusnya. Kepekaan Prabowo muncul dengan gagasan mengevakuasi seribu warga
Gaza, khususnya anak-anak. Kepekaan yang bagus. Tapi apakah anak-anak di Papua
yang tertembak kelompok kriminal bersenjata tidak perlu dibantu? Begitu
sulitkah para menteri untuk berdiskusi dengan presiden bahwa gagasan Prabowo mengevakuasi
warga Gaza ini berarti menyepakati usul Presiden Trump agar warga Gaza keluar
dari Palestina? Kita memang harus peka
terhadap korban kejahatan namun kepekaan itu bisa dipilah mana korban yang jadi
prioritas. Tentu yang terdekat yang harus dibantu sementara yang nun jauh di
sana cari gagasan yang lain.
Jadi, bukan saja kabinet harus dirapatkan barisannya, tapi
seluruh warga negara harus merapatkan barisan untuk bangsa yang lebih baik. Dua
matahari jelas bikin panas, satu saja sudah cukup untuk Indonesia yang tidak gelap.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar