Presiden Prabowo Subianto perlu diampingi juru bicara khusus. Juru bicara yang setiap saat bisa menjelaskan pernyataan presiden sehingga tidak membuat pernyataan itu multi tafsir. Di era keterbukaan saat ini bahaya sekali jika apa yang dimaksudkan presiden tidak sampai utuh ke masyarakat.
Misalnya
tentang ide Prabowo yang akan mengevakuasi warga Gaza ke Indonesia. Seribu
orang akan dievakuasi pada tahap pertama. Ini pernyataan serius karena
disampaikan presiden sebelum naik pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma.
Presiden melawat ke lima negara Timur Tengah yang justru terkait dengan
pergolakan di Gaza itu.
![]() |
| Menteri Sekretaris Negara sebagai Jubir Presiden |
Banyak ide-ide
besar Prabowo yang tak sampai di masyarakat karena komunikasi buruk. Pendirian
Koperasi Merah Putih, misalnya. Kenapa koperasi ini harus berdiri dan apa
tujuannya. Lalu diapakan koperasi dan lembaga keuangan yang selama ini dikelola
desa seperti KUD (Koperasi Unit Desa), LPD (Lembaga Perkreditan Desa), BUMDesa
(Badan Usaha Milik Desa. Dan kenapa Menteri Kordinator Pangan Zulkifli Hasan
sebagai pelaksana pembentukannya dan bukan Menteri Koperasi? Juru bicara
pemerintah harusnya menjelaskan hal ini kepada rakyat.
Buruknya
komunikasi publik sudah diakui Prabowo. Tak hanya menyangkut kebijakan
Presiden, juga hal receh yang mengganggu emosi publik. Contoh kecil, soal
Permadi Arya alias Abu Janda yang ramai diberitakan menjadi komisaris anak
Perusahaan PT Jasa Marga. Berhari-hari tokoh kontroversial ini tranding di
berbagai media sosial. Intinya begitu gampang orang menjadi komisaris BUMN
bahkan jabatan itu bisa dirangkap oleh pejabat setingkat menteri atau wakil
menteri. Ada bantahan dari kementrian BUMN tapi karena bukan Menteri Erick
Thohir yang membantah, masyarakat lebih percaya pada pernyataan Abu Janda:
“Doakan dan Insya Allah”. Apakah heboh persoalan receh ini sengaja dibiarkan
untuk menutupi kasus yang lebih besar?
Prabowo
mengambil alih kelemahan komunikasi publik itu sebagai kesalahannya. Tapi, apa
akan ada perbaikan? Entahlah. Yang jelas
tak ada juru bicara pemerintah yang dekat dengan Presiden saat ini. Kantor
Komunikasi Kepresidenan dibentuk oleh Presiden Jokowi pada 15 Agustus 2024 dan
para pejabatnya tentu lebih dekat kepada Jokowi sebagaimana banyak para menteri
melakukannya.
Juru
bicara itu posisi yang penting. Di era Orde Baru tugas itu langsung dipegang
Menteri Penerangan Harmoko. Setiap usai sidang kabinet, Harmoko membacakan apa keputusan
pemerintah termasuk menyampaikan harga cabai keriting di pasar-pasar. Di era Presiden
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ada empat juru bicara pemerintah, yakn Wimar
Witoelar, Adhie Massardi, Yahya Cholil Staquf, dan Wahyu Muryadi. Di masa
Presiden Megawati juga ada empat juru bicara, meski tak resmi. Yakni Pramono
Anung, Sutjipto, Roy BB Janis, dan Bambang Kesowo. Dan di era Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono posisi juru bicara resmi ada. Yang pernah mengisi jabatan ini
adalah Dino Patti Djalal, Andi Mallarangeng, dan Julian Aldrin Pasha.
Periode
pertama Presiden Joko Widodo jabatan juru bicara dipegang Johan Budi, mantan
juru bicara KPK. Periode kedua juru bicaranya Fadjroel Rachman, karena Johan
menjadi anggota DPR. Tapi Fadjroel Rachman terlalu aktifis dan dijadikan dubes.
Kosong lagi juru bicara kepresiden. Ngabalin lebih banyak ambil fungsi tugas
itu tapi dia berstatus pejabat utama di Kantor Staf Kepresidenan. Menjelang
lengser Jokowi lantas membentuk Kantor Komunikasi Kepesidenan dan ini yang
diwarisi Prabowo.
Agaknya
kita perlu mencontoh negara-negara maju di mana juru bicara kepresidenan
jabatan yang penting dan ada dasar hukumnya. Tentu harus diangkat oleh presiden
yang berkuasa, bukan titipan presiden yang lengser.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar