05 April 2025

Berharap Kesantunan Pasca Lebaran

Aroma Idul Fitri atau yang lebih merakyat disebut lebaran mewarnai kehidupan kita hari-hari ini. Tak hanya soal opor ayam, ketupat, dan rendang yang asyik untuk digunjingkan. Juga suasana politik kita yang sungguh adem di hari kemenangan ini. Safari lebaran yang dilakukan para pemimpin, tokoh politik, dan keluarga para pejabat, mengisi ruang-ruang pemberitaan yang bisa tak membuat jenuh soal berita arus mudik dan arus balik. Sungguh indah untuk dinikmati dalam suasana libur panjang. Kantor-kantor pemerintahan baru buka Selasa mendatang.

Sampai berapa lama keindahan ini akan bertahan? Kalau boleh berharap, tentu saja selamanya tetap indah. Kemesraan para tokoh politik dan pejabat pemerintah dalam ajang silaturahmi lebaran ini hendaknya bagai lagu ciptaan Iwan Fals, “kemesraan itu jangan cepat berlalu”.

Kemesraan Didit Prabowo, putra Presiden Prabowo, ketika bertandang ke rumah mantan presiden Megawati, harus berlangsung lama. Setidaknya sampai Prabowo dan Megawati bisa bertatap muka secara langsung. Pejumpaan kedua tokoh itu sudah lama sekali diomongkan dan selalu saja disebut-sebut akan dilakukan dalam waktu yang dekat. Tapi diksi dekat itu sejak awal tahun ini tak pernah benar-benar ada. Puan Maharani, putri Megawati dan Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad,  orang kepercayaan Prabowo, lagi-lagi bicara: “pertemuan Mega-Prabowo akan berlangsung secepatnya, setelah libur lebaran”.

Pertemuan ini penting secara simbolis. Masyarakat punya berbagai tafsir jika pertemuan semacam itu memang terjadi. Bahwa tafsir bisa positif dan negatif itu hal yang biasa, tergantung sudut pandang dan juga kepentingan bagi setiap orang yang berbeda. Bisa ditafsirkan buruk secara politik karena jika PDI Perjuangan bergabung dengan pemerintah maka tamatlah demokrasi kita. Tak ada lagi partai penyeimbang yang mengawasi jalannya pemerintah. Tapi tafsir lain, kebersamaan ini akan membuat kita makin maju karena bisa bersama-sama membangun bangsa yang besar ini. Segala tafsir itu sah-sah saja meski pun dalam pertemuan itu, misalnya, Megawati hanya membicarakan khasiat minyak urut kepada Prabowo. Tak ada urusan dengan rakyat.

Jangankan pertemuan Prabowo dan Mega – kalau memang berlangsung. Silaturahmi Wakil Menteri Tenaga Kerja Immanuel Ebenezer ke markas Front Persaudaraan Islam (FPI) yang diterima dengan hangat oleh Habib Rizieq juga multi tafsir. “Alhamdulillah, ini saya Immanuel Ebenezer memang pendukung Jokowi, tapi inilah indahnya perbedaan," kata Noel, sapaan Ebenezer. Noel tidak menyebut dirinya pendukung Prabowo. Bahkan dia lebih penting menyebut agamanya Kristen. Apa yang sedang terjadi? Sebuah kemajuan dalam merajut perbedaan? Atau upaya untuk membangun koalisi baru, siapa tahu ada kecemasan terancam kekuatan lain. Silakan bikin tafsir sesukanya, termasuk kemungkinan kecil membicarakan soal buruh yang terancam pemutusan hubungan kerja secara masal.

Aroma hari kemenangan di saat lebaran yang membuat hati kita semakin bersih tak cuma lewat silaturahim. Ada pula ajakan  untuk berlaku lebih baik. Misalnya, disampaikan oleh tokoh penting di negeri ini, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan. Beliau mengajak orang, terutama para pengamat, agar jangan membuat keruh di negara ini  yang bisa merusak budaya sopan santun. Ajakan yang sangat tepat pasca lebaran.

Tapi siapa yang merusak budaya sopan santun? Siapa yang membalas kritikan dengan kata kasar ndasmu, anjing menggonggong, otak kampungan dan seterusnya? Siapa yang bikin keruh suasana? Mari kita periksa simbol-simbol rakyat dalam menuding seseorang. Hanya satu jari telunjuk menuding seseorang, tiga jari justru menuding diri kita sendiri, padahal ibu jari sudah menutupinya. Artinya, jangan kita suka menyalahkan orang lain, jangan-jangan kita lebih buruk dari orang lain itu. Kita yang seharusnya instrospeksi, kita yang harusnya memberi teladan bagaimana sopan santun itu harus dikampanyekan.

Aroma lebaran sebentar lagi berlalu. Para polisi dan petugas yang merelakan tidak kumpul dengan keluarganya karena sibuk mengatur arus mudik dan balik, bolehlah diberi kesempatan istirahat bersama anak-anaknya. Kepada para pejabat negeri ini dan para politisi mari terus menjaga keindahan lebaran dengan  menjaga kesopanan dan budaya luhur kita, sebagaimana yang disampaikan pada saat silaturahmi. Jika ini alpa kita lakukan, masih setahun lagi kita baru ketemu dengan Ramadan dan Idul Fitri. Masih terlalu lama untuk saling mengucap: maaf lahir dan bathin.

** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar