Aroma Idul Fitri atau yang lebih merakyat disebut lebaran mewarnai kehidupan kita hari-hari ini. Tak hanya soal opor ayam, ketupat, dan rendang yang asyik untuk digunjingkan. Juga suasana politik kita yang sungguh adem di hari kemenangan ini. Safari lebaran yang dilakukan para pemimpin, tokoh politik, dan keluarga para pejabat, mengisi ruang-ruang pemberitaan yang bisa tak membuat jenuh soal berita arus mudik dan arus balik. Sungguh indah untuk dinikmati dalam suasana libur panjang. Kantor-kantor pemerintahan baru buka Selasa mendatang.
Sampai berapa lama keindahan ini akan bertahan? Kalau boleh
berharap, tentu saja selamanya tetap indah. Kemesraan para tokoh politik dan
pejabat pemerintah dalam ajang silaturahmi lebaran ini hendaknya bagai lagu
ciptaan Iwan Fals, “kemesraan itu jangan cepat berlalu”.
Kemesraan Didit Prabowo, putra Presiden Prabowo, ketika bertandang ke rumah mantan presiden Megawati, harus berlangsung lama. Setidaknya sampai Prabowo dan Megawati bisa bertatap muka secara langsung. Pejumpaan kedua tokoh itu sudah lama sekali diomongkan dan selalu saja disebut-sebut akan dilakukan dalam waktu yang dekat. Tapi diksi dekat itu sejak awal tahun ini tak pernah benar-benar ada. Puan Maharani, putri Megawati dan Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, orang kepercayaan Prabowo, lagi-lagi bicara: “pertemuan Mega-Prabowo akan berlangsung secepatnya, setelah libur lebaran”.
Pertemuan ini penting secara simbolis. Masyarakat punya
berbagai tafsir jika pertemuan semacam itu memang terjadi. Bahwa tafsir bisa
positif dan negatif itu hal yang biasa, tergantung sudut pandang dan juga
kepentingan bagi setiap orang yang berbeda. Bisa ditafsirkan buruk secara
politik karena jika PDI Perjuangan bergabung dengan pemerintah maka tamatlah
demokrasi kita. Tak ada lagi partai penyeimbang yang mengawasi jalannya
pemerintah. Tapi tafsir lain, kebersamaan ini akan membuat kita makin maju
karena bisa bersama-sama membangun bangsa yang besar ini. Segala tafsir itu
sah-sah saja meski pun dalam pertemuan itu, misalnya, Megawati hanya
membicarakan khasiat minyak urut kepada Prabowo. Tak ada urusan dengan rakyat.
Jangankan pertemuan Prabowo dan Mega – kalau memang
berlangsung. Silaturahmi Wakil Menteri Tenaga Kerja Immanuel Ebenezer ke markas
Front Persaudaraan Islam (FPI) yang diterima dengan hangat oleh Habib Rizieq
juga multi tafsir. “Alhamdulillah, ini saya Immanuel Ebenezer memang pendukung
Jokowi, tapi inilah indahnya perbedaan," kata Noel, sapaan Ebenezer. Noel
tidak menyebut dirinya pendukung Prabowo. Bahkan dia lebih penting menyebut
agamanya Kristen. Apa yang sedang terjadi? Sebuah kemajuan dalam merajut perbedaan?
Atau upaya untuk membangun koalisi baru, siapa tahu ada kecemasan terancam
kekuatan lain. Silakan bikin tafsir sesukanya, termasuk kemungkinan kecil
membicarakan soal buruh yang terancam pemutusan hubungan kerja secara masal.
Aroma hari kemenangan di saat lebaran yang membuat hati kita
semakin bersih tak cuma lewat silaturahim. Ada pula ajakan untuk berlaku lebih baik. Misalnya,
disampaikan oleh tokoh penting di negeri ini, Ketua Dewan Ekonomi Nasional
Luhut Binsar Pandjaitan. Beliau mengajak orang, terutama para pengamat, agar
jangan membuat keruh di negara ini yang
bisa merusak budaya sopan santun. Ajakan yang sangat tepat pasca lebaran.
Tapi siapa yang merusak budaya sopan santun? Siapa yang
membalas kritikan dengan kata kasar ndasmu, anjing menggonggong, otak kampungan
dan seterusnya? Siapa yang bikin keruh suasana? Mari kita periksa simbol-simbol
rakyat dalam menuding seseorang. Hanya satu jari telunjuk menuding seseorang,
tiga jari justru menuding diri kita sendiri, padahal ibu jari sudah
menutupinya. Artinya, jangan kita suka menyalahkan orang lain, jangan-jangan
kita lebih buruk dari orang lain itu. Kita yang seharusnya instrospeksi, kita
yang harusnya memberi teladan bagaimana sopan santun itu harus dikampanyekan.
Aroma lebaran sebentar lagi berlalu. Para polisi dan petugas
yang merelakan tidak kumpul dengan keluarganya karena sibuk mengatur arus mudik
dan balik, bolehlah diberi kesempatan istirahat bersama anak-anaknya. Kepada
para pejabat negeri ini dan para politisi mari terus menjaga keindahan lebaran
dengan menjaga kesopanan dan budaya
luhur kita, sebagaimana yang disampaikan pada saat silaturahmi. Jika ini alpa
kita lakukan, masih setahun lagi kita baru ketemu dengan Ramadan dan Idul
Fitri. Masih terlalu lama untuk saling mengucap: maaf lahir dan bathin.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar