Hari ini umat Hindu merayakan hari raya Nyepi. Hari ini pula umat Islam menunggu keputusan pemerintah kapan jatuhnya Idul Fitri, Ahad esok atau Senin lusa. Kapan pun lebaran itu dirayakan tak akan mengurangi maknanya. Merayakan kemenangan.
Umat Islam merayakan kemenangan setelah sebulan penuh di
bulan Ramadan melakukan puasa. Mengendalikan nafsu dan kembali suci alias fitri
di saat merayakan lebaran. Umat Hindu
juga sama, mengendalikan segala nafsu yang kurang baik dengan berpantang berat
di hari Nyepi agar esok harinya merayakan kemenangan dari nafsu hewani.
Memasuki tahun baru dengan kebersihan hati.
![]() |
| Kantor Komunikasi Kepresidenan |
Dalam puasa dan berpantang itu ada muatan instrospeksi, apa yang salah selama ini dalam meniti kehidupan. Barangkali banyak salah ucap, pula salah tindakan. Itu semua harus dikoreksi dan dikubur dalam-dalam. Maka umat Islam diwajibkan untuk silaturahmi sambil maaf memaafkan yang biasa disebut halal bihalal. Dan umat Hindu melakukan apa yang disebut silakrama, saling mengunjungi dan berbalas doa kebaikan.
Jika kita memperhatikan kehidupan sosial di masyarakat, apa
yang paling layak dikubur dalam-dalam dan harus kita perbaiki setelah perayaan
kemenangan ini? Salah satunya adalah prihal komunikasi publik. Cara kita
bertegur sapa dan cara kita mengingatkan orang lain seperti memberi nasehat dan
membantah pendapat orang. Di sekitar ucapan lisan kita pada umumnya. Presiden
Prabowo Subianto bahkan secara terbuka menyampaikan kepada para pembantunya
untuk memperbaiki cara berkomunikasi itu.
Ajakan presiden ini sekaligus seperti menyadari telah
berbuat salah dalam berkomunikasi. Prabowo pernah mengucapkan kata ndasmu
ketika menanggapi kritik yang disampaikan ke pemerintah. Umpatan ini memang
kerap terdengar di masyarakat namun seorang presiden tentu kurang elok menyebutkannya.
Lalu presiden menyebut kata anjing dengan ungkapan “anjing
menggonggong”. Keceplosan ini bisa disebabkan kalimat yang dikutip tidak
lengkap atau bisa juga memang kekesalan yang berat. Hanya Prabowo yang bisa
menjelaskan hal ini.
Mengapa ucapan Prabowo itu terkesan sangat kasar? Karena
Prabowo tidak menyebutkannya dalam konteks pepatah saat menanggapi kritik.
Andai ucapan Prabowo begini: “Ibarat pepatah biar pun anjing menggonggong
kafilah tetap berlalu, kita akan maju terus” maka persoalannya jadi lain. Pepatah
tak bisa dipotong-potong karena akan kehilangan konteksnya. Yang terucap dari
presiden adalah “biarkan anjing menggonggong kita akan maju terus”. Maka hilanglah
konteks pribahasa soal anjing dan kafilah itu. Ini membuat orang yakin bahwa
anjing yang dimaksudkan itu adalah para pengkritiknya.
Semoga perintah agar semua menterinya memperbaiki cara
berkomunikasi adalah pertanda pula bahwa Presiden akan memberi teladan
bagaimana berkomunikasi secara baik. Sasaran utama yang harus mengikuti
perintah Prabowo ini tentulah pejabat di Kantor Komunikasi Kepresidenan. Kantor
ini juru bicaranya presiden yang seharusnya paham betul bagaimana berkomunikasi
yang bisa memperjelas persoalan. Adalah sangat tidak etis jika seorang Hasan
Nasbi, yang adalah kepala kantor, memberi pernyataan yang mengecilkan arti teror
paket kepala babi yang diterima jurnalis Tempo. Menanggapi teror paket itu
Hasan Nasbi dikutip mengatakan; “Ya dimasak saja.” Ini jelas komunikasi yang
buruk menganggap sepele aksi teror..
Pemilihan ungkapan memang bisa memperburuk komunikasi.
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak memakai diksi “otak
kampungan” untuk pengkritik revisi undang-undang TNI. Orang kampung tak ada
masalah disebut kampungan. Namun diksi ini berkonotasi negatif dalam
pembicaraan formal. Apalagi Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut kata
kampungan berarti terbelakang, tidak terdidik, dan kurang ajar. Tak adakah kata
lain yang harus dipilih oleh seorang jenderal?
Komunikasi yang baik adalah menjelaskan sebuah masalah
sehingga terang benderang. Bukan justru melahirkan pertanyaan liar. Rosan
Roesiani mengumumkan pengurus Danantara serasa menyebutkan semua pengurus tak
boleh merangkap jabatan. Tapi dia tak menjelaskan kenapa dirinya yang adalah
CEO Danantara masih merangkap sebagai Menteri Investasi. Begitu pula Erick
Thohir tetap Menteri BUMN dan ikut di Danantara. Pasar saham merespon negatif tapi
tak ada komunikasi soal ini.
Banyak lagi yang bisa dijadikan contoh betapa buruknya
komunikasi publik saat ini. Belum lagi kita bicara kata-kata jorok yang
mengalir setiap saat. Ini yang seharusnya bisa dikubur sehingga di hari kemenangan
kita bisa melangkah dengan hati yang lebih bersih. Selamat hari Nyepi dan
selamat Idul Fitri, maaf lahir dan batin.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar