Retret kepala daerah di Akademi Militer Magelang sudah berakhir. Acara ini diikuti oleh gubernur, bupati dan walikota yang baru saja dilantik. Tentu kita tidak berharap para gubernur, bupati dan walikota sepulangnya ke daerah masing-masing lantas mengajarkan rakyat untuk baris-berbaris.
Ada pelajaran yang lebih penting. Sesuatu yang patut
kita renungkan dari acara sepekan di Lembah Tidar itu. Pertanyaan yang mendasar,
apakah para kepala daerah itu mewakili rakyat di daerahnya? Secara formal tentu
saja ya. Karena mereka dipilih dalam sistem demokrasi yang kita sepakati bersama,
lewat pemilihan langsung, bebas dan rahasia. Sama dengan pemilihan umum yang
memilih wakil-wakil rakyat mau pun pemilihan presiden. Hanya saja para kepala
daerah ini selain bisa maju sebagai calon yang diusung partai politik bisa juga
secara independen. Tapi syaratnya berat.
![]() |
| Retret Kepala Daerah di Akmil Magelang |
Tak ada disebutkan berbakti kepada partai politik yang
mencalonkannya. Itu artinya sebagai kepala daerah mereka sudah menjadi milik
masyarakat. Mereka menjalankan selurus-lurusnya undang-undang dan peraturan.
Ketika ada aturan yang mewajibkan kepala daerah mengikuti pembekalan yang
disebut dengan istilah retret, mereka seharusnya wajib ikut. Sayang sekali sebagian
kecil kepala daerah dari kader PDI Perjuangan absen dalam acara itu. Alasannya
bukan sedang sakit tetapi ada instruksi dari ketua umum partai yang meminta
mereka menunda keikut-sertaan dalam retret.
Dari sepuluh kepala daerah di Bali (satu gubernur,
satu walikota, dan delapan bupati) hanya seorang yang mengikuti retret. Yakni
Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata. Parwata mewakili kepala daerah yang
beragama Hindu saat pelantikan di Istana oleh Presiden. Tentu dia sangat
mentaati sumpah itu karena langsung mengucapkannya didampingi rohaniawan. Nampaknya
Parwata tak mau mengingkari sumpah, sesuatu yang sakral.
Tulisan ini tidak untuk mempersoalkan apakah instruksi
Ketua Umum PDI Pejuangan itu ada maksud menjegal acara retret atau pun sebuah
bentuk perlawanan kepada pemerintah. Apalagi sampai berkesimpulan bahwa
instruksi itu gagal dan bernuansa negatif. Sebaliknya bukan pula dimaksudkan
sebagai mendukung acara retret yang berbau kemiliteran itu. Pembekalan perlu
tapi haruskah berbaju loreng khas tentara. Celotehan ini hanya mengajak agar
kita merenungkan kembali, bagaimana seharusnya pemimpin itu mengabdi untuk seluruh
rakyat.
Dalam kearifan lokal di masa lalu seorang tetua desa
(namanya bermacam-macam dan belum disebut lurah atau kepala desa seperti
sekarang) dipilih dari calon-calon yang diajukan kelompok masyarakat
berdasarkan garis keturunan. Kelompok itu disebut soroh atau kuwu atau kawitan
dan nama lokal lainnya. Begitu tetua desa terpilih, dia wajib bekerja untuk
seluruh masyarakat. Jika sebelumnya dia pengurus soroh maka dia mengundurkan
dari dari jabatan di soroh itu. Betapa pun niatnya adil, naluri mengedepankan
kepentingan kelompok tetap muncul jika dia masih memimpin kelompok itu.
Barangkali itu bisa ditiru di era demokrasi modern
ini. Bagaimana kalau kepala daerah dan juga presiden diharuskan melepas
jabatannya dari partai politik? Bupati dan walikota di Bali semuanya pengurus
partai, bahkan Gubernur Wayan Koster adalah Ketua DPD PDIP Bali. Dilema buat
mereka jika tak mematuhi instruksi pimpinan partainya, apalagi menjelang
kongres partai.
Melepas jabatan partai harus dicontohkan dari pejabat
di pusat. Kita tahu, Presiden Prabowo Subianto masih Ketua Umum Partai
Gerindra. Bahkan baru saja melewati masa kerja 100 hari, partainya sudah
mengusulkan sebagai calon presiden untuk periode 2029-2034. Coba tanya jujur ke
masyarakat (jangan lewat survei berbayar), apakah mereka yakin Prabowo bekerja
untuk seluruh rakyat? Betapa pun seringnya berpidato akan memihak rakyat, orang
tetap curiga: rakyat yang mana?
Tarasa aneh baru saja kita berhasil mendapatkan
presiden sudah langsung ngomongin presiden selanjutnya. Sepenuh tahun kita
akhirnya terjebak pada urusan politik sempit, berebut kekuasaan. Lalu siapa
yang peduli kalau pertalite dijual dengan harga pertamax? Ayo kembali ke
masalah rakyat.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar