22 Februari 2025

Menggugat Ucap Sang Pemimpin

Memang mengagetkan ketika Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan kata-kata yang tak patut dalam sebuah upacara resmi yang diliput secara nasional. Tatkala berpidato pada ulang tahun ke 17 Partai Gerindra yang dipimpinnya, Prabowo mengecam “orang pintar” yang mengkritik kebijakannya soal membentuk kabinet gemuk. Di sinilah kata tak pantas itu terucap. “Kabinet ini kabinet gemuk, terlalu besar… ndasmu,” ucap Prabowo.

Apa arti kata ndasmu? Asal muasal kata ini berasal dari budaya Jawa, namun kini sudah menyebar ke berbagai budaya etnis. Ndas itu artinya kepala. Namun ini kata paling kasar sehingga ndas ditujukan kepada binatang. Untuk orang, kepala dalam bahasa daerah itu beragam. Ada kata sirah, duur, prabu dan banyak lagi. Jadi, kalau kita menyebut ndasmu itu berarti ndasnya kamu. Jelas penghinaan karena “kamu” sebagai yang ditujukan untuk kata ndas itu adalah  manusia bukan binatang. Umumnya orang menyebut ndasmu pastilah dengan nada mengejek. Ini makian paling kasar dalam budaya luhur kita sejak lama.

Di Bali, yang budaya leluhurnya memang serumpun dengan budaya Jawa, orang takut memaki dengan kata ndasmu betapa pun kemarahan itu harus dilampiaskan. Bisa terjadi gelut dengan mempertaruhkan nyawa. Namun, kata makian itu ada variasinya yang lebih rendah. Yakni ndaskeleng. Tak ditemukan asal-usul apakah keleng ini nama binatang yang pernah ada, atau hanya berarti kemaluan laki-laki seperti bahasa yang paling kasar saat ini. Lalu ada makian yang paling ringan dengan kata ndas. Yakni ndasbedag. Bedag adalah anak kuda. Tak diketahui juga asal-usulnya kenapa kepala anak kuda ini dianggap sebagai makian. Meski pun ada variasi dalam mengumpat dengan kata ndas, tetap saja makian itu sangat menyakitkan. Wayan Koster, gubernur Bali periode 2019-2024 yang kini terpilih kembali, pernah keceplosan menyebut ndasbedag ini. Kecaman datang bertubi-tubi karena sangat tak layak pejabat memaki seperti itu. Koster minta maaf secara terbuka.

Memaki dengan menyebut nama binatang memang populer di berbagai budaya etnis. Ada yang memaki dengan kata anjing (di Jawa pakai nama asu), jangkrik, monyet dan seterusnya. Karena binatang dianggap makhluk bodoh yang tak punya pikiran. Naskah lama dalam budaya Jawa menyebutkan, ciptaan Tuhan itu dibagi dalam tiga kelompok besar. Manusia, binatang dan tetumbuhan. Manusia bisa bicara, punya kekuatan hidup, dan punya pikiran. Dalam teks disebut punya sabda, bayu, idep. Sedang binatang hanya bisa bicara dan kekuatan hidup, tanpa punya pikiran. Tetumbuhan hanya punya kekuatan hidup, tak bisa bicara apalagi berpikir. Pikiran diproduksi oleh otak yang berada di kepala. Bayangkan jika seseorang sudah disebut sebagai binatang ditambah lagi merujuk kepada kepalanya yang tak punya otak. Betapa terhinanya orang itu.

Berbicara yang santun adalah adab mulia yang diajarkan oleh para leluhur kita. Ada teks lawas yang berasal dari abad ke 9. Teks kuno itu terhimpun dalam kitab Sarasamuscaya. Penghimpunnya Bhagawan Wawaruci, entahlah apakah beliau seorang pendeta pada zamannya atau nama samaran belaka. Kitab berbahasa Jawa Kuno ini berisi 511 pasal (istilahnya: sloka) yang isinya tentang etika kehidupan sebagai manusia. Dari 511 pasal itu ada 19 (sloka 117 sampai 135) yang berisi tentang etika dalam berbicara dan mengucapkan kata-kata.

Orang-orang bijaksana harus santun berucap dengan keutamaan tak boleh berbohong. Para penerjemah kitab ini menyebutkan orang bijaksana yang dimaksud adalah para brahmana (rohaniawan) dan pejabat kerajaan. Jika mereka tak menjaga lisannya dan berucap dengan memaki, maka hancurlah peradaban karena rakyat akan meniru polah sang bijaksana itu.

Pada sloka 120 disebutkan, “perkataan yang tidak baik bagaikan anak panah yang bisa menembus hati yang mendengarkan, kuasai diri dengan mengendalikan kata-kata.” Di sloka 121 dijelaskan orang-orang bijak harus menghindari kata yang kotor dan jangan suka menghujat.

Betapa pudarnya etika itu di masa kini, orang bisa menghujat dengan bebasnya secara terbuka. Tak ada lagi sopan santun, setiap orang bisa merendahkan lawannya, termasuk mengumpat dengan menyebut nama hewan. Bahkan kata ndas yang seharusnya hanya disematkan untuk hewan ditujukan kepada orang. Dari sisi budaya dan adab dalam pengucapan lisan, sepertinya kita bukan lagi berada dalam kegelapan biasa, tapi sudah gelap gulita. Karena pemimpin kita justru pelakunya.

Adakah upaya untuk mengakhiri kegelapan ini? Yuk kita belajar dari kearifan masa lalu.

** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar