Kebijakan berani Presiden Prabowo Subianto mengawali tahun ini adalah memangkas anggaran di kementrian dan lembaga negara. Lewat instruksi presiden (Inpres) nomor 1 tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah menargetkan dapat memangkas anggaran hingga Rp 306,6 trilyun. Sangat besar.
Ke mana dialihkan dana itu? Presiden tak
menyebutkan hal pasti, hanya disinggung selintas, dengan efisiensi itu banyak
sekolah bisa kita perbaiki. Ada pun Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
mengatakan pengelolaan anggaran tahun ini lebih fokus untuk belanja yang
manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
![]() |
| Wakil Menteri Jabat Rangkap Komisaris |
Tapi apa pun, setiap pogram yang langsung
menyasar kebutuhan rakyat pasti disambut gembira. Terbukti menurut survei,
kepuasan rakyat kepada pemerintah mencapai 80 persen lebih termasuk kepuasan
soal program MBG itu. Barangkali karena surveinya dilakukan di daerah di mana
program MBG itu sudah berjalan.
Inpres pemangkasan anggaran ini disambut
baik karena rakyat tak ada dirugikan. Berbeda dengan rencana penaikan pajak
pertambahan nilai dari 11 persen menjadi 12 persen. Kenaikan 1 persen itu yang diperkirakan
menambah penerimaan negara Rp 70 trilyun ternyata gagal. Rakyat protes,
kenaikan pun dibatalkan.
Memang siapa yang keberatan dengan
pemangkasan anggaran di kementrian dan lembaga negara itu? Rakyat justru senang
jika pejabat negara mau berhemat. Tak perlu lagi bikin pesta di hotel kalau
aula kantor sudah memadai. Kurangi perjalanan ke luar kota karena sudah banyak
media komunikasi untuk berinteraksi. Wakil Presiden mungkin tak perlu nonton
sepakbola sampai ke Surabaya, hanya bermaksud memberi semangat kepada tim
nasional dalam pertandingan yang tak penting. Biaya pengamanan dan protokoler
tentu besar, kalau nontonnya di Jakara bolehlah. Yang mencengangkan ternyata
belanja alat tulis kantor (ATK) itu besar sekali. Sampai Rp 44 Trilyun. Astaga,
berapa kertas dan pulpen yang dibeli sementara dokumen yang jadi materi
pembahasan bisa dibagikan dalam bentuk digital? Era sudah canggih begini masih
saja baca dokumen lewat kertas.
Jika Prabowo lebih berani lagi main
pangkas, sebaiknya dievaluasi kabinet yang gemuk ini. Anggota kabinet terlalu
mengada-ada hanya untuk balas jasa. Untuk apa Kementrian Hak Asasi Manusia
(HAM) berdiri sendiri dan apa yang dikerjakan selama ini? Kementrian
Transmigrasi memang masih punya tugas penting sekarang? Apakah masih membina
transmigran yang sudah berhasil hidup mapan di daerah baru? Kehidupan eks
transmigran ini sudah setara dengan masyarakat sekitar non-transmigran, malah
ada yang lebih makmur. Justru mereka mendatangkan keluarganya dari daerah asal
tanpa fasilitas apa pun.
Kementrian dengan irisan berdekatan
sebaiknya tetap seperti dulu, digabungkan. Kementrian Koperasi dengan Kementerian
Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Kementerian Kehutanan dengan Kementerian
Lingkungan Hidup. Dulu di era Presiden Soeharto terkenal ada kementrian (waktu
itu sebutannya departemen) TKTK
singkatan dari tenaga kerja transmigrasi dan koperasi. Tak ada masalah
padahal antara transmigrasi dan koperasi jauh terkaitnya.
Sekarang gabungan seperti itu seolah
ditabukan. Makin boros anggaran lagi karena masing-masing menteri punya wakil.
Lalu menteri bebas mengangkat staf khusus. Bayangkan kemudian betapa berat
anggaran menggaji mereka untuk pekerjaan yang tak jelas manfaatnya bagi rakyat.
Jika semua ini dipangkas, pemerintah bisa
mendapat anggaran lebih banyak untuk program pro rakyat, terutama untuk program
makan bergizi gratis. Makan bergizi dengan lauk lebih layak ketimbang belalang,
ulat, laron dan serangga lainnya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar