Presiden Prabowo Subianto akhirnya meminta maaf kepada para orang tua murid yang anaknya belum mendapat jatah makan bergizi gratis di sekolah. Hal ini disampaikan presiden pada saat rapat paripurna kabinet di Istana, Rabu lalu. “Makan bergizi ini secara fisik tidak mudah,” kata Presiden.
Program makan bergizi gratis (MBG) sudah dimulai 6
Januari lalu. Menurut Prabowo baru 650 ribu anak-anak sekolah yang sudah
mendapatkannya. Padahal sasarannya adalah 17,5 juta anak. Diharapkan setiap
bulan terus bertambah dan September nanti sudah tembus 15 juta anak. Akhir
tahun semua anak akan menikmatinya. “Saya jamin dananya ada,” kata presiden.
Dari mana sumber dananya? Selama ini bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Sudah tersedia Rp 71 Trilyun dan itu hanya cukup sampai akhir Juni nanti. Selebihnya minta lagi tambahan dari APBN. Kekhawatiran APBN tak bisa menutupinya membuat sejumlah usulan bermunculan. Maklumlah program ini akan memakan 400 trilyun rupiah lebih setiap tahun.
Ada usulan dari dana zakat, infak dan sedekah. Usul
disampaikan oleh Ketua Dewan Perwakilan Daerah Sultan Najamudin. Alasannya
sesuai dengan ciri khas masyarakat Indonesia yang memiliki sifat gotong royong.
Tapi usulan ini langsung ditolak banyak orang. Karena dana yang dikumpulkan
dari masyarakat itu dikelola Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Ke mana dana
itu disalurkan sudah ada pedomannya yang lebih banyak untuk kaum tidak mampu.
Sementara penerima program MBG adalah seluruh anak didik tanpa peduli miskin
atau kaya. Lihatlah di tayangan televisi saat para pejabat memantau anak-anak
didik yang menerima program MBG, mereka murid yang jauh dari kesan miskin.
Lalu ada usul lain, biaya MBG diambil dari dana
Corporate Social Responsibility (CSR). Ini dana dari perusahaan yang
menyisihkan keuntungannya untuk program sosial. Usul ini datang dari anggota Komisi VIII DPR RI Abdul Fikri Faqih. Banyak yang menolak. Alasannya resikonya
besar karena dana CSR itu tidak stabil tergantung keuntungan perusahaan.
Bagaimana kalau perusahaan rugi dan tak bisa lagi menyalurkan CSR?
Usulan yang lebih konkrit datang dari Menteri Dalam
Negeri Tito Karnavian. Setelah bertemu presiden, Tito Karnavian menyebut
pemerintah daerah sanggup berkontribusi sekitar Rp 5 triliun untuk program MBG
sepanjang tahun 2025. Rinciannya, Rp 2,3 triliun dari pemerintah kabupaten/kota
dan Rp 2,5 triliun dari pemerintah provinsi. Namun hal itu baru terlaksana di
bulan September setelah ada penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD). Lagi pula sejumlah kepala daerah menunggu pelantikan dulu. Sudah ada 415
kabupaten, 93 kota, dan seluruh provinsi yang siap berpartisipasi.
Usul Menteri Tito ini lebih realistis lagi dengan
rencana pendirian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melibatkan
masyarakat sekitar dalam kordinasi kepala daerah. Dalam rencana ada 2.000 SPPG
yang dibangun dengan menggunakan dana dari kabupaten/kota. Ditambah dana dari
provinsi SPPG itu bisa berlipat lagi. Prabowo katanya setuju asal tetap
kordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).
Melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat setempat
ini yang nampaknya akan menyelamatkan program MBG sehingga merata ke seluruh
pelosok pedesaan. Juga menggerakkan ekonomi rakyat karena semua bahan makanan
diambil dari wilayah setempat. Lagi pula juru masak dan tenaga distribusinya
penduduk sekitar sekolah. BGN harusnya tak perlu merasa tersaingi dan juga tak
perlu memonopoli.
Sementara itu ada wacana yang muncul dari para guru di
sebuah sekolah di Denpasar. Para guru menanyakan ke orang tua murid, lebih enak
mana mendapat ransum gratis lewat program MBG dibandingkan memberi bekal
makanan kepada anak-anaknya saat bersekolah. Para orang tua murid setuju anak
bawa bekal dari rumah. Selain gizinya lebih baik, anak-anak terbiasa dengan
makanan rumahan. Yang penting makan bersama di sekolah. Jatah makan bergizi
gratis bisa diberikan kepada murid dari keluarga tidak mampu.
Ide yang menarik. Pesan sosialnya program ini
diutamakan kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu sementara murid di
perkotaan umumnya dari keluarga yang mampu. Namun apakah ide ini berjalan mulus,
entahlah. Baru pada tingkat usulan, karena program MGB di Denpasar belum
terlaksana.
Yang utama, niat dan janji Presiden Prabowo untuk
meningkatkan gizi anak-anak penerus bangsa bisa terlaksana. Bahwa dari mana pun
datangnya gizi itu seharusnya bukan masalah.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar