Selama ini ada istilah yang populer, “pagar makan tanaman”. Tapi ini hanyalah pribahasa, sesuatu yang harus diartikan yang tak tersurat. Juga misteri karena tak masuk akal. Dan sekarang jika ada pagar di laut, boleh juga disebut “pagar makan lautan”. Sama-sama misteri dan lebih tak masuk akal lagi.
![]() |
| Pagar Laut di Tangerang |
Orang yang paham ombak laut tentu tertawa, bagaimana
mungkin pagar dari bambu bisa kuat menahan gelombang. “Pagar laut” yang
setengah berhasil sudah dibangun di sepanjang laut Pantai Sanur, Bali. Itu dari
beton yang kuat. Disebut setengah berhasil karena masih bisa pula diterjang
gelombang besar sehingga pesisir Pantai Sanur tergerus pelan-pelan. Di seberang
pantai Tanah Lot, juga d Bali, “pagar laut” dibuat dari balok-balok beton besar
dan cukup berhasil sehingga Pura Luhur Tanah Lot yang ada di laut bisa selamat
dari amukan ombak besar. Di Tangerang cuma menancapkan bambu.
Pagar bambu untuk menyelamatkan daratan sudah
terbantahkan. Lalu muncul dugaan, jangan-jangan untuk penanda akan ada
reklamasi memperluas daratan. Di seberang pagar bambu misterius itu ada proyek
pembangunan Perumahan Indah Kapuk (PIK) jilid 2 (jilid 1 sudah dibangun di kawasan
Jakarta Utara). Proyek ini oleh Presiden Joko Widodo di akhir jabatannya
dijadikan PSN (poyek strategis nasional) yang berarti harus mendapat prioritas,
baik izin mau pun pendanaan. Nah, jangan-jangan PIK 2 mau memperluas daratannya
dengan reklamasi. Tapi ini langsung dibantah. “Bukan kami yang memasang,” kata
kuasa hukum Agung Sedayu Grup, Muannas Alaidid.
"Untuk wilayah laut, kami enggak ada kepentingan. Sebab, pagar itu
berlokasi di luar wilayah PIK ataupun PSN," ucapnya. Agung Sedayu
adalah pemilik PIK 2.
Lalu siapa yang membuat pagar itu? Ada yang mau pasang
badan, yakni organisasi para nelayan yang menyebut namanya Jaringan Rakyat
Pantura (JKP). Dalam suatu jumpa pers, pimpinan JRP ini menyebut pagar dibuat
secara swadaya dengan tujuan sebagai tanggul memitigasi bencana, ya, bencana
abrasi dan tsunami itu. Ini lucu dan memang misteri terbaik pasti ada unsur
lucunya. Dari mana JRP dapat duit dan kapan organisasi itu didirikan? Kepala
Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang Jainudin mengaku baru mendengar nama JRP.
Berdasarkan catatannya, ada 4.000 nelayan tradisional di Tangerang dengan tiga
organisasi, yakni Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, Kesatuan Nelayan
Tradisional Indonesia, dan Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama.
Ayo lupakan segala misteri itu. Meski kita penasaran,
kenapa pagar yang dibuat Juli tahun lalu kok tidak ketahuan siapa yang membuat.
Kita punya kementrian kelautan. Sebutlah itu terlalu jauh di pusat, tapi kan ada
bupati, camat, kepala desa, lalu ada babinsa (dari kepolisian) ada koramil
(dari TNI). Apa mereka tak tahu ada orang yang menggotong ribuan bambu ke laut?
Ada hal mendasar lagi siapa pemilik lautan? Dalam
tradisi budaya Nusantara, laut adalah sesuatu yang sakral, sumber kemakmuran
dengan unsur air di dalamnya. Air laut menguap ke langit, lalu langit
menurunkan hujan, ditampung danau dan akar pohon untuk kemakmuran bumi. Sisa
air dialirkan sungai kembali ke laut. Laut, langit, danau, hutan, sungai adalah
satu kesatuan yang harus dimuliakan. Karena itu akses ke laut tak boleh
terputus. Juga laut pantang ditimbun jika bukan untuk kebaikan umat.
Singkatnya, jangan memperkosa laut, sucikan dengan
“sedekah laut” dan sejenisnya. Karena itu pantai sebagai akses menuju laut
harus selalu terbuka dan tak bisa dimiliki secara pribadi. Kearifan tradisi lokal
ini pernah dirusak di Bali, di mana saat itu ada hotel di pinggir pantai yang
melarang orang berjalan atau bermain di pantai depan hotelnya. Syukur hal ini
sudah tak ada lagi. Begitu pula rencana reklamasi Teluk Benoa oleh penguasaha
Tomy Winata yang sudah disetujui pusat, ditolak keras di Bali.
Presiden Prabowo sudah tepat untuk meminta agar pagar
laut di Tangerang segera dibongkar. Dan kita berharap Kementerian Kelautan dan
Perikanan betul-betul menjaga laut. Jadikan misteri pagar laut Tangerang
sebagai pelajaran berharga bahwa kita selama ini tak serius menjaga alam.
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar