11 Januari 2025

Makan Bergizi Gratis yang Tergesa-gesa

 Pentingnya program unggulan Presiden Prabowo Subianto soal pemberian makanan bergizi tentu semua pihak setuju. Inilah awal dari lahirnya sumber daya manusia yang tangguh yang kelak memimpin negeri ini. Sehat jiwa dan raga, Kita tentu tak berharap mendapat pemimpin yang wajahnya seperti orang mengantuk, planga plongo berbicara tanpa runtut seperti tak percaya diri. Kita harus punya pemimpin yang cerdas dan bisa menyapa rakyat dengan bahasa yang jelas serta berpidato yang penuh semangat. Untuk itu makanan bergizi sangat penting bahkan pada saat bayi belum dilahirkan. Gizi diberikan lewat ibunya yang mengandung.

Program itu sudah dimulai. Gratis pula. “Aneh jika ada yang menolak,” kata Prabowo. Maka semua pejabat jadi sibuk urusan makan bergizi gratis ini. Para menteri ikut membagikan makanan di sekolah-sekolah. Termasuk Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang jeda sejenak mengurus judi online. Para juru bicara istana – sungguh banyak orangnya – berbagi muncul di setiap tayangan televisi. Para tentara dan polisi juga aktif membantu menyalurkan makanan dari dapur ke sekolah. Riuh benar sehingga kita lupa apakah ibu kota negara jadi pindah ke Kalimantan Timur. Berita soal itu langsung senyap.

Ketika televisi menghamburkan gambar macam apa porsi makanan yang disantap para murid berpakaian rapi itu, di sejumlah daerah yang tak kebagian ransum makanan gratis, para gurunya bergunjing. “Enak sekali. Tapi, apa itu harganya Rp 10 ribu? Di mana belinya, ingin saya berlangganan.” Guru lain menjawab sambil tertawa: “Ya di televisi….”

Gunjingan yang muncul di media sosial ini disederhanakan tapi bukan hoax. Belum semua murid di sekolah mendapat makanan bergizi gratis atau kita singkat MBG. Memang, berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional, ada empat kategori penerima program MBG. Pertama, peserta didik dari PAUD (pendidikan anak usia dini alias Taman Kanak-Kanak) hingga SMA, baik negeri mau pun swasta. Termasuk pendidikan di pesantren. Kedua, anak di bawah usia lima tahun. Ketiga, ibu hamil. Keempat ibu menyusui. Namun karena jumlahnya banyak di seluruh negeri, maka untuk tahun ini dibatasi dulu. Menurut informasi dari Kantor Komunikasi Kepresidenan, program MBG  ini dilakukan bertahap. Pada tahun 2025 ini akan berjalan sekitar 40%, kemudian tahun berikutnya naik menjadi sekitar 80%, dan target pada tahun 2029 sudah mencapai 100%. Jadi kaum yang masuk daftar tunggu MBG sampai tahun 2029, bisa tak kebagian apa-apa jika Prabowo gagal menjabat dua periode.

Target penerima MBG adalah 52,9 juta peserta didik. Ini angka yang mudah didapat tinggal hitung-menghitung saja. Tapi ibu hamil dan ibu  menyusui belum diketahui jumlahnya. (Para ibu, kalau hamil, harap lapor ya?) Dengan target seperti itu dana yang dibutuhkan 420 trilyun rupiah. Padahal seperti yang disebutkan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan  anggaran program MBG baru ada Rp71 trilyun. Dan itu hanya cukup sampai Juni 2025. Zulkifli mengatakan Badan Gizi Nasional berencana meminta tambahan anggaran Rp140 trilyun Juni nanti. Dan itu pun belum cukup sesuai target.

Benar pemberian MBG baru dilakukan di perkotaan. Belum ada yang nyasar ke kampung-kampung di pedalaman. Alasannya karena di perkotaan ini sudah dilakukan uji coba. Murid di perkotaan yang umumnya lebih manja soal makanan, tentu tak bisa diberi cuma nasi tempe tahu. Harus ada ayam atau ikan dan buah, ditambah susu kalau ada. Harga yang mustahil Rp 10 ribu. Masalah lain adalah baru di perkotaan terbentuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kemudian menjadi dapur umum dari penyedia MBG ini. Jumlahnya baru 190 dapur dari target 937 per Januari ini. Kenapa tak sesuai target? Jangan anggap enteng bikin dapur itu. Selain masalah tenaga kerja, peralatan memasak, cara mengemas makanan, dan distribusi sangatlah ribet.

Ada usul, program MBG ini dikemas ala ndeso. Urusan masak serahkan ke ibu-ibu di desa. Secara berkala datangkan ahli gizi. Makanan dibungkus pakai daun pisang. Anak-anak makan di halaman sekolah di bawah pohon mangga. Kayak orang berkemah. Jangan-jangan anak didik tambah senang.

Intinya, makan bergizi gratis itu program yang patut didukung, mudah-mudahan berumur panjang. Namun cara mengelolanya harus dipikirkan ulang. Saat ini dilakukan tergesa-gesa sampai ada daftar tunggu dan korbannya anak didik pedesaan yang justru banyak bermasalah soal gizi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar