17 Januari 2023

Salah Kaprah Memahami Karya Mpu Tanakung - Merayakan Siwaratri Bag 2

Mari kita lanjutkan prihal hari suci Siwa Ratri ini. Sekarang kita bahas kenapa terjadi salah kaprah dalam pengertian pemujaan ini. Banyak ada yang bilang dengan mudahnya, Siwa Ratri adalah malam penebusan dosa. Tentu ini salah kaprah besar. Dosa tak bisa ditebus hanya dengan brata Siwa Ratri, apalagi cuma begadang. Dosa hanya bisa dikurangi dengan melakukan karma baik.

Orang dengan mudahnya menyebutkan, dosa yang kita lakukan berhari-hari akan ditebus dengan jagra (tidak tidur) pada Malam Siwa, dengan dalih Lubdhaka saja yang kerjanya berburu bisa mendapatkan sorga hanya dengan begadang satu malam. Kalau begitu, mudah sekali orang memperoleh sorga, satpam yang kerjanya malam-malam, semua masuk sorga.

Tapi jangan salahkan pula masyarakat dengan pemahaman seperti itu. Maklum tidak banyak yang mengetahui bagaimana polemik soal Siwa Ratri Kalpa gubahan Mpu Tanakung ini. Mpu Tanakung menggubah kisah Lubdhaka dengan pemahamannya di saat itu dengan simbol yang sesuai pula dengan budaya saat itu. Apakah Mpu Tanakung benar-benar menggubah karya sastra itu dengan niat memberikan pemahaman soal budaya agama? Adalah Sejarawan Raden Mas Ngabehi Purbacaraka yang berpendapat bahwa Mpu Tanakung menulis Kekawin Lubdhaka bukan untuk tujuan pencerahan kepada umat, tetapi semata2 untuk mencari muka dari Raja Ken Arok.

Sejarah memang menulis, Ken Arok menjadi raja setelah membunuh Tunggul Ametung. Mpu Tanakung yang hidup di masa itu lalu menulis Kekawin Lubdaka yang intinya dosa bisa dilebur.  Dengan kekawin ini Mpu Tanakung mau cari muka bahwa dosa Ken Arok bisa dilebur di hari  Siwa Ratri. Begitu Poerbatjaraka menganalisanya.

Namun belakangan dua ahli sejarah Jawa terkenal, Dr. Petrus Josephus Zoetmulder dan Andries Teeuw, membantah naskah Poerbatjaraka dalam bukunya berjudul Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung. Bantahan Zoetmulder dan Teeuw ini disertai penelitian yang akurat bahwa Ken Arok, Raja Singhasari, meninggal dunia pada tahun 1247, sementara Mpu Tanakung menulis Kekawin Lubdaka pada zaman Majapahit akhir (1466-1478). Tentu tak mungkin Mpu Tanakung mencari muka pada orang yang sudah meninggal dunia. Selain itu, sebagai seorang pendeta, Mpu Tanakung tak mungkin mencari muka pada raja. Dua ahli ini lalu berkesimpulan, Mpu Tanakung memang pendeta cerdas yang menulis Kekawin Lubdhaka berdasarkan kitab-kitab dari India karena banyak ada persamaan dengan kisah-kisah suci di India. Hanya saja Mpu Tanakung mengadopsi kearifan lokal dalam menggubah kekawin yang simbolis itu. Lubdhaka digambarkan sebagai pemburu yang di suatu malam terjebak di hutan yang penuh binatang buas dan dia selamat karena memuja Dewa Siwa.

Buku Zoetmulder dan Teeuw baru terbit 1969 sementara perayaan Siwa Ratri yang dipopulerkan di Indonesia sudah dimulai setelah 1965. Siwa Ratri yang dijadikan malam peleburan dosa itu memang dijadikan “obat penyejuk” pasca tragedi G 30 S/PKI yang pasti banyak orang merasakan berdosa. Sayangnya, Siwaratri Kalpa Mpu Tanakung dipercaya tanpa mengupas simbulnya, jadi tetap malam peleburan dosa. Bukan mengikuti saran Zoetmulder dan Teewu yang harus dikupas simbulnya.

Lagi pula Siwa Ratri dipopulerkan di Bali pasca G30S PKI dengan cara berkesenian, terutama lewat sendratari. Maka Lubdhaka itu benar digambarkan sebagai pemburu, kan tidak mungkin menggambarkan pemburu dalam simbul. Siwa pun dipakai Rangda, biar tambah serem. Begitulah penggambaran dalam seni tari ini semakin menjauhkan karya Mpu Tanakung sebagai simbul dari peperangan dalam batin. Di sini salah kaprah itu semakin menjadi bahwa memuja Siwa dengan begadang semalam akan melebur dosa yang kita punyai.

Namun yang kita syukuri kemudian adalah Kekawin Siwaratri Kalpa ini banyak muncul dalam bentuk tertulis. Maka semakin banyak grup pesantian yang mengadakan Malam Pesantian dengan membaca kakawin ini. Mulai muncul tafsir baru bahwa Siwa Ratri bukan malam peleburan dosa tetapi malam kesadaran.

Bahkan muncul tafsiran yang lebih kekinian dengan bertambahnya tatwa dalam ajaran Hindu. Misalnya, kenapa Lubdhaka Mpu Tanakung disebutkan tinggal di lereng gunung? Itu karena Lubdhaka adalah orang suci dan Dewa Siwa pun disebut berstana di gunung, disebut Gunung Kailasa.

Kenapa Lubdhaka berbaju hitam kebiruan, warna itu karena lambang dari Wisnu atau Sambhu, lambang keperkasaan. Lalu kenapa Lubdhaka berburu ke arah timur laut? Itu karena arah kaja kangin yang menjadi ulu pemujaan sebagaimana posisi letak Padma untuk memuja Tuhan ada di kaja kangin. Terus kenapa Lubdhaka berburu hewan? Hewan yang dimaksudkan adalah sattwa, sat berarti mulia. Jadi Lubdhaka adalah memburu kemuliaan.

Andaikata Lubdhaka ketemu hewan, apakah hewan itu dibunuhnya? Tentu saja tapi yang dibunuh bukan hewan nyata tetapi nafsu hewani dalam diri manusia. Seperti halnya di penampahan Galungan, bukan membunuh hewan tetapi membunuh nafsu hewani dalam diri manusia. Kenapa berburu di sasih kepitu? Itulah tujuan setiap orang untuk melenyapkan sapta timira, supaya tak mabuk kepongahan. Karena itu senajata Lubdhaka adalah panah, artinya manah atau pikiran yang harus jernih dan suci. Lubdhaka harus mengendalikan diri, karena itu tak membawa bekal apa pun selain keheningan jiwa.

Dalam kakawin Lubdhaka menyasar hewan seperti gajah, badak dan babi hutan. Gajah dalam Bahasa Sansekerta adalah asti, itu adalah lambang astiti bhakti. Badak sama dengan warak, itu bermakna tujuan hidup. Sedang babi hutan adalah waraha, artinya waranugraha. Jadi, istilah gajah badak babi hutan ini jika digabungkan akan menjadi makna: dengan pikiran yang dijiwai oleh budhi sattwam (mulia) selalu melakukan perbuatan yang didasari oleh astiti bhakti dengan tujuan mendapatkan waranugraha dari Hyang Widhi (Siwa).

Karena itu mari kita dudukkan kisah Lubdhaka sebagai ajaran yang penuh simbol dan perlu kita kupas isinya, sehingga tidak serta merta Siwa Ratri dijadikan malam peleburan dosa yang begitu sederhana.

Apa pesan dari kisah Lubdaka ini? Seseorang bisa melakukan tobat dan mohon ampun kepada Dewa Siwa dengan sungguh-sungguh setelah menyadari perbuatannya yang salah, seperti yang disimbulkan Lubdhaka yang gemar membunuh makhluk ciptaan Tuhan sebagai pemburu. Lalu yang paling bagus diburu itu adalah kebajikan, ilmu pengetahuan … dan nafsu untuk berburu haruslah bisa jeda pada suatu saat untuk direnungkan secara total, untuk apa buruan itu. Tidak ada lain adalah untuk dibagikan demi kedamaian dunia.

Mari kita selalu instropeksi dengan kesadaran berbuat baik. Hanya karma baik yang bisa mengantarkan kita ke alam sorga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar