Mari kita lanjutkan prihal hari suci Siwa Ratri ini. Sekarang kita bahas kenapa terjadi salah kaprah dalam pengertian pemujaan ini. Banyak ada yang bilang dengan mudahnya, Siwa Ratri adalah malam penebusan dosa. Tentu ini salah kaprah besar. Dosa tak bisa ditebus hanya dengan brata Siwa Ratri, apalagi cuma begadang. Dosa hanya bisa dikurangi dengan melakukan karma baik.
Orang dengan mudahnya
menyebutkan, dosa yang kita lakukan berhari-hari akan ditebus dengan jagra
(tidak tidur) pada “Malam
Siwa”, dengan dalih Lubdhaka saja
yang kerjanya berburu bisa mendapatkan sorga hanya dengan begadang satu malam.
Kalau begitu, mudah sekali orang memperoleh sorga, satpam yang kerjanya
malam-malam, semua masuk sorga.
Tapi jangan salahkan pula
masyarakat dengan pemahaman seperti itu. Maklum tidak banyak yang mengetahui bagaimana
polemik soal Siwa Ratri Kalpa gubahan Mpu Tanakung ini. Mpu Tanakung menggubah
kisah Lubdhaka dengan pemahamannya di saat itu dengan simbol yang sesuai pula
dengan budaya saat itu. Apakah Mpu Tanakung benar-benar menggubah karya sastra itu
dengan niat memberikan pemahaman soal budaya agama? Adalah Sejarawan Raden Mas Ngabehi Purbacaraka yang berpendapat bahwa
Mpu Tanakung menulis Kekawin Lubdhaka bukan untuk tujuan pencerahan kepada
umat, tetapi semata2 untuk mencari muka dari Raja Ken Arok.
Sejarah
memang menulis, Ken
Arok menjadi raja setelah membunuh Tunggul Ametung. Mpu Tanakung yang hidup di
masa itu lalu menulis Kekawin Lubdaka
yang intinya dosa bisa dilebur. Dengan
kekawin ini Mpu Tanakung mau cari muka bahwa dosa Ken Arok bisa dilebur di hari
Siwa Ratri. Begitu
Poerbatjaraka menganalisanya.
Namun
belakangan dua ahli sejarah Jawa terkenal, Dr. Petrus Josephus Zoetmulder dan Andries
Teeuw, membantah naskah Poerbatjaraka dalam bukunya berjudul Siwaratrikalpa of Mpu
Tanakung. Bantahan Zoetmulder dan Teeuw
ini disertai penelitian yang akurat bahwa Ken Arok, Raja Singhasari, meninggal dunia pada tahun 1247,
sementara Mpu Tanakung menulis Kekawin Lubdaka pada zaman Majapahit akhir (1466-1478). Tentu tak mungkin Mpu Tanakung mencari muka pada orang
yang sudah meninggal dunia. Selain itu, sebagai seorang pendeta, Mpu Tanakung tak mungkin mencari
muka pada raja. Dua ahli ini lalu berkesimpulan, Mpu Tanakung memang pendeta
cerdas yang menulis Kekawin Lubdhaka berdasarkan kitab-kitab dari India
karena banyak ada persamaan dengan kisah-kisah suci di India. Hanya saja Mpu
Tanakung mengadopsi kearifan lokal dalam menggubah kekawin yang simbolis itu. Lubdhaka digambarkan sebagai pemburu yang di suatu malam terjebak di
hutan yang penuh binatang buas dan dia selamat karena memuja Dewa Siwa.
Buku Zoetmulder dan Teeuw baru terbit 1969 sementara perayaan Siwa
Ratri yang dipopulerkan di Indonesia sudah dimulai setelah 1965. Siwa Ratri yang dijadikan malam peleburan dosa itu memang dijadikan “obat penyejuk” pasca tragedi G 30
S/PKI yang pasti banyak orang merasakan berdosa. Sayangnya, Siwaratri Kalpa Mpu Tanakung dipercaya
tanpa mengupas simbulnya, jadi tetap malam peleburan dosa. Bukan mengikuti
saran Zoetmulder dan Teewu yang harus dikupas simbulnya.
Lagi pula Siwa
Ratri dipopulerkan di Bali pasca G30S PKI dengan cara berkesenian, terutama
lewat sendratari. Maka Lubdhaka itu benar digambarkan sebagai pemburu, kan
tidak mungkin menggambarkan pemburu dalam simbul. Siwa pun dipakai Rangda, biar
tambah serem. Begitulah penggambaran dalam seni tari ini semakin menjauhkan
karya Mpu Tanakung sebagai simbul dari peperangan dalam batin. Di sini salah
kaprah itu semakin menjadi bahwa memuja Siwa dengan begadang semalam akan
melebur dosa yang kita punyai.
Namun yang kita
syukuri kemudian adalah Kekawin Siwaratri Kalpa ini banyak muncul dalam bentuk
tertulis. Maka semakin banyak grup pesantian yang mengadakan Malam Pesantian
dengan membaca kakawin ini. Mulai muncul tafsir baru bahwa Siwa Ratri bukan
malam peleburan dosa tetapi malam kesadaran.
Bahkan muncul
tafsiran yang lebih kekinian dengan bertambahnya tatwa dalam ajaran Hindu.
Misalnya, kenapa Lubdhaka Mpu Tanakung disebutkan tinggal di lereng gunung? Itu
karena Lubdhaka adalah orang suci dan Dewa Siwa pun disebut berstana di gunung,
disebut Gunung Kailasa.
Kenapa Lubdhaka
berbaju hitam kebiruan, warna itu karena lambang dari Wisnu atau Sambhu,
lambang keperkasaan. Lalu kenapa Lubdhaka berburu ke arah timur laut? Itu karena
arah kaja kangin yang menjadi ulu pemujaan sebagaimana posisi letak Padma untuk
memuja Tuhan ada di kaja kangin. Terus kenapa Lubdhaka berburu hewan? Hewan
yang dimaksudkan adalah sattwa, sat berarti mulia. Jadi Lubdhaka adalah memburu
kemuliaan.
Andaikata
Lubdhaka ketemu hewan, apakah hewan itu dibunuhnya? Tentu saja tapi yang
dibunuh bukan hewan nyata tetapi nafsu hewani dalam diri manusia. Seperti
halnya di penampahan Galungan, bukan membunuh hewan tetapi membunuh nafsu
hewani dalam diri manusia. Kenapa berburu di sasih kepitu? Itulah tujuan setiap
orang untuk melenyapkan sapta timira, supaya tak mabuk kepongahan. Karena itu
senajata Lubdhaka adalah panah, artinya manah atau pikiran yang harus jernih
dan suci. Lubdhaka harus mengendalikan diri, karena itu tak membawa bekal apa
pun selain keheningan jiwa.
Dalam kakawin Lubdhaka
menyasar hewan seperti gajah, badak dan babi hutan. Gajah dalam Bahasa Sansekerta
adalah asti, itu adalah lambang astiti bhakti. Badak sama dengan warak, itu
bermakna tujuan hidup. Sedang babi hutan adalah waraha, artinya waranugraha.
Jadi, istilah gajah badak babi hutan ini jika digabungkan akan menjadi makna: dengan
pikiran yang dijiwai oleh budhi sattwam (mulia) selalu melakukan perbuatan yang
didasari oleh astiti bhakti dengan tujuan mendapatkan waranugraha dari Hyang
Widhi (Siwa).
Karena itu mari kita dudukkan kisah Lubdhaka sebagai ajaran yang penuh
simbol dan perlu kita kupas isinya, sehingga tidak serta merta Siwa Ratri
dijadikan malam peleburan dosa yang begitu sederhana.
Apa pesan dari
kisah Lubdaka ini? Seseorang bisa melakukan tobat dan mohon ampun kepada Dewa
Siwa dengan sungguh-sungguh setelah menyadari perbuatannya yang salah, seperti yang
disimbulkan Lubdhaka yang gemar membunuh makhluk ciptaan Tuhan sebagai pemburu.
Lalu yang paling bagus diburu itu adalah kebajikan, ilmu pengetahuan … dan
nafsu untuk berburu haruslah bisa jeda pada suatu saat untuk direnungkan secara
total, untuk apa buruan itu. Tidak ada lain adalah untuk dibagikan demi
kedamaian dunia.
Mari kita
selalu instropeksi dengan kesadaran berbuat baik. Hanya karma baik yang bisa
mengantarkan kita ke alam sorga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar