16 Januari 2023

Merayakan Siwaratri dengan Benar (Bag 1)

Perayaan hari suci Siwa Ratri, malam pemujaan Siwa, pada tahun ini jatuh pada tanggal 20 Januari 2023, pada hari Jumat. Karena Tilem Kepitu jatuh pada Sabtu 21 Januari 2023. Mari kita jadikan hari Siwa Ratri ini sebagai momentum untuk merayakan malam pemujaan Siwa dengan cara yang benar. Bukan berdasarkan apa yang kita lakukan saat ini, yang mungkin saja ada kesalahan bertahun-tahun karena dasar sastranya yang tidak akurat.

Apa itu Siwa Ratri? Siwa adalah dewa tertinggi dalam himpunan Istadewata di dalam ajaran Hindu. Tiada lain adalah manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Ada pun Ratri itu berarti malam. Jadi yang dimaksudkan Siwa Ratri adalah malam pemujaan kepada Siwa.

Siwa Ratri sesungguhnya datang setiap bulan. Setiap pengelong 14 (sehari sebelum Tilem atau bulan mati) adalah malamnya Siwa. Itu saat-saat terbaik untuk melakukan puasa. Adapun pengelong 14 Sasih Kepitu adalah malam tergelap setiap tahun, dan ini disebut Maha Siwa Ratri. Kata “maha” sudah menunjukkan bahwa ini Siwa Ratri yang lebih khusus karena yang paling besar, setahun sekali. Umat Hindu di Nusantara, tentunya termasuk di Bali, hanya merayakan Siwa Ratri yang ada kata “maha” ini saja. Sedang Siwa Ratri setiap bulan dilewatkan begitu saja, beda dengan di India yang merayakan Siwa Ratri setiap bulan sementara setiap tahunnya adalah Maha Siwa Ratri.

Pemujaan kepada Siwa haruslah dengan kesadaran yang prima, penuh dengan kekhusyukan. Kita harus disiplin dalam hal penyucian diri dan melakukan pengendalian diri secara total. Karena itu dalam perayaan ini ada tiga jenis brata yaitu pengendalian diri yang sangat berat namun utama. Ketiga brata itu adalah upawasa (puasa tanpa makan dan minum), monabrata (diam dalam hening tanpa bicara), dan jagra (tidak tidur). Bagi yang mampu melaksanakan wajib menjalankan tiga brata itu, dan itu disebut brata yang utama. Bagi yang hanya bisa taat dengan upawasa dan jagra disebut sebagai brata madya. Dan brata yang paling kanista adalah jagra. Istilah kanista ini bukan berarti sama sekali buruk, karena toh tetap menjalankan salah satu dari tiga brata tadi.

Tidak ada disebut-sebut dalam sastra kalau ada hukuman jika tidak melakukan ketiga brata itu. Ajaran agama tidak menghukum umatnya tetapi menuntun umat dalam kesadaran. Upawasa itu dilakukan dari pagi sebelum matahari terbit sampai berakhir setelah matahari terbenam. Hakekat puasa ini hampir sama dengan ajaran semua agama, tidak makan dan minum ketika matahari masih menyinari bumi. Cuma bedanya puasa atau upawasa dalam Siwa Ratri dan hari suci lainnya seperti Nyepi, misalnya, di malam hari persis pada pemujaan Siwa itu kita tetap mengendalikan diri cara makannya dengan hanya makan nasi putih. Istilahnya sering disebut serba putih atau memutih. Monabrata itu mengikuti upawasa, jadi siang hari usahakan tidak banyak berbicara. Sedangkan jagra adalah tidak tidur sampai selesai perayaan Siwa Ratri pada saat Tilem kepitu tiba. Sesungguhnya makna dari tidak tidur ini adalah waspada terhadap segala hal yang menimbulkan nafsu buruk yang bisa melepaskan pengendalian diri.

Jagra seperti yang disebutkan tadi pengertiannya adalah waspada. Bukan sekadar tidak tidur. Yang dimaksudkan waspada ini adalah menjaga kesadaran diri, eling atau ingat tentang segala pantangan dan juga melakukan instrospeksi diri di saat keheningan itu. Jadi jagra bukan sekadar bergadang apalagi tidak berkaitan dengan spiritual. Apalagi dalam praktek yang bertahun-tahun belakangan ini, terjadi penggampangan dengan menyebut malam Siwa Ratri itu adalah malam peleburan dosa dengan cara bergadang semalaman. Seolah-olah dosa yang kita lakukan berhari-hari dan berbulan-bulan menjadi lebur hanya karena begadang semalam suntuk. Ini cara pemahaman yang keliru karena dosa tak bisa dilebur hanya dengan begadang, dosa hanya bisa diperbaiki dengan melakukan karma baik. Karena adanya pemahaman yang keliru ini, maka banyak orang yang hanya sekadar begadang. Pura didatangi, mekemit semalam suntuk sambil ngobrol dan makan-makan. Yang penting megadang dan tidak tidur. Atau begadang sambil berjudi. Yang terakhir ini justru menambah dosa. Sekali lagi, Jagra yang dimaksudkan di sini adalah kita awas, eling, dan merenungi kehidupan ini untuk selalu diperbaiki kesalahannya.

Sekarang mari kita kupas lebih lanjut sumber ajaran Siwa Ratri itu. Sumber Siwa Ratri yang kita kenal di Bali banyak terdapat dalam purana. Namun teks Purana itu terlalu sulit dipahami oleh orang awam, harus banyak dikupas apa isinya, sebagaimana purana termasuk mantram yang ada. Karena itu para leluhur orang Bali di masa lalu menguraikan purana ini dengan cerita yang mudah dipahami. Di India, di mana kitab Weda turun, juga sama saja, banyak sekali ada purana tentang Siwa Ratri. Tentu di masing budaya lokal beda kisah dan beda pelakunya. Uniknya di India tidak dikenal ada tokoh yang Bernama Lubdaka dalam purana tentang Siwa Ratri sebagaimana di Indonesia, khususnya Bali. Yang pasti ada kesamaannya, tokoh dalam berbagai purana itu profesinya adalah seorang pemburu.

Siapa yang melahirkan cerita tentang Siwa Ratri di Nusantara ini? Beliau adalah Mpu Tanakung yang menulis kisah Siwa Ratri dalam sastra bertembang. Dikenal dengan nama Kekawin Siwaratri Kalpa. Dalam kakawin ini Mpu Tanakung memperkenalkan tokoh Bernama Lubdhaka. Dalam Bahasa Sansekerta, Lubdhaka itu berarti pemburu. Namanya saja kakawin, sastra bertembang ini harus dikupas habis isinya, tak bisa ditelan begitu saja, karena penuh dengan simbul2. Sampai sekarang pun kakawin yang ada di Bali juga begitu, harus ada cara untuk mempelajari dengan mengupas simbul2 itu. Mungkin karena terlalu sulit dikupas atau wawasan kita tidak nyambung dengan karya sastra Mpu Tanakung ini, cerita Lubdhaka itu diterima dan dipahami seperti apa adanya. Bukan lagi kita mengupas tafsirnya.

Coba pandita ringkas cerita Lubdhaka gubahan Mpu Tanakung itu. Ada tokoh bernama Lubdhaka yang berburu hewan seharian. Tapi dia tidak dapat hewan dan bermalam di tengah hutan, padahal tidak membawa bekal. Di malam hari tengah hutan dia takut dengan serbuan binatang buas, lalu Lubdhaka naik ke pohon bila. Ketakutannya luar biasa, kalau dia mengantuk dan jatuh dari pohon pastilah dia akan diterkam binatang buas. Maka untuk menghilangkan kantuknya dengan memetik daun bila dan dijatuhkan ke bawah. Ternyata di bawah itu ada kolam kecil dan kolam itu menjadi lingga Dewa Siwa.  Pada hitungan daun bila ke 108 dijatuhkan, Dewa Siwa paham ada orang yang memujanya, lalu Lubdhaka mendapat anugrah Dewa Siwa: kelak kalau meninggal dunia langsung masuk surga.

 Semua ini adalah simbul. Lubdhaka seorang pemburu. Apa yang diburu?  Pada hakekatnya hidup kita ini adalah berburu: berburu harta, berburu ilmu, berburu kebajikan, berburu ketampanan/kecantikan, dan banyak lagi yang diburu di dunia ini. Namun pada saatnya pemburu itu harus jeda sejenak. Merenungkan siapa dirinya, apa yang diburu selama ini sudah benar. Kesadaran pentingnya mengenal jati diri ini, lalu memuja Siwa sebagai manifestasi Tuhan, di sana kita mengadu, melapor, memohon, dan seterusnya. Apa bisa orang merenung dan intropeksi jika dalam keadaan berfoya-foya. Karena itu puasa adalah jalan yang terbaik. Simbul ini dinyatakan dengan Lubdhaka tak bawa bekal dalam berburu. Bagaimana bisa orang merenungkan tentang diri dan prilakunya kalau terus menerus berbicara? Kita harus mendengarkan suara hati, bukan suara orang lain. Karena itu kita melakukan monabrata dan itu disimbulkan oleh Lubdhaka yang naik ke atas pohon menyepikan dirinya, namun tetap waspada. Merenungkan tentang kehidupan itu tentu pula tidak bisa dengan tidur, maka kita harus bergadang atau waspada terus. Itu yang disimbulkan oleh Lubdaha dengan memetik daun bila dan menjatuhkannya ke bawah.

 Memetik daun Bila dan dijatuhkan ke bawah adalah juga simbul dari namaskaram, yakni mengulang-ulang nama Siwa. Banyak sekali mantram pendek yang bisa dijadikan memuja Siwa dengan namaskaram. Daun bila sebanyak 108 adalah simbul dari gabungan tiga angka dengan jumlah 9, angka tertinggi dalam Hindu. Sembilan adalah juga lambang Dewa penjaga arah dengan Siwa di tengahnya. Tasbih yang dipakai umat Hindu yang sering disebut genitri – karena dari buah genitri—jumlahnya adalah 108 juga. Sebagai tambahan, delapan penjuru mata angin ini dijaga oleh 8 dewa dengan Siwa berada di tengahnya. Pandita sebut dari Timur sesuai putaran murwadaksina atau putaran jarum jam. Yakni Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambhu dan Siwa di tengah. Ini yang disebut Dewata Nawa Sanga.

Lalu apa makna simbul ini secara keseluruhan? Hanya orang yang terus “berburu”, tetapi setiap saat jeda dan instropeksi, lalu memuja Siwa untuk memohon bimbingan dan anugrahnya, adalah orang yang lulus dalam hidup ini. Merekalah kelak sebagai penghuni sorga. Sebagaimana Lubdhaka yang masuk sorga. Itu intinya. Tapi kok ada salah paham? Kita lanjutkan pada bagian kedua.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar