Sang Bhuta Tiga adalah simbul-simbol
dari sifat adharma. Ketiganya harus dilawan dan dikalahkan, karena itu pada
hari Galungan kita disebut-sebut telah memenangkan dharma melawan adharma.
Bukankah ucapan selamat hari Galungan selalu disebutkan dengan: “Semoga dharma
menang melawan adharma”.
Lontar Sundari Gama
menyebutkan, Sang Bhuta Tiga Galungan adalah simbul angkara atau nafsu buruk berupa
keletehan. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari
ini umat mulai den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan.
Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta
(keletehan-keletehan) hati tersebut.
Godaan adharma pertama yang datang
pada hari Minggu ini dinamani Sang Bhuta Galungan. Sang Bhuta ini adalah simbul dari
nafsu buruk kita yang harus kita lawan. Melawan nafsu buruk masih tergolong
ringan, karena itu cukup disembunyikan saja. Janganlah nafsu buruk dipamerkan. Leluhur
kita di masa lalu menyebutnya hari ini sebagai penyekeban. Nyekeb atau sekeb berarti menyembunyikan atau menutupi diri dari segala
nafsu-nafsu jahat. Itu perumpamaannya atau simbulnya. Supaya
simbul itu bisa dilihat agar masyarakat punya ciri nyata untuk pemahaman ini, maklum
beragama di masa lalu penuh dengan contoh-contoh yang bisa dilihat supaya
gampang diajarkan, ada istilah nyekeb
buah-buahan. Pisang, misalnya, yang belum matang disekeb hari ini. Leluhur kita
di masa lalu memang hebat, selain menggunakan simbul juga ada contoh nyata yang
diperlihatkan.
Mari kita “sekeb” nafsu buruk kita
hari ini sebagai awal dari memasuki Wuku Dungulan yang juga disebut Wuku
Galungan – di Jawa malah Wuku Galungan yang lebih dikenal. Kalau kita berhasil “menyekeb”
nafsu buruk ini sehingga tidak kelihatan, maka kita siap untuk menanti Bhuta
yang kedua, yang turun hari Senin besok. Bhuta apa namanya? Ya, besok saya
wacanakan.
Salam rahayu.
#LenteraLerengBatukaru
#WacanaPopuler
#PasramanManikgeni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar