02 Januari 2023

Turunnya Sang Bhuta Dungulan

Dalam kaitan turunnya Sang Bhuta Tiga menjelang Hari Suci Galungan, pada hari ini, Senin (Soma) Pon muncul Sang Bhuta Dungulan. Bhuta atau Kala ini adalah simbol agar kita tidak lengah mengendalikan hawa nafsu yang sudah dilakukan sejak kemarin. Tetaplah bertahan dengan pengendalian diri terhadap nafsu-nafsu jahat dan tetap menjaga keteguhan kesucian diri kita. Leluhur kita memberi simbol perumpamaan dan yang bisa dilihat dengan nyata untuk memudahkan pemahaman dalam menjalankan agama, yakni menyebut hari ini sebagai “hari penyajaan” atau disebut pula “hari pengejukan”.

Asal katanya ejuk, artinya tangkap. Nafsu buruk yang masih berkeliaran karena mungkin ada yang lolos di-sekeb kemarin, hari ini harus “ditangkap”. Nah di sinilah tetua kita memberikan ilustrasi dari simbul itu dengan sesuatu yang nyata. Babi, misalnya, yang akan dipakai sarana untuk perayaan galungan, di hari ini diejuk atau ditangkap. Dan jika perlu diikat kuat-kuat. Tetapi jangan grasa-grusu disembelih, haruslah bertahap. Siapa tahu masih banyak yang masih berkeliaran. Artinya, nafsu buruk itu harus kita kumpulkan secara bertahap dulu sehingga tak ada satu pun yang masih luput berkeliaran. Nafsu hewani harus semuanya di-ejuk pada “hari pengejukan” ini.

Sekarang, kalau ada yang sudah membunuh nafsu jahat itu semuanya pada hari ini, apa yakin esok tidak ada lagi adharma yang mengganggu? Karena ini baru menginjak pancawara Pon, masih ada pancawara Wage sebelum pancawara terakhir yakni Keliwon, di mana Hari Suci Galungan berada. Karena itu kalau ada yang memajukan “hari penampahan” lalu menggabungkan dengan “hari pengejukan”, maka ada kekosongan pada hari Selasa esok yang berada dalam pancawara Wage. Di hari Anggara Wage akan turun bhuta yang lebih ganas yang disimbulkan membawa puncak dari segala sifat-sifat adharma. Nama bhuta itu tidak lagi mengacu ke nama wuku (Galungan dan Dungulan), tetapi disebut dengan Sang Bhuta Amangkurat.

Maka tetua kita di masa lalu menasehatkan, mari kita melakukan pengendalian diri dengan tidak grasa-grusu tetapi secara bertahap karena semua hari mempunyai arti dan makna yang berbeda. Janganlah nampah pada hari ini, cukup ngejuk saja. Namanya saja pengendalian diri, menghindari sifat-sifat adharma, kenapa nampah itu tidak bisa kita kendalikan esok hari.

Rahayu, sampai jumpa esok bersama Sang Bhuta Amangkurat yang sakti mandraguna sehingga esoklah semua simbul Sang Bhuta Tiga ini kita musnahkan untuk menyongsong kemenangan dharma.

#LenteraLerengBatukaru

#WacanaPopuler

#PasramanManikgeni

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar