Dalam kaitan turunnya Sang Bhuta Tiga menjelang Hari Suci Galungan, pada hari ini, Senin (Soma) Pon muncul Sang Bhuta Dungulan. Bhuta atau Kala ini adalah simbol agar kita tidak lengah mengendalikan hawa nafsu yang sudah dilakukan sejak kemarin. Tetaplah bertahan dengan pengendalian diri terhadap nafsu-nafsu jahat dan tetap menjaga keteguhan kesucian diri kita. Leluhur kita memberi simbol perumpamaan dan yang bisa dilihat dengan nyata untuk memudahkan pemahaman dalam menjalankan agama, yakni menyebut hari ini sebagai “hari penyajaan” atau disebut pula “hari pengejukan”.
Asal katanya ejuk, artinya tangkap. Nafsu buruk
yang masih berkeliaran karena mungkin ada yang lolos di-sekeb kemarin, hari ini harus “ditangkap”. Nah di sinilah tetua kita memberikan ilustrasi dari simbul
itu dengan sesuatu yang nyata. Babi, misalnya, yang akan dipakai sarana untuk
perayaan galungan, di hari ini diejuk atau ditangkap. Dan jika perlu diikat
kuat-kuat. Tetapi jangan grasa-grusu disembelih, haruslah bertahap. Siapa tahu masih
banyak yang masih berkeliaran. Artinya, nafsu buruk itu harus kita kumpulkan
secara bertahap dulu sehingga tak ada satu pun yang masih luput berkeliaran.
Nafsu hewani harus semuanya di-ejuk pada “hari pengejukan” ini.
Sekarang, kalau ada yang sudah
membunuh nafsu jahat itu semuanya pada hari ini, apa yakin esok tidak ada lagi
adharma yang mengganggu? Karena ini baru menginjak pancawara Pon, masih ada pancawara
Wage sebelum pancawara terakhir yakni Keliwon, di mana Hari Suci Galungan berada.
Karena itu kalau ada yang memajukan “hari penampahan” lalu menggabungkan dengan
“hari pengejukan”, maka ada kekosongan pada hari Selasa esok yang berada dalam pancawara
Wage. Di hari Anggara Wage akan turun bhuta yang lebih ganas yang disimbulkan
membawa puncak dari segala sifat-sifat adharma. Nama bhuta itu tidak lagi
mengacu ke nama wuku (Galungan dan Dungulan), tetapi disebut dengan Sang Bhuta
Amangkurat.
Maka tetua kita di masa lalu
menasehatkan, mari kita melakukan pengendalian diri dengan tidak grasa-grusu
tetapi secara bertahap karena semua hari mempunyai arti dan makna yang berbeda.
Janganlah nampah pada hari ini, cukup ngejuk saja. Namanya saja pengendalian
diri, menghindari sifat-sifat adharma, kenapa nampah itu tidak bisa kita
kendalikan esok hari.
Rahayu, sampai jumpa esok bersama Sang
Bhuta Amangkurat yang sakti mandraguna sehingga esoklah semua simbul Sang Bhuta
Tiga ini kita musnahkan untuk menyongsong kemenangan dharma.
#LenteraLerengBatukaru
#WacanaPopuler
#PasramanManikgeni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar