Sudah pandita sampaikan sebelumnya, Sang Bhuta Tiga Galungan ini adalah simbul-simbul dari sifat adharma. Ketiganya harus dilawan dan dikalahkan, agar pada hari Galungan kita disebut telah memenangkan dharma melawan adharma. Dan inilah bhuta yang terakhir, Sang Bhuta Amangkurat.
Bhuta ini turun pada hari Selasa
(Anggara) Wage sehari sebelum kita merayakan Hari Suci Galungan. Kedatangan bhuta terakhir ini tujuannya menguasai dan
membelenggu kita. Ini bhuta paling kuat dan paling ganas. Kalau kita lemah dan
bisa ditaklukkan, pada hari inilah seluruh kehidupan kita dikuasai oleh adharma
yang dibawa Sang Bhuta Amangkurat itu. Sifat adharma yang sudah kita
sembunyikan dan sudah pula ada yang kita kurung, hari ini seolah diobrak-abrik
lagi oleh kekuatan Sang Bhuta Amangkurat. Karena itu tiada jalan lain, marilah
kita taklukkan bhuta itu dengan membunuh semua nafsu kejahatan yang disebarkan
itu. Nafsu yang sudah kita sembunyikan, yang sudah kita ejuk atau ikat, kita
bunuh saja pada hari ini.
Leluhur kita di masa lalu mewariskan simbul dengan menyebut “hari penampahan”. Asal katanya nampah
artinya menyembelih. Jadi secara simbolis,
semua nafsu hewani yang buruk di dalam diri
kita harus disembelih. Jangan biarkan nafsu hewani itu tetap hidup, agar
kita bisa merayakan Galungan esok hari. Dengan berhasil mengalahkan
Sang Bhuta Amangkurat ini berarti ketiga bhuta sudah sirna dan kita pun berhasil
mengalahkan adharma. Maka pada hari Rabu (Budha) Kliwon Dungulan, keesokan
harinya, kita merayakan kemenangan dharma melawan adharma.
Kalau kita melakukan penampahan
bukan sekarang ini, tetapi kemarin saat Soma Pon, maka hari Anggara Wage ini
tidak ada langkah apa pun untuk menghadang Sang Bhuta Amangkurat. Bhuta ini akan
terus gentayangan, tak ada yang membunuhnya. Dia malah menggoda umat yang
lemah, disuruh minum tuak atau bir atau arak bersloki-sloki, lalu mabuk-mabukan.
Bagaimana dharma bisa menang melawan adharma? Wong sumber adharmanya sendiri,
Sang Bhuta Amangkurat bisa bebas lenggang kangkung tak ada yang membunuhnya.
Seharusnya “hari penampahan” tetap
dilangsungkan hari ini. Kita bunuh semua sifat-sifat adharma dengan simbul
membunuh hewan yang dipakai sarana Galungan. Maknanya adalah membunuh sifat
hewani yang ada dalam diri kita sendiri. Dalam praktek kesehariannya di
masyarakat penganut Hindu di Bali, setelah melakukan nampah hewan lalu membuat
penganan berupa masakan, apakah itu berupa sate, lawar, tum dan sebagainya, suguhkanlah
secuil makanan yang ada untuk dipersembahkan kepada leluhur. Inilah yang disebut
dengan sodaan penampahan sebagai rasa syukur kita telah melakukan pengendalian
diri yang sempurna dan memohon anugrah para leluhur agar kita bisa merayakan
kemenangan dharma. Langkah selanjutnya setelah menghaturkan sodaan penampahan
itu barulah kita mendirikan penjor Galungan.
Jadi penjor dibuat dan dipasang
setelah melakukan persembahan makanan kepada para leluhur yang sudah amor ing Achintya.
Simbul dari berhasilnya adharma yang sudah tidak ada lagi dan kita siap
merayakan kemenangan dharma berkat bantuan sepenuhnya dari alam semesta. Karena
itu penjor Galungan sangatlah khas, beda dengan penjor yang dipakai untuk dewa
yadnya atau piodalan di pura, misalnya. Penjor Galungan dibuat dan berisi sebagian
besar lambang-lambang yang ada di alam semesta. Penjor Galungan tidak bisa
dibuat dari kain, apa pun warnanya. Hiasan pada penjor Galungan yang disebut
bakang-bakang, dibuat dari daun enau atau janur. Seluruh atau sebagian besar
penjor ada gantungan padi. Lalu ada segembok buah-buahan yang disebut palagantung,
ada kelapa, pisang dan buah-buah lainnya. Penjor ditancapkan di lebuh atau
pemesuan yakni jalan masuk ke pekarangan rumah. Penjor didirikan pada hari
penampahan setelah menghaturkan sodaan penampahan, tetapi ritual pada penjor
baru dilakukan pada Hari Suci Galungan.
Kita sudah
berhasil mengalahkan adharma dan kita sambut kemenangan dharma itu dengan
simbol penjor galungan yang melambai-lambai berhiaskan isi alam semesta. Pada
puncak penjor di bagian yang paling tinggi, ada rerajahan Ongkara sebagai
simbul dari pemujaan kepada Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa. Namun sekarang Ongkara
itu sudah disablon dalam kain yang indah, malah semakin indah penjor itu.
Salam rahayu.
#LenteraLerengBatukaru
#WacanaPopuler
#PasramanManikgeni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar