03 Januari 2023

Turunnya Sang Bhuta Amangkurat

Sudah pandita sampaikan sebelumnya, Sang Bhuta Tiga Galungan ini adalah simbul-simbul dari sifat adharma. Ketiganya harus dilawan dan dikalahkan, agar pada hari Galungan kita disebut telah memenangkan dharma melawan adharma. Dan inilah bhuta yang terakhir, Sang Bhuta Amangkurat.

Bhuta ini turun pada hari Selasa (Anggara) Wage sehari sebelum kita merayakan Hari Suci Galungan. Kedatangan bhuta terakhir ini tujuannya menguasai dan membelenggu kita. Ini bhuta paling kuat dan paling ganas. Kalau kita lemah dan bisa ditaklukkan, pada hari inilah seluruh kehidupan kita dikuasai oleh adharma yang dibawa Sang Bhuta Amangkurat itu. Sifat adharma yang sudah kita sembunyikan dan sudah pula ada yang kita kurung, hari ini seolah diobrak-abrik lagi oleh kekuatan Sang Bhuta Amangkurat. Karena itu tiada jalan lain, marilah kita taklukkan bhuta itu dengan membunuh semua nafsu kejahatan yang disebarkan itu. Nafsu yang sudah kita sembunyikan, yang sudah kita ejuk atau ikat, kita bunuh saja pada hari ini.

Leluhur kita di masa lalu mewariskan simbul dengan menyebut “hari penampahan”. Asal katanya nampah artinya menyembelih. Jadi secara simbolis, semua nafsu hewani yang buruk di dalam diri kita harus disembelih. Jangan biarkan nafsu hewani itu tetap hidup, agar kita bisa merayakan Galungan esok hari. Dengan berhasil mengalahkan Sang Bhuta Amangkurat ini berarti ketiga bhuta sudah sirna dan kita pun berhasil mengalahkan adharma. Maka pada hari Rabu (Budha) Kliwon Dungulan, keesokan harinya, kita merayakan kemenangan dharma melawan adharma.

Kalau kita melakukan penampahan bukan sekarang ini, tetapi kemarin saat Soma Pon, maka hari Anggara Wage ini tidak ada langkah apa pun untuk menghadang Sang Bhuta Amangkurat. Bhuta ini akan terus gentayangan, tak ada yang membunuhnya. Dia malah menggoda umat yang lemah, disuruh minum tuak atau bir atau arak bersloki-sloki, lalu mabuk-mabukan. Bagaimana dharma bisa menang melawan adharma? Wong sumber adharmanya sendiri, Sang Bhuta Amangkurat bisa bebas lenggang kangkung tak ada yang membunuhnya.

Seharusnya “hari penampahan” tetap dilangsungkan hari ini. Kita bunuh semua sifat-sifat adharma dengan simbul membunuh hewan yang dipakai sarana Galungan. Maknanya adalah membunuh sifat hewani yang ada dalam diri kita sendiri. Dalam praktek kesehariannya di masyarakat penganut Hindu di Bali, setelah melakukan nampah hewan lalu membuat penganan berupa masakan, apakah itu berupa sate, lawar, tum dan sebagainya, suguhkanlah secuil makanan yang ada untuk dipersembahkan kepada leluhur. Inilah yang disebut dengan sodaan penampahan sebagai rasa syukur kita telah melakukan pengendalian diri yang sempurna dan memohon anugrah para leluhur agar kita bisa merayakan kemenangan dharma. Langkah selanjutnya setelah menghaturkan sodaan penampahan itu barulah kita mendirikan penjor Galungan.

Jadi penjor dibuat dan dipasang setelah melakukan persembahan makanan kepada para leluhur yang sudah amor ing Achintya. Simbul dari berhasilnya adharma yang sudah tidak ada lagi dan kita siap merayakan kemenangan dharma berkat bantuan sepenuhnya dari alam semesta. Karena itu penjor Galungan sangatlah khas, beda dengan penjor yang dipakai untuk dewa yadnya atau piodalan di pura, misalnya. Penjor Galungan dibuat dan berisi sebagian besar lambang-lambang yang ada di alam semesta. Penjor Galungan tidak bisa dibuat dari kain, apa pun warnanya. Hiasan pada penjor Galungan yang disebut bakang-bakang, dibuat dari daun enau atau janur. Seluruh atau sebagian besar penjor ada gantungan padi. Lalu ada segembok buah-buahan yang disebut palagantung, ada kelapa, pisang dan buah-buah lainnya. Penjor ditancapkan di lebuh atau pemesuan yakni jalan masuk ke pekarangan rumah. Penjor didirikan pada hari penampahan setelah menghaturkan sodaan penampahan, tetapi ritual pada penjor baru dilakukan pada Hari Suci Galungan.

Kita sudah berhasil mengalahkan adharma dan kita sambut kemenangan dharma itu dengan simbol penjor galungan yang melambai-lambai berhiaskan isi alam semesta. Pada puncak penjor di bagian yang paling tinggi, ada rerajahan Ongkara sebagai simbul dari pemujaan kepada Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa. Namun sekarang Ongkara itu sudah disablon dalam kain yang indah, malah semakin indah penjor itu.

Salam rahayu.

#LenteraLerengBatukaru

#WacanaPopuler

#PasramanManikgeni

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar