17 Oktober 2021

CariAngin KoranTempo - CELENG

Tiba-tiba meme celeng bertebaran di media sosial. Awalnya adalah logo bergambar kepala celeng (sebutan untuk babi hutan) yang diciptakan kader PDI Perjuangan di Purworejo, Jawa Tengah. Eko Lephex, pembuat logo itu, menampilkan celeng berwarna merah, simbol keberanian memperjuangkan kebenaran. Taringnya panjang simbol perjuangan tak kenal takut. Warna taring putih, simbol kebenaran dari hati nurani. Lalu ada tulisan: Barisan Celeng Berjuang.

Eko Lephex jelas bercanda –menulis namanya saja unik. Guyonan bisa meningkatkan imun di tengah pandemi. Candaan ini menjadi serius tatkala kepala celeng ditambah dengan badan yang utuh dan ada penunggangnya yang gagah. Si penunggang celeng berwajah mirip Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. Lalu, wakil ketua PDI Perjuangan Purworejo, Albertus Sumbogo, menjelaskan: “Barisan celeng yaitu kader PDIP yang ingin berjuang demi besarnya partai mengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden 2024.”

Kita disuguhi lagi dagelan politik. Setelah cebong dan kampret berdamai karena kampret merapat ke cebong, kini banteng dan celeng yang berseteru. Awalnya adalah Albertus Sumbogo, mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden pada Pemilu 2024. Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang Wuryanto, menyebut pengurus dan oknum PDIP yang mendeklarasikan itu sebagai barisan celeng. Alasannya, barisan itu tidak menaati arahan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang melarang kader menggelar deklarasi kepada tokoh manapun pada Pilpres 2024. “Apapun alasannya, kalau di luar barisan banteng, ya, celeng,” tegas Bambang. Sumbogo akhirnya dipanggil ke Jakarta untuk dinasehati.

Ada pun Megawati, profesor kehormatan dengan dua jabatan Ketua Dewan Pengarah (BPIP dan BRIN), adalah orang yang paling berhak menentukan siapa calon presiden dari partai banteng itu. Belum diputuskan siapa yang akan dijadikan calon, namun deklarasi untuk Puan Maharani sama sekali tak dipersoalkan. Ibu yang baik memang harus menyayangi anaknya. Sayang, elektabilitas Puan, menurut lembaga survei, jauh di bawah Ganjar.

Kembali ke masalah celeng. Sebagai kelompok babi, apakah julukan itu bisa dianggap menghina jika ditimpakan kepada manusia? Tergantung keyakinan seseorang. Ada agama yang melarang umatnya memakan daging babi. Haram. Bahkan ahli bahasa kita di masa lalu telah membuat fitnah kepada babi dengan menyebutkan orang yang suka bikin rusuh sebagai “membabi buta”. Padahal di peternakan babi yang besar, babi yang buta paling banyak diam dan tidur.

Pada keyakinan umat yang lain, daging babi dianggap menyehatkan, bahkan untuk obat termasuk vaksin. Pada era Dinasti Qing, jauh di daratan Cina itu, babi adalah simbol kekayaan, keberuntungan, dan kemakmuran. Karena itu orang-orang di masa lalu menabung uang logamnya dalam sebuah wadah yang berbentuk babi. Belakangan dikenal dengan nama celengan. Kata celengan tetap terkenal sampai era modern ini sebagai simbol dari tabungan, bahkan ada lagu yang dinyanyikan Fiersa Besari dengan judul Celengan Rindu.

Babi dan celeng memang multi tafsir. Leluhur orang Jawa tak suka jika manusia menggunakan simbol hewan untuk keperkasaannya. Dalam kitab Sarasamuscaya beraksara Jawa Kuno, sloka (ayat) awalnya sudah mengingatkan, lahir sebagai manusia adalah sangat utama, kenapa harus menggunakan simbol hewan. Maka nama-nama seperti gajah, kebo, ayam, gagak, mulai ditinggalkan.

Maka, jadi aneh saat ini, ketika cebong dan kampret mulai dilupakan, muncul celeng sebagai perlawanan terhadap banteng. Ini tidak sehat. Lebih tak sehat lagi karena dipakai untuk jargon-jargon pemilihan presiden yang masih agak lama. Tak adakah candaan baru yang lebih meningkatkan imun ketimbang ribut-ribut urusan banteng, eh, celeng?

*** Putu Setia/Mpu Jaya Prema
(Koran Tempo 17 Oktober 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar