07 Oktober 2021

BacaBG Bab III Sloka 10 - Hormati Tradisi yang Berbeda


Bhagawad Gita Percakapan III sloka 10. Saha-yajnah prajah sratva, purovaca prajapatih, anena prasavisyadhvam, esavo’stv ista-kama-dhuk.

Ini terjemahannya yang ada di dalam buku BG almarhum Bapak Nyoman Pendit. “Dahulu kala Prajapati menciptakan manusia, bersama bakti persembahannya dan berkata: dengan ini engkau akan berkembang biak dan biarlah ini menjadi sapi perahmu.”

Prajapati, Sang Pencipta, Brahman, telah menciptakan alam semesta beserta makhluknya melalui persembahan suci yadnya. Kamaduk dalam sloka ini seringkali diartikan sebagai alam lingkungan yang ada di bumi. Memang kata Kamaduk juga sering diartikan “sapi” seperti terjemahan Pak Pendit, namun maknanya adalah “sapi kemakmuran” yang akan beranak-pinak menghasilkan berbagai kesejahtraan.

Dengan demikian ada tiga hal yang berhubungan dengan yadnya atau pengorbanan suci. Yakni Prajapati yaitu Tuhan itu sendiri, Prajah yaitu manusia, dan Kamadhuk yaitu alam semesta. Manusia (Prajah) harus berbhakti kepada Tuhan (Prajapati), manusia harus mengabdi dan saling memberikan pengorbanan (yadnya) kepada sesama manusia, dan manusia pun harus memberikan yadnya untuk kelestarian alam (Kamadhuk). Tiga kewajiban berdasarkan yadnya ini kemudian oleh leluhur kita di masa lalu dikelompokkan dalam suatu istilah Tri Hita Karana. Munculah penjabaran yang lebih sederhana, yakni berbakti dan harmonis kepada Tuhan, disebut parahyangan, berbakti dan harmonis kepada sesama manusia disebut pawongan, dan memelihara lingkungan alam dengan harmonis disebut palemahan.

Konsep persembahan dan yadnya ini juga sinkron dengan tiga tujuan dalam mengamalkan ajaran agama. Pertama, untuk meningkatkan kualitas diri pribadi. Kualitas diri ini adalah sehat jasmani dan rohani, tenang dalam menghadapi berbagai gejolak hidup, memiliki ilmu pengetahuan yang cukup lewat pendidikan yang memadai. Ini disebut Swa Artha. Yang kedua disebut Para Artha, yaitu mengabdi kepada sesama manusia ciptaan Tuhan. Tolong menolong berdasarkan kasih dan dilandasi dengan punia yang tulus ikhlas (lascarya). Tujuan yang ketiga disebut Parama Artha. Inilah tujuan pengamalan agama yang tertinggi, menyerahkan diri kepada Tuhan melalui bhakti dan pengabdian. Ketiganya ini tetap berlandaskan yadnya yang ikhlas dan pengorbanan yang suci.

Setiap manusia dalam kesehariannya harus bekerja keras, bukan untuk kepentingan diri semata, tetapi ada kepentingan yang lebih mulia meski seperti tersembunyi. Kepentingan itu adalah pengorbanan yang tulus untuk kesejahtraan bersama dan menyerahkan pengorbanan ini kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setiap pengorbanan yang tulus akan membersihkan jiwa-raga kita, dan hal ini merupakan suatu tindakan spiritual yang bisa jadi tidak disadari oleh pelakunya. Secara pelan pelaku yadnya ini akan dijauhkan dari segala mara-bahaya dan hal-hal yang bersifat negatif.

Lalu, bagaimana kita menerapkan yadnya itu agar benar-benar menjadi pengorbanan suci untuk kesejahtraan semua orang? Yadnya itu ada yang berwujud tapa brata, lebih kepada mencari kesejatian diri sendiri. Lewat perenungan ini kemudian digali hal-hal yang positif untuk kemudian disalurkan lewat pencerahan ke masyarakat. Yadnya ada yang berbentuk dana, yakni lebih banyak memberikan pertolongan atau bantuan kepada sesama makhluk. Bukan cuma makhluk hidup sesama manusia, juga binatang dan tumbuh-tumbuhan. Dan bentuk lain yadnya, seperti yang lebih banyak dilakukan masyarakat Hindu di Bali, lewat ritual keagamaan. Ketiganya ini bisa terpisah tetapi lebih baik jika menjadi kesinambungan yang padu. Orang tak bisa tenang melaksanakan upacara agama, apalagi yang besar, kalau di sekitar upacara itu banyak ada orang miskin. Harus diimbangi dengan dana. Dan karena itu dana harus dipuniakan. Muncul sekarang istilah dana punia, dalam Bahasa Indonesia, bersedekah.

Dalam ritual keagamaan inilah muncul adat kebiasaan setempat yang biasanya merupakan warisan para leluhur terdahulu. Maka pelaksanaan upacara keagamaan itu pun berbeda-beda di beberapa wilayah, apalagi di berbagai suku. Seperti di Bali dikenal adanya banten yang rumit-rumit yang sangat berbeda dengan di tempat lain, meski pun sama-sama mengamalkan ajaran agama Hindu.

Namun, betapa pun rumitnya ritual keagamaan itu, hendaknya selalu mengacu kepada tujuan pengamalan agama, yakni pengorbanan suci untuk kesejahtraan masyarakat. Jadi, banten yang rumit-rumit di Bali jangan sampai menjadikan orang Bali miskin, justru harus membuat orang Bali sejahtra. Ada pergerakan ekonomi di balik upacara keagamaan ini. Tapi tetaplah sesuai dengan kebutuhan, bukan jor-joran.

Di lain pihak, kita harus siap melihat perbedaan dalam melakukan  yadnya. Kalau ada yadnya yang tidak memakai banten, tetapi memakai sarana lain, misalnya, memberikan dana punia, mendorong kesejahtraan masyarakat dengan jalan bekerja, memberi pencerahan di Pasraman, dan banyak contoh lain, maka mari kita hormati sebagai sebuah bakti juga, sebuah pengorbanan suci.

Mari kita membiasakan diri melihat perbedaan, tak harus kita terjebak dan fanatik dengan tradisi kita sendiri, karena orang lain mungkin juga punya tradisi yang berbeda. Kita hormati masing-masing tradisi itu.

** Mpu Jaya Prema


Tidak ada komentar:

Posting Komentar