16 Juni 2021

#BacaBG - Bab III Sloka 26 - Tugas Orang Bijaksana

Pada pembacaan kitab Bhagawad Gita kali ini saya pilihkan Percakapan ke 3 pada sloka 26. Sloka ini penting kita bahas kali ini karena menyangkut masalah kewajiban yang harus kita laksanakan dengann baik. Dan jika kita pada posisi sebagai pemimpin kita jangan sekali-kali mengacaukan pemikiran masyarakat yang pendidikan atau pemahamannya masih dibawah standar kita.

Sloka itu berbunyi: na buddhi-bhedam janayed, ajnanam karma-sanginan, josayet sarva-karmani, vidvan yuktah samacaran. 

Terjemahan dari kitab BG susunan Pak Nyoman Pendit begini: Janganlah mereka yang bijaksana, membingungkan  yang bodoh bekerja berdasarkan nafsu, melainkan membiarkan semua bekerja, sambil memberi contoh bekerja berbhakti.

Terjemahan ini masih sangat terikat pada kata-kata. Coba saya bacakan terjemahan yang lebih bebas dari kitab Bhagawad Gita susunan Made Darmayasa. Begini terjemahannya; Orang-orang yang bijaksana hendaknya tidak mengacaukan pemikiran orang-orang yang berada dalam kebodohan yang sangat terikat pada pahala dan perbuatan yang dilakukan. Orang bijaksana hendaknya melaksanakan tugas kewajiban dengan baik, dan mengajak mereka untuk melaksanakan kewajiban dengan baik.

Sloka ini bisa ditafsirkan ke banyak hal. Dalam tayangan ini saya tafsirkan dari dua sisi, yaitu sisi spiritual dan sisi kerja. Jika kita kupas dari sisi spiritual yaitu masalah keyakinan, maka kita diajarkan untuk menghormati keyakinan yang berbeda. Apa pun keyakinan dan kepercayaan seseorang, kita jangan sekali meremehkan keyakinan orang itu. Justru kita wajib untuk membantunya jika keyakinan itu untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena setiap simbol yang dipuja dalam keyakinan itu sebenarnya merupakan suatu proses untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa.

Jika dalam satu rumpun agama Hindu, apakah orang itu memuja istadewata atau memuja leluhur, semuanya dalam proses menuju pemujaan kepada Tuhan. Bahkan dalam proses memuja itu pun jika terjadi perbedaan sarana, ya tetap harus kita hormati. Memuja Istadewata, misalnya, memuja Durga. Ada umat Hindu etnis tertentu memuja Durga sebagai dewi yang cantik jelita. Tetapi ada umat Hindu dari etnis lain yang memuja Durga sebagai sesuatu yang menyeramkan. Perbedaan ini harus kita hormati karena proses pemujaan mereka bisa saja berbeda tetapi tujuan utamanya adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Jangan saling mencela apalagi melarang mereka melakukan itu hanya karena berbeda dengan kita.

Ada yang memuja Ganesha dengan memajang patungnya lalu bernyanyi-nyanyi dengan Gayatri Ganesha, namun ada yang memuja Ganesha dengan membuat gambarnya lalu disertakan dalam sesajen dan kekidung. Bahkan Namanya pun menjadi Ganapati. Ini hanya perbedaan belaka, baik Ganesha atau Ganapati, baik patung mau pun gambarnya yang bercorak wayang, tetap saja yang dipuja adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Kebijaksanaan. Tidak ada gunanya kita saling cela, apalagi menutup ashram2 tempat pemujaan itu. Seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa tempat.

Tugas orang-orang bijaksana adalah meyakinkan orang-orang yang belum paham tentang perbedaan itu, yang dalam sloka ini disebutkan sebuah kebodohan. Mari kita hormati keyakinan yang berbeda dan kalau kita tidak sependapat, kita cukup dengan tidak ikut dalam proses itu. Selesai urusannya. Jangan melarang ini melarang itu.

Ada pun jika proses pemujaan itu dilakukan dalam kebersamaan, misalnya, di kawasan desa pakraman yang punya pararem tertentu, apalagi di pura, maka proses yang disepakati Bersama dalam pararem itu yang dipakai. Dan orang harus tunduk pada kesepakatan itu. Kalau keyakinan tersebut dilalukans dalam rumah sendiri, dalam kelompok kecil apakah itu disebut ashram, padepokan dan lainnya, mari kita hormati.

Jika sloka ini dikaitkan dengan penafsitan yang lain, yakni masalah kerja atau masalah karma (perbuatan), maka janganlah mengusik apa pun yang dilakukan seseorang, termasuk mereka yang bekerja dengan masih terikat kepada hasil. Biarlah kesadaran sejati yang mengubah persepsi mereka. Tugas orang bijak adalah memberi teladan kepada mereka, dengan demikian kesadaran mereka akan tumbuh dengan sendirinya setelah melihat teladan itu. Jadi, orang yang bekerja terikat dengan hasil, pastilah akan menemui kekecewaan jika hasilnya tidak segera nampak.

Bagaimana dengan masalah kebodohan, di mana umat tidak mampu mencerna ajaran agama dengan baik, apa yang harus dilakukan orang bijak? Beri mereka pengertian dan pemahaman yang baik dan juga contoh yang jelas. Misalnya, ada sebagian umat yang menganggap bahwa judi itu tidak menyimpang dari ajaran agama karena judi sudah ada sejak zaman purba. Lalu disebutkan dalam ephos Mahabharata di mana kitab Bhagawad Gita ada di dalamnya, judi sudah dilakukan oleh Pandawa dan Kurawa dengan bermain dadu. Kenapa sekarang tidak boleh berjudi? Lalu disebut, sabungan ayam sudah ada sejak dulu yang disebut tabuh rah, kenapa sekarang disebut judi?

Nah, ini termasuk “kebodohan” dalam mengupas sebuah kisah Mahabharata yang oleh umat Hindu tergolong kitab Ithiasa. “Kebodohan” yang dimaksudkan adalah mereka tidak paham bahwa kitab Ithiasa itu berisi sesuluh untuk umat manusia, bahwa tindakan yang salah akan berakibat buruk. Pandawa berjudi, adalah contoh tindakan yang salah, apalagi sampai mempertaruhkan istrinya, seorang wanita terhormat.

Karena perbuatan salah itu dilakukan maka hasilnya adalah keburukan, yakni Pandawa harus dihukum 12 tahun ke tengah hutan. Nah orang-orang bijaksana akan menerangkan kisah ini dengan mengatakan: wahai umat manusia, janganlah engkau berjudi karena berjudi melanggar agama dan berakibat buruk. Begitu pula tabuh rah, itu bukannya ayam yang diadu tetapi darah diambil dari seeokor ayam yang sudah diberikan doa-doa untuk menebus kematiannya.

Karena sebagian masyarakat kita dulu suka membuat dramatisasi dan sekaligus hiburan, maka ayam itu diadu dulu. Padahal yang diadu sebelum ayam diambil darahnya adalah telur dengan kelapa. Mengadu ayam ini justru kebiasaan yang salah, menyakiti hewan dan itulah yang disebut ahimsa. Kalau ayam dipotong dengan didahului doa suci untuk dijadikan korban yadnya, itu bukan dalam tataran ahimsa. Ini tugas para bijaksana menjelaskannya.

Demikianlah umat sedharma, mari kita kupas lagi isi sloka Bhagawad Gita lainnya pada kesempatan yang datang. Cukup satu sloka setiap tayangan. Sampai jumpa, semoga ada manfaatnya. Rahayu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar