Sloka itu berbunyi: na buddhi-bhedam janayed, ajnanam karma-sanginan, josayet sarva-karmani, vidvan yuktah samacaran.
Terjemahan dari kitab BG susunan Pak Nyoman Pendit begini: Janganlah mereka yang
bijaksana, membingungkan yang
bodoh bekerja berdasarkan nafsu, melainkan membiarkan semua bekerja, sambil memberi
contoh bekerja berbhakti.
Terjemahan ini masih sangat
terikat pada kata-kata. Coba saya bacakan terjemahan yang lebih bebas dari
kitab Bhagawad Gita susunan Made Darmayasa. Begini terjemahannya; Orang-orang
yang bijaksana hendaknya tidak mengacaukan pemikiran orang-orang yang berada
dalam kebodohan yang sangat terikat pada pahala dan perbuatan yang dilakukan.
Orang bijaksana hendaknya melaksanakan tugas kewajiban dengan baik, dan
mengajak mereka untuk melaksanakan kewajiban dengan baik.
Sloka ini bisa ditafsirkan ke
banyak hal. Dalam tayangan ini saya tafsirkan dari dua sisi, yaitu sisi spiritual
dan sisi kerja. Jika kita kupas dari sisi spiritual yaitu masalah keyakinan,
maka kita diajarkan untuk menghormati keyakinan yang berbeda. Apa
pun keyakinan dan kepercayaan seseorang,
kita jangan sekali meremehkan keyakinan orang itu. Justru kita wajib untuk
membantunya jika keyakinan itu untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karena setiap simbol yang dipuja dalam keyakinan itu sebenarnya merupakan suatu
proses untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa.
Jika dalam satu rumpun agama
Hindu, apakah orang itu memuja istadewata atau memuja leluhur, semuanya dalam
proses menuju pemujaan kepada Tuhan. Bahkan dalam proses memuja itu pun jika
terjadi perbedaan sarana, ya tetap harus kita hormati. Memuja Istadewata, misalnya,
memuja Durga. Ada umat Hindu etnis tertentu memuja Durga sebagai dewi yang
cantik jelita. Tetapi ada umat Hindu dari etnis lain yang memuja Durga sebagai
sesuatu yang menyeramkan. Perbedaan ini harus kita hormati karena proses
pemujaan mereka bisa saja berbeda tetapi tujuan utamanya adalah Tuhan Yang Maha
Kuasa. Jangan saling mencela apalagi melarang mereka melakukan itu hanya karena
berbeda dengan kita.
Ada yang memuja Ganesha dengan
memajang patungnya lalu bernyanyi-nyanyi dengan Gayatri Ganesha, namun ada yang
memuja Ganesha dengan membuat gambarnya lalu disertakan dalam sesajen dan
kekidung. Bahkan Namanya pun menjadi Ganapati. Ini hanya perbedaan belaka, baik
Ganesha atau Ganapati, baik patung mau pun gambarnya yang bercorak wayang,
tetap saja yang dipuja adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa
Kebijaksanaan. Tidak ada gunanya kita saling cela, apalagi menutup ashram2
tempat pemujaan itu. Seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa tempat.
Tugas orang-orang bijaksana
adalah meyakinkan orang-orang yang belum paham tentang perbedaan itu, yang
dalam sloka ini disebutkan sebuah kebodohan. Mari kita hormati keyakinan yang
berbeda dan kalau kita tidak sependapat, kita cukup dengan tidak ikut dalam
proses itu. Selesai urusannya. Jangan melarang ini melarang itu.
Ada pun jika proses pemujaan itu
dilakukan dalam kebersamaan, misalnya, di kawasan desa pakraman yang punya pararem
tertentu, apalagi di pura, maka proses yang disepakati Bersama dalam pararem
itu yang dipakai. Dan orang harus tunduk pada kesepakatan itu. Kalau keyakinan
tersebut dilalukans dalam rumah sendiri, dalam kelompok kecil apakah itu
disebut ashram, padepokan dan lainnya, mari kita hormati.
Jika sloka ini dikaitkan dengan penafsitan yang lain, yakni masalah kerja atau masalah
karma (perbuatan), maka janganlah mengusik apa pun yang dilakukan seseorang,
termasuk mereka yang bekerja dengan masih terikat kepada hasil. Biarlah
kesadaran sejati yang mengubah persepsi mereka. Tugas orang bijak adalah
memberi teladan kepada
mereka, dengan demikian kesadaran mereka akan tumbuh dengan sendirinya setelah
melihat teladan itu. Jadi, orang yang
bekerja terikat dengan hasil, pastilah akan menemui kekecewaan jika hasilnya
tidak segera nampak.
Bagaimana dengan masalah
kebodohan, di mana umat tidak mampu mencerna ajaran agama dengan baik, apa yang
harus dilakukan orang bijak? Beri mereka pengertian dan pemahaman yang baik dan
juga contoh yang jelas. Misalnya, ada sebagian umat yang
menganggap bahwa judi itu tidak menyimpang dari ajaran agama karena judi sudah
ada sejak zaman purba. Lalu
disebutkan dalam ephos Mahabharata di mana kitab Bhagawad Gita ada di dalamnya,
judi sudah dilakukan oleh Pandawa dan Kurawa
dengan bermain dadu. Kenapa sekarang tidak boleh berjudi? Lalu disebut, sabungan ayam sudah ada sejak
dulu yang disebut tabuh rah, kenapa sekarang disebut judi?
Nah, ini termasuk “kebodohan” dalam
mengupas sebuah kisah
Mahabharata yang oleh umat Hindu tergolong kitab Ithiasa. “Kebodohan” yang
dimaksudkan adalah mereka tidak paham bahwa kitab Ithiasa itu berisi sesuluh
untuk umat manusia, bahwa tindakan yang salah akan berakibat buruk. Pandawa
berjudi, adalah contoh
tindakan yang salah, apalagi sampai mempertaruhkan istrinya, seorang wanita
terhormat.
Karena perbuatan salah itu dilakukan maka
hasilnya adalah keburukan, yakni Pandawa harus dihukum 12 tahun ke tengah
hutan. Nah orang-orang bijaksana akan menerangkan kisah ini dengan mengatakan:
wahai umat manusia, janganlah engkau berjudi karena berjudi melanggar agama dan
berakibat buruk. Begitu pula tabuh
rah, itu bukannya ayam yang diadu tetapi darah diambil dari seeokor ayam yang
sudah diberikan doa-doa untuk menebus kematiannya.
Karena sebagian masyarakat
kita dulu suka membuat dramatisasi dan sekaligus hiburan, maka ayam itu diadu
dulu. Padahal yang diadu sebelum ayam diambil darahnya adalah telur dengan
kelapa. Mengadu ayam ini justru kebiasaan yang salah, menyakiti hewan dan itulah
yang disebut ahimsa. Kalau ayam dipotong dengan didahului doa suci untuk
dijadikan korban yadnya, itu bukan dalam tataran ahimsa. Ini tugas para
bijaksana menjelaskannya.
Demikianlah umat sedharma, mari kita kupas lagi isi sloka Bhagawad Gita lainnya pada kesempatan yang datang. Cukup satu sloka setiap tayangan. Sampai jumpa, semoga ada manfaatnya. Rahayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar