istan bhogan hi vo deva -- disyante yajna bhavitah -- tair
dattan apradayaibho -- yo bhunkte stena eva sah
Terjemahan dari Pak Nyoman Pendit begini. "Sebab dengan pujamu dewata akan menganugrahkan kebahagian bagimu. Dia yang tak membalas rahmat ini kepadaNya, sesungguhnya adalah pencuri.
Simple sekali terjemahan Nyoman
Pendit. KepadaNya yang dimaksudkan di sini adalah Tuhan Yang Maha Esa. Coba saya
cari perbandingan dengan terjemahan yang sangat bebas dari Made Darmayasa,
seorang acharya yang kini punya acara pembacaan Bagawad Gita di tv swasta di
Bali. Made Darmayasa menerjemahkan sloka ini begini:
Para dewa yang telah terpuaskan oleh
persembahan-persembahan suci pastilah senantiasa akan memenuhi keinginan-keinginan
dan memberkahi segala kebutuhan hidup. Akan tetapi jika segala berkah tersebut
tidak dipergunakan sebagai persembahan suci, maka sesungguhnya orang yang
menikmati sendirian berkah-berkah tersebut, disebut sebagai seorang pencuri.
Mari kita bahas lebih jelas.
Persembahan itu, apa pun bentuknya, baik berupa yadnya atau pengorbanan yang
disertai dengan sesajen yang rumit, mau pun yang paling sederhana sekalipun
hanya berupa puja, para dewa akan puas, sepanjang itu dilakukan dengan iklhas
dan suci dalam persembahan.
Kepuasan para dewa ini akan berwujud
anugrah untuk para pemujanya, berupa kebutuhan hidup untuk menuju kebahagiaan.
Namun kalau berkah yang sudah diberikan itu hanya dinikmati sendiri dan tidak
lagi dijadikan bahan persembahan, maka orang yang menerima berkah itu bisa
disebut sebagai pencuri.
Saya berikan contoh yang lebih mudah
untuk dipahami. Kita melakukan persembahan berupa yadnya dengan sesajen, istilah
yang kini makin populer adalah tetap dengan yadnya dresta Bali. Persembahan itu
hendaknya dilakukan dengan segenap kemampuan kita. Bukan besar dan kecilnya
yadnya itu membuat kita mendapatkah berkah. Para dewa, para dewata, pasti akan
menerima persembahan kita jika dilakukan dengan ikhlas, lascarya, tiada beban
yang semuanya itu bisa disimpulkan sebagai kesucian. Kalau kita tidak mampu
membuat banten yang besar, maka buatlah banten yang menengah. Tidak juga mampu
buatlah banten dalam bentuk kanista, yang terkecil. Kanista bukan berarti
nista.
Semua banten itu utama, yang kanista
pun utama. Kalau dijabarkan lebih jelas lagi, misalnya, kita melakukan piodalan
di merajan, kalau dananya tak cukup tidak perlu banten ayaban di hulu memakai
bebangkit, cukup pulagembal. Itu pun juga tak cukup dananya, tak perlu pakai
pulagembal cukup tumpeng solas. Kalau banten ayaban ini bisa kita perkecil maka
runtutannya pun terus mengecil. Jadi tidak perlu berutang hanya untuk ngaturang
piodalan. Tak perlu gengsi-gengsian.
Tetapi sebaliknya, kalau kita sudah mampu
dan berkecukupan dana, buatlah banten yang lebih besar. Harta kekayaan kita itu
adalah berkah yang diberikan Tuhan dan para dewa selama ini. Dengan banten yang
lebih besar, ekonomi pedesaan bergerak. Yang jualan busung ada pembelinya, peternak
ayam laris. Sekehe gong dan sekehe topeng ada yang nanggap. Tetangga dan warga
sekitar ikut menikmati lawarnya. Toh bagi orang yang mampu biaya itu tak
seberapa dibandingkan mereka foya-foya di hotel dan restoran mewah. Kalau
berkah itu tidak kita jadikan persembahan dan kita makan sendiri, maka itulah
yang disebut: sama dengan pencuri menurut sloka BG ini.
Orang yang mampu secara ekonomi, tetapi
mereka tak mau melakukan yadnya yang sesuai kemampuannya, itu namanya pelit. Meski
alasannya seperti orang bijak, banten harus sederhana, ngapain bikin banten
besar, Tuhan tak makan banten, jangan bikin ribet. Jadi orang ini berlindung
dalam kesederhanaan dan seolah-olah serba sederhana itu adalah ajaran agama. Mending
kalau harta kekayaannya disedekahkan untuk panti asuhan atau untuk memperbaiki
pura, tetapi mereka berfoya-foya di hotel atau makan di restoran mahal dan
seterusnya. Orang ini yang tidak memanfaatkan berkah yang diberikan untuk
yadnya, dan dalam sloka BG ini disebut pencuri, oleh masyarakat bisa disebut
orang pelit. Berkahnya bisa dicabut kapan pun, tinggal waktu saja, dan jika itu
terjadi dia akan jatuh lebih sakit.
Sayangnya saat ini masih banyak orang
yang kemampuannya tidak ada tetapi gengsinya tinggi. Bikin banten besar padahal
pakai utang. Ngaben maunya sendiri, biayanya sampai puluhan juta, tak mau
ngaben masal yang cukup bayar iuran sejuta atau dua juta.
Ada orang, tak elok sebut
identitasnya, meminta saya mengupacarai otonan anaknya. Rumahnya sih lumayan
tetapi tak ada halaman, merajannya juga sederhana, karena lebih mementingkan
renovasi rumahnya. Dia bilang sudah memesan banten besar dengan bebangkit
segala, entah siapa yang menganjurkan. Saya katakan, apa mau natab otonan di
griya, supaya lebih lapang? Dia bilang tidak, dia ingin teman-temannya tahu
kalau sudah renovasi rumahnya. Gengsinya luar biasa. Ini otonan apa pamer
rumah.
Saya bilang tak mungkin otonan dengan
banten sebesar itu di rumah yang sempit. Sulinggih muput yadnya tak bisa duduk
di lantai bergelar tikar. Saya sarankan pakailah pemangku. Akhirnya ya pemangku
yang nagnteb otonan, lalu untuk apa banten besar dengan bebangkit itu kalau
pemangku tak boleh memuja bebangkit? Apa lagi ada banten Sidakarya sementara
untuk mementaskan topeng sidakarya tak ada tempat, apalagi pakai gong. Ini saya
sebut beryadnya sebagai korban dari tukang jual banten. Maka beryadnya
sebaiknya sesuaikan dengan kemampuan, dengan lokasi yadnya, dan pemuput yadnya.
Jangan bantennya yang dibeli dulu baru mencari pemuput yadnya, Namanya orang
bisnis banten pastilah diberikan yang paling besar.
Nah inilah yang harus disadari oleh umat
saat ini. Persembahan yadnya itu memang harus dilakukan karena lewat
persembahan itu kita mendapatkan anugrah. Tidak perlu besar tetapi sesuaikan
kemampuan. Namun setelah berbagai berkah kita terima, lakukan persembahan yang
telah disesuaikan dengan berkah yang kita terima, tentu setelah kebutuhan pokok
kita dalam hidup ini juga sudah terpenuhi dengan baik. Salah juga kalau mentang-mentang
mentaati sloka ini, semua berkah kita jadikan persembahan pula, tidaklah
begitu. Ada prosentase bagaimana memakai harta kekayaan, dan itu mari kita bahas
lain kali.
Kembali ke sloka 12 dari percakapan ke
tiga BG ini, sesungguhnya sloka ini juga menyiratkan agar kita tetap bersyukur,
apa pun berkah yang kita terima. Banyak orang yang tak
bisa bersyukur. Mereka diberi kesehatan, tetapi tidak bersyukur. Mereka diberi
kekayaan, juga tidak bersyukur. Malah mereka mabuk dengan kekayaan itu, pamer
ke banyak orang. Punya mobil baru pamer, punya pakaian dan perhiasan mahal
pamer. Bahkan sembahyang ke pura
pun pamer.
Jangan suka pamer, tetapi sukalah
bersyukur. Bersyukurlah selalu dengan apa yang sudah
diperoleh. Jika bisa membeli mobil, bersyukurlah dan jangan pamer karena banyak
orang hanya bisa membeli motor. Kalau
mampunya cuma membeli motor, jangan punya keinginan yang
tak terjangkau untuk punya mobil.
Lihatlah banyak orang yang hanya bisa membeli sepeda. Namun hanya punya
sepeda pun wajib bersyukur karena banyak
orang hanya bisa berjalan kaki ke mana-mana.
Hanya bisa berjalan kaki tetaplah bersyukur. Ada orang yang tidak punya kaki lagi, karena kecelakaan atau
sakit lumpuh. Semua keterbatasan
phisik ini tetaplah disyukuri karena kita lahir sebagai
manusia, makluk utama ciptaan Tuhan, bukan lahir sebagai hewan. Kitab Sarasamusccaya
menyebutkan, berbahagialah dilahirkan sebagai manusia, makluk mulia ciptaan
Tuhan, karena lewat kehidupan sebagai
manusia ini kita
bisa perbaiki karma untuk kehidupan yang lebih baik, kelak di kelahiran kemudian.
Semoga ada manfaatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar