19 Juni 2021

#BacaBG Bab III Sloka 12 Persembahan yang Utama

Sloka yang saya pilih kali ini dari Percakapan ke 3 sloka 12.

istan bhogan hi vo deva -- disyante yajna bhavitah -- tair dattan apradayaibho -- yo bhunkte stena eva sah

Terjemahan dari Pak Nyoman Pendit begini. "Sebab dengan pujamu dewata akan menganugrahkan kebahagian bagimu. Dia yang tak membalas rahmat ini kepadaNya, sesungguhnya adalah pencuri.

Simple sekali terjemahan Nyoman Pendit. KepadaNya yang dimaksudkan di sini adalah Tuhan Yang Maha Esa. Coba saya cari perbandingan dengan terjemahan yang sangat bebas dari Made Darmayasa, seorang acharya yang kini punya acara pembacaan Bagawad Gita di tv swasta di Bali. Made Darmayasa menerjemahkan sloka ini begini:

Para dewa yang telah terpuaskan oleh persembahan-persembahan suci pastilah senantiasa akan memenuhi keinginan-keinginan dan memberkahi segala kebutuhan hidup. Akan tetapi jika segala berkah tersebut tidak dipergunakan sebagai persembahan suci, maka sesungguhnya orang yang menikmati sendirian berkah-berkah tersebut, disebut sebagai seorang pencuri.

Mari kita bahas lebih jelas. Persembahan itu, apa pun bentuknya, baik berupa yadnya atau pengorbanan yang disertai dengan sesajen yang rumit, mau pun yang paling sederhana sekalipun hanya berupa puja, para dewa akan puas, sepanjang itu dilakukan dengan iklhas dan suci dalam persembahan.

Kepuasan para dewa ini akan berwujud anugrah untuk para pemujanya, berupa kebutuhan hidup untuk menuju kebahagiaan. Namun kalau berkah yang sudah diberikan itu hanya dinikmati sendiri dan tidak lagi dijadikan bahan persembahan, maka orang yang menerima berkah itu bisa disebut sebagai pencuri.

Saya berikan contoh yang lebih mudah untuk dipahami. Kita melakukan persembahan berupa yadnya dengan sesajen, istilah yang kini makin populer adalah tetap dengan yadnya dresta Bali. Persembahan itu hendaknya dilakukan dengan segenap kemampuan kita. Bukan besar dan kecilnya yadnya itu membuat kita mendapatkah berkah. Para dewa, para dewata, pasti akan menerima persembahan kita jika dilakukan dengan ikhlas, lascarya, tiada beban yang semuanya itu bisa disimpulkan sebagai kesucian. Kalau kita tidak mampu membuat banten yang besar, maka buatlah banten yang menengah. Tidak juga mampu buatlah banten dalam bentuk kanista, yang terkecil. Kanista bukan berarti nista.

Semua banten itu utama, yang kanista pun utama. Kalau dijabarkan lebih jelas lagi, misalnya, kita melakukan piodalan di merajan, kalau dananya tak cukup tidak perlu banten ayaban di hulu memakai bebangkit, cukup pulagembal. Itu pun juga tak cukup dananya, tak perlu pakai pulagembal cukup tumpeng solas. Kalau banten ayaban ini bisa kita perkecil maka runtutannya pun terus mengecil. Jadi tidak perlu berutang hanya untuk ngaturang piodalan. Tak perlu gengsi-gengsian.

Tetapi sebaliknya, kalau kita sudah mampu dan berkecukupan dana, buatlah banten yang lebih besar. Harta kekayaan kita itu adalah berkah yang diberikan Tuhan dan para dewa selama ini. Dengan banten yang lebih besar, ekonomi pedesaan bergerak. Yang jualan busung ada pembelinya, peternak ayam laris. Sekehe gong dan sekehe topeng ada yang nanggap. Tetangga dan warga sekitar ikut menikmati lawarnya. Toh bagi orang yang mampu biaya itu tak seberapa dibandingkan mereka foya-foya di hotel dan restoran mewah. Kalau berkah itu tidak kita jadikan persembahan dan kita makan sendiri, maka itulah yang disebut: sama dengan pencuri menurut sloka BG ini.

Orang yang mampu secara ekonomi, tetapi mereka tak mau melakukan yadnya yang sesuai kemampuannya, itu namanya pelit. Meski alasannya seperti orang bijak, banten harus sederhana, ngapain bikin banten besar, Tuhan tak makan banten, jangan bikin ribet. Jadi orang ini berlindung dalam kesederhanaan dan seolah-olah serba sederhana itu adalah ajaran agama. Mending kalau harta kekayaannya disedekahkan untuk panti asuhan atau untuk memperbaiki pura, tetapi mereka berfoya-foya di hotel atau makan di restoran mahal dan seterusnya. Orang ini yang tidak memanfaatkan berkah yang diberikan untuk yadnya, dan dalam sloka BG ini disebut pencuri, oleh masyarakat bisa disebut orang pelit. Berkahnya bisa dicabut kapan pun, tinggal waktu saja, dan jika itu terjadi dia akan jatuh lebih sakit.

Sayangnya saat ini masih banyak orang yang kemampuannya tidak ada tetapi gengsinya tinggi. Bikin banten besar padahal pakai utang. Ngaben maunya sendiri, biayanya sampai puluhan juta, tak mau ngaben masal yang cukup bayar iuran sejuta atau dua juta.

Ada orang, tak elok sebut identitasnya, meminta saya mengupacarai otonan anaknya. Rumahnya sih lumayan tetapi tak ada halaman, merajannya juga sederhana, karena lebih mementingkan renovasi rumahnya. Dia bilang sudah memesan banten besar dengan bebangkit segala, entah siapa yang menganjurkan. Saya katakan, apa mau natab otonan di griya, supaya lebih lapang? Dia bilang tidak, dia ingin teman-temannya tahu kalau sudah renovasi rumahnya. Gengsinya luar biasa. Ini otonan apa pamer rumah.

Saya bilang tak mungkin otonan dengan banten sebesar itu di rumah yang sempit. Sulinggih muput yadnya tak bisa duduk di lantai bergelar tikar. Saya sarankan pakailah pemangku. Akhirnya ya pemangku yang nagnteb otonan, lalu untuk apa banten besar dengan bebangkit itu kalau pemangku tak boleh memuja bebangkit? Apa lagi ada banten Sidakarya sementara untuk mementaskan topeng sidakarya tak ada tempat, apalagi pakai gong. Ini saya sebut beryadnya sebagai korban dari tukang jual banten. Maka beryadnya sebaiknya sesuaikan dengan kemampuan, dengan lokasi yadnya, dan pemuput yadnya. Jangan bantennya yang dibeli dulu baru mencari pemuput yadnya, Namanya orang bisnis banten pastilah diberikan yang paling besar.

Nah inilah yang harus disadari oleh umat saat ini. Persembahan yadnya itu memang harus dilakukan karena lewat persembahan itu kita mendapatkan anugrah. Tidak perlu besar tetapi sesuaikan kemampuan. Namun setelah berbagai berkah kita terima, lakukan persembahan yang telah disesuaikan dengan berkah yang kita terima, tentu setelah kebutuhan pokok kita dalam hidup ini juga sudah terpenuhi dengan baik. Salah juga kalau mentang-mentang mentaati sloka ini, semua berkah kita jadikan persembahan pula, tidaklah begitu. Ada prosentase bagaimana memakai harta kekayaan, dan itu mari kita bahas lain kali.

Kembali ke sloka 12 dari percakapan ke tiga BG ini, sesungguhnya sloka ini juga menyiratkan agar kita tetap bersyukur, apa pun berkah yang kita terima. Banyak orang yang tak bisa bersyukur. Mereka diberi kesehatan, tetapi tidak bersyukur. Mereka diberi kekayaan, juga tidak bersyukur. Malah mereka mabuk dengan kekayaan itu, pamer ke banyak orang. Punya mobil baru pamer, punya pakaian dan perhiasan mahal pamer. Bahkan sembahyang ke pura pun pamer.

Jangan suka pamer, tetapi sukalah bersyukur. Bersyukurlah selalu dengan apa yang sudah diperoleh. Jika bisa membeli mobil, bersyukurlah dan jangan pamer karena banyak orang hanya bisa membeli motor. Kalau mampunya cuma membeli motor, jangan punya keinginan yang tak terjangkau untuk punya mobil. Lihatlah banyak orang yang hanya bisa membeli sepeda. Namun hanya punya sepeda pun wajib bersyukur  karena banyak orang hanya bisa berjalan kaki ke mana-mana.

Hanya bisa berjalan kaki tetaplah bersyukur. Ada orang yang tidak punya kaki lagi, karena kecelakaan atau sakit lumpuh. Semua keterbatasan phisik ini tetaplah disyukuri karena kita lahir sebagai manusia, makluk utama ciptaan Tuhan, bukan lahir sebagai hewan. Kitab Sarasamusccaya menyebutkan, berbahagialah dilahirkan sebagai manusia, makluk mulia ciptaan Tuhan, karena lewat kehidupan sebagai manusia ini kita bisa perbaiki karma untuk kehidupan yang lebih baik, kelak di kelahiran kemudian.

Semoga ada manfaatnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar