08 Juni 2021

#BacaBG Bab II Sloka 56 Suka dan Duka Jangan Berlebihan

Umat sedharma yang terkasih. Kali ini saya pilihkan sloka yang ringan saja untuk kita bahas. Percakapan kedua dari Bhagawad Gita yang disebut Sabkhya Yoga.  Saya pilih sloka 56. Bunyinya:

duhkhesy anudvigna manah, sukhesu vigata  sprhah, vita raga bhaya krodhah, sthita dhir munir ucyate.

Terjemahan sloka ini saya ambil ari Bhagawad Gita susunan Nyoman S Pendit, yang merupakan Bhagawad Gita yang pertama dijadikan rujukan secara nasional lewat Departemen Agama. Terjemahannya begini: “Orang yang tidak sedih di kala duka, tidak melonjak kegirangan di kala bahagia, bebas dari rasa takut dan amarah, ia disebut orang suci teguh iman.”

Nah, bagaimana menafsirkan sloka ini? Bergembira tentu saja boleh. Tetapi hendaknya bergembira jangan dilakukan secara berlebihan. Di kala mengalami kedukaan pun kita jangan pula bersedih. Orang Bali menyebutnya suka dan duka ini tergolong rwa bhineda, dua hal yang berbeda namun selalu berdampingan ibarat dua sisi mata uang. Jadi memang tak bisa dihindari meski pun bisa diupayakan.

Sloka ini sebenarnya menggambarkan orang yang sudah mendapatkan kesadaran dan pikirannya terbebas dari perasaan suka dan duka. Karena itu masih ada tambahan tentang bebas dari rasa takut dan membuat amarah. Kalau semua itu bisa dikendalikan maka dialah disebut sebagai orang yang telah suci dan teguh imannya.

Beberapa penerjemah Bhagawad Gita mengkaitkan sloka ini dalam keadaan situasi semadhi atau prilaku meditasi. Termasuk Nyoman S Pendit juga membahas dari sisi ini. Orang yang memutuskan untuk menekuni medaitasi akan berupaya melepaskan dirinya dari nafsu. Suka dan duka maupun rasa takut dan berbuat marah adalah nafsu duniawi yang harus dikendalikan. Kalau semuanya ini berhasil dikendalikan, maka tak ada bedanya antara suka dan duka karena hal itu hanyalah masalah perasaan. Di situlah keheningan, kesucian, akan datang pada diri kita.

Dikaitkan dengan situasi sosial politik budaya saat ini, kegembiraan itu jangan berlebihan jika ia datang pada diri kita., misalnya selesai pemilihan Begitu pun kesedihan jangan sampai membuat kita larut dan putus asa. Kita memang akan mengalami perubahan ketika mengalami suka mau pun duka, tetapi jangan terlalu berlebihan. Perubahan itu hendaknya disikapi dengan ketenangan yang wajar saja. Suka dan duka kita ibaratkan roda pedati yang sedang berputar, kadang ada di atas kadang di bawah.

Kalau kita ingin mengejar jabatan yang berkaitan dengan politik, misalnya, di sana sudah pasti ada kalah dan ada menang. Ada suka tatkala menang, ada duka dikala kalah. Ada rasa marah kenapa suara pemilih kita begitu kecil. Kalau ini tidak bisa kita kendalikan maka kita sudah gagal dalam hidup ini, karena tidak bisa bersaing. Bukankah hidup ini adalah peersaingan?

Yang menang jangan sampai mengobral janji2 yang tak pasti, jangan berpesta hura. Justru kemenangan itu dijadikan cambuk untuk bekerja sebagai pemimpin yang benar. Begitu pula yang kalah, pastilah bersedih mengalami duka hati. Jangan hal itu disimpan. Kalau disimpan akan menjadi bibit yang tidak baik ke depannya, bisa mengganggu pekerjaan orang yang menang dengan selalu ingin mendongkelnya. Coba saja kila dengarkan pembicaraan di masyarakat saat ini, betapa banyaknya caleg gagal di pemilu yang lalu berbuat yang tidak baik dengan menjadi provokator untuk menyerang caleg yang menang. Ini tentu perbuatan yang jaduh dari kesucian.

Sloka Bhagawad Gita ini sering juga dijadikan rujukan untuk menggambarkan seseorang yang sudah memiliki ketenangan jiwa karena ia sudah mampu berdiri di semua faktor positif maupun negatif. Ia tak mudah lagi terombang ambing oleh situasi sesaat. Orang seperti itu selalu puas dengan hasil yang sudah diperolehnya dan percaya sepenuhnya bahwa hasil itu semata-mata adalah anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Orang yang sudah tercerahkan tidak pernah mudah untuk marah dan sebaliknya juga tak punya rasa takut baik dalam menerima kekalahan yang membuatnya sedih maupun mendapatkan kemenangan yang membuatnya girang.

Mari kita camkan sloka suci Bhagawad Gita ini untuk bahan introspeksi bagaimana kita harus merajut kebersamaan setelah melewati suasana perbedaan yang mendalam ketika ada pemilihan pejabat. Jadilah orang yang berprilaku suci, minimal suci dalam pikiran. Sampai jumpa pada sloka yang lain. Rahayu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar