duhkhesy
anudvigna manah, sukhesu vigata sprhah,
vita raga bhaya krodhah, sthita dhir munir ucyate.
Terjemahan sloka ini saya ambil ari Bhagawad Gita susunan Nyoman S Pendit, yang merupakan Bhagawad Gita yang pertama dijadikan rujukan secara nasional lewat Departemen Agama. Terjemahannya begini: “Orang yang tidak sedih di kala duka, tidak melonjak kegirangan di kala bahagia, bebas dari rasa takut dan amarah, ia disebut orang suci teguh iman.”
Nah, bagaimana menafsirkan
sloka ini? Bergembira tentu saja boleh. Tetapi
hendaknya bergembira jangan dilakukan secara berlebihan. Di kala mengalami kedukaan pun kita
jangan pula bersedih. Orang Bali menyebutnya suka dan duka ini tergolong rwa
bhineda, dua hal yang berbeda namun selalu
berdampingan ibarat dua sisi mata uang.
Jadi memang tak bisa dihindari meski pun bisa diupayakan.
Sloka ini sebenarnya menggambarkan orang
yang sudah mendapatkan kesadaran dan pikirannya terbebas dari perasaan suka dan
duka. Karena itu masih ada tambahan tentang bebas dari rasa
takut dan membuat amarah. Kalau semua itu bisa dikendalikan maka dialah disebut
sebagai orang yang telah suci dan teguh imannya.
Beberapa penerjemah Bhagawad
Gita mengkaitkan sloka ini dalam keadaan situasi semadhi atau prilaku meditasi.
Termasuk Nyoman S Pendit juga membahas dari sisi ini. Orang yang memutuskan
untuk menekuni medaitasi akan berupaya melepaskan dirinya dari nafsu. Suka dan
duka maupun rasa takut dan berbuat marah adalah nafsu duniawi yang harus dikendalikan.
Kalau semuanya ini berhasil dikendalikan, maka tak ada bedanya antara suka dan
duka karena hal itu hanyalah masalah perasaan. Di situlah keheningan, kesucian,
akan datang pada diri kita.
Dikaitkan dengan situasi
sosial politik budaya saat ini, kegembiraan itu jangan berlebihan jika ia
datang pada diri kita., misalnya selesai pemilihan Begitu pun kesedihan jangan
sampai membuat kita larut dan putus asa. Kita memang akan mengalami perubahan
ketika mengalami suka mau pun duka, tetapi jangan terlalu berlebihan. Perubahan
itu hendaknya disikapi dengan ketenangan yang wajar saja. Suka dan duka kita
ibaratkan roda pedati yang sedang berputar, kadang ada di atas kadang di bawah.
Kalau kita ingin mengejar
jabatan yang berkaitan dengan politik, misalnya, di sana sudah pasti ada kalah
dan ada menang. Ada suka tatkala menang, ada duka dikala kalah. Ada rasa marah
kenapa suara pemilih kita begitu kecil. Kalau ini tidak bisa kita kendalikan
maka kita sudah gagal dalam hidup ini, karena tidak bisa bersaing. Bukankah
hidup ini adalah peersaingan?
Yang menang jangan sampai
mengobral janji2 yang tak pasti, jangan berpesta hura. Justru kemenangan itu
dijadikan cambuk untuk bekerja sebagai pemimpin yang benar. Begitu pula yang
kalah, pastilah bersedih mengalami duka hati. Jangan hal itu disimpan. Kalau
disimpan akan menjadi bibit yang tidak baik ke depannya, bisa mengganggu
pekerjaan orang yang menang dengan selalu ingin mendongkelnya. Coba saja kila
dengarkan pembicaraan di masyarakat saat ini, betapa banyaknya caleg gagal di
pemilu yang lalu berbuat yang tidak baik dengan menjadi provokator untuk
menyerang caleg yang menang. Ini tentu perbuatan yang jaduh dari kesucian.
Sloka
Bhagawad Gita ini sering juga dijadikan rujukan untuk
menggambarkan seseorang yang sudah memiliki ketenangan jiwa karena ia sudah
mampu berdiri di semua faktor positif maupun negatif. Ia tak mudah lagi
terombang ambing oleh situasi sesaat. Orang seperti itu selalu puas dengan hasil
yang sudah diperolehnya dan percaya sepenuhnya bahwa hasil itu semata-mata
adalah anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Orang yang sudah tercerahkan tidak
pernah mudah untuk marah dan sebaliknya juga tak punya rasa takut baik dalam
menerima kekalahan yang membuatnya sedih maupun mendapatkan kemenangan yang
membuatnya girang.
Mari kita camkan sloka suci Bhagawad Gita ini untuk bahan introspeksi
bagaimana kita harus merajut kebersamaan setelah melewati suasana perbedaan
yang mendalam ketika ada pemilihan pejabat.
Jadilah orang yang berprilaku suci, minimal suci dalam pikiran. Sampai jumpa
pada sloka yang lain. Rahayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar