Terjemahan sloka itu saya pakai bahasa yang
standar, karena begitulah seharusnya setiap kitab BG, sloka dan terjemahannya
harus standar. Sloka tak boleh diganti karena ini merupakan wahyu, sedang
terjemahan tak boleh menyimpang. Karena itu taka da BG yang asli atau yang tak
asli. Ada pun ulasannya bisa berbeda karena sudut pandang pembahasnya, dan apa
tekanan yang mau disampaikan di sini kita bisa berbeda pendapat.
Saya mulai dengan sloka yang saya pilih kali
ini. BG Percakapan IX seloka 27. yad karosi yad asnasi, yaj juhosi dadasi yat, tat tapasyasi kaunteya, tat kurusva mad-arpanam
Terjemahan bebasnya. Bebas yang dimaksud di sini adalah dengan bahasa prosa,
bukan bahasa puitis, bukan bebas yang keluar dari kontek. Terjemahannya begini:
Pekerjaan apapun yang kau
lakukan, apapun yang kau persembahkan dan dermakan, makanan apapun yang kau
nikmati, disiplin diri apapun yang engkau laksanakan, lakukanlah semuanya itu
hanya sebagai bhakti kepada Aku.
Aku di sini adalah Krishna dalam hal ini sebagai
Awatara Tuhan.
Nah, apa pun yang kita kerjakan semuanya sebagai
bhakti kepada Tuhan. Kita tak bisa meniadakan restu dan anugrah Tuhan. Cendekiawan Hindu yang jadi
legendaris di masa lalu, Swami Vivekananda, suka
mengatakan kata-kata: your hand on work and your heart on God. Tangan menghadapi pekerjaan,
hati menghadap Tuhan. Karena itu disetiap agama, agama
apa pun, sebelum kita melakukan pekerjaan kita wajib memohon restu dengan doa
pendek: Om awignam Astu.
Ketika kita bekerja, fokuslah pada pekerjaan. Tetapi kita tak bisa melepaskan
barang sekejap tentang keberadaan Tuhan karena itu setiap pekejaan yang kita
ambil pada hakekatnya adalah pencerminan rasa bhakti kita kepada Tuhan. Kalau pekerjaan itu berhasil kita ucapkan syukur,
kalau belum berhasil masih bisa diulang, jangan mengeluh.
Pekerjaan yang disertai rasa bhakti ini lebih ideal
lagi jika manfaatnya bisa diterima umat yang lebih luas. Bukan Cuma untuk
kepentingan diri sendiri. Bekerja untuk kemanusiaan dan untuk sesama manusia, bahkan untuk semua makhluk hidup
karena semua itu adalah ciptaan Tuhan.
Lebih-lebih bagi para pemimpin,
mereka harus punya budaya kerja yang terukur dan jelas. Budaya kerja itu,
sebagaimana dikutip dalam wejangan Swami Vivekananda adalah kerja yang
dilandasi pengetahuan, kebijaksanaan, kecerdasan, punya etika dan memahami
hakekat kerja itu sendiri.
Coba kita telisik para pemimpin kita saat ini, apakah
mereka punya budaya kerja yang dilandasi bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Apakah betul mereka akan siap bekerja untuk kepentingan sesama manusia, atau
jangan-jangan mereka menimbun harta kekayaan untuk diri sendiri dan mengabaikan
orang banyak. Atau minimal mereka hanya
membantu kelompoknya saja.
Katakanlah dia menjadi bupati atau gubernur. Sesuai aturan undang-undang, bupati dan gubernur dipilih oleh
partai politik dan kemudian rakyat memilih calon-calon yang sudah ditentukan
orangnya oleh partai. Namun ketika pemilihan sudah selesai, pemimpin itu bukan
lagi pemimpin partai dan hanya mementingkan partainya.
Dia harus menjadi pemimpin untuk seluruh rakyat, termasuk
rakyat yang tidak separtai dengan dia. Berbahktilah kepada semua rakyat, bukan
kepada Sebagian rakyat yang ada di partainya. Kalau dia menjadi pemimpin Lembaga,
apakah Lembaga adat atau Lembaga agama, maka cinta kasih dan santi – kedamaian –
untuk sebesar-besarnya umat harus dilakukan. Jangan malah memprofokasi umat
untuk bertindak di luar jalur hukum. Adat dan agama kita sangat cinta damai,
cinta kerukunan, guyub antar semeton. Berbeda sedikit dalam ritual tak harus
bertengkar. Ibarat naik gunung, ada orang yang cari jalan pintas mendaki langsung
ke puncak, dia senang cepat sampai. Tapi ada yang mendaki tebing perlahan-lahan
dan memutar karena di situ dia merasa Bahagia bisa melihat pemnadangan alam,
bisa tahu banyak pepohonan dan sebagainya. Tujuannya sama saja menuju puncak
kedamaian gunung.
Bekerja dengan
rasa bhakti harus menyerahkan hasilnya pada apa yang dikehendaki Tuhan, jangan
mendahului. Hasilnya itu kita nikmati sebagai prasadam, sebagai lungsuran, yang
sudah dalam keadaan diberkati. Jadi apa yang kita makan betul-betul menjadi
sesuatu yang satwik, bermanfaat buat tubuh dan rohani kita. Bukan kita
memasukkan racun ke dalam tubuh kita, baik racun berupa makanan maupun racun
berupa kebencian dan iri hati, misalnya.
Mari kita
selalu bekerja berlandaskan bhakti kepada Tuhan, dan itu artinya kita bekerja
dengan hati yang bersih, dengan ucapan yang bersih dan prilaku yang bersih.
Jangan sampai kita bekerja menciptakan permusuhan, membuat masyarakat terbelah.
Sampai jumpa, rahayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar