02 Juni 2021

Baca BG Bab IX Sloka 27 - Bekerja dan Berbhakti

Saya ingin mengajak umat sedharma dan siapa saja untuk membahas sloka-sloka Bhagawad Gita. Nyanyian Tuhan atau BG ini memang sangat universal, siapa pun bisa dan bagus mengikutinya, baik membaca sendiri atau mengikuti ulasan orang lain. Tidak harus beberapa sloka, cukup satu sloka saja. Dan tidak harus pula berurutan, bisa sloka yang mana saja. Pilihannya adalah sloka itu ulasannya tepat dengan kekinian, sesuatu yang sedang berlangsung saat ini. Sehingga ulasan inni relevan untuk kita bahas.

Terjemahan sloka itu saya pakai bahasa yang standar, karena begitulah seharusnya setiap kitab BG, sloka dan terjemahannya harus standar. Sloka tak boleh diganti karena ini merupakan wahyu, sedang terjemahan tak boleh menyimpang. Karena itu taka da BG yang asli atau yang tak asli. Ada pun ulasannya bisa berbeda karena sudut pandang pembahasnya, dan apa tekanan yang mau disampaikan di sini kita bisa berbeda pendapat.

 Saya mulai dengan sloka yang saya pilih kali ini. BG Percakapan IX seloka 27. yad karosi yad asnasi, yaj juhosi dadasi yat, tat tapasyasi kaunteya, tat kurusva mad-arpanam

 Terjemahan bebasnya. Bebas yang dimaksud di sini adalah dengan bahasa prosa, bukan bahasa puitis, bukan bebas yang keluar dari kontek. Terjemahannya begini:

Pekerjaan apapun yang kau lakukan, apapun yang kau persembahkan dan dermakan, makanan apapun yang kau nikmati, disiplin diri apapun yang engkau laksanakan, lakukanlah semuanya itu hanya sebagai bhakti kepada Aku.

Aku di sini adalah Krishna dalam hal ini sebagai Awatara Tuhan.

 Nah, apa pun yang kita kerjakan semuanya sebagai bhakti kepada Tuhan. Kita tak bisa meniadakan restu dan anugrah Tuhan. Cendekiawan Hindu yang jadi legendaris di masa lalu, Swami Vivekananda, suka mengatakan kata-kata: your hand on work and your heart on God. Tangan menghadapi pekerjaan, hati menghadap Tuhan. Karena itu disetiap agama, agama apa pun, sebelum kita melakukan pekerjaan kita wajib memohon restu dengan doa pendek: Om awignam Astu.

 Ketika kita bekerja, fokuslah pada pekerjaan. Tetapi kita tak bisa melepaskan barang sekejap tentang keberadaan Tuhan karena itu setiap pekejaan yang kita ambil pada hakekatnya adalah pencerminan rasa bhakti kita kepada Tuhan. Kalau pekerjaan itu berhasil kita ucapkan syukur, kalau belum berhasil masih bisa diulang, jangan mengeluh.

 Pekerjaan yang disertai rasa bhakti ini lebih ideal lagi jika manfaatnya bisa diterima umat yang lebih luas. Bukan Cuma untuk kepentingan diri sendiri. Bekerja untuk kemanusiaan dan untuk sesama manusia, bahkan untuk semua makhluk hidup karena semua itu adalah ciptaan Tuhan.

Lebih-lebih bagi para pemimpin, mereka harus punya budaya kerja yang terukur dan jelas. Budaya kerja itu, sebagaimana dikutip dalam wejangan Swami Vivekananda adalah kerja yang dilandasi pengetahuan, kebijaksanaan, kecerdasan, punya etika dan memahami hakekat kerja itu sendiri.

 Coba kita telisik para pemimpin kita saat ini, apakah mereka punya budaya kerja yang dilandasi bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apakah betul mereka akan siap bekerja untuk kepentingan sesama manusia, atau jangan-jangan mereka menimbun harta kekayaan untuk diri sendiri dan mengabaikan orang banyak. Atau minimal mereka hanya membantu kelompoknya saja.

 Katakanlah dia menjadi bupati atau gubernur. Sesuai aturan undang-undang, bupati dan gubernur dipilih oleh partai politik dan kemudian rakyat memilih calon-calon yang sudah ditentukan orangnya oleh partai. Namun ketika pemilihan sudah selesai, pemimpin itu bukan lagi pemimpin partai dan hanya mementingkan partainya.

 Dia harus menjadi pemimpin untuk seluruh rakyat, termasuk rakyat yang tidak separtai dengan dia. Berbahktilah kepada semua rakyat, bukan kepada Sebagian rakyat yang ada di partainya. Kalau dia menjadi pemimpin Lembaga, apakah Lembaga adat atau Lembaga agama, maka cinta kasih dan santi – kedamaian – untuk sebesar-besarnya umat harus dilakukan. Jangan malah memprofokasi umat untuk bertindak di luar jalur hukum. Adat dan agama kita sangat cinta damai, cinta kerukunan, guyub antar semeton. Berbeda sedikit dalam ritual tak harus bertengkar. Ibarat naik gunung, ada orang yang cari jalan pintas mendaki langsung ke puncak, dia senang cepat sampai. Tapi ada yang mendaki tebing perlahan-lahan dan memutar karena di situ dia merasa Bahagia bisa melihat pemnadangan alam, bisa tahu banyak pepohonan dan sebagainya. Tujuannya sama saja menuju puncak kedamaian gunung.

 Bekerja dengan rasa bhakti harus menyerahkan hasilnya pada apa yang dikehendaki Tuhan, jangan mendahului. Hasilnya itu kita nikmati sebagai prasadam, sebagai lungsuran, yang sudah dalam keadaan diberkati. Jadi apa yang kita makan betul-betul menjadi sesuatu yang satwik, bermanfaat buat tubuh dan rohani kita. Bukan kita memasukkan racun ke dalam tubuh kita, baik racun berupa makanan maupun racun berupa kebencian dan iri hati, misalnya. 

Mari kita selalu bekerja berlandaskan bhakti kepada Tuhan, dan itu artinya kita bekerja dengan hati yang bersih, dengan ucapan yang bersih dan prilaku yang bersih. Jangan sampai kita bekerja menciptakan permusuhan, membuat masyarakat terbelah. Sampai jumpa, rahayu.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar