Catur
widha bhajante mam, janah sukritino ‘rjuna, arto jijnasur artharthi, jnanis ca
bharatasabha
Terjemahan bebasnya saya kutip dari Bhagawad Gita oleh Gede Pudja: “Ada empat macam orang yang baik hati memuja kepada-Ku, wahai Arjuna. Yaitu, mereka yang sengsara, yang mengejar ilmu, yang mengejar harta dan yang berbudi.”
Umat sedharma yang dikasihi
Hyang Widhi. Sloka ini cocok kita ulas sekarang untuk sesuluh Bersama.
Memuja Aku, dalam hal ini adalah Tuhan Yang Maha Esa, memang perbuatan yang selalu baik dan dianjurkan. Sebaik-baiknya
orang, tak ada yang lebih baik
dari pada ingat selalu memuja Hyang Widhi. Tetapi bagaimana Tuhan itu kita puja, apakah kita bisa bebas dari segala pamrih?
Pamrih itu yang membedakan kualitas dari pemujaan kita kepada Tuhan. Empat cara atau jenis pemujaan kepada Tuhan ini
sering disebut Catur
Widha Bhajante . Sebagai bakta Tuhan ada empat karakter yang menunjukkan status kerohanian
kita dalam memuja Beliau yang maha agung.
Kalau kita cermati bunyi sloka
itu tadi, yang pertama adalah arto
biasa pula dilafalkan artah. Yaitu
para bhakta memuja Tuhan karena lagi dalam kesusahan dan menderita. Misalnya lagi sakit. Oh Tuhan semoga saya diberi kesembuhan. Atau setelah
kecurian. Oh Tuhan kenapa barang saya dicuri, tolonglah kirimkan rejeki lagi.
Pokoknya macam-macam di kala kita susah. Kalau sudah dalam
posisi begini, Tuhan jadi terasa dekat. Kita
melakukan pemujaan dengan permintaan supaya semua penderitaan itu dihilangkan. Ini pamrihnya tinggi, jika perlu kita mengemis-ngemis
minta dikasihani. Tuhan pun selalu diagungkan sebagai
pemberi anugrah.
Tetapi kalau sudah sembuh, sudah sehat, uang berlimpah
dan bisa bersenang-senang, Tuhan pun dilupakan. Jangankan melakukan
persembahyangan ke pura, melantunkan Puja Trisandhya di rumah saja sudah malas. Untuk apa melantunkan doa, enakan minum-minum,
sekarang minum arak lagi dibolehkan. Biar yang Trisandhya TV saja.
Yang kedua memuja Tuhan yang disebut jijnasur. Memuja Tuhan dengan
mengharapkan kepandaian yang dikaitkan
dengan kedudukan di masyarakat. Banyak sekali pemimpin dan
calon-calon pemimpin pada tahap seperti ini. Kalau tujuannya mendapatkan ilmu kemudian diabdikan ke masyarakat untuk
kepentingan banyak orang, masih lumayan. Tetapi ini untuk tujuan mendapatkan
kedudukan atau jabatan. Syukur kalau jabatan itu digunakan dengan baik, namun
kalau untuk tujuan kepentingan pribadi saja, itu sudah menyimpang dari maksud
pemujaan.
Sekarang lihat saja di masyarakat
kita. Yang melakukan korupsi dan yang menipu rakyat, justru orang-orang
berilmu, orang berpendidikan. Mana ada orang bodoh yang korupsi.
Lalu contoh lain, menjelang
ujian baru rajin berdoa. Minta lulus. Tak peduli mereka sudah belajar dengan
baik atau pas-pasan, yang penting baru ingat memuja Tuhan karena esoknya ujian.
Tolonglah Tuhan bagaimana agar saya bisa lulus.
Yang ketiga
memuja Tuhan mengharapkan keuntungan materi. Ini disebut artharthi.
Pokoknya Tuhan dipuja
dengan
mengharapkan keuntungan materi. Bagi
para pedagang, semua Pura Melanting dikunjungi, tak cukup Pura Melanting di
pasar tempat berjualan saja, tetapi di berbagai tempat yang jauh perlu pula didatangi.
Tujuannya bersembahyang tak cuma memohon
kesehatan, padahal itulah yang mesti
diutamakan. Tetapi langsung kepada tujuan utamanya,
bagaimana
agar dagangannya sukses dan dapat untung
sebanyak-banyaknya. Mereka merasa tak
perlu paham teori ekonomi dan taktik dalam menjalankan
bisnisnya. Pokoknya nunas anugrah agar diberi keuntungan.
Kalau dagangannya laris dan
untungnya sudah besar, mereka sudah lupa lagi sembahyang, karena sudah pada
untung, bilangnya tak ada waktu lagi ke pura Melanting.
Yang keempat atau terakhir disebut jnani, inilah pemujaan kepada Tuhan yang
paling tinggi, paling mulia. Kita
memuja Tuhan semata-mata memuja saja, tanpa permintaan apa-apa, bahkan meminta Kesehatan juga tidak, berserah diri
pada apa yang dianugrahkan Tuhan. Kita tak terikat lagi kepada
masalah duniawi, kita
telah mampu melepaskan keinginan dan nafsu duniawi. Kalau kita lagi sakit, bukan berdoa memohon agar segera
disembuhkan, tetapi berdoa menyerahkan
keputusan kepada Tuhan. Apa
pun yang terbaik dianugrahkan Tuhan
ya kita terima.
Kalau setiap
sakit
kita berdoa kepada Tuhan minta disembuhkan dan
misalnya doa itu dikabulkan, kapan kita selesai melaksanakan hukuman di dunia
ini, kapan kita berada di alam kedamaian. Siklus
kehidupan makhluk ciptaan Tuhan itu sudah jelas: lahir,
hidup dan mati. Masyarakat Hindu di Bali menyebutnya suka duka lara pati tak bisa
dipisahkan. Ada saatnya diberi kesenangan, ada
saatnya diberi kesedihan, ada saatnya menderita sakit dan akhirnya tak
terelakkan untuk mati.
Memang Tuhan
harus dipuja dalam berbagai kesempatan dan dalam berbagai situasi. Tapi jangan selalu memuja Tuhan dengan pamrih yang
tinggi, serba meminta-minta. Pada saat kita diberi
kenikmatan, dianugrahi Kesehatan, justru
pada saat itu kita lebih rajin memuja
Beliau dengan niat bersyukur. Hanya orang yang selalu bersyukur dengan apa yang
diterimanya menemukan kebahagiaan lahir dan bathin.
Mari kita memuja Tuhan tanpa mengemis,
tetapi pujalah Tuhan dengan rasa syukur dan tulus ikhlas lalu menerima apa pun
yang diberkahinya. Berserah
pada Tuhan Yang Maha Esa.
Sampai jumpa pada pembacaan
sloka lain kali. Satu sloka cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar