03 Juni 2021

BacaBG Bab VII Sloka 16 - Empat Macam Pemujaan

Kali ini saya pilihkan Percakapan ke 7 sloka 16. Mari kita simak sloka ini:

Catur widha bhajante mam, janah sukritino ‘rjuna, arto jijnasur artharthi, jnanis ca bharatasabha

Terjemahan bebasnya saya kutip dari Bhagawad Gita oleh Gede Pudja:  “Ada empat macam orang yang baik hati memuja kepada-Ku, wahai Arjuna. Yaitu, mereka yang sengsara, yang mengejar ilmu, yang mengejar harta dan yang berbudi.”

Umat sedharma yang dikasihi Hyang Widhi. Sloka ini cocok kita ulas sekarang untuk sesuluh Bersama. Memuja Aku, dalam hal ini adalah Tuhan Yang Maha Esa, memang perbuatan yang selalu baik dan dianjurkan. Sebaik-baiknya orang, tak ada yang lebih baik dari pada ingat selalu memuja Hyang Widhi. Tetapi bagaimana Tuhan itu kita puja, apakah kita bisa bebas dari segala pamrih? Pamrih itu yang membedakan kualitas dari pemujaan kita kepada Tuhan. Empat cara atau jenis pemujaan kepada Tuhan ini sering disebut Catur Widha Bhajante . Sebagai bakta Tuhan ada empat karakter yang menunjukkan status kerohanian kita dalam memuja Beliau yang maha agung.

Kalau kita cermati bunyi sloka itu tadi, yang pertama adalah arto biasa pula dilafalkan artah. Yaitu para bhakta memuja Tuhan karena lagi dalam kesusahan dan menderita. Misalnya lagi sakit. Oh Tuhan semoga saya diberi kesembuhan. Atau setelah kecurian. Oh Tuhan kenapa barang saya dicuri, tolonglah kirimkan rejeki lagi. Pokoknya macam-macam di kala kita susah. Kalau sudah dalam posisi begini, Tuhan jadi terasa dekat. Kita melakukan pemujaan dengan permintaan supaya semua penderitaan itu dihilangkan. Ini pamrihnya tinggi, jika perlu kita mengemis-ngemis minta dikasihani. Tuhan pun selalu diagungkan sebagai pemberi anugrah.

Tetapi kalau sudah sembuh, sudah sehat, uang berlimpah dan bisa bersenang-senang, Tuhan pun dilupakan. Jangankan melakukan persembahyangan ke pura, melantunkan Puja Trisandhya di rumah saja sudah malas. Untuk apa melantunkan doa, enakan minum-minum, sekarang minum arak lagi dibolehkan. Biar yang Trisandhya TV saja.

Yang kedua memuja Tuhan yang disebut jijnasur. Memuja Tuhan dengan mengharapkan kepandaian yang dikaitkan dengan kedudukan di masyarakat. Banyak sekali pemimpin dan calon-calon pemimpin pada tahap seperti ini. Kalau tujuannya mendapatkan ilmu kemudian diabdikan ke masyarakat untuk kepentingan banyak orang, masih lumayan. Tetapi ini untuk tujuan mendapatkan kedudukan atau jabatan. Syukur kalau jabatan itu digunakan dengan baik, namun kalau untuk tujuan kepentingan pribadi saja, itu sudah menyimpang dari maksud pemujaan.

Sekarang lihat saja di masyarakat kita. Yang melakukan korupsi dan yang menipu rakyat, justru orang-orang berilmu, orang berpendidikan. Mana ada orang bodoh yang korupsi.

Lalu contoh lain, menjelang ujian baru rajin berdoa. Minta lulus. Tak peduli mereka sudah belajar dengan baik atau pas-pasan, yang penting baru ingat memuja Tuhan karena esoknya ujian. Tolonglah Tuhan bagaimana agar saya bisa lulus.

Yang ketiga memuja Tuhan mengharapkan keuntungan materi. Ini disebut artharthi. Pokoknya Tuhan dipuja dengan mengharapkan keuntungan materi. Bagi para pedagang, semua Pura Melanting dikunjungi, tak cukup Pura Melanting di pasar tempat berjualan saja, tetapi di berbagai tempat yang jauh perlu pula didatangi.

Tujuannya bersembahyang tak cuma memohon kesehatan, padahal itulah yang mesti diutamakan. Tetapi langsung kepada tujuan utamanya, bagaimana agar dagangannya sukses dan dapat untung sebanyak-banyaknya. Mereka merasa tak perlu paham teori ekonomi dan taktik dalam menjalankan bisnisnya. Pokoknya nunas anugrah agar diberi keuntungan.

Kalau dagangannya laris dan untungnya sudah besar, mereka sudah lupa lagi sembahyang, karena sudah pada untung, bilangnya tak ada waktu lagi ke pura Melanting.

Yang keempat atau terakhir disebut jnani, inilah pemujaan kepada Tuhan yang paling tinggi, paling mulia. Kita memuja Tuhan semata-mata memuja saja, tanpa permintaan apa-apa, bahkan meminta Kesehatan juga tidak, berserah diri pada apa yang dianugrahkan Tuhan. Kita tak terikat lagi kepada masalah duniawi, kita telah mampu melepaskan keinginan dan nafsu duniawi. Kalau kita lagi sakit, bukan berdoa memohon agar segera disembuhkan, tetapi berdoa menyerahkan keputusan kepada Tuhan. Apa pun yang terbaik dianugrahkan Tuhan ya kita terima.

Kalau setiap sakit kita berdoa kepada Tuhan minta disembuhkan dan misalnya doa itu dikabulkan, kapan kita selesai melaksanakan hukuman di dunia ini, kapan kita berada di alam kedamaian. Siklus kehidupan makhluk ciptaan Tuhan itu sudah jelas: lahir, hidup dan mati. Masyarakat Hindu di Bali menyebutnya suka duka lara pati tak bisa dipisahkan. Ada saatnya diberi kesenangan, ada saatnya diberi kesedihan, ada saatnya menderita sakit dan akhirnya tak terelakkan untuk mati.

Memang Tuhan harus dipuja dalam berbagai kesempatan dan dalam berbagai situasi. Tapi jangan selalu memuja Tuhan dengan pamrih yang tinggi, serba meminta-minta. Pada saat kita diberi kenikmatan, dianugrahi Kesehatan, justru pada saat itu kita lebih rajin memuja Beliau dengan niat bersyukur. Hanya orang yang selalu bersyukur dengan apa yang diterimanya menemukan kebahagiaan lahir dan bathin.

Mari kita memuja Tuhan tanpa mengemis, tetapi pujalah Tuhan dengan rasa syukur dan tulus ikhlas lalu menerima apa pun yang diberkahinya. Berserah pada Tuhan Yang Maha Esa.

Sampai jumpa pada pembacaan sloka lain kali. Satu sloka cukup.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar