30 Mei 2021

CariAngin KoranTempo - BOCOR


Ada banyak yang bocor di negeri ini. Data kependudukan, soal-soal tes kebangsaan untuk pegawai KPK, juga popularitas Ganjar Pranowo disandingkan dengan Puan Maharani. Semoga kapal bangsa ini tidak ikutan bocor.

Bocor

 Bocor… bocor… Iklan di televisi ini pernah viral. Sering dijadikan bahan guyonan yang lepas dari konteksnya. Pesan iklan itu dikaburkan oleh berbagai tafsir nyeleneh. Demikianlah, ada bocor yang serius, ada bocor yang bercanda, bahkan ada yang rada jorok.

 Kalau yang bocor data kependudukan, tentu teramat serius. Apalagi kalau sumbernya dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Tak peduli apakah kebocoran itu dalam jumlah jutaan orang atau cuma 100.002 orang. Para pelaku kejahatan akan dapat mudah memanfaatkan file yang bocor itu.

 Segala dokumen bisa dipalsukan. Kejahatan akan marak terutama kejahatan dalam transaksi keuangan, apakah itu masalah perbankan, urusan pinjam meminjam, dan sebagainya. Penjahat bisa dengan mudah membobol rekening seseorang. Atau orang tiba-tiba didatangi debt collector karena terdaftar sebagai peminjam online. Kasus terakhir ini, dalam bentuknya yang masih kecil, sudah terjadi. Lalu orang teringat akan adanya RUU Pelindungan Data Pribadi yang tak urung disahkan DPR. Ingatan yang sebentar akan dilupakan lagi.

Kalau kebocoran ini, apakah serius atau bercanda? Yakni bocornya soal-soal tes kebangsaan yang membuat 75 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi tidak lulus menjadi ASN. Kasusnya jelas serius karena ini sebuah rekayasa untuk menggusur pemberantas korupsi yang konon berintegritas. Juga menyangkut pelemahan KPK yang terstruktur. Tapi kalau mau disebut bercanda tak ada salahnya. Karena Presiden Joko Widodo jelas menyebutkan agar tes itu tidak dipergunakan sebagai pemutus hubungan kerja. Sementara Badan Kepegawaian Negara  (BKN) menganggap arahan Presiden Jokowi sudah dilaksanakan dengan hasil 24 orang bisa dibina dan 51 lainnya sudah “merah”. Yang bisa dibina akan dites ulang dan yang “merah” tetap dipecat. BKN memposisikan badannya jauh di atas Presiden – bahkan setara Tuhan – karena tahu siapa yang bisa dibina dan siapa yang tidak. Ini jelas BKN bercanda dengan karier orang.

 Sebenarnya BKN sendiri bukan instansi yang rapi. Bayangkanlah, ada 97 ribu ASN yang gajinya selalu dibayar sejak 2002 tapi orangnya tidak ada. Hampir satu dasa warsa ini berlalu baru dibocorkan sekarang. Bagaimana kalau seluruh ASN di BKN dites kebangsaan juga, sehingga tahu bagaimana mengelola uang rakyat? 

Sudahlah, mari kita menghibur diri dengan kebocoran yang full guyonan. Soal Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. Kader PDI Perjuangan itu tidak diundang untuk konsolidasi partai di kotanya sendiri karena dianggap aktif di media sosial. Ganjar sudah aktif di media sosial sejak dulu. Di Twitter, misalnya, apa pun keluhan orang menyangkut Jawa Tengah segera dia tanggapi. Caranya membalas khas Ganjar, guyon dan terbuka. Bahwa orang kemudian suka Ganjar Pranowo, ya, masuk akal. Dan ketika sejumlah lembaga survey membocorkan kepopuleran Ganjar jauh di atas Puan Maharani, maka gusarlah petinggi PDI Perjuangan. Maklum, Puan adalah pewaris kepemimpinan partai itu, yang berarti peluangnya menjadi calon presiden pada 2024 terbuka lebar. Pilpres itu adalah rakyat memilih presiden yang sudah ditentukan oleh partai. Dan calon dari partai ditunjuk oleh ketua umum partai itu.

Ganjar diberi ganjaran. Ia santai saja. Ia justru makan mi instan yang diunggahnya di medsos dengan narasi: “ingat masa kost, satu kurang, dua berlebih”. Lalu orang heboh mencari makna dari makan mi yang berwarna kuning tanpa saos merah itu. Ganjar melepaskan partai merah dan cari dukungan ke partai kuning? Ganjar baru sadar kost di partai? Orang sibuk menganalisa. Padahal ribuan orang makan mi instan, tak ada yang bocorin isi primbon tentang mi.

(Koran Tempo 30 Mei 2021)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar