09 Mei 2021

CariAngin KoranTempo SUNGKEM


Putu Setia

 

Merayakan lebaran bukan sekadar sholat Idul Fitri dan makan opor ayam. Yang paling utama adalah sungkem pada orangtua. Sholat bisa di mana saja. Makan opor ayam pun bisa kapan saja. Tetapi sujud bakti kepada orang tua, ya, di kampung. Utamanya sehabis sholat I-ed. Karena di sana orangtua kita berada. Tak bisa sungkem melalui video call.

 

Begitulah kurang lebih alasan seorang calon pemudik kepada petugas di area penyekatan. Tapi polisi tak perlu mencerna kata-kata itu. Tetap harus ada dokumen yang membolehkan mudik. Pemudik gagal ini terpaksa harus balik lagi ke Jakarta. Luar biasa ketatnya pengawasan di hari pertama dan kedua larangan mudik. Entah pada hari-hari selanjutnya karena larangan ini masih panjang, sampai lima hari setelah lebaran.

 

Perjuangan para pemudik begitu tangguh. Ada keluarga yang nekad bersembunyi di tumpukan sayur di dalam truck yang ditutup terpal. Membawa anak kecil pula. Namun pertahanan petugas lebih tangguh lagi. Selama tak punya dokumen yang membebaskan untuk mudik, semuanya harus balik.

 

Mari kita lontarkan sumpah serapah kepada Covid-19 yang menghambat orang sungkem. Padahal sungkeman itu tradisi leluhur sejak lama. Apa pun agama yang dipeluk penduduk Nusantara ini, sungkem sudah menjadi kewajiban seorang anak kepada orang tua sebagai pertanda bahwa mereka masih mencintai dan berutang budi dalam kehidupan ini.

 

Adakah Covid-19 mau memberi pelajaran kepada umat manusia bahwa sungkeman itu tak harus pada hari raya keagamaan, sebagaimana makan ketupat opor ayam bisa kapan saja? Jika virus corona mau mengajarkan soal itu, maka sudah pasti memerlukan waktu. Tak mudah mengubah kebiasaan, apalagi dikaitkan dengan tradisi. Tradisi sungkeman itu bukan hanya milik umat Islam, juga milik umat lain. Lebih tepat sebagai budaya Nusantara yang dilakukan pada hari yang khusus. Memang selalu ada hari khusus dalam setiap langkah kehidupan. Presiden Jokowi saja kalau merombak kabinetnya memilih hari Rabu, akan betapa sulitnya membiasakan diri sungkem di hari yang bukan hari raya keagamaan. Sungkem di hari biasa hanyalah “sungkem basa-basi” sebagaimana anak-anak biasa “salim” dan mencium tangan orangtuanya saat mau berangkat sekolah. Kurang nilai sakralnya.

 

Namun, larangan mudik yang ditetapkan pemerintah sudah tentu untuk hal yang jauh lebih besar. Semulia-mulianya nilai sungkeman pada hari raya lebaran, tentu lebih mulia kalau pemerintah bisa menyelamatkan rakyatnya. Covid-19 masih menjadi ancaman. Pengalaman memberi pelajaran, setiap usai libur panjang Covid-19 yang sudah melandai kembali melonjak. Akan sulit memutus mata rantai penyebaran pandemi jika libur lebaran ini membiarkan orang berkerumun dalam jumlah yang besar di saat mudik bersamaan. Apalagi varian baru bermunculan di berbagai negara dan sudah masuk ke negeri kita. Sudah ada tiga varian virus corona yang telah ditemukan di Indonesia yakni, B1617 dari India, B117 dari Inggris, dan B1315 dari Afrika Selatan. Sudah pantas kita harus berhati-hati.

 

Jika larangan mudik demikian ketat dijaga, pemerintah harusnya juga lebih ketat menjaga orang asing, terutama dari negara yang pandeminya melonjak. Kenapa warga India masih dibiarkan lolos, meski pun harus dikarantina? Negara lain sangat ketat menutup wilayahnya bahkan kalau sudah masuk masa karatinanya lebih lama. Kita masih longgar.

 

Selain itu, ditemukannya kasus test swab bekas di bandara Kualanamu, adanya alat tes antigen illegal, bisa membuat Covid-19 kurang terdeteksi. Jika nanti virus corona tetap naik hanya karena jebol di alat-alat deteksi, pengorbanan para pemudik yang gagal sungkem seperti sia-sia. Mari kita ketat di semua langkah. Selamat lebaran tanpa sungkeman.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar