Putu Setia
Merayakan lebaran bukan sekadar sholat Idul Fitri dan makan opor ayam. Yang paling utama adalah sungkem pada orangtua. Sholat bisa di mana saja. Makan opor ayam pun bisa kapan saja. Tetapi sujud bakti kepada orang tua, ya, di kampung. Utamanya sehabis sholat I-ed. Karena di sana orangtua kita berada. Tak bisa sungkem melalui video call.
Begitulah kurang lebih alasan seorang
calon pemudik kepada petugas di area penyekatan. Tapi polisi tak perlu mencerna
kata-kata itu. Tetap harus ada dokumen yang membolehkan mudik. Pemudik gagal
ini terpaksa harus balik lagi ke Jakarta. Luar biasa ketatnya pengawasan di
hari pertama dan kedua larangan mudik. Entah pada hari-hari selanjutnya karena
larangan ini masih panjang, sampai lima hari setelah lebaran.
Perjuangan para pemudik begitu
tangguh. Ada keluarga yang nekad bersembunyi di tumpukan sayur di dalam truck
yang ditutup terpal. Membawa anak kecil pula. Namun pertahanan petugas lebih
tangguh lagi. Selama tak punya dokumen yang membebaskan untuk mudik, semuanya
harus balik.
Mari kita lontarkan sumpah serapah
kepada Covid-19 yang menghambat orang sungkem. Padahal sungkeman itu tradisi
leluhur sejak lama. Apa pun agama yang dipeluk penduduk Nusantara ini, sungkem
sudah menjadi kewajiban seorang anak kepada orang tua sebagai pertanda bahwa
mereka masih mencintai dan berutang budi dalam kehidupan ini.
Adakah Covid-19 mau memberi pelajaran
kepada umat manusia bahwa sungkeman itu tak harus pada hari raya keagamaan,
sebagaimana makan ketupat opor ayam bisa kapan saja? Jika virus corona mau
mengajarkan soal itu, maka sudah pasti memerlukan waktu. Tak mudah mengubah
kebiasaan, apalagi dikaitkan dengan tradisi. Tradisi sungkeman itu bukan hanya
milik umat Islam, juga milik umat lain. Lebih tepat sebagai budaya Nusantara
yang dilakukan pada hari yang khusus. Memang selalu ada hari khusus dalam
setiap langkah kehidupan. Presiden Jokowi saja kalau merombak kabinetnya
memilih hari Rabu, akan betapa sulitnya membiasakan diri sungkem di hari yang
bukan hari raya keagamaan. Sungkem di hari biasa hanyalah “sungkem basa-basi”
sebagaimana anak-anak biasa “salim” dan mencium tangan orangtuanya saat mau
berangkat sekolah. Kurang nilai sakralnya.
Namun, larangan mudik yang ditetapkan
pemerintah sudah tentu untuk hal yang jauh lebih besar. Semulia-mulianya nilai
sungkeman pada hari raya lebaran, tentu lebih mulia kalau pemerintah bisa menyelamatkan
rakyatnya. Covid-19 masih menjadi ancaman. Pengalaman memberi pelajaran, setiap
usai libur panjang Covid-19 yang sudah melandai kembali melonjak. Akan sulit
memutus mata rantai penyebaran pandemi jika libur lebaran ini membiarkan orang
berkerumun dalam jumlah yang besar di saat mudik bersamaan. Apalagi varian baru
bermunculan di berbagai negara dan sudah masuk ke negeri kita. Sudah ada tiga varian virus corona yang telah ditemukan
di Indonesia yakni, B1617 dari India, B117 dari Inggris, dan B1315 dari Afrika
Selatan. Sudah pantas kita harus berhati-hati.
Jika larangan mudik demikian ketat dijaga, pemerintah
harusnya juga lebih ketat menjaga orang asing, terutama dari negara yang
pandeminya melonjak. Kenapa warga India masih dibiarkan lolos, meski pun harus
dikarantina? Negara lain sangat ketat menutup wilayahnya bahkan kalau sudah
masuk masa karatinanya lebih lama. Kita masih longgar.
Selain itu, ditemukannya kasus test swab bekas di bandara
Kualanamu, adanya alat tes antigen illegal, bisa membuat Covid-19 kurang
terdeteksi. Jika nanti virus corona tetap naik hanya karena jebol di alat-alat
deteksi, pengorbanan para pemudik yang gagal sungkem seperti sia-sia. Mari kita
ketat di semua langkah. Selamat lebaran tanpa sungkeman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar