10 Mei 2021

MemujaTuhan Kenapa Harus Mecongkrah



Cara memuja Tuhan yang berbeda, kenapa harus mecongkrah atau bertengkar? Janganlah menjadi Polisi Agama, jadilah pemeluk agama yang baik. Memelihara dendam dan kebencian hanya memperburuk diri sendiri.

Ini sebuah kejadian yang ringan saja, mungkin dianggap sepele. Suatu hari saya melakukan pemujaan di Pura Melanting, di Kawasan Groggak, dekat Pura Pulaki. Pura Melanting sangat terkenal karena umat yang melakukan swadharmanya sebagai pedagang banyak yang mohon daksina linggih di sini untuk menstanakan Ida Bethari Rambut Sedhana. Ini adalah dewi kekayaan sehingga usahanya sebagai pedagang mendapatkan anugrah. Dalam kitab Hindu, Bethari Rambut Sedhana ini adalah Dewi Laksmi.

Karena saya menghaturkan puja di siang hari, tentu wajib melantunkan Puja Trisandhya. Dan sebenarnya di setiap persembahyangan, kecuali seambahyangnya beruntun, pemangku di sana rajin melantunkan Puja Trisandhya sebelum muspa. Kebetulan saat itu ada beberapa orang yang ikut bersembahyang. Ikut pula empat pemedek yang menggunakan pakaian seragam tentara. Namun sepatu dan kaos kakinya sudah dilepas, dan tentara itu memakai selendang. Mungkin dia bawa sendiri atau mungkin juga ada selendang yang disediakan di pura itu, saya tak jelas.

Tidak ada masalah apa-apa, persembahyangan berlangsung lancar. Pas saat ngaturang pasca sembah juga berlangsung biasa-biasa saja. Usai sembahyang saya banyak disalami, memang seperti biasa umat suka menyalami saya jika ada di tempat suci. Namun tiba-tiba, ada seorang pemedek dengan pakaian yang sangat rapi menegor dengan sedikit kasar empat tentara yang berpakaian seragam itu. Pemedek berpakaian rapi ini mengaku sebagai pengurus Parisada di sebuah kecamatan, disebutkan nama kecamatannya namun tak elok jika saya katakan di sini. Lelaki itu bertanya apakah tentara itu semuanya beragama Hindu. Tentu saja tentara itu menjawab, ya, beragama Hindu. Kalau bukan Hindu untuk apa sembahyang di pura.

Lelaki itu dengan nada kasar menceramahi empat tentara itu. Dia menyebutkan, tentara itu tak pantas masuk ke sebuah pura dengan seragam tentara dengan tujuan sembahyang. Bersembahyang di pura ada aturannya, harus berpakaian adat Bali. Ini sudah melecehkan pura. Kata-katanya tak enak kalau saya katakan semuanya. Lalu diakhiri dengan setengah teriak: jangan ulangi lagi lain kali.

Saya mendengar semua itu karena memang dekat dengan bale peyadnyan tempat saya memuja. Bahkan empat tentara itu baru saja selesai sungkem ke saya. Rasanya tak enak kalau tidak ikut nimbrung. Lalu saya katakan, tentara itu tak ada yang salah. Ini pura umum, termasuk kahyangan jagat. Siapa pun bisa bersembahyang di sini, tak harus berpakaian adat Bali. Masih syukur memakai selendang, andaikata tanpa selendang juga tak apa-apa. Apalagi ini siang hari saatnya melantunkan Puja Trisandhya. Jangan menyalahkan orang yang bersembahyang dengan tulus hanya karena pakaian.

Lalu saya minta pendapat ke pemangku pura, apakah saya benar atau keliru. Pemangku pura sependapat dengan saya bahkan menyebutkan hal yang biasa tentara sembahyang di sini dengan pakaian seragam. Selendang yang dikenakannya memang disediakan di pura. Markas tentara itu kan di dekat sini, pinggiran Pura Pulaki, ya, biasa mereka sembahyang di sini.

Saya mau jelaskan kepada lelaki berpakaian parlente itu duduk soalnya, ternyata dia dan rombongan kecilnya sudah mau keluar dari pura. Kepada empat tentara itu saya hibur dengan mengatakan, jangan omongan pengurus Parisada kecamatan itu dimasukkan ke hati. Adik-adik tidak salah, jangan kapok. Salah satu tentara menjawab dengan sopan: Nak Lingsir, kebetulan tadi kami latihan di halaman Pura, pas istirahat dipakai untuk bersembahyang. Kalau tidak latihan di dekat sini, kami biasanya Puja Trisandhya di sembarang tempat dengan duduk bersila. Kalau tidak sedang latihan, Puja Trisandhya di mess, ada padamasari di barak.

Banyak Pura di Komplek Militer

Luar biasa. Pernahkah kita berkunjung ke komplek militer? Di setiap markas militer dan polisi pasti ada pura. Dan pura ini dijadikan pura umum sehingga yang bukan militer boleh saja masuk ke pura untuk bersembahyang. Di Jakarta misalnya pura di komplek militer dijadikan pura Jagatnatha oleh umat Hindu disekitar pura.

Di markas Kopasus Cijantung ada pura besar yang kemudian diempon umat Hindu Jakarta Timur, di komplek Pasukan Pengawal Presiden ada pura yang diempon warga Jakarta Pusat, di komplek polisi Jelambar Jakarta Barat juga ada pura besar, di Cinere ada pura yang diempon Jakarta Selatan, itu di lahan TNI Angkatan laut. Di komplek TNI AU Halim juga berdiri Pura besar. Begitu pula di daerah lain. Pura yang diempon umat Hindu Banten ada di komplek Kopassus Serang. 

Hampir di seluruh kota, baik besar mau pun kecil, pasti ada pura di komplek tentara atau polisi. Ini menandakan bahwa tentara dan polisi memang dituntut untuk paham ajaran agamanya dan rajin bersembahyang sesuai aturan agama. Jangan bayangkan orang bersembahyang di sana selalu berpakaian adat Bali. Mereka bisa tetap memakai seragam kesatuannya. Bahkan di Pura Rawamangun Jakarta Timur yang bukan berada di komplek militer, biasa ada orang bersembahyang bercelana Panjang. Disediakan selendang, selain dupa dan air untuk melakukan cuci muka, di depan pintu gerbang.

Bagaimana di Bali? Sesungguhnya di setiap kantor ada pura di sudut halaman. Bukan saja kantor, di pasar swalayan, di SBPU, ada pura. Tapi pernahkah melihat orang bersembahyang di sana, misalnya, siang hari tatkala beberapa pengeras suara dan dari radio mengalun Puja Trisandya? Jarang bahkan tidak pernah ada. Trisandhya hanya ada di radio, di televisi, di pengeras suara. Umumnya alasan orang adalah: gak enak sembahyang tak memakai pakaian adat. Nah, itulah, karena selalu ditekankan bahwa bersembahyang itu harus memakai pakaian adat, harus mekamben. Kalau pakai celana panjang, tak boleh.

Bahkan dalam Hindu, tidak ada air untuk membasuh tangan dan cuci muka, tetap bisa sembahyang. Kalau umat Islam, mohon maaf hanya contoh bukan membandingkan, jika tak ada air sehingga tak bisa wudhu, tak boleh sholat. Dalam Hindu tak harus cuci tangan, membasuh kaki dan cuci muka. Karena ada mantram pembersihan tubuh setelah melakukan pranayama yang sejatinya menyucikan pikiran. Yakni lewat telapak tangan yang disebut karasodhana. Tangan kanan diatas ucapkan mantram: Om sudyhamam swaha. Ganti tangan kiri diatas: Om ati sudyhaman swaha. Selesai, sungguh sangat praktis.

Jadi disiplin tentara dan polisi harus dicontoh oleh umat Hindu. Dan disiplin ini harus ditanamkan sejak kecil. Umat Hindu termasuk terlambat dalam displin menjalankan agama ini. Saya kasih contoh kecil lagi. Di awal tahun 1980an, ketika saya bertugas di Yogya, sering bersembahyang ke pura di komplek Akademi Militer di Magelang. Suatu hari ngobrol-ngobrol dengan pembina di akademi militer itu. Perwira ini bertanya pada saya, apakah di Hindu ada doa untuk memulai makan? Saya jawab, ya, pasti ada. Perwira itu bercerita, ketika ada makan bersama di antara taruna, biasa ada doa sebelum makan. Secara bergantian menurut agama masing-masing. Pas giliran taruna dari Hindu berdoa, ternyata dia tak bisa melantunkan doa sebelum makan itu. Bahkan dikatakan tak ada doanya. Waduh, saya malu sekali waktu itu. Sepulang dari Magelang, saya membuat buku doa sehari-hari umat Hindu. Doa dari bangun tidur, semua aktifitas sehari-hari sampai tidur lagi.

Saya cetak dan dibagikan gratis ke para taruna. Belakangan buku doa sehari-hari itu dijual murah ke umat dan banyak yang digratiskan. Syukurlah kini sudah populer. Jadi, kegiatan bersembahyang yang kecil-kecil sudah menjadi bagian hidup keseharian manusia modern. Makanya, saya sering berkata dengan maksud menyindir: di Bali ini yang rajin bersembahyang Tri Sandhya cuma pengeras suara, radio dan televisi. Saya kalau lagi tinggal di Denpasar, tiap pagi mendengar ada Puja Trisandhya dari 3 pengeras suara yang tidak bersamaan, ya selisih beberapa detik. Tapi, mana ada orang tergerak ikut berdoa?

 Dresta masuk Pura

Kembali ke masalah pura tempat sembahyang. Untuk pura umum, seharusnya siapa pun orang yang datang bersembahyang ke sana, apa pun pakaiannya, tidak masalah. Apalagi pura umum itu ada di perkantoran dan sebagainya. Seharusnya pula, Pura Jagatnatha di setiap kota, memperlakukan hal yang sama. Dengan begitu para pelajar yang dekat dengan pura Jagatnatha, atau pas pulang sekolah atau sebelum pelajaran dimulai, terbiasa melantunkan doa-doa pendek di pura. Termasuk jika waktunya Tri Sandhya. Pura Jagatnatha di Denpasar yang berada di tengah kota dan dekat dengan sekolah, seharusnya bisa dimasuki umat Hindu yang tak harus berpakaian adat Bali – karena memang tak sempat ganti pakaian.

Sekarang bagaimana kalau dikaitkan dengan budaya atau belakangan ini sering dipakai istilah dresta? Apakah umat Hindu dresta Bali tidak boleh sembahyang di tempat suci yang bukan dresta Bali? Atau sebaliknya? Tentu boleh saja, namun karena budaya ini berkaitan dengan siapa yang dipuja, tentu ada batasannya. Bahkan sesama dresta Bali juga ada batasannya.

Saya memberi contoh. Umat Hindu yang drestanya Bali, pasti punya merajan keluarga untuk memuja leluhurnya. Apakah merajan itu besar dengan beberapa pelinggih, atau merajan kecil yang hanya dua atau tiga pelinggih yang sering disebut sanggah pekomelan, sama saja fungsinya. Di situ dipuja leluhurnya, ada atau tidak ada rong tiga. Nah, siapa leluhurnya itu bisa berbeda-beda. Karena itulah tidak semua pura ini bisa dimasuki oleh orang lain yang leluhurnya tidak sama. Jadi tak mungkin kalau misalnya ada orang bertamu, lalu pas ketika mau sembahyang dia bilang: pinjam sanggahnya untuk sembahyang. Itu tak lazim kalau bukan keluarga.

Karena bisa jadi leluhurnya berbeda. Misalnya, yang punya rumah warga Pasek, yang dipuja leluhurnya para Mpu, seperti Mpu Gni Jaya, Mpu Semeru, Mpu Gana dan seterusnya. Lalu tamunya warga lain, leluhurnya Danghyang Nirartha atau Arya atau Dalem siapa. Tak mungkinlah pinjam tempat sembahyang di merajan.

Kalau dia mau memuja Tuhan dan bukan memuja leluhur seperti melantunkan Puja Trisandhya berikan tempat yang bersih. Di kamar tamu tak apa-apa. Karena itu di Pasraman Manikgeni, saya membuat padmasana umum di halaman aula, maklum saya sering kedatangan tamu dari berbagai warga, bahkan orang luar Bali. Tamu yang bukan warga Pasek, karena saya warga Pasek, silakan sembahyang di padmasana umum memuja Tuhan, bukan memuja leluhurnya saya. Kalau tamunya warga Pasek, boleh pilih mau sembahyang di merajan atau di luar, terserah. Jadi untuk pura keluarga itu kita boleh menetapkan syarat yang ketat, harus pakai kain adat Bali kalau sembahyang, meski pun di merajan saya boleh berpakaian bebas. Wong anak-anak biasa sembahyang berpakaian bebas, kan untuk ganti pakaian perlu waktu padahal doanya cuma pendek saja, bukan sembahyang khusus atau bukan rerahinan apalagi piodalan.



Begitu pula dresta yang dipakai, khususnya sesajen dan cara ritual. Kalau di merajan saya, karena ada bermacam pelinggih, ada padmasana memuja Tuhan atau Siwa atau Brahman, ada meru dan rong tiga memuja leluhur dan beberapa sanggah taksu, ritualnya memakai dresta Bali. Sepenuhnya sesajen budaya Bali. Tetapi kalau Padmasana untuk umum di luar penyengker merajan, yang berada di depan aula, drestanya tergantung umat. Yang dari Jawa memakai dresta Jawa, yang dari Bali memakai dresta Bali, dan mau yang tradisi Weda dengan agni hotra juga bisa. Tidak harus dresta Bali. Bahkan secara berkala sering saya mengajak anak-anak melakukan agni hotra, tujuannya agar mereka tahu tradisi memuja Tuhan dengan dresta lain. Biar gak kagok kalau suatu saat ke luar Bali. Di zaman globalisasi ini kita harus lebih banyak tahu cara pemujaan yang semuanya berlandaskan kitab suci Hindu.



Nah, sekarang bagaimana kalau kita bersembahyang yang berbeda drestanya. Boleh apa tidak? Sepanjang itu memuja Tuhan, meski pun didahului dengan memuja Istadewata, boleh-boleh saja. Saya sering melakukan hal itu ketika masih walaka, belum menjadi pandita. Terutama saat bertugas di luar Bali. Saya biasa bersembahyang di mandir, di ashram, di candi, di padepokan atau di sanggar umat. Juga di kuil.

Saya akrab dengan pendeta di Kuil Durga Maa Tangerang. Kuil Durga Maa ini dipimpin pendeta bernama Samin dari Medan. Istadewata yang dipuja di sini adalah Dewi Durga. Tapi penggambaran Durga adalah perempuan yang amat cantik. Saya bahkan pernah dibaptis di sini dengan penganugrahan Dewi Durga. Lihat foto arsipnya.



Saya juga sering ke Dewi Mandir di Kemayoran. Pendetanya di sini sudah lama menjadi anggota Sabha Pandita PHDI Pusat. Di sini yang dipuja istadewata para dewi, seperti Laksmi, Saraswati dan lainnya, juga dipuja Ganesha. Kalau ada upacara penyucian dewi-dewi saya ikut menyucikannya dengan menyiramkan susu ke arca para dewi. Tidak ada masalah toh setelah pemujaan Istadewata itu ujungnya adalah memuja Tuhan juga. Bukankah Tuhan kita sama?

Saya juga akrab dengan Pendeta Mohan MS, penerjemah Bhagawad Gita yang punya Pasraman di Cisarua Bogor. Saya biasa memuja Istadewata di sini, terutama Dewi Saraswati. Dresta yang dipakai tentu dresta setempat dan saya bisa memakai celana panjang karena saat itu belum menjadi pandita. Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, saya pernah bersembahyang bersama Hindu Kaharingan. Drestanya memakai budaya Batak Kaharingan, memakai celana panjang. Tidak ada masalah. Tentu kalau masuk pura di Palangkaraya saya memakai pakaian adat bali karena pengempon pura di Palangkaraya adalah orang Bali.

Jadi intinya, di mana kita berada ikuti budaya setempat. Kita harus biasa melihat perbedaan. Dalam agama apa pun, Tuhan selalu menciptakan perbedaan karena lewat perbedaan itu kita saling mengenal dan kemudian ada silaturahmi atau di Bali disebut mesilakrama. Tak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu yang sama, kalau semua sama bagaimana kita saling mengenal dan mengasihi orang. Ada orang kaya dan diciptakan orang miskin, agar yang kaya bisa bersedekah atau medana punia kepada yang miskin. Kalau semua kaya siapa yang diberi dana punia, atau semua miskin siapa bisa berdana punia. Ada yang berpangkat jenderal ada yang berpangkat kopral, agar jenderal itu ada yang menghormati.

Jadi ada yang tempat sucinya bernama pura dengan sesajen yang rumit tapi seni, ada yang tempat sucinya kuil atau mandir yang sesajennya sederhana.

Jangan suka memusuhi rumah Tuhan, apakah itu bernama pura, kuil, mandir, ashram dan seterusnya. Di Bali kan juga banyak ada padepokan atau perguruan yang mengajarkan silat, kanda pat, kebatinan dan lainnya. Malah gurunya disebut Mahaprabu atau ada Maharesi dan entah apa lagi. Kalau kita tak suka dengan cara-cara atau dresta mereka dalam memuja Tuhan, ya, jangan ikut masuk ke sana. Kalau kita tak suka mendengar bajan, namaskaram dan sebagainya, ya, kita tetap mewargasari, mekidung, mewirama. Sama dengan dunia modern, kalau tak suka dangdut ya jangan putar lagunya Cita Citata.

Tak bisa sewenang-wenang kuil orang mau ditutup, memangnya kita siapa. Saya memohon dengan hormat, cobalah tenggang rasa, jangan suka membenci sesama penyembah atau bhakta Tuhan. Kalian akan tetap gusar dan gelisah kalau memendam amarah dan dalam pikiran benci terus sama orang yang berbeda. Percayalah, orang yang kalian benci, orang yang kalian hina, akan tetap tenang hidupnya, kalian sendiri yang justru tak mendapatkan berkah. Entah rejeki seret, usaha berantakan, keluarga kacau. Coba praktekkan berhenti misuh-misuh di Facebook atau Instagram atau medsos lainnya, pasti hidup kita lebih tenang. Semakin sering kita misuh-misuh dan bicara kotor semakin gelisah hidup kita. Kok kita menyiksa diri sendiri.

Leluhur Bali punya sesonggan, celebingkah beten biu, belahan pane belahan paso. Gumi linggah ajak liu, ane kene ade keto. Ade demen memuja Tuhan dengan bernyanyi, ade demen mekidung, ade demen megambel, pade len demenne. Kenapa kita saling mecongkrah?

Mari kita hidup menyama braya salih asah, saling asuh. Jangan terprovokasi oleh orang yang kepingin jabatan. Nanti habis pemilu mereka duduk sebagai anggota DPR, DPD, Gubernur, kita dapat sakitnya saja. Kita lalu ditinggal dan nyesel. Semoga pesan saya ini ada yang memperhatikan. Jangan kita menjadi polisi agana, jadilah pemeluk agama yang benar. Suksma. Rahayu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar