Ini sebuah kejadian yang
ringan saja, mungkin dianggap sepele. Suatu hari saya melakukan pemujaan di
Pura Melanting, di Kawasan Groggak, dekat Pura Pulaki. Pura Melanting sangat
terkenal karena umat yang melakukan swadharmanya sebagai pedagang banyak yang
mohon daksina linggih di sini untuk menstanakan Ida Bethari Rambut Sedhana. Ini
adalah dewi kekayaan sehingga usahanya sebagai pedagang mendapatkan anugrah.
Dalam kitab Hindu, Bethari Rambut Sedhana ini adalah Dewi Laksmi.
Karena saya menghaturkan
puja di siang hari, tentu wajib melantunkan Puja Trisandhya. Dan sebenarnya di
setiap persembahyangan, kecuali seambahyangnya beruntun, pemangku di sana rajin
melantunkan Puja Trisandhya sebelum muspa. Kebetulan saat itu ada beberapa
orang yang ikut bersembahyang. Ikut pula empat pemedek yang menggunakan pakaian
seragam tentara. Namun sepatu dan kaos kakinya sudah dilepas, dan tentara itu
memakai selendang. Mungkin dia bawa sendiri atau mungkin juga ada selendang
yang disediakan di pura itu, saya tak jelas.
Tidak ada masalah apa-apa,
persembahyangan berlangsung lancar. Pas saat ngaturang pasca sembah juga
berlangsung biasa-biasa saja. Usai sembahyang saya banyak disalami, memang
seperti biasa umat suka menyalami saya jika ada di tempat suci. Namun tiba-tiba,
ada seorang pemedek dengan pakaian yang sangat rapi menegor dengan sedikit
kasar empat tentara yang berpakaian seragam itu. Pemedek berpakaian rapi ini
mengaku sebagai pengurus Parisada di sebuah kecamatan, disebutkan nama kecamatannya
namun tak elok jika saya katakan di sini. Lelaki itu bertanya apakah tentara itu
semuanya beragama Hindu. Tentu saja tentara itu menjawab, ya, beragama Hindu.
Kalau bukan Hindu untuk apa sembahyang di pura.
Lelaki itu dengan nada
kasar menceramahi empat tentara itu. Dia menyebutkan, tentara itu tak pantas
masuk ke sebuah pura dengan seragam tentara dengan tujuan sembahyang. Bersembahyang
di pura ada aturannya, harus berpakaian adat Bali. Ini sudah melecehkan pura.
Kata-katanya tak enak kalau saya katakan semuanya. Lalu diakhiri dengan
setengah teriak: jangan ulangi lagi lain kali.
Saya mendengar semua itu
karena memang dekat dengan bale peyadnyan tempat saya memuja. Bahkan empat tentara
itu baru saja selesai sungkem ke saya. Rasanya tak enak kalau tidak ikut nimbrung.
Lalu saya katakan, tentara itu tak ada yang salah. Ini pura umum, termasuk kahyangan
jagat. Siapa pun bisa bersembahyang di sini, tak harus berpakaian adat Bali.
Masih syukur memakai selendang, andaikata tanpa selendang juga tak apa-apa.
Apalagi ini siang hari saatnya melantunkan Puja Trisandhya. Jangan menyalahkan
orang yang bersembahyang dengan tulus hanya karena pakaian.
Lalu saya minta pendapat
ke pemangku pura, apakah saya benar atau keliru. Pemangku pura sependapat
dengan saya bahkan menyebutkan hal yang biasa tentara sembahyang di sini dengan
pakaian seragam. Selendang yang dikenakannya memang disediakan di pura. Markas tentara
itu kan di dekat sini, pinggiran Pura Pulaki, ya, biasa mereka sembahyang di
sini.
Saya mau jelaskan kepada
lelaki berpakaian parlente itu duduk soalnya, ternyata dia dan rombongan kecilnya
sudah mau keluar dari pura. Kepada empat tentara itu saya hibur dengan
mengatakan, jangan omongan pengurus Parisada kecamatan itu dimasukkan ke hati.
Adik-adik tidak salah, jangan kapok. Salah satu tentara menjawab dengan sopan:
Nak Lingsir, kebetulan tadi kami latihan di halaman Pura, pas istirahat dipakai
untuk bersembahyang. Kalau tidak latihan di dekat sini, kami biasanya Puja
Trisandhya di sembarang tempat dengan duduk bersila. Kalau tidak sedang latihan,
Puja Trisandhya di mess, ada padamasari di barak.
Banyak Pura di Komplek
Militer
Luar biasa. Pernahkah kita
berkunjung ke komplek militer? Di setiap markas militer dan polisi pasti ada
pura. Dan pura ini dijadikan pura umum sehingga yang bukan militer boleh saja
masuk ke pura untuk bersembahyang. Di Jakarta misalnya pura di komplek militer
dijadikan pura Jagatnatha oleh umat Hindu disekitar pura.
Di markas Kopasus Cijantung
ada pura besar yang kemudian diempon umat Hindu Jakarta Timur, di komplek
Pasukan Pengawal Presiden ada pura yang diempon warga Jakarta Pusat, di komplek
polisi Jelambar Jakarta Barat juga ada pura besar, di Cinere ada pura yang
diempon Jakarta Selatan, itu di lahan TNI Angkatan laut. Di komplek TNI AU
Halim juga berdiri Pura besar. Begitu pula di daerah lain. Pura yang diempon
umat Hindu Banten ada di komplek Kopassus Serang.
Hampir di seluruh kota,
baik besar mau pun kecil, pasti ada pura di komplek tentara atau polisi. Ini
menandakan bahwa tentara dan polisi memang dituntut untuk paham ajaran agamanya
dan rajin bersembahyang sesuai aturan agama. Jangan bayangkan orang
bersembahyang di sana selalu berpakaian adat Bali. Mereka bisa tetap memakai
seragam kesatuannya. Bahkan di Pura Rawamangun Jakarta Timur yang bukan berada
di komplek militer, biasa ada orang bersembahyang bercelana Panjang. Disediakan
selendang, selain dupa dan air untuk melakukan cuci muka, di depan pintu
gerbang.
Bagaimana di Bali?
Sesungguhnya di setiap kantor ada pura di sudut halaman. Bukan saja kantor, di
pasar swalayan, di SBPU, ada pura. Tapi pernahkah melihat orang bersembahyang
di sana, misalnya, siang hari tatkala beberapa pengeras suara dan dari radio
mengalun Puja Trisandya? Jarang bahkan tidak pernah ada. Trisandhya hanya ada
di radio, di televisi, di pengeras suara. Umumnya alasan orang adalah: gak enak
sembahyang tak memakai pakaian adat. Nah, itulah, karena selalu ditekankan
bahwa bersembahyang itu harus memakai pakaian adat, harus mekamben. Kalau pakai
celana panjang, tak boleh.
Bahkan dalam Hindu, tidak
ada air untuk membasuh tangan dan cuci muka, tetap bisa sembahyang. Kalau umat
Islam, mohon maaf hanya contoh bukan membandingkan, jika tak ada air sehingga
tak bisa wudhu, tak boleh sholat. Dalam Hindu tak harus cuci tangan, membasuh
kaki dan cuci muka. Karena ada mantram pembersihan tubuh setelah melakukan
pranayama yang sejatinya menyucikan pikiran. Yakni lewat telapak tangan yang
disebut karasodhana. Tangan kanan diatas ucapkan mantram: Om sudyhamam swaha.
Ganti tangan kiri diatas: Om ati sudyhaman swaha. Selesai, sungguh
sangat praktis.
Jadi disiplin tentara dan
polisi harus dicontoh oleh umat Hindu. Dan disiplin ini harus ditanamkan sejak
kecil. Umat Hindu termasuk terlambat dalam displin menjalankan agama ini. Saya
kasih contoh kecil lagi. Di awal tahun 1980an, ketika saya bertugas di Yogya, sering
bersembahyang ke pura di komplek Akademi Militer di Magelang. Suatu hari
ngobrol-ngobrol dengan pembina di akademi militer itu. Perwira ini bertanya
pada saya, apakah di Hindu ada doa untuk memulai makan? Saya jawab, ya, pasti
ada. Perwira itu bercerita, ketika ada makan bersama di antara taruna, biasa
ada doa sebelum makan. Secara bergantian menurut agama masing-masing. Pas
giliran taruna dari Hindu berdoa, ternyata dia tak bisa melantunkan doa sebelum
makan itu. Bahkan dikatakan tak ada doanya. Waduh, saya malu sekali waktu itu.
Sepulang dari Magelang, saya membuat buku doa sehari-hari umat Hindu. Doa dari
bangun tidur, semua aktifitas sehari-hari sampai tidur lagi.
Saya cetak dan dibagikan gratis
ke para taruna. Belakangan buku doa sehari-hari itu dijual murah ke umat dan
banyak yang digratiskan. Syukurlah kini sudah populer. Jadi, kegiatan
bersembahyang yang kecil-kecil sudah menjadi bagian hidup keseharian manusia modern.
Makanya, saya sering berkata dengan maksud menyindir: di Bali ini yang rajin bersembahyang
Tri Sandhya cuma pengeras suara, radio dan televisi. Saya kalau lagi tinggal di
Denpasar, tiap pagi mendengar ada Puja Trisandhya dari 3 pengeras suara yang
tidak bersamaan, ya selisih beberapa detik. Tapi, mana ada orang tergerak ikut
berdoa?
Kembali ke masalah pura
tempat sembahyang. Untuk pura umum, seharusnya siapa pun orang yang datang
bersembahyang ke sana, apa pun pakaiannya, tidak masalah. Apalagi pura umum itu
ada di perkantoran dan sebagainya. Seharusnya pula, Pura Jagatnatha di setiap
kota, memperlakukan hal yang sama. Dengan begitu para pelajar yang dekat dengan
pura Jagatnatha, atau pas pulang sekolah atau sebelum pelajaran dimulai,
terbiasa melantunkan doa-doa pendek di pura. Termasuk jika waktunya Tri
Sandhya. Pura Jagatnatha di Denpasar yang berada di tengah kota dan dekat
dengan sekolah, seharusnya bisa dimasuki umat Hindu yang tak harus berpakaian
adat Bali – karena memang tak sempat ganti pakaian.
Sekarang bagaimana kalau
dikaitkan dengan budaya atau belakangan ini sering dipakai istilah dresta?
Apakah umat Hindu dresta Bali tidak boleh sembahyang di tempat suci yang bukan
dresta Bali? Atau sebaliknya? Tentu boleh saja, namun karena budaya ini
berkaitan dengan siapa yang dipuja, tentu ada batasannya. Bahkan sesama dresta Bali
juga ada batasannya.
Saya memberi contoh. Umat
Hindu yang drestanya Bali, pasti punya merajan keluarga untuk memuja
leluhurnya. Apakah merajan itu besar dengan beberapa pelinggih, atau merajan kecil
yang hanya dua atau tiga pelinggih yang sering disebut sanggah pekomelan, sama
saja fungsinya. Di situ dipuja leluhurnya, ada atau tidak ada rong tiga. Nah,
siapa leluhurnya itu bisa berbeda-beda. Karena itulah tidak semua pura ini bisa
dimasuki oleh orang lain yang leluhurnya tidak sama. Jadi tak mungkin kalau
misalnya ada orang bertamu, lalu pas ketika mau sembahyang dia bilang: pinjam
sanggahnya untuk sembahyang. Itu tak lazim kalau bukan keluarga.
Karena bisa jadi
leluhurnya berbeda. Misalnya, yang punya rumah warga Pasek, yang dipuja
leluhurnya para Mpu, seperti Mpu Gni Jaya, Mpu Semeru, Mpu Gana dan seterusnya.
Lalu tamunya warga lain, leluhurnya Danghyang Nirartha atau Arya atau Dalem
siapa. Tak mungkinlah pinjam tempat sembahyang di merajan.
Kalau dia mau memuja
Tuhan dan bukan memuja leluhur seperti melantunkan Puja Trisandhya berikan
tempat yang bersih. Di kamar tamu tak apa-apa. Karena itu di Pasraman Manikgeni,
saya membuat padmasana umum di halaman aula, maklum saya sering kedatangan tamu
dari berbagai warga, bahkan orang luar Bali. Tamu yang bukan warga Pasek,
karena saya warga Pasek, silakan sembahyang di padmasana umum memuja Tuhan,
bukan memuja leluhurnya saya. Kalau tamunya warga Pasek, boleh pilih mau sembahyang
di merajan atau di luar, terserah. Jadi untuk pura keluarga itu kita boleh menetapkan
syarat yang ketat, harus pakai kain adat Bali kalau sembahyang, meski pun di
merajan saya boleh berpakaian bebas. Wong anak-anak biasa sembahyang berpakaian
bebas, kan untuk ganti pakaian perlu waktu padahal doanya cuma pendek saja,
bukan sembahyang khusus atau bukan rerahinan apalagi piodalan.
Begitu pula dresta yang
dipakai, khususnya sesajen dan cara ritual. Kalau di merajan saya, karena ada bermacam
pelinggih, ada padmasana memuja Tuhan atau Siwa atau Brahman, ada meru dan rong
tiga memuja leluhur dan beberapa sanggah taksu, ritualnya memakai dresta Bali.
Sepenuhnya sesajen budaya Bali. Tetapi kalau Padmasana untuk umum di luar
penyengker merajan, yang berada di depan aula, drestanya tergantung umat. Yang
dari Jawa memakai dresta Jawa, yang dari Bali memakai dresta Bali, dan mau yang
tradisi Weda dengan agni hotra juga bisa. Tidak harus dresta Bali. Bahkan
secara berkala sering saya mengajak anak-anak melakukan agni hotra, tujuannya
agar mereka tahu tradisi memuja Tuhan dengan dresta lain. Biar gak kagok kalau
suatu saat ke luar Bali. Di zaman globalisasi ini kita harus lebih banyak tahu
cara pemujaan yang semuanya berlandaskan kitab suci Hindu.
Nah, sekarang bagaimana
kalau kita bersembahyang yang berbeda drestanya. Boleh apa tidak? Sepanjang itu
memuja Tuhan, meski pun didahului dengan memuja Istadewata, boleh-boleh saja. Saya
sering melakukan hal itu ketika masih walaka, belum menjadi pandita. Terutama
saat bertugas di luar Bali. Saya biasa bersembahyang di mandir, di ashram, di
candi, di padepokan atau di sanggar umat. Juga di kuil.
Saya akrab dengan pendeta
di Kuil Durga Maa Tangerang. Kuil Durga Maa ini dipimpin pendeta bernama Samin dari
Medan. Istadewata yang dipuja di sini adalah Dewi Durga. Tapi penggambaran
Durga adalah perempuan yang amat cantik. Saya bahkan pernah dibaptis di sini
dengan penganugrahan Dewi Durga. Lihat foto arsipnya.
Saya juga sering ke Dewi
Mandir di Kemayoran. Pendetanya di sini sudah lama menjadi anggota Sabha
Pandita PHDI Pusat. Di sini yang dipuja istadewata para dewi, seperti Laksmi,
Saraswati dan lainnya, juga dipuja Ganesha. Kalau ada upacara penyucian dewi-dewi
saya ikut menyucikannya dengan menyiramkan susu ke arca para dewi. Tidak ada
masalah toh setelah pemujaan Istadewata itu ujungnya adalah memuja Tuhan juga.
Bukankah Tuhan kita sama?
Saya juga akrab dengan
Pendeta Mohan MS, penerjemah Bhagawad Gita yang punya Pasraman di Cisarua
Bogor. Saya biasa memuja Istadewata di sini, terutama Dewi Saraswati. Dresta
yang dipakai tentu dresta setempat dan saya bisa memakai celana panjang karena
saat itu belum menjadi pandita. Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, saya
pernah bersembahyang bersama Hindu Kaharingan. Drestanya memakai budaya Batak Kaharingan,
memakai celana panjang. Tidak ada masalah. Tentu kalau masuk pura di Palangkaraya
saya memakai pakaian adat bali karena pengempon pura di Palangkaraya adalah
orang Bali.
Jadi intinya, di mana
kita berada ikuti budaya setempat. Kita harus biasa melihat perbedaan. Dalam
agama apa pun, Tuhan selalu menciptakan perbedaan karena lewat perbedaan itu kita
saling mengenal dan kemudian ada silaturahmi atau di Bali disebut mesilakrama. Tak
mungkin Tuhan menciptakan sesuatu yang sama, kalau semua sama bagaimana kita
saling mengenal dan mengasihi orang. Ada orang kaya dan diciptakan orang
miskin, agar yang kaya bisa bersedekah atau medana punia kepada yang miskin.
Kalau semua kaya siapa yang diberi dana punia, atau semua miskin siapa bisa
berdana punia. Ada yang berpangkat jenderal ada yang berpangkat kopral, agar
jenderal itu ada yang menghormati.
Jadi ada yang tempat
sucinya bernama pura dengan sesajen yang rumit tapi seni, ada yang tempat
sucinya kuil atau mandir yang sesajennya sederhana.
Jangan suka memusuhi
rumah Tuhan, apakah itu bernama pura, kuil, mandir, ashram dan seterusnya. Di
Bali kan juga banyak ada padepokan atau perguruan yang mengajarkan silat, kanda
pat, kebatinan dan lainnya. Malah gurunya disebut Mahaprabu atau ada Maharesi
dan entah apa lagi. Kalau kita tak suka dengan cara-cara atau dresta mereka dalam
memuja Tuhan, ya, jangan ikut masuk ke sana. Kalau kita tak suka mendengar
bajan, namaskaram dan sebagainya, ya, kita tetap mewargasari, mekidung,
mewirama. Sama dengan dunia modern, kalau tak suka dangdut ya jangan putar
lagunya Cita Citata.
Tak bisa sewenang-wenang kuil
orang mau ditutup, memangnya kita siapa. Saya memohon dengan hormat, cobalah
tenggang rasa, jangan suka membenci sesama penyembah atau bhakta Tuhan. Kalian
akan tetap gusar dan gelisah kalau memendam amarah dan dalam pikiran benci
terus sama orang yang berbeda. Percayalah, orang yang kalian benci, orang yang
kalian hina, akan tetap tenang hidupnya, kalian sendiri yang justru tak
mendapatkan berkah. Entah rejeki seret, usaha berantakan, keluarga kacau. Coba praktekkan
berhenti misuh-misuh di Facebook atau Instagram atau medsos lainnya, pasti
hidup kita lebih tenang. Semakin sering kita misuh-misuh dan bicara kotor
semakin gelisah hidup kita. Kok kita menyiksa diri sendiri.
Leluhur Bali punya
sesonggan, celebingkah beten biu, belahan pane belahan paso. Gumi linggah
ajak liu, ane kene ade keto. Ade demen memuja Tuhan dengan bernyanyi, ade
demen mekidung, ade demen megambel, pade len demenne. Kenapa kita saling
mecongkrah?
Mari kita hidup menyama
braya salih asah, saling asuh. Jangan terprovokasi oleh orang yang kepingin
jabatan. Nanti habis pemilu mereka duduk sebagai anggota DPR, DPD, Gubernur,
kita dapat sakitnya saja. Kita lalu ditinggal dan nyesel. Semoga pesan saya ini
ada yang memperhatikan. Jangan kita menjadi polisi agana, jadilah pemeluk agama
yang benar. Suksma. Rahayu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar