25 November 2018

Plastik

Putu Setia | @mpujayaprema
Seekor paus terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sudah tidak bernyawa. Berita itu tentu kalah menarik dibanding lelaki yang juga tak bernyawa di dalam drum. Pasti ada drama di balik terbunuhnya lelaki itu dan kenapa pula mayatnya dimasukkan drum.

Apakah kematian paus berhenti begitu saja tanpa ada drama yang menyesakkan? Tidak bermaksud membandingkan nyawa hewan dengan nyawa manusia, kematian paus ini sesungguhnya layak untuk dimainkan dramanya, sama-sama tragedi.  Jika mayat lelaki di dalam drum tragedi kemanusiaan yang menunjukkan betapa biadabnya seseorang melakukan pembunuhan, matinya paus di Wakatobi adalah campuran tragedi kebinatangan dengan kemanusiaan. Ulah manusialah yang menyebabkan paus itu mati dan karenanya untuk beberapa hari kita layak bersedih sembari mencoba mengurai di mana kita salah.
Di perut paus ditemukan hampir 6 kg sampah plastik. Berbagai jenis, ada plastik botol, kantong, dan gelas. Ada pula sandal jepit dan bermeter-meter tali rafia. Laut kita sudah sedemikian kotor. Sampah datang dari sungai dan kita tahu betapa warga kita masih menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Sampah juga datang dari pengunjung yang datang bersenang-senang ke pantai dan membuang kantong-kantong plastik ke sembarang tempat. Sampah dibiarkan berserakan dan angin menerbangkan ke laut atau air pasang yang menariknya ke dalam samudra.
Kalaulah sebagai bangsa kita tak bisa untuk disiplin membuang sampah – anehnya kalau di luar negeri kita bisa disiplin – mungkin solusinya kurangi penggunaan plastik yang sampahnya tak bisa diurai sampai lenyap. Upaya untuk itu sudah pernah ada namun pelaksanaannya tak bermutu. Misalnya, diperkenalkan kantong plastik berbayar bagi pengunjung di pasar swalayan. Dengan harga Rp 200 per kantong diharapkan pengunjung merasa terbebani lalu datang membawa tas yang ramah lingkungan. Tentu mustahil hal itu terjadi, emak-emak rela menambah seribu rupiah untuk lima kantong, toh kadang kasir swalayan juga suka memberi permen untuk kembalian recehan. Upaya ini gagal sembari kita tak tahu ke mana larinya uang kantong plastik berbayar itu.

Kalau mengurangi pemakaian plastik sulit, apa tak ada jalan mendaya-gunakan sampah plastik untuk tujuan lebih mulia dibanding dibuang ke laut jadi makanan paus? Upaya itu juga pernah ada. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan uji coba laboratorium tentang penggunaan sampah plastik sebagai bahan aspal jalan (plastic tar road). Program ini sudah dicoba di Bali.

Hampir mirip dengan di Bali, Kementerian PUPR juga mensosialisasikan pembuatan aspal bercampur limbah plastik di Asphalt Mixing Plant (AMP) yang terletak di Maros, Makassar. Berhasil bahkan pembuatannya tidak memerlukan  teknologi khusus dan alat baru. Banyak yang optimistis sampah plastik akan ludes diambil oleh program ini. Bagaimana kelanjutannya? Tiada kabar beritanya.

Sampah plastik pun terus menjadi masalah. Bahkan program “membersihkan lingkungan dari sampah plastik” jadi proyek berbagai ormas untuk, misalnya, memperingati ulang tahunnya – seraya kegiatan itu juga memproduksi gelas plastik bekas air kemasan. Perang melawan sampah plastik tak pernah menang. Apa perlu pemerintah menutup pabrik plastik dan membatasi “toko khusus plastik” yang kini semakin banyak? Kasihan ikan-ikan di laut yang makan plastik karena mengira itu rumput laut, termasuk paus yang perutnya bisa menampung plastik lebih besar.

(Dari Koran Tempo Akhir Pekan 21 November 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar