Seekor paus
terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Sudah tidak bernyawa. Berita itu tentu kalah menarik dibanding lelaki yang juga
tak bernyawa di dalam drum. Pasti ada drama di balik terbunuhnya lelaki itu dan
kenapa pula mayatnya dimasukkan drum.
Apakah
kematian paus berhenti begitu saja tanpa ada drama yang menyesakkan? Tidak
bermaksud membandingkan nyawa hewan dengan nyawa manusia, kematian paus ini
sesungguhnya layak untuk dimainkan dramanya, sama-sama tragedi. Jika mayat lelaki di dalam drum tragedi
kemanusiaan yang menunjukkan betapa biadabnya seseorang melakukan pembunuhan,
matinya paus di Wakatobi adalah campuran tragedi kebinatangan dengan
kemanusiaan. Ulah manusialah yang menyebabkan paus itu mati dan karenanya untuk
beberapa hari kita layak bersedih sembari mencoba mengurai di mana kita salah.
Di perut paus
ditemukan hampir 6 kg sampah plastik. Berbagai jenis, ada plastik botol,
kantong, dan gelas. Ada pula sandal jepit dan bermeter-meter tali rafia. Laut
kita sudah sedemikian kotor. Sampah datang dari sungai dan kita tahu betapa warga
kita masih menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Sampah juga
datang dari pengunjung yang datang bersenang-senang ke pantai dan membuang
kantong-kantong plastik ke sembarang tempat. Sampah dibiarkan berserakan dan
angin menerbangkan ke laut atau air pasang yang menariknya ke dalam samudra.
Kalaulah
sebagai bangsa kita tak bisa untuk disiplin membuang sampah – anehnya kalau di
luar negeri kita bisa disiplin – mungkin solusinya kurangi penggunaan plastik
yang sampahnya tak bisa diurai sampai lenyap. Upaya untuk itu sudah pernah ada
namun pelaksanaannya tak bermutu. Misalnya, diperkenalkan kantong plastik
berbayar bagi pengunjung di pasar swalayan. Dengan harga Rp 200 per kantong
diharapkan pengunjung merasa terbebani lalu datang membawa tas yang ramah
lingkungan. Tentu mustahil hal itu terjadi, emak-emak rela menambah seribu
rupiah untuk lima kantong, toh kadang kasir swalayan juga suka memberi permen
untuk kembalian recehan. Upaya ini gagal sembari kita tak tahu ke mana larinya
uang kantong plastik berbayar itu.
Kalau mengurangi pemakaian plastik sulit, apa tak
ada jalan mendaya-gunakan sampah plastik untuk tujuan lebih mulia dibanding
dibuang ke laut jadi makanan paus? Upaya itu juga pernah ada. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan uji coba laboratorium tentang penggunaan
sampah plastik sebagai bahan aspal jalan (plastic tar road). Program
ini sudah dicoba di Bali.
Hampir mirip dengan di Bali, Kementerian
PUPR juga mensosialisasikan pembuatan aspal bercampur limbah plastik di Asphalt
Mixing Plant (AMP) yang terletak di Maros, Makassar. Berhasil bahkan
pembuatannya tidak memerlukan teknologi khusus dan alat baru. Banyak
yang optimistis sampah plastik akan ludes diambil oleh program ini. Bagaimana
kelanjutannya? Tiada kabar beritanya.
Sampah plastik pun terus menjadi
masalah. Bahkan program “membersihkan lingkungan dari sampah plastik” jadi
proyek berbagai ormas untuk, misalnya, memperingati ulang tahunnya – seraya
kegiatan itu juga memproduksi gelas plastik bekas air kemasan. Perang melawan
sampah plastik tak pernah menang. Apa perlu pemerintah menutup pabrik plastik
dan membatasi “toko khusus plastik” yang kini semakin banyak? Kasihan ikan-ikan
di laut yang makan plastik karena mengira itu rumput laut, termasuk paus yang
perutnya bisa menampung plastik lebih besar.
(Dari Koran Tempo Akhir Pekan 21 November 2018)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar