Mpu Jaya Prema
GUBERNUR Bali Wayan Koster membawa harapan baru untuk
masyarakat Kabupaten Buleleng. Pembangunan shortcut
(jalan pintas) yang akan memangkas tikungan maut di antara jalan Singaraja –
Mengwi Tani akan segera dikerjakan. Bahkan satu titik sudah mulai peletakan
batu pertamanya. Meski tidak bisa lekas membuat jalan seperti ini yang
memerlukan teknologi tinggi, namun ini sebuah harapan yang sudah pasti.
Banyak orang berharap pemerataan pembangunan di Bali segera
dimulai. Khususnya pemerataan ke arah Bali utara. Bahkan disebut-sebut desain
besar sedang disusun bagaimana membangun kawasan Bali utara itu. Kalau desain
ini sudah disusun dan nanti dikerjakan dengan betul tinggal menyusun desain
membangun Bali barat dan Bali timur, sehingga seluruh Bali kehidupan merata.
Tidak seperti sekarang, Kabupaten Badung kaya raya, para lansia dapat gaji,
sulinggih dibantu tiap bulan, penunggu pasien dapat santunan, sementara di
kabupaten lain tidak bisa memberikan hal itu. Bahkan yang muncul di media,
orang-orang miskin masih menghuni rumah tak layak.
Khusus kawasan Bali utara memang sudah lama seperti daerah yang terlupakan.
Padahal dulu pusat pemerintahan Bali ada di Singaraja. Bahkan bukan hanya
menjadi pusat Bali, juga pusat pemerintahan Sunda Kecil. Ketika ibukota Bali dipindahkan ke Denpasar berangsur-angsur pula semua
kantor-kantor pemerintahan diboyong ke Denpasar. Singaraja praktis menjadi kota mati. Sempat sejenak mulai ada “napas
kehidupan baru” ketika pemerintah membentuk Kowilhan (Komando Pertahanan
Wilayah) di mana wilayah Nusa Tenggara dijadikan Kowilhan V. Singaraja dipilih
sebagai markas Kowilhan itu. Namun ini juga tak lama, Kowilhan bubar maka
kembali Singaraja menjadi sepi.
Sekarang Buleleng mendapat momentum baru yang harus
segera disambut dengan baik meski pelaksanaan tersendat.
Misalnya rencana pembangunan bandara internasional
karena Bandara Ngurah Rai sudah tak mungkin lagi dikembangkan untuk masa-masa
mendatang. Bandara Ngurah Rai dikelilingi laut di kedua ujung landasan, ke mana
pun diperluas tetap akan mengurug laut. Bandara di Buleleng sudah disurvey
keberadaannya dan
ditetapkan di wilayah timur di
Kecamatan Kubu Tambahan. Sayang izin lokasinya sampai sekarang belum turun. Menurut Gubernur Koster,
bandara itu baru dibangun setelah shortcut
selesai, bahkan menunggu pembangunan tol Denpasar-Gilimanuk. Masih
lama sekali kalau seperti ini.
Tanpa kejelasan kapan bandara akan dibangun, Kabupaten Buleleng harus bangkit karena
kawasan ini sebenarnya wilayah yang sangat unik. Membujur dari ujung barat ke
timur di bagian utara Pulau Bali, wilayahnya betul-betul nyegara gunung.
Laut dan gunung seperti bertetangga, sehingga tidak ada hamparan lahan
pertanian yang luas. Karena itu pariwisata pesisir harus dikembangkan.
Secara budaya, Buleleng pun unik. Hanya di Buleleng
kata kaja dalam bahasa Bali tidak sama dengan utara dalam bahasa
Indonesia. Kata kelod juga tidak berarti selatan. Kaja dan
kelod harus melihat posisi gunung dan laut, dan kebetulan saja laut dan
gunungnya itu membujur di satu arah. Di wilayah lainnya di Bali, kata petunjuk kaja
dan kelod tak pernah berubah, meskipun laut ada di barat (misalnya di
Kabupaten Jembrana dan Tabanan) atau berada di sisi timurnya (seperti di
Karangasem).
Dalam banyolan bebondresan, keunikan Buleleng
dimunculkan dengan kekontrasannya. Misalnya disebutkan Buleleng yang kaya raya
dengan air karena sejumlah desa memakai nama-nama air seperti Yeh Sanih, Banyu
Wedang, Banyu Biru, Banyu Poh, Banyu Ning dan sebagainya, namun tak pernah
punya abian (kebun) seperti di Bali Selatan: Abian Kapas, Abian Tuwung,
Abian Base dan banyak lagi. Tetapi sejatinya ini bukan sekedar banyolan. Pariwisata air harus
dikembangkan di Buleleng karena lautnya yang tenang. Sekarang pusat kuliner
hampir terpusat di pesisir laut antara Singaraja – Seririt dengan Lovina
sebagai daya tariknya.
Kreatifitas
nyama Buleleng juga hebat-hebat untuk memperkuat budaya Bali sebagaimana harapan
Gubernur Wayan Koster. Ketika
drama gong lahir dan mewabah di Bali Selatan,
Buleleng tampil dengan drama gong yang mengandalkan kecanggihan panggung. Semua
sekaa (grup) drama gong punya perlengkapan pentas berupa layar-layar
lebar untuk dekorasi panggung. Adegan kerajaan ada latar belakang gambar
istana, adegan di hutan ada gambar pemandangan hutan, bahkan adegan di taman,
misalnya, dibuat demikian kreatif seperti membuat kolam-kolam dengan air
mancurnya. Kalau dipikirkan saat ini, betapa mengagumkan kreatifitas itu,
karena di tahun 1970-an peralatan listrik dan teknologi tak semaju sekarang,
tetapi mereka bisa membuat gerak-gerak tipuan seperti bidadari yang seolah-olah
terbang ke angkasa, atau adegan orang naik perahu.
Di bidang seni tabuh dan tari, nyama Buleleng juga kreatif. Di wilayah ini pernah lahir Tari
Badminton selain Tari Nelayan yang populer itu. Jadi, temanya keseharian. Yang
membuat orang heran, di bidang tabuh pernah muncul Tabuh Memetik Daun Teh,
padahal di mana ada kebun teh di Buleleng.
Demikian pula di bidang arsitektur, terutama
ukiran-ukirannya. Gaya Buleleng menyiratkan ukiran kerakyatan, tidak jelimet
dan sedikit kasar tetapi ada nuansa kejantanan dan kekokohan. Sulit untuk
menjelaskan dengan kata-kata, tetapi lihatlah angkul-angkul pada rumah-rumah
kuno atau candi bentar pada sejumlah pura yang tua.
Kreatifitas warga Buleleng pasti akan semakin tumbuh
jika pembangunan bergerak lebih lincah di daerah ini. Buleleng akan menemukan jati
dirinya sendiri dan bisa mengembangkan kekhasan daerahnya yang beda dengan
kabupaten lain di Bali. Caranya tentu dengan membangun Kabupaten Buleleng agar
tidak menjadi “kabupaten tertinggal” di Bali. Dan harapan itu muncul dengan
tampilnya Wayan Koster, penduduk asli Buleleng, sebagai Gubernur Bali. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar