BUAH lokal
kini jadi bahan pembicaraan. Gubernur Bali Wayan Koster sudah meminta agar
hotel dan restoran mau memakai buah lokal. Kita kaya dengan buah lokal. Meski
salak Bali yang pernah jadi primadona sudah redup, ada manggis, anggur, mangga,
durian dan banyak yang lain. Bupati Buleleng menyebutkan di wilayahnya ada 97
jenis anggur, luar biasa.
Sekarang
musim durian. Berpuluh-puluh durian dijajakan di pinggir jalan jika kita melewati
jalan Antosari sampai Seririt. Memang durian sulit masuk hotel karena ada unsur
bau yang menyengat, namun untuk restoran tentu hal yang lumrah. Masalahnya
adalah bagaimana sistem pemasarannya.
Kalau hotel
dan restoran selalu dijadikan dalih tidak mau menampung buah lokal, bagaimana
dengan masyarakat Bali sendiri? Apakah masyarakat Bali sudah peduli dengan buah
lokal, terutama jika dijadikan sebagai bahan persembahyangan ke pura? Cobalah
kita perhatikan jika orang Bali membuat gebogan,
seberapa banyak unsur buah lokalnya? Tidak mendominasi. Orang masih suka
memakai buah impor seperti apel, jeruk dan pier yang memang enak dipandang.
Belum lagi masalah pisang yang lebih banyak didatangkan dari luar Bali. Cobalah
cek ke pasar Batu Kandik di Denpasar, bertruck-truck pisang didatangkan dari Jawa Timur.
Padahal
ajaran Hindu memberikan konsep, persembahkanlah bunga, daun, buah yang
merupakan hasil olahan dari ibu pertiwi di mana bumi ini kita pijak. Ketika
bumi diolah, pohon buah dan bunga ditanam, hasilnya dijadikan persembahan
memuja Tuhan. Dengan cara itu kita memuliakan Ibu Pertiwi. Kita lihat misalnya
penjor yang dipasang menyambut Hari Raya Galungan. Penuh dengan gantungan buah
dan umbi-umbian sebagai lambang bagaimana kita memuliakan Ibu Pertiwi di mana
kita menetap.
Sloka
Atharva Veda I.32.1 menyebutkan: Manad brahma,
yena prananti virudhah. Terjemahannya: “Terdapat jiwa di dalam
tumbuh-tumbuhan, mereka bernapas dan tumbuh karena jiwa itu.” Jiwa itu datang
dari sumber yang sama dengan makhluk lainnya, termasuk manusia. Dalam sloka Atharva Veda VIII.7.4 disebutkan:
Virudho vaisvadevir ugrah purusajivanih.
Terjemahannya, “tumbuh-tumbuhan memiliki sifat para dewa, mereka adalah para
juru selamat manusia.” Ini menandakan tumbuh-tumbuhan yang hidup di mana bumi
kita olah haruslah kita muliakan karena memiliki sifat-sifat yang ada di dalam
para dewa. Dan jika tumbuh-tumbuhan itu menghasilkan buah maka persembahkanlah
untuk para dewa. Persembahan itu sebagai simbol dari penyucian dan rasa syukur
yang hasilnya kemudian memberi kehidupan pada diri kita sebagai manusia.
Dalam
konsep itu kita berutang budi kepada tumbuh-tumbuhan, terutama pohon yang
berbuah. Maka para leluhur kita mencari hari yang baik untuk membalas utang
budi itu dengan penyampaian rasa syukur kepada Tuhan. Dikenallah ada hari
Tumpek Wariga atau Sabtu Kliwon Wuku Wariga. Kenapa hari itu yang dipilih?
Karena penyampaian rasa syukur itu disertai harapan agar buah yang sudah mulai
muncul segera matang untuk dipersembahkan pada Hari Raya Galungan. Jarak Tumpek
Wariga dengan Galungan 25 hari yang diyakini cukup membuat buah-buah itu matang
di pohon.
Pada hari
Tumpek Wariga itu kita memuja Tuhan melalui Dewa Sangkara. Dalam sastra Hindu,
Sangkara menghuni di Barat Laut (kaja-kauh
dalam bahasa Bali), merupakan salah satu dari Dewata Nawa Sanga, sembilan dewa
yang menguasai mata angin dengan Siwa berada di tengahnya. Karena yang dipuja
Dewa Sangkara, di dalam budaya Hindu di India, hari untuk memuliakan bumi
dengan segala tumbuh-tumbuhan ini disebut Sangkara Puja. Tentu saja hari
pemujaan itu tidak persis Sabtu Kliwon sebagaimana di Bali, karena dalam ajaran
Hindu penerapan hari-hari sucinya bisa mengadopsi budaya lokal.
Tumpek
Wariga itu adalah hari ini. Maka marilah hari ini kita datang ke kebun untuk menghaturkan
sesajen, terutama ditujukan kepada pohon yang berbuah. Kita bisa berdoa sesuai
dengan bahasa keseharian yang intinya meminta agar buah itu bisa dipersembahkan
pada Hari Raya Galungan. Tentu doa ini konsekwen kita laksanakan, pada saat
Galungan nanti mari petik buah itu untuk persembahan. Kenapa kita harus malu
mempersembahkan sotong, nanas, mangga, pisang dari kebun sendiri atau minimal
kita beli di pasar desa yang asalnya dari tanah Bali.
Kalau konsep
ini kita laksanakan, mungkin buah-buah lokal sudah habis diserap oleh
masyarakat kita sendiri dan kita tak perlu berkecil hati kalau hotel-hotel
masih tak meliriknya. (*)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar