01 Desember 2018

Buah Lokal Memuliakan Ibu Pertiwi

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

BUAH lokal kini jadi bahan pembicaraan. Gubernur Bali Wayan Koster sudah meminta agar hotel dan restoran mau memakai buah lokal. Kita kaya dengan buah lokal. Meski salak Bali yang pernah jadi primadona sudah redup, ada manggis, anggur, mangga, durian dan banyak yang lain. Bupati Buleleng menyebutkan di wilayahnya ada 97 jenis anggur, luar biasa.

Sekarang musim durian. Berpuluh-puluh durian dijajakan di pinggir jalan jika kita melewati jalan Antosari sampai Seririt. Memang durian sulit masuk hotel karena ada unsur bau yang menyengat, namun untuk restoran tentu hal yang lumrah. Masalahnya adalah bagaimana sistem pemasarannya.
Kalau hotel dan restoran selalu dijadikan dalih tidak mau menampung buah lokal, bagaimana dengan masyarakat Bali sendiri? Apakah masyarakat Bali sudah peduli dengan buah lokal, terutama jika dijadikan sebagai bahan persembahyangan ke pura? Cobalah kita perhatikan jika orang Bali membuat gebogan, seberapa banyak unsur buah lokalnya? Tidak mendominasi. Orang masih suka memakai buah impor seperti apel, jeruk dan pier yang memang enak dipandang. Belum lagi masalah pisang yang lebih banyak didatangkan dari luar Bali. Cobalah cek ke pasar Batu Kandik di Denpasar, bertruck-truck  pisang didatangkan dari Jawa Timur.

Padahal ajaran Hindu memberikan konsep, persembahkanlah bunga, daun, buah yang merupakan hasil olahan dari ibu pertiwi di mana bumi ini kita pijak. Ketika bumi diolah, pohon buah dan bunga ditanam, hasilnya dijadikan persembahan memuja Tuhan. Dengan cara itu kita memuliakan Ibu Pertiwi. Kita lihat misalnya penjor yang dipasang menyambut Hari Raya Galungan. Penuh dengan gantungan buah dan umbi-umbian sebagai lambang bagaimana kita memuliakan Ibu Pertiwi di mana kita menetap.

Sloka Atharva Veda I.32.1 menyebutkan: Manad brahma, yena prananti virudhah. Terjemahannya: “Terdapat jiwa di dalam tumbuh-tumbuhan, mereka bernapas dan tumbuh karena jiwa itu.” Jiwa itu datang dari sumber yang sama dengan makhluk lainnya, termasuk manusia.  Dalam sloka Atharva Veda VIII.7.4 disebutkan: Virudho vaisvadevir ugrah purusajivanih. Terjemahannya, “tumbuh-tumbuhan memiliki sifat para dewa, mereka adalah para juru selamat manusia.” Ini menandakan tumbuh-tumbuhan yang hidup di mana bumi kita olah haruslah kita muliakan karena memiliki sifat-sifat yang ada di dalam para dewa. Dan jika tumbuh-tumbuhan itu menghasilkan buah maka persembahkanlah untuk para dewa. Persembahan itu sebagai simbol dari penyucian dan rasa syukur yang hasilnya kemudian memberi kehidupan pada diri kita sebagai manusia.

Dalam konsep itu kita berutang budi kepada tumbuh-tumbuhan, terutama pohon yang berbuah. Maka para leluhur kita mencari hari yang baik untuk membalas utang budi itu dengan penyampaian rasa syukur kepada Tuhan. Dikenallah ada hari Tumpek Wariga atau Sabtu Kliwon Wuku Wariga. Kenapa hari itu yang dipilih? Karena penyampaian rasa syukur itu disertai harapan agar buah yang sudah mulai muncul segera matang untuk dipersembahkan pada Hari Raya Galungan. Jarak Tumpek Wariga dengan Galungan 25 hari yang diyakini cukup membuat buah-buah itu matang di pohon.

Pada hari Tumpek Wariga itu kita memuja Tuhan melalui Dewa Sangkara. Dalam sastra Hindu, Sangkara menghuni di Barat Laut (kaja-kauh dalam bahasa Bali), merupakan salah satu dari Dewata Nawa Sanga, sembilan dewa yang menguasai mata angin dengan Siwa berada di tengahnya. Karena yang dipuja Dewa Sangkara, di dalam budaya Hindu di India, hari untuk memuliakan bumi dengan segala tumbuh-tumbuhan ini disebut Sangkara Puja. Tentu saja hari pemujaan itu tidak persis Sabtu Kliwon sebagaimana di Bali, karena dalam ajaran Hindu penerapan hari-hari sucinya bisa mengadopsi budaya lokal.

Tumpek Wariga itu adalah hari ini. Maka marilah hari ini kita datang ke kebun untuk menghaturkan sesajen, terutama ditujukan kepada pohon yang berbuah. Kita bisa berdoa sesuai dengan bahasa keseharian yang intinya meminta agar buah itu bisa dipersembahkan pada Hari Raya Galungan. Tentu doa ini konsekwen kita laksanakan, pada saat Galungan nanti mari petik buah itu untuk persembahan. Kenapa kita harus malu mempersembahkan sotong, nanas, mangga, pisang dari kebun sendiri atau minimal kita beli di pasar desa yang asalnya dari tanah Bali.

Kalau konsep ini kita laksanakan, mungkin buah-buah lokal sudah habis diserap oleh masyarakat kita sendiri dan kita tak perlu berkecil hati kalau hotel-hotel masih tak meliriknya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar