04 November 2018

Azab


Putu Setia | @mpujayaprema

SETIAP ada bencana di negeri ini saya kagum dengan kegesitan tim SAR. Mereka bergerak cepat menuju sasaran dan langsung melakukan tindakan. Apakah itu berupa pencarian korban mau pun pertolongan, langkahnya begitu profesional.

Dulu, badan yang menaungi SAR ini namanya BASARNAS (Badan SAR Nasional). SAR itu sendiri akronim dari Search And Rescue. Atas nama kejanggalan membentuk akronim yang di dalamnya ada akronim maka BASARNAS diganti menjadi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP). Apalah arti nama, tetap BASARNAS lebih populer.

Di mana ada bencana di situ ada SAR. Badan ini dipimpin oleh perwira TNI bintang tiga. Tentara yang tugas pokoknya mengamankan wilayah kedaulatan negara berubah tugas mencari korban di reruntuhan bangunan kalau ada gempa, menyelam di samudra kalau ada pesawat udara yang nyemplung ke laut. Bahwa upaya melakukan pencarian dan pertolongan itu hasilnya tak bisa cepat memenuhi harapan keluarga korban, itu masalah lain. Betapa pun canggihnya alat-alat yang mereka miliki tetap saja lebih canggih rencana Tuhan yang punya skenario sendiri dalam mengawal semesta ini. Kita, manusia, hanyalah sebutir debu dalam kemaha-kuasaan Tuhan.

Lalu, apakah bencana adalah kehendak Tuhan sebagai kutukan kepada umat-Nya atau yang lazim dalam istilah agama disebut azab Tuhan? Tak akan ada kesimpulan meski diperdebatkan berhari-hari. Begitu rahasia dari kekuasaan Tuhan mau kita simpulkan, maka yang terjadi adalah pemihakan kita terhadap apa yang kita sebut kebenaran. Kita sudah menyalurkan opini baik secara sadar mau pun spontanitas yang bisa saja dipengaruhi oleh nafsu tertentu dalam diri kita.

Seorang politisi menyebutkan, negeri ini beruntun tertimpa bencana. Belum selesai teratasi dampak gempa di Lombok, muncul gempa plus tsunami di Palu dan Donggala. Baru saja tanggap darurat dihentikan di Palu dan Donggala menyusul jatuhnya pesawat Lion Air di perairan Karawang. Ini karena kita salah memilih pemimpin dan Tuhan menjatuhkan azab sebagai peringatan.

Sesadar-sadarnya orang itu mengkaitkan bencana dengan azab maka yang sesungguhnya terjadi adalah otaknya kotor dengan nafsu yang berpihak dalam urusan duniawi -- terutama nafsu yang berkaitan dengan politik. Apakah tak ada azab Tuhan versi lain, misalnya, bencana yang beruntun ini adalah cara Tuhan untuk mengingatkan politisi yang kerjanya nyinyir dan tak pernah mengakui sukses seorang pemimpin yang dicintai rakyat?

Azab Tuhan bisa dipermainkan tergantung siapa yang menyalahkan dan siapa yang disalahkan. Ada spanduk: “Sedekah Laut Menimbulkan Tsunami” dengan alasan itu perbuatan syirik. Bukankah bisa dibalas dengan spanduk “Melupakan Sedekah Laut Bisa Menimbulkan Bencana” dengan alasan kita tak pernah mensyukuri karunia dari laut.

Di Selandia Baru sering terjadi gempa. Begitu pula di Jepang. Tapi tak ada yang mengkaitkan bencana dengan kutukan Tuhan. Bencana ya bencana saja karena bumi diciptakan untuk keseimbangan dalam perbedaan. Kebetulan kita tinggal di daerah bencana namun diberi kesuburan dan alam yang indah.

Bencana tidak adil dikaitkan dengan kutukan Tuhan jika kita masih percaya Tuhan sebagai Sang Maha Pengasih. Bahwa kita sering melakukan kesalahan tentu tak henti-hentinya melakukan tobat karena kita percaya Tuhan Sang Maha Pengampun. Marilah kita hentikan mengkaitkan bencana dengan azab, termasuk dalam niat bercanda. Lebih bijak mendukung tim SAR yang bekerja atasnama kemanusiaan, bukan karena “ada azab lantaran kita salah memilih pemimpin”.

(Dimuat Koran Tempo Akhir Pekan 3 November 2018)


1 komentar: