Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
PERGUB Bali tentang kewajiban mengenakan busana adat pada
hari Kamis, Purnama, Tilem dan hari ulang tahun provinsi Bali, hanya memberikan
model untuk satu jenis busana saja. Padahal makna dari pengenaan busana itu
setidaknya ada dua hal. Yang satu busana adat untuk bersembahyang, yakni saat
hari itu Purnama atau Tilem. Yang satu lagi busana adat untuk bekerja
sehari-hari tanpa disertai sembahyang. Pekan ini, misalnya, busana adat itu
menumpuk dua hari. Rabu 7 November adalah Tilem dan esoknya Kamis hari yang
wajib berbusana adat. Lalu muncul
pertanyaan, kedua busana
itu sama atau beda?
Tata
cara berpakaian untuk bersembahyang di dalam ajaran Hindu memang tidak diatur. Tidak ditemukan rujukan itu di dalam kitab Weda.
Berpakaian hanya dikaitkan dengan etika dan tata krama. Etika itulah yang kemudian
dicarikan rujukan dalam ajaran agama yang kemudian disesuaikan
dengan budaya masing-masing. Jadi budaya lokal itu yang ditonjolkan sehingga busana ke pura untuk orang
Bali bisa beda dengan busana yang dipakai orang Jawa, Kalimantan, dan apalagi
warga India.
Bersembahyang adalah menyerahkan diri kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Karena Hyang Widhi begitu suci, maka badan kasar dan pikiran kita
juga harus suci, supaya nyambung. Maka pakailah pakaian yang bersih. Karena pikiran hanya tertuju kepada Hyang Widhi, pikiran perlu dikekang agar tidak mengembara ke mana-mana. Leluhur
kita di Bali menciptakan simbol pengekangan itu berupa destar atau udeng. Ini yang bernama budaya agama.
Destar pun dibagi antara destar untuk orang kebanyakan yang belum ekajati (masih walaka) dan
destar yang dipakai ekajati
(pemangku). Destar walaka terbuka di
bagian atas, destar pemangku tertutup
penuh sebagai pertanda bahwa pengekangan pikiran itu haruslah lebih sempurna.
Bagaimana simbol bagi yang perempuan untuk mengekang pikiran?
Rambut diikat berbentuk sanggul atau di Bali disebut mepusungan. Leluhur
kita di Bali bahkan menciptakan budaya mepusungan yang berbeda antara dahasari
(gadis), wanita dewasa dan untuk sulinggih istri. Jadi rambut tidak boleh terurai
tanpa diiikat atau tanpa mepusungan.
Bagaimana kalau rambut itu pendek dan tidak bisa diikat? Agar tetap ada simbol
pengekangan pikiran maka kepalanya yang diikat, seperti yang sering kita lihat
pada ritual di Bali. Jadi sesungguhnya tidak boleh ke pura dengan rambut
dibiarkan terurai. Ini disebut rambut megambahan.
Simbol pengekangan
ini adalah jabaran dari ajaran Trikaya Parisudha. Jika pikiran sudah dikekang, maka
perkataan pun juga dikekang. Simbolnya adalah kalung di leher. Sekarang banyak
yang memakai kalung genitri. Dulu, kalau ada
odalan di pura, orang tua membuatkan “kalung pis bolong” (terbuat dari benang
yang diisi uang kepeng) yang dikenakan anak-anaknya.
Itu disebut semayut. Bagaimana simbol mengekang perbuatan? Ada gelang di
tangan. Ini bisa berfungsi sebagai perhiasan, tetapi bisa pula hanya sebatas
simbol, misalnya, gelang benang. Sekarang populer memakai benang tridatu
(tiga warna). Sedangkan di pinggang melilit anteng, disebut
juga selempod, atau saput.
Itulah simbol-simbol pengekangan pikiran, perkataan
dan perbuatan dalam bentuk busana saat persembahyangan yang mencerminkan sikap kita
yang patuh pada ajaran Tri Kaya Parisudha. Simbol-simbol ini, termasuk destar, pakaian dan kamennya tidak
memperhitungkan warna tertentu, yang penting bersih.
Perubahan terjadi seiring dengan pengaruh kebudayaan
global. Jika dulu terbatas pada pakaian yang bersih, sekarang mulai ke masalah
warna. Putih dan kuning dianggap simbol-simbol suci. Dulu, destar
kebanyakan dari kain batik dan baju pun warna-warni. Hanya pemangku yang
memakai destar putih. Sekarang anak
kecil pun memakai destar putih.
Begitu pula baju, banyak yang ke pura memakai baju putih.
Jadi busana adat ke pura itu penuh dengan simbol-simbol.
Akan halnya busana adat yang tidak ada kaitannya dengan persembahyangan,
seharusnya bisa lebih bebas. Destar
bisa kembali ke warna apa saja, begitu pula warna pakaian, anteng dan kain yang dipakai. Bahkan kalau mau kelihatan cantik dan
modis bagi wanita, rambut terurai (megambahan)
juga tidak masalah. Itu semua tergantung pada selera. Dengan demikian kita
punya variasi dan tidak bosan mengenakan busana adat Bali, apalagi kalau
harinya numpuk (Rabu dan Kamis) seperti yang lalu. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar