11 November 2018

Busana Adat untuk Sembahyang


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

PERGUB Bali tentang kewajiban mengenakan busana adat pada hari Kamis, Purnama, Tilem dan hari ulang tahun provinsi Bali, hanya memberikan model untuk satu jenis busana saja. Padahal makna dari pengenaan busana itu setidaknya ada dua hal. Yang satu busana adat untuk bersembahyang, yakni saat hari itu Purnama atau Tilem. Yang satu lagi busana adat untuk bekerja sehari-hari tanpa disertai sembahyang. Pekan ini, misalnya, busana adat itu menumpuk dua hari. Rabu 7 November adalah Tilem dan esoknya Kamis hari yang wajib berbusana adat. Lalu muncul pertanyaan, kedua busana itu sama atau beda? 
 
Tata cara berpakaian untuk bersembahyang di dalam ajaran Hindu memang tidak diatur. Tidak ditemukan rujukan itu di dalam kitab Weda. Berpakaian hanya dikaitkan dengan etika dan tata krama. Etika itulah yang kemudian dicarikan rujukan dalam ajaran agama yang kemudian disesuaikan dengan budaya masing-masing. Jadi budaya lokal itu yang ditonjolkan sehingga busana ke pura untuk orang Bali bisa beda dengan busana yang dipakai orang Jawa, Kalimantan, dan apalagi warga India.

Bersembahyang adalah menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena Hyang Widhi begitu suci, maka badan kasar dan pikiran kita juga harus suci, supaya nyambung. Maka pakailah pakaian yang bersih. Karena pikiran hanya tertuju kepada Hyang Widhi, pikiran perlu dikekang agar tidak mengembara ke mana-mana. Leluhur kita di Bali menciptakan simbol pengekangan itu berupa destar atau udeng. Ini yang bernama budaya agama.

Destar pun dibagi antara destar untuk orang kebanyakan yang belum ekajati (masih walaka) dan destar yang dipakai ekajati (pemangku). Destar walaka terbuka di bagian atas, destar pemangku tertutup penuh sebagai pertanda bahwa pengekangan pikiran itu haruslah lebih sempurna.

Bagaimana simbol bagi yang perempuan untuk mengekang pikiran? Rambut diikat berbentuk sanggul atau di Bali disebut mepusungan. Leluhur kita di Bali bahkan menciptakan budaya mepusungan yang berbeda antara dahasari (gadis), wanita dewasa dan untuk sulinggih istri. Jadi rambut tidak boleh terurai tanpa diiikat atau tanpa mepusungan. Bagaimana kalau rambut itu pendek dan tidak bisa diikat? Agar tetap ada simbol pengekangan pikiran maka kepalanya yang diikat, seperti yang sering kita lihat pada ritual di Bali. Jadi sesungguhnya tidak boleh ke pura dengan rambut dibiarkan terurai. Ini disebut rambut megambahan.

Simbol pengekangan ini adalah jabaran dari ajaran Trikaya Parisudha. Jika pikiran sudah dikekang, maka perkataan pun juga dikekang. Simbolnya adalah kalung di leher. Sekarang banyak yang memakai kalung genitri. Dulu, kalau ada odalan di pura, orang tua membuatkan “kalung pis bolong” (terbuat dari benang yang diisi uang kepeng) yang dikenakan anak-anaknya. Itu disebut semayut. Bagaimana simbol mengekang perbuatan? Ada gelang di tangan. Ini bisa berfungsi sebagai perhiasan, tetapi bisa pula hanya sebatas simbol, misalnya, gelang benang. Sekarang populer memakai benang tridatu (tiga warna). Sedangkan di pinggang melilit  anteng, disebut juga selempod, atau saput.


Itulah simbol-simbol pengekangan pikiran, perkataan dan perbuatan dalam bentuk busana saat persembahyangan yang mencerminkan sikap kita yang patuh pada ajaran Tri Kaya Parisudha. Simbol-simbol ini, termasuk destar, pakaian dan kamennya tidak memperhitungkan warna tertentu, yang penting bersih.

Perubahan terjadi seiring dengan pengaruh kebudayaan global. Jika dulu terbatas pada pakaian yang bersih, sekarang mulai ke masalah warna. Putih dan kuning dianggap simbol-simbol suci. Dulu, destar kebanyakan dari kain batik dan baju pun warna-warni. Hanya pemangku yang memakai destar putih. Sekarang anak kecil pun memakai destar putih. Begitu pula baju, banyak yang ke pura memakai baju putih.

Jadi busana adat ke pura itu penuh dengan simbol-simbol. Akan halnya busana adat yang tidak ada kaitannya dengan persembahyangan, seharusnya bisa lebih bebas. Destar bisa kembali ke warna apa saja, begitu pula warna pakaian, anteng dan kain yang dipakai. Bahkan kalau mau kelihatan cantik dan modis bagi wanita, rambut terurai (megambahan) juga tidak masalah. Itu semua tergantung pada selera. Dengan demikian kita punya variasi dan tidak bosan mengenakan busana adat Bali, apalagi kalau harinya numpuk (Rabu dan Kamis) seperti yang lalu. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar