28 Oktober 2018

Tularkan Semangat Kerja Keras


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

KERJA keras merupakan hal yang sangat disarankan dalam ajaran Hindu. Bekerja untuk mendapat penghasilan memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri dan keluarga adalah wajib dilakukan. Bekerja keras untuk lingkungan sekitar dan memberi manfaat pada kehidupan bersama juga sangat diharapkan, Bekerja keras untuk bangsa dan negara tentu hal yang mulia. Hidup harus bermanfaat untuk orang banyak.
 
Berbagai sloka tentang etos kerja dalam ajaran Hindu tersebar di banyak kitab Weda, termasuk di dalam Purana, Upanisad dan lainnya. Ini penting dikemukakan sekarang pada saat etos kerja lagi menurun dan bahkan banyak orang yang tidak menghargai kerja keras orang lain karena dikaitkann dengan politik. Kerja keras pemerintah membangun insfrastruktur, misalnya, oleh sebagian orang tidak dilihat hasil dan manfaatnya untuk rakyat, tetapi justru dianggap sebagai pemborosan.

“Tuhan hanya menyayangi orang yang bekerja keras” begitulah bunyi sloka pendek Rg Weda IV.33.11 yang aslinya tertulis Na rte srantasya sakhyaya devah. Bekerja keras yang dimaksudkan adalah bekerja dengan sekuat tenaga dan pikiran, namun dalam kewajiban yang telah ditetapkan. Artinya, bekerja sesuai dengan profesi yang dipilih dan dari pekerjaan itulah dapat penghasilan yang dimanfaatkan untuk kehidupan, baik kehidupan diri sendiri, kehidupan keluarga dan untuk kehidupan bersama. Kehidupan bersama ini merupakan yadnya sebagai simbul bhakti persembahan kepada Tuhan Yang Esa.

Dalam sloka Rg Weda selanjutnya, yakni pada Rg Weda VIII.48.14 ada disebutkan: “Hendaklah sifat penidur tidak menguasai hamba, juga kebiasaan omong kosong” (ma no nidra isata jalpih). Apa yang dimaksudkan sifat penidur? Tiada lain adalah sifat malas, suka menunda pekerjaan atau mengabaikan sama sekali kewajiban dalam bekerja. Apalagi disertai dengan “omong kosong”, yang dimaksudkan adalah lebih pada mencari pembenaran untuk menutupi kemalasan itu. Atau justru menyinyiri pekerjaan orang lain sementara dirinya tak jelas apa yang dikerjakan.

Jelaslah di sini bahwa sumber itu ada dalam pikiran yang kotor. Apa pun yang baik jika yang melaksanakan itu dianggap sebagai lawan maka kebaikan itu tidak nampak. Pikiran kotor ini yang perlu dibersihkan lebih dulu. Dan pada saat pikiran yang bersih itu mulai kelihatan maka harus dipertajam terus sehingga peka terhadap sesuatu yang baik dan buruk. Hanya dalam pikiran yang tajam kita bisa memilah baik buruk itu.


Tradisi hari raya Tumpek Landep (Sabtu Kliwon wuku Landep) sesungguhnya juga merupakan simbul dari penajaman pikiran itu. Pada hari ini bukan saja senjata tradisional yang harus diupacarai agar tajam (landep juga berarti runcing dan tajam) seperti keris, tombak, pisau, parang dan sebagainya, tetapi pikiran pun dipertajam. Pada Tumpek Landep orang memuja Hyang Pasupati sebagai simbul penguatan pikiran.

Kaitannya dengan meningkatkan etos kerja adalah mengucapkan rasa syukur karena pekerjaan itu ditopang oleh sarana kerja yang menunjang. Misalnya, kita berhasil memiliki komputer, punya sepeda motor atau mobil. Maka rasa syukur itu wajib kita rayakan dengan memuja Tuhan Yang Maha Esa lalu menyiratkan air suci (tirtha dengan segala perangkat ritual pembersihan) kepada benda-benda yang menopang pekerjaan kita. Jadi Tumpek Landep itu bukanlah mengupacarai mobil, motor, komputer dan sebagainya. Apalagi kalau disebut “otonan mobil”. Tidak, itu adalah ritual untuk pikiran kita agar lebih bersih dan tajam sambil mensyukuri semua peralatan yang membuat etos kerja kita meningkat.

Pemimpin yang baik, apakah dia pemimpin formal maupun informal harus memberi contoh dan menularkan semangat kerja yang keras. Banyak orang yang mencalonkan diri sebagai pemimpin, atau mau didapuk menjadi pemimpin, tetapi ternyata tak mau bekerja keras sesuai dengan kedudukannya. Marilah kita memilih pemimpin yang bisa memahami apa makna dari Bhagawadgita II.47 yang terjemahan bebasnya: “Kewajibanmu hanyalah bekerja, tidak hasil perbuatan yang engkau pikirkan, jangan sekali-kali pahala menjadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri.”

Mari kita tingkatkan etos kerja kita, mari kita pertajam pikiran kita, dan mari kita syukuri semua peralatan kerja yang mendukungnya pada hari Tumpek Landep ini. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar