Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
KERJA keras merupakan hal yang sangat disarankan dalam
ajaran Hindu. Bekerja untuk mendapat penghasilan memenuhi kebutuhan hidup diri
sendiri dan keluarga adalah wajib dilakukan. Bekerja keras untuk lingkungan
sekitar dan memberi manfaat pada kehidupan bersama juga sangat diharapkan,
Bekerja keras untuk bangsa dan negara tentu hal yang mulia. Hidup harus
bermanfaat untuk orang banyak.
Berbagai sloka tentang etos kerja dalam ajaran Hindu
tersebar di banyak kitab Weda, termasuk di dalam Purana, Upanisad dan lainnya.
Ini penting dikemukakan sekarang pada saat etos kerja lagi menurun dan bahkan banyak orang yang tidak menghargai kerja keras orang lain karena
dikaitkann dengan politik. Kerja keras pemerintah membangun insfrastruktur,
misalnya, oleh
sebagian orang tidak dilihat hasil dan manfaatnya untuk
rakyat, tetapi justru dianggap sebagai pemborosan.
“Tuhan hanya menyayangi orang yang bekerja keras”
begitulah bunyi sloka pendek Rg Weda IV.33.11 yang aslinya tertulis Na rte srantasya sakhyaya devah. Bekerja keras
yang dimaksudkan adalah bekerja dengan sekuat tenaga dan pikiran, namun dalam
kewajiban yang telah ditetapkan. Artinya, bekerja sesuai dengan profesi yang
dipilih dan dari pekerjaan itulah dapat penghasilan yang dimanfaatkan untuk
kehidupan, baik kehidupan diri sendiri, kehidupan keluarga dan untuk kehidupan bersama. Kehidupan bersama ini merupakan yadnya sebagai simbul
bhakti
persembahan kepada Tuhan Yang Esa.
Dalam sloka Rg Weda selanjutnya, yakni pada Rg Weda
VIII.48.14 ada disebutkan: “Hendaklah sifat penidur tidak menguasai hamba, juga
kebiasaan omong kosong” (ma no nidra
isata jalpih). Apa yang dimaksudkan sifat penidur? Tiada lain adalah sifat
malas, suka menunda pekerjaan atau mengabaikan sama sekali kewajiban dalam
bekerja. Apalagi disertai dengan “omong kosong”, yang dimaksudkan adalah lebih
pada mencari pembenaran untuk menutupi kemalasan itu. Atau justru menyinyiri pekerjaan orang lain sementara dirinya tak jelas apa yang
dikerjakan.
Jelaslah di sini bahwa sumber itu ada dalam pikiran yang
kotor. Apa pun yang baik jika yang melaksanakan itu dianggap sebagai lawan maka
kebaikan itu tidak nampak. Pikiran kotor ini yang perlu dibersihkan lebih dulu.
Dan pada saat pikiran yang bersih itu mulai kelihatan maka harus dipertajam
terus sehingga peka terhadap sesuatu yang baik dan buruk. Hanya dalam pikiran
yang tajam kita bisa memilah baik buruk itu.
Tradisi hari raya Tumpek Landep (Sabtu Kliwon wuku
Landep) sesungguhnya juga merupakan simbul dari penajaman pikiran itu. Pada
hari ini bukan saja senjata tradisional yang harus diupacarai agar tajam
(landep juga berarti runcing dan tajam) seperti keris, tombak, pisau, parang
dan sebagainya, tetapi pikiran pun dipertajam. Pada Tumpek Landep orang memuja
Hyang Pasupati sebagai simbul penguatan pikiran.
Kaitannya dengan meningkatkan etos kerja adalah
mengucapkan rasa syukur karena pekerjaan itu ditopang oleh sarana kerja yang
menunjang. Misalnya, kita berhasil memiliki komputer, punya sepeda motor atau
mobil. Maka rasa syukur itu wajib kita rayakan dengan memuja Tuhan Yang Maha
Esa lalu menyiratkan air suci (tirtha dengan segala perangkat ritual
pembersihan) kepada benda-benda yang menopang pekerjaan kita. Jadi Tumpek
Landep itu bukanlah mengupacarai mobil, motor, komputer dan sebagainya. Apalagi
kalau disebut “otonan mobil”. Tidak, itu adalah ritual untuk pikiran kita agar
lebih bersih dan tajam sambil mensyukuri semua peralatan yang membuat etos
kerja kita meningkat.
Pemimpin yang baik, apakah dia pemimpin formal maupun
informal harus memberi contoh dan menularkan semangat kerja yang
keras.
Banyak orang yang mencalonkan diri sebagai pemimpin, atau mau didapuk menjadi
pemimpin, tetapi ternyata tak mau bekerja keras sesuai
dengan kedudukannya. Marilah kita memilih pemimpin yang bisa memahami apa makna
dari Bhagawadgita II.47 yang terjemahan bebasnya: “Kewajibanmu hanyalah
bekerja, tidak hasil perbuatan yang engkau pikirkan, jangan sekali-kali pahala
menjadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri.”
Mari kita tingkatkan etos kerja kita, mari kita pertajam pikiran kita, dan mari kita syukuri semua peralatan
kerja yang mendukungnya pada hari Tumpek Landep ini. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar