Putu Setia |
@mpujayaprema
SUDAH sebulan
kampanye pemilu dimulai, Wayan Moncel belum juga dapat rejeki. Petani kopi di
lereng Gunung Batukaru ini heran dengan pemilu serentak yang akan datang, kok
sepi kampanyenya. “Tak ada satu pun baju kaos yang saya dapatkan,” katanya.
Tadinya dia berharap
dapat rejeki nomplok lewat hajatan politik ini. Di desanya ada tiga calon
legislatif, semua dari partai berbeda. Dua calon legislatif tingkat provinsi
dan satu tingkat kabupaten. Tadinya Moncel berhitung setidaknya dia akan dapat
dua baju kaos, lalu empat sampai enam jasa pemasangan baliho. Di Bali ada 42
calon Dewan Perwakilan Daerah dan Moncel berharap paling tidak sepuluh calon
akan memasang baliho di desanya. Dia punya kebun bambu dan siap memberi harga
Rp 300 ribu untuk pemasangan baliho.
“Pemasangan baliho
tak bisa sembarangan seperti dulu. Ada aturannya kapan dan di mana bisa
dipasang,” kata saya. Moncel saya sarankan untuk mencari celah lain mengais
rejeki dari pemilu nanti.
Dia sudah kontak
dengan caleg tingkat provinsi. Caleg petahana itu menawarkan bantuan sosial
dari jatahnya sebagai anggota DPRD. Moncel yang punya kelompok tani diminta
membuat proposal asal-asalan. Dijanjikan uang Rp 50 juta keluar sebelum pemilu
tetapi dengan syarat Moncel harus mengumpulkan minimal 90 suara.
“Saya juga kontak
dengan caleg penantang baru, tapi tak ada reaksi,” kata Moncel. Dia sebut caleg
itu seperti tak bersemangat untuk ikut pemilu. Mungkin dia pikir percuma
kampanye buang-buang duit, toh juga akan kalah melawan petahana. “Ya, dia
pernah bilang, calon presidennya saja
tak bersemangat untuk kampanye.”
Untuk calon tingkat
kabupaten juga sudah dijalin kerjasama. Yang ini murni “jual suara” nilainya Rp
300 ribu per suara. Urusan pelik nantinya adalah istri-istri petani kopi ini
akan sulit menghafal caleg yang akan dicoblos. Ada lima surat suara, satu untuk
pemilu legislatif kabupaten, satu untuk provinsi, satu untuk pusat, satu untuk
memilih DPD dan satu lagi memilih pasangan presiden dan wakil presiden. Semua
caleg yang dipilih partainya beda, masih untung nomor urutnya tak sampai
sepuluh. Tetapi DPD yang disepakati dicoblos nomor 32, emak-emak susah menelusurinya.
Para emak bingung membayangkan pemilu serentak yang ribet ini. Harusnya cukup
tiga surat suara saja, satu untuk memilih presiden, satu untuk memilih DPD dan
satu lagi memilih partai, terserah siapa yang didudukkan oleh partai di dewan.
“Itu usul bagus tapi tidak adil. Kita harus memilih sendiri tokoh yang layak
jadi wakil rakyat,” kata saya.
Moncel sendiri tak masalah,
meski dia perkirakan akan terjadi banyak kengawuran saat pencoblosan. Yang dia
jadikan pikiran adalah siapa pasangan presiden-wakil presiden yang dipilih.
Kata dia, ada presiden yang bagus tetapi wakilnya selalu bicara soal agama,
soal halal haram, ekonomi syariah, kok tidak berpikir soal kemajemukan. Saya
tanya, memangnya ada tim sukses untuk capres? “Eh, ya... Tak ada. Semua caleg
sibuk dengan dirinya dibanding sibuk menjual siapa presidennya,” katanya.
Saya katakan ke
Moncel, semua itu karena kampanye belum berjalan optimal. Belum boleh pasang
baliho, belum boleh pasang iklan di media. Kampanye sekarang baru pada tahap
kampanye negatif untuk menelanjangi keburukan calon presiden dan wakil presiden
di pihak lawan. Mendekati pemilu akan berubah karena para caleg lebih memikirkan
dirinya sendiri dan partai-partai bertarung di dalam koalisinya untuk mengklaim
siapa yang pantas disebut paling berjasa memenangkan calon presiden.
(Dimuat Koran Tempo Akhir Pekan 20 Oktober 2018)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar