21 Oktober 2018

Laut Sebagai Pusat Ritual


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

HARI-hari ini media massa dipenuhi dengan berita tak sedap. Ritual sedekah laut yang akan dilakukan oleh masyarakat nelayan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, batal dilaksanakan karena sehari sebelum acara itu ada sekelompok orang yang merusak peralatan ritualnya. Alasan sekelompok orang itu adalah acara ini bertentangan dengan ajaran Islam karena tergolong syirik.

Banyak yang menyesalkan perusakan itu, termasuk Sri Sultan HB X yang juga Gubernur DI Yogyakarta. Polisi pun sudah mengusut kasus ini. Kalau peristiwa ini dibiarkan bisa menular ke tempat lain karena ritual sedekah laut itu ada di berbagai daerah, baik yang namanya sama maupun yang namanya beda. Laut di mana pun dan bagi umat beragama apa pun adalah salah satu pusat kegiatan ritual.

Bagi umat Hindu keberadaan laut sangat utama. Karena itu melestarikan ritual yang berhubungan dengan laut termasuk menjaga keasrian pantai dengan lautnya termasuk dalam ajaran Sad Kertih. Dari enam Kertih ini ada yang disebut Samudra Kertih, yaitu upaya untuk menjaga kelestarian samudra (laut) sebagai sumber alam yang memiliki fungsi sangat kompleks dalam kehidupan umat manusia. Di laut bukan saja umat Hindu melaksanakan upacara penyucian dan peleburan seperti nanggluk merana, melasti, menghanyutkan abu jenazah, tetapi juga mengambil sari-sari kehidupan (amrtha) yang tersimpan di samudra luas itu.

Dalam lontar Sundarigama dan Swamandala disebutkan, “melasti ngarania ngiring prewatek dewata anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana, amet sarining amertha ring telenging segara.” Artinya, melasti adalah membawa semua pratima dewata untuk menghanyutkan kekotoran, penderitaan, dan unsur-unsur dunia yang tidak baik serta mengambil tirta amrtha di tengah laut.
Jadi, ritual ke laut selain untuk menyucikan dan membersihkan, juga “mengambil amrtha”. Apa itu amrtha yang sering dilafalkan sebagai amertha? Kata amertha berarti kehidupan. Selama ini salah kaprah karena sering disebut mertha, padahal kata mertha berarti mati. Dengan diawali huruf “a” berarti sebaliknya, jadi amertha itu artinya “bukan kematian” tetapi kehidupan. Nah, sari-sari kehidupan inilah yang diambil dari laut.

Umat Hindu dimotivasi untuk memiliki kemampuan membawa amrtha dari laut ke rumah masing-masing. Jika amrtha secara niskala itu adalah disimbolikkan dalam wujud tirtha, maka amrtha dalam makna sekala tentulah berbagai hasil laut, seperti ikan, mutiara, rumput laut, dan lain-lain yang bisa dimanfaatkan sebagai penopang hidup.

Laut memiliki kekayaan yang tak ada habis-habisnya untuk menghidupi manusia. Semua penduduk di sebuah pulau pasti memiliki orang yang tergantung pada laut apalagi di negeri maritim seperti Indonesia ini. Tentu saja besar kecil orang yang mencari kehidupan di laut tergantung kekhasan penduduk pulau itu. Penduduk Bali barangkali bisa digolongkan sedikit yang berprofesi di laut, apakah sebagai nelayan, pembuat garam, petani rumput laut dan sebagainya. Tetapi bukannya tak ada nelayan-nelayan tangguh di pantai Jembrana, Jimbaran, Serangan, Ketewel atau petani garam yang dulu sangat terkenal di Kusamba.

Nah, kalau laut telah memberikan banyak kehidupan pada manusia, kenapa kita tidak berterimakasih kepada laut? Seperti halnya petani berterimakasih kepada pohon-pohon yang telah memberikan buah, berterimakasih kepada sawah yang telah menumbuhkan dengan subur padi yang jadi bahan pokok makanan, maka para nelayan pun memberikan “sedekah” kepada laut setahun sekali. Apa yang salah? Inilah budaya luhur bangsa kita jauh sebelum agama-agama impor (Hindu, Islam, Kristen, Buddha dan lainnya) masuk ke Indonesia. Budaya itu tetap dilestarikan, namun karena ajaran agama datang dan diterima oleh penduduk negeri ini, maka doa-doa yang sesuai dengan ajaran agama menjadi bagian pula dari ritual “berterima-kasih kepada laut”.

Maka ritual sedekah laut di Bantul, Cilacap, Padalarang, Cirebon dan banyak lagi di Jawa disertai dengan doa-doa dalam ajaran Islam. Sementara di lain tempat tergantung apa agama yang dianut penduduk, tentu doanya disesuaikan dengan itu. Di Bali, upacara melasti yang bermakna penyucian dan ritual sedekah laut seperti “mulang pekelem” yang bermakna mengharmoniskan alam dilengkapi dengan doa-doa sesuai ajaran Hindu. Tak ada yang salah dengan semuanya itu. Mari lestarikan warisan leluhur. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar