Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
HARI-hari ini media massa dipenuhi dengan berita tak
sedap. Ritual sedekah laut yang akan dilakukan oleh masyarakat nelayan di
Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, batal dilaksanakan karena sehari
sebelum acara itu ada sekelompok orang yang merusak peralatan ritualnya. Alasan
sekelompok orang itu adalah acara ini bertentangan dengan ajaran Islam karena
tergolong syirik.
Banyak yang menyesalkan perusakan itu, termasuk Sri
Sultan HB X yang juga Gubernur DI Yogyakarta. Polisi pun sudah mengusut kasus
ini. Kalau peristiwa ini dibiarkan bisa menular ke tempat lain karena ritual
sedekah laut itu ada di berbagai daerah, baik yang namanya sama maupun yang
namanya beda. Laut di mana pun dan bagi umat beragama apa pun adalah salah satu
pusat kegiatan ritual.
Bagi umat Hindu keberadaan laut sangat utama. Karena
itu melestarikan ritual yang berhubungan dengan laut termasuk menjaga keasrian
pantai dengan lautnya termasuk dalam ajaran Sad Kertih. Dari enam Kertih ini
ada yang disebut Samudra Kertih, yaitu upaya untuk menjaga
kelestarian samudra (laut) sebagai sumber alam yang memiliki fungsi sangat
kompleks dalam kehidupan umat manusia. Di laut bukan saja umat Hindu
melaksanakan upacara penyucian dan peleburan seperti nanggluk merana,
melasti, menghanyutkan abu jenazah, tetapi juga mengambil sari-sari
kehidupan (amrtha) yang tersimpan di
samudra luas itu.
Dalam lontar Sundarigama dan Swamandala disebutkan, “melasti ngarania ngiring prewatek dewata
anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana, amet sarining
amertha ring telenging segara.” Artinya, melasti adalah membawa semua
pratima dewata untuk menghanyutkan kekotoran, penderitaan, dan unsur-unsur
dunia yang tidak baik serta mengambil tirta
amrtha di tengah laut.
Jadi, ritual ke laut selain untuk menyucikan dan
membersihkan, juga “mengambil amrtha”.
Apa itu amrtha yang sering dilafalkan
sebagai amertha? Kata amertha berarti kehidupan. Selama ini
salah kaprah karena sering disebut mertha,
padahal kata mertha berarti mati.
Dengan diawali huruf “a” berarti sebaliknya, jadi amertha itu artinya “bukan kematian” tetapi kehidupan. Nah,
sari-sari kehidupan inilah yang diambil dari laut.
Umat Hindu dimotivasi untuk memiliki kemampuan membawa
amrtha dari laut ke rumah
masing-masing. Jika amrtha secara
niskala itu adalah disimbolikkan dalam wujud tirtha, maka amrtha dalam makna sekala tentulah berbagai hasil laut, seperti
ikan, mutiara, rumput laut, dan lain-lain yang bisa dimanfaatkan sebagai penopang
hidup.
Laut memiliki kekayaan yang tak ada habis-habisnya untuk menghidupi manusia. Semua penduduk di sebuah pulau pasti memiliki orang yang tergantung pada laut apalagi di negeri maritim seperti Indonesia ini. Tentu saja besar kecil orang yang mencari kehidupan di laut tergantung kekhasan penduduk pulau itu. Penduduk Bali barangkali bisa digolongkan sedikit yang berprofesi di laut, apakah sebagai nelayan, pembuat garam, petani rumput laut dan sebagainya. Tetapi bukannya tak ada nelayan-nelayan tangguh di pantai Jembrana, Jimbaran, Serangan, Ketewel atau petani garam yang dulu sangat terkenal di Kusamba.
Laut memiliki kekayaan yang tak ada habis-habisnya untuk menghidupi manusia. Semua penduduk di sebuah pulau pasti memiliki orang yang tergantung pada laut apalagi di negeri maritim seperti Indonesia ini. Tentu saja besar kecil orang yang mencari kehidupan di laut tergantung kekhasan penduduk pulau itu. Penduduk Bali barangkali bisa digolongkan sedikit yang berprofesi di laut, apakah sebagai nelayan, pembuat garam, petani rumput laut dan sebagainya. Tetapi bukannya tak ada nelayan-nelayan tangguh di pantai Jembrana, Jimbaran, Serangan, Ketewel atau petani garam yang dulu sangat terkenal di Kusamba.
Nah, kalau laut telah memberikan banyak kehidupan pada
manusia, kenapa kita tidak berterimakasih kepada laut? Seperti halnya petani
berterimakasih kepada pohon-pohon yang telah memberikan buah, berterimakasih
kepada sawah yang telah menumbuhkan dengan subur padi yang jadi bahan pokok
makanan, maka para nelayan pun memberikan “sedekah” kepada laut setahun sekali.
Apa yang salah? Inilah budaya luhur bangsa kita jauh sebelum agama-agama impor
(Hindu, Islam, Kristen, Buddha dan lainnya) masuk ke Indonesia. Budaya itu
tetap dilestarikan, namun karena ajaran agama datang dan diterima oleh penduduk
negeri ini, maka doa-doa yang sesuai dengan ajaran agama menjadi bagian pula
dari ritual “berterima-kasih kepada laut”.
Maka ritual sedekah laut di Bantul, Cilacap,
Padalarang, Cirebon dan banyak lagi di Jawa disertai dengan doa-doa dalam
ajaran Islam. Sementara di lain tempat tergantung apa agama yang dianut penduduk,
tentu doanya disesuaikan dengan itu. Di Bali, upacara melasti yang bermakna
penyucian dan ritual sedekah laut seperti “mulang pekelem” yang bermakna
mengharmoniskan alam dilengkapi dengan doa-doa sesuai ajaran Hindu. Tak ada
yang salah dengan semuanya itu. Mari lestarikan warisan leluhur. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar