23 September 2018

Wayang Sebagai Seni Sakral


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

HARI ini umat Hindu di Indonesia menyebutnya sebagai Tumpek Wayang. Sabtu Kliwon Wuku Wayang merupakan tumpek yang terakhir dalam hitungan wariga Bali. Akan ditemui banyak kesibukan ritual yang berkaitan dengan pengelukatan atau biasa pula disebut ruwatan. Diyakini bahwa anak-anak yang lahir pada wuku wayang harus dibuatkan upacara ruwatan itu.


Seni wayang memang menjadi seni sakral, warisan para leluhur orang Bali sejak dulu kala. Bahkan ada yang menyebut seni wayang itu sudah sakral sebelum masuknya kisah Mahabharata mau pun Ramayana yang biasa dijadikan cerita dalam pewayangan. Ini dibuktikan dengan adanya cerita yang bertema pengelukatan yang tidak terkait dengan babon Mahabharata seperti adanya wayang cerita Sapuh Leger di Bali. Di Jawa sendiri juga masih ada tradisi ruwatan dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk meski pun penduduk setempat sudah bukan beragama Hindu lagi. Sebagai warisan budaya nampaknya kesakralan wayang terutama wayang kulit bisa melintas berbagai agama.

Dalam perjalanan budaya ini, pementasan wayang di masa lalu bukan semata untuk hiburan, tetapi untuk pelengkap upacara keagamaan selain memberikan pesan-pesan moral yang disampaikan oleh Ki Dalang. Apalagi jelas-jelas disebutkan dalam kalender Bali dan Jawa, ada wuku yang bernama wayang. Ini adalah rentetan hari selama seminggu untuk menyelenggarakan upacara dengan inti memohon tirtha suci dari perantaraan wayang kulit.

Kesakralan seni wayang pun masih dijaga diberbagai daerah. Pada masyarakat Sunda, baik di Jawa Barat maupun di Banten, pertunjukan wayang golek masih dipakai pada upacara “panen laut”. Wayang golek dipentaskan semalam suntuk dan di pagi hari sesaji yang ada di pentas, dibawa para nelayan ke tengah laut. Kalau di Bali mirip dengan ritual mulang pekelem. Doa-doa diucapkan sesuai dengan agama yang dipeluk masyarakat setempat.


Di Bali kesakralan wayang kulit tak cuma berhubungan dengan ruwatan orang (Manusa Yadnya), juga pada upacara lain seperti Pitra Yadnya maupun Dewa Yadnya. Lakon-lakon yang dipentaskan pada Manusa Yadnya dan Dewa Yadnya, selalu berkisar pada pencarian air suci. Apakah itu mengambil cerita Dewa Ruci saat Bima mencari air suci di laut, atau versi lain yang banyak ada, terserah sang dalang. Lakon dalam Pitra Yadnya seringkali dalam urusan “pergi ke sorga”, apakah lakon Bimaswarga (Bima ke sorga) atau lainnya. Dulu yang terkenal malah lakon Cupak ke Sorga. Nah, semua tirtha yang dicari dalam lakon itu kemudian oleh sang dalang dijadikan tirtha yang akan dipersembahkan kepada orang yang diruwat atau untuk pelengkap tirtha lainnya.

Selain itu juga ada yang disebut wayang lemah. Lemah di sini dalam bahasa Bali artinya siang hari. Panggung tidak memakai kelir, hanya berisi tiga baris benang. Jadi panggung terbuka lebar. Pementasan ini pun bisa untuk upacara apa saja, perkawinan, ngaben, maupun di pura.

Dahulu, pementasan wayang sakral ini dilakukan sang dalang sambil mengupas makna dan filosofi dari kesakralan pertunjukan itu. Jika menyangkut Manusa Yadnya, yang banyak dikupas adalah masalah budi pekerti. Jika pertunjukan untuk Pitra Yadnya, sang dalang mengupas inti dari yadnya itu. Kupasan bisa melebar, tak hanya melulu penjelasan tentang ritual tetapi juga pencerahan agama. Ki Dalang berfungsi sebagai guru, tokoh agama, pendharma wacana, dan penonton memposisikan diri sebagai murid dan orang yang haus pelajaran agama.

Sekarang, situasi sudah sangat berbeda. Hiburan begitu banyak berseliweran, ada televisi dan video yang canggih-canggih. Pedesaan juga gemerlap, listrik ada di mana-mana. Pertunjukan wayang kulit pun hingar-bingar dengan pengeras suara. Tapi, yang menonton pentas wayang sangat sedikit. Bahkan wayang lemah tak ada yang menonton, orang sibuk dengan upacara, sementara yang tak ikut menjalankan upacara, juga mondar-mandir.

Seharusnya kita tetap menghormati pementasan wayang sakral. Jangan mondar-mandir di depan panggung wayang lemah. Cara menghormati yang lain adalah jangan mekidung atau pesantian pada saat pementasan wayang lemah. Kalau ada seni sakral lainnya yang dipentaskan juga, lakukan giliran. Jadi, antara wayang lemah dan topeng Sidakarya, misalnya, bergantian pentasnya. Kalau tidak hanya ada hiruk pikuk, kesakralan pun tak muncul. Kalau wayang sakral itu memang tak ditonton, hanya sebagai pelengkap, untuk apa mementaskan wayang sakral? Minta saja tirtha ke rumah sang dalang. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar