Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
HARI ini umat Hindu di
Indonesia menyebutnya sebagai Tumpek Wayang. Sabtu Kliwon Wuku Wayang merupakan
tumpek yang terakhir dalam hitungan wariga Bali. Akan ditemui banyak kesibukan
ritual yang berkaitan dengan pengelukatan
atau biasa pula disebut ruwatan. Diyakini bahwa anak-anak yang lahir pada wuku
wayang harus dibuatkan upacara ruwatan itu.
Seni wayang memang
menjadi seni sakral, warisan para leluhur orang Bali sejak dulu kala. Bahkan
ada yang menyebut seni wayang itu sudah sakral sebelum masuknya kisah
Mahabharata mau pun Ramayana yang biasa dijadikan cerita dalam pewayangan. Ini
dibuktikan dengan adanya cerita yang bertema pengelukatan yang tidak terkait dengan babon Mahabharata seperti
adanya wayang cerita Sapuh Leger di Bali. Di Jawa sendiri juga masih ada
tradisi ruwatan dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk meski pun
penduduk setempat sudah bukan beragama Hindu lagi. Sebagai warisan budaya
nampaknya kesakralan wayang terutama wayang kulit bisa melintas berbagai agama.
Dalam perjalanan budaya
ini, pementasan wayang di masa lalu bukan semata untuk hiburan, tetapi untuk pelengkap
upacara keagamaan selain memberikan
pesan-pesan moral yang disampaikan oleh Ki Dalang. Apalagi
jelas-jelas disebutkan dalam kalender Bali dan Jawa, ada wuku yang bernama wayang. Ini adalah rentetan hari selama seminggu
untuk menyelenggarakan upacara dengan inti memohon tirtha suci dari perantaraan
wayang kulit.
Kesakralan seni wayang pun masih dijaga diberbagai daerah. Pada
masyarakat Sunda, baik di Jawa Barat maupun di Banten, pertunjukan wayang golek
masih dipakai pada upacara “panen laut”. Wayang golek dipentaskan semalam
suntuk dan di pagi hari sesaji yang ada di pentas, dibawa para nelayan ke tengah
laut. Kalau di Bali mirip dengan
ritual mulang
pekelem.
Doa-doa diucapkan sesuai dengan agama yang dipeluk masyarakat setempat.
Di Bali kesakralan wayang kulit tak cuma berhubungan
dengan ruwatan orang (Manusa Yadnya), juga pada upacara lain seperti Pitra Yadnya maupun Dewa Yadnya. Lakon-lakon
yang dipentaskan pada Manusa Yadnya dan Dewa Yadnya, selalu berkisar pada pencarian
air suci. Apakah itu mengambil cerita Dewa Ruci saat Bima mencari air suci di
laut, atau versi lain yang banyak ada, terserah sang dalang. Lakon dalam Pitra
Yadnya seringkali dalam urusan “pergi ke sorga”, apakah lakon Bimaswarga (Bima ke sorga) atau lainnya.
Dulu yang terkenal malah lakon Cupak ke
Sorga. Nah, semua tirtha yang dicari dalam lakon itu kemudian oleh sang
dalang dijadikan tirtha yang akan dipersembahkan kepada orang yang diruwat atau
untuk pelengkap tirtha lainnya.
Selain itu juga ada yang disebut wayang lemah. Lemah di sini dalam bahasa Bali artinya siang hari. Panggung tidak
memakai kelir, hanya berisi tiga baris benang. Jadi panggung terbuka lebar.
Pementasan ini pun bisa untuk upacara apa saja, perkawinan, ngaben, maupun di
pura.
Dahulu, pementasan wayang sakral ini
dilakukan sang dalang sambil mengupas makna dan filosofi dari kesakralan
pertunjukan itu. Jika menyangkut Manusa Yadnya, yang banyak dikupas adalah
masalah budi pekerti. Jika pertunjukan untuk Pitra Yadnya, sang dalang mengupas
inti dari yadnya itu. Kupasan bisa melebar, tak hanya melulu penjelasan tentang
ritual tetapi juga pencerahan agama. Ki Dalang berfungsi sebagai guru, tokoh
agama, pendharma wacana, dan penonton memposisikan diri sebagai murid dan orang
yang haus pelajaran agama.
Sekarang, situasi sudah sangat berbeda.
Hiburan begitu banyak berseliweran, ada televisi dan video yang canggih-canggih.
Pedesaan juga gemerlap, listrik ada di mana-mana. Pertunjukan wayang kulit pun
hingar-bingar dengan pengeras suara. Tapi, yang menonton pentas wayang sangat sedikit. Bahkan wayang lemah tak ada yang menonton, orang sibuk dengan upacara, sementara yang
tak ikut menjalankan upacara, juga mondar-mandir.
Seharusnya kita tetap
menghormati pementasan wayang sakral. Jangan
mondar-mandir di depan panggung wayang
lemah. Cara menghormati yang lain adalah jangan mekidung atau pesantian
pada saat pementasan wayang lemah.
Kalau ada seni sakral lainnya yang dipentaskan juga, lakukan giliran. Jadi,
antara wayang lemah dan topeng
Sidakarya, misalnya, bergantian pentasnya. Kalau tidak hanya ada hiruk pikuk, kesakralan pun tak muncul. Kalau wayang sakral itu memang tak ditonton, hanya sebagai pelengkap,
untuk apa mementaskan wayang sakral? Minta saja tirtha ke rumah sang dalang. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar