Mpu Jaya Prema
KAMPANYE pemilu serentak sudah dimulai. Kampanye pengerahan massa pasti tidak seramai
pemilu-pemilu yang lalu. Pilkada yang
lalu saja hampir tak ada pengerahan massa. Rakyat bukan
saja sudah bosan dengan hal itu, melainkan juga tak ada pengaruhnya untuk
pencoblosan. Pengerahan massa membutuhkan dana. Sudah dananya besar masyarakat
direpotkan dengan jalanan yang macet dan justru jadi hal yang negatif buat partai yang berkampanye.
Kampanye sekarang ramai di media massa. Di halaman FaceBook, di cuitan
Twitter, Instagram dan lainnya. Begitu ramainya termasuk saling sindir dan
saling maki karena toh yang memaki dan yang dimaki belum tentu saling kenal.
Bahkan yang unik belum tentu jelas orangnya karena bisa saja itu akun
jadi-jadian alias akun anonim. Kalau pun ada nama terang biasanya palsu belaka.
Kampanye yang
efektif adalah pertemuan terbatas. Dalam bahasa Bali sering disebut simakrama. Secara umum sering dikatakan
kampanye door to door, dari pintu ke
pintu. Efektif dari segi waktu, sasaran yang dicapai, dan cenderung tak
memunculkan konflik. Tapi repotnya, seringkali yang muncul adalah janji-janji
untuk membantu proyek sosial dari para caleg. Maklumlah kalau caleg itu berhasil duduk sebagai anggota DPRD akan
mengandalkan dana hibah untuk membayar janji-janji itu. Seharusnya dana hibah
lewat anggota dewan ini diperketat bahkan ditiadakan saja.
Kali ini adalah pemilu serentak. Memilih presiden dan wakil presiden
sekaligus memilih anggota DPR, DPD dan DPRD. Pasangan presiden dan wakil
presiden biasanya sudah memiliki program yang jelas. Itu dikampanyekan oleh tim
suksesnya. Adakah program dari para caleg? Seharusnya ada program yang
diajukan. Tetapi kalau pun ada yang koar-koar mengusulkan program, umumnya serba
mengambang. Para caleg di Bali paling menyebut programnya “memperjuangkan rakyat Bali” atau “bersama rakyat membangun Bali.”
Bagaimana cara membangun itu, apa caleg itu punya konsep, tak ada kelanjutannya. Apa
hak rakyat Bali yang harus diperjuangkan dan bagaimana cara memperjuangkannya masih kabur semuanya.
Ada yang menarik pada pemilu serentak yang baru pertama
kali dilangsungkan pada tahun depan ini. Yakni pemilu presiden atau lebih
dikenal dengan pilpres lebih menonjol dibandingkan pemilu legislatif yang
memilih DPR, DPD dan DPRD. Pasangan capres hanya ada dua, Jokowi-Ma’ruf Amin
dan Prabowo-Sandiugo. Padahal partai yang mengusung caleg-calegnya ada 14
partai. Artinya kalau partai-partai tak pinter bermain bisa jadi partai itu
akan kandas di parlemen sementara presiden yang mereka usung tetap saja menjadi
presiden. Diperlukan taktik agar partai pengusung merasa paling dekat dengan
pasangan presiden dan wakil presiden. Partai-partai harus berlomba menempatkan
diri paling dekat dengan pasangan capres-cawapres itu. Siapa yang paling dekat
maka partai itu yang diuntungkan. Ini yang dimaksudkan sebagai “efek ekor jas”.
Jokowi-Ma’ruf Amin, misalnya, didukung oleh PDI
Perjuangan, Golkar, Nasdem. PKB, PPP, Hanura dan partai baru seperti PSI dan
Perindo. Semua partai itu harus berlomba untuk paling dekat dengan Jokowi-Amin.
Lihat bagaimana upaya Nasdem lewat media televisi dan korannya seolah-olah
Jokowi-Amin itu adalah “miliknya Nasdem”. Begitu pula dengan PKB, pasangan
pilpres nomor urut satu ini seolah-olah identik dengan PKB lewat Ma’ruf Amin. Apakah itu berhasil, nanti
rakyat akan menentukan pada pemilu serentak. Adalah kenyataan saat ini Jokowi
lebih dikesankan sebagai “milik PDIP” dan keuntungan terbesar akibat “efek ekor
jas” itu ada pada PDI Perjuangan.
Demikian juga dengan pasangan Prabowo-Sandiugo. Bahkan di
sini persaingan lebih tajam dan terang-benderang antar partai koalisi. Pasangan
pilpres nomor urut dua ini sudah dikesankan sebagai “milik Gerindra”. Prabowo
adalah Ketua Umum Gerindra, Sandiugo adalah kader Gerindra bahkan Ketua Tim
Suksesnya adalah Ketua Dewan Pembina Gerindra Djoko Santoso. Semuanya diborong
Gerindra. Partai pengusung lain seperti PKS, PAN dan Demokrat seperti pelengkap
saja. Sudah pasti yang diuntungkan Gerindra meski pun misalnya Prabowo-Sandiugo
dikalahkan oleh Jokowi-Amin.
Dampak dari keunikan pemilu serentak ini adalah
kader-kader Partai Demokrat di beberapa daerah memilih “strategi lokal” dengan
tetap mengusung Jokowi-Amin yang bertentangan dengan keputusan di pusat. Ini
aneh dan karena itu Demokrat disebut berdiri di dua kaki di beberapa daerah,
namun dibiarkan oleh pengurus pusat. Kenapa hal itu terjadi? Kalau caleg kader
Demokrat di daerah tidak mendukung Jokowi mereka bisa ditinggalkan oleh massa
pendukungnya. Yang penting bisa lolos sebagai anggota dewan. Lalu kenapa di
pusat Demokrat harus mendukung Prabowo? Karena sudah “terlanjur pisah” dengan
PDIP (konflik di antara ketua umum partai) sementara untuk menjadi partai yang
netral atau istilah mereka dulu partai penyeimbang tidak bisa. Jika Demokrat
tidak ikut mengusung salah satu pasangan capres-cawapres maka pada pemilu 2024
Partai Demokrat tidak bisa mengikuti pemilu.
Dengan sistem pemilu serentak yang disertai ambang batas
partai politik memiliki 4 % suara sehingga bisa masuk Senayan, maka ada lembaga
survey yang memperkirakan banyak partai yang tumbang tahun depan. Partai yang
kesannya “tidak punya capres-cawapres” sudah dipastikan akan ketar-ketir
termasuk partai-partai baru yang tidak “ada bunyinya” saat ini. Jadi ada yang
menyebutkan, percuma juga kader partai itu berjuang mati-matian di daerah untuk
bisa tembus Senayan kalau secara nasional ternyata tak bisa lolos ambang batas.
Misalnya, betapa pun caleg untuk DPR dari Partai Hanura di Bali berhasil meraup
suara yang banyak, tetapi kalau secara nasional tidak lolos ke Senayan maka
hanguslah suara itu.
Karena adanya aturan ini maka ada yang menyebutkan
perjuangan para caleg untuk lolos ke DPR sangatlah berat, jauh lebih mudah
kalau menjadi anggota DPRD Provinsi saja atau cuma DPRD Kabupaten yang tak
memiliki ambang batas. Lagi pula cara berkampanyenya lebih sederhana. Inilah
keunikan pemilu serentak yang baru pertama ada di negeri ini. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar