Mpu Jaya Prema
WAKIL Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha
Ardhana Sukawati yang biasa disapa Tjok Ace meminta agar warga Bali menjaga
puranya dengan lebih baik. Ia menyampaikan imbauan ini ketika membuka Festival
Jatiluwih II di Penebel Tabanan. Kebetulan dalam kasus paling anyar soal
pelecehan pura terjadi di Tabanan. Yakni ada turis asing yang naik ke pelataran
pelinggih dan jongkok di sana untuk mengambil foto.
Kasus seperti ini sudah amat sering
terjadi. Dulu malah lebih heboh yang terjadi di Nusa Penida. Akibatnya
merugikan warga Bali itu sendiri. Apalagi kalau krama Bali yang beragama Hindu itu
berpedoman kepada kesucian pura secara niskala,
maka kerugian yang besar terjadi pada pembuatan upacara yadnya atau ritual
untuk mengembalikan kesucian pura itu. Prinsipnya adalah kalau pura dianggap
kotor secara niskala hanya gara-gara
ada ulah orang yang tidak benar seperti duduk di pelinggih, maka pembersihannya
pun lewat jalur niskala.
Seperti itulah yang terjadi di kawasan Pura
Luhur Batukaru tempat di mana turis asing itu kedapatan jongkok di pelinggih.
Sudah diputuskan dalam rapat bahwa pengempon Pura Batukaru akan melaksanakan
upacara guru piduka dan prayascita untuk mensucikan pura. Sementara
pihak kepolisian akan menelusuri keberadaan bule beserta pembuat dan pengunggah
foto itu ke media sosial. Masyarakat disibukkan membuat upacara sakral untuk
“membersihkan pura” sementara polisi juga sibuk untuk melacak siapa yang
“mengotori pura”. Yang tidak sibuk tentu saja turis bule itu sendiri atau
jangan-jangan dia tidak paham kenapa hanya untuk berfoto saja harus membuat
orang lain sibuk.
Kapolsek Penebel, AKP I Ketut Mastra
Budaya mengatakan sudah melakukan penyelidikan untuk mengetahui keberadaan
pelaku dan pengunggah foto itu. Turis itu diketahui berkewargaan Denmark.
Kapolsek pun ikut mengimbau agar masyarakat makin meningkatkan keamanan di
tempat sucinya agar tak mudah dimasuki turis yang tak ada kaitannya dengan
sembahyang. Ada pun Bendesa Pekraman Wangaya Gede, I Gede Manu Ardana mengakui
kejadian tersebut di luar jangkauan pengawasannya. Mengingat lokasi pelinggih
jauh dari pura utama, yang berjarak sekitar 100 meter di sebelah barat pura.
Pura sebagai tempat suci di Bali memang
sepertinya tidak aman dari orang-orang yang seenaknya masuk ke dalam padahal
tak ada urusannya dengan sembahyang. Jangankan pura yang tidak dijaga setiap
saat, pura yang sedang ada kegiatan persembahyangan pun bisa bebas dimasuki
turis asing. Uniknya lagi sang turis itu bukannya mengambil foto saja, tetapi
melakukan khotbah atau mengkampanyekan agama lain. Ini kisah yang unik yang
dimuat media online kumparan.com pada
11 September lalu. Berita ini jadi viral.
Adalah seorang turis warganegara Amerika
Serikat yang juga seorang penginjil (penyebar ajaran Yesus) masuk nyelonong
begitu saja di sebuah pura di kawasan Gianyar – dalam berita memang tak
disebutkan lokasi sebenarnya. Turis itu adalah Angela
Cummings yang masuk ke pura di tengah-tengah persiapan umat Hindu melakukan
persembahyangan. Dalam akunnya dia YouTube, Cummings memang menyebut dirinya
“pengkhotbah jalanan” atau street
preacher. Dia memang punya misi Taking
the gospel around the world --seperti juga menjadi judul salah satu video
YouTube-nya.
Rekaman videonya ketika memasuki pura di
Bali sudah dipublikasikan di YouTube dengan judul Bali Indonesia Idol Worshipers Warned by USA Street Preacher. Saat
turun dari mobil dan berjalan menuju pura yang ramai dipenuhi umat Hindu yang
hendak melakukan upacara persembahyangan, Cummings berkali-kali berbicara
kepada orang-orang Bali yang sedang melintas, “Jesus, Jesus is the best.”
Apa reaksi warga Bali di pura itu? Tak
ada reaksi yang berlebih. Malahan ada seorang warga Bali yang bertanya dari
mana asalnya. Turis cewek ini menjawab Amerika lalu dia terus berkata: “Yes. I just want to bring peace to Bali.
Jesus wants to save you and show you the way. Put your faith in Him.Turn to
Jesus Christ. Only one God, one way to heaven: Jesus Christ.”
Kenapa turis asing yang jelas-jelas menyebarkan agama lain itu
dibolehkan masuk ke pura justru pada saat orang Bali pada berkumpul menjelang
persembahyangan? Kenapa dia tidak diusir keluar apalagi setelah dari mulutnya
keluar khotbah yang tidak boleh dilakukan di tempat suci agama lain? Ini tentu
agak aneh. Bahkan anjing saja diusir ketika memasuki pura pada saat umat Hindu
melakukan persembahyangan.
Ada yang menyebutkan ini toleransi umat Hindu dalam beragama. Tentu
saja itu salah, ini bukan toleransi tetapi sebuah kebodohan. Kegiatan di pura
itu bukan tempat untuk dijadikan tontonan. Kalau ada turis atau siapa pun yang
ingin memotret atau menonton orang sembahyang, lakukanlah itu dari luar pagar.
Jangan dibiarkan masuk gentayangan ke dalam pura. Lihat misalnya di pura besar
seperti Pura Besakih. Kalau ada persembahyangan turis dilarang ke dalam pura
dan mereka bisa saja mengambil foto dari celah-celah pagar yang dijaga oleh
para pecalang. Justru pelecehan itu terjadi di pura-pura kecil, termasuk pura
Kahyangan Jagat yang umumnya tidak dijaga setiap hari.
Solusi menyelamatkan pura dari “kekotoran” seperti ini sudah banyak
dikumandangkan namun pelaksanaannya tidaklah mudah. Politikus PDI Perjuangan
asal Gianyar, Nyoman Parta menyarankan agar pura dijaga secara khusus oleh
petugas yang digaji untuk itu. Petugas itulah yang melarang apa yang tak boleh
dilakukan turis jika berkunjung ke pura. Dari mana dana menggaji petugas? Tentu
dari karcis masuk yang dipungut ke turis itu jika pura menjadi obyek wisata.
Namun kalau pura tidak menjadi obyek wisata sehingga tak ada keharusan membeli
karcis masuk, Parta memgusulkan agar dana menggaji petugas itu diambil dari
Bantuan Keuangan Khusus (BPK) yang sudah diterima desa adat dari Provinsi Bali.
Sementara itu ada usul agar di pura dipasang CCTV.
Dengan alat pengintip canggih ini akan ketahuan siapa yang melecehkan pura. Ini
pun sebenarnya tidak mudah. Begitu banyak pura dari mana diambil dananya? Lagi
pula CCTV itu lebih banyak untuk menelusuri siapa yang telah berbuat tak
senonoh untuk kepentingan penyidikan tindak pidana. Ada pun soal kecemeran (tidak sucinya) pura secara niskala tetap saja sudah terjadi dan
perlu ada ritual pembersihan. Kecuali jika umat Hindu belapang dada dan tentu berdasarkan
keyakinan bahwa hal-hal seperti itu tidak harus dianggap cemer (kotor) sehingga tidak perlu dibersihkan dengan ritual yang
memakan banyak biaya. Bisakah hal ini diterima? (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar