17 September 2018

Menjaga Pura Tetap Suci


Mpu Jaya Prema

WAKIL Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati yang biasa disapa Tjok Ace meminta agar warga Bali menjaga puranya dengan lebih baik. Ia menyampaikan imbauan ini ketika membuka Festival Jatiluwih II di Penebel Tabanan. Kebetulan dalam kasus paling anyar soal pelecehan pura terjadi di Tabanan. Yakni ada turis asing yang naik ke pelataran pelinggih dan jongkok di sana untuk mengambil foto.

Kasus seperti ini sudah amat sering terjadi. Dulu malah lebih heboh yang terjadi di Nusa Penida. Akibatnya merugikan warga Bali itu sendiri. Apalagi kalau krama Bali yang beragama Hindu itu berpedoman kepada kesucian pura secara niskala, maka kerugian yang besar terjadi pada pembuatan upacara yadnya atau ritual untuk mengembalikan kesucian pura itu. Prinsipnya adalah kalau pura dianggap kotor secara niskala hanya gara-gara ada ulah orang yang tidak benar seperti duduk di pelinggih, maka pembersihannya pun lewat jalur niskala.

Seperti itulah yang terjadi di kawasan Pura Luhur Batukaru tempat di mana turis asing itu kedapatan jongkok di pelinggih. Sudah diputuskan dalam rapat bahwa pengempon Pura Batukaru akan melaksanakan upacara guru piduka dan prayascita untuk mensucikan pura. Sementara pihak kepolisian akan menelusuri keberadaan bule beserta pembuat dan pengunggah foto itu ke media sosial. Masyarakat disibukkan membuat upacara sakral untuk “membersihkan pura” sementara polisi juga sibuk untuk melacak siapa yang “mengotori pura”. Yang tidak sibuk tentu saja turis bule itu sendiri atau jangan-jangan dia tidak paham kenapa hanya untuk berfoto saja harus membuat orang lain sibuk.

Kapolsek Penebel, AKP I Ketut Mastra Budaya mengatakan sudah melakukan penyelidikan untuk mengetahui keberadaan pelaku dan pengunggah foto itu. Turis itu diketahui berkewargaan Denmark. Kapolsek pun ikut mengimbau agar masyarakat makin meningkatkan keamanan di tempat sucinya agar tak mudah dimasuki turis yang tak ada kaitannya dengan sembahyang. Ada pun Bendesa Pekraman Wangaya Gede, I Gede Manu Ardana mengakui kejadian tersebut di luar jangkauan pengawasannya. Mengingat lokasi pelinggih jauh dari pura utama, yang berjarak sekitar 100 meter di sebelah barat pura.


Pura sebagai tempat suci di Bali memang sepertinya tidak aman dari orang-orang yang seenaknya masuk ke dalam padahal tak ada urusannya dengan sembahyang. Jangankan pura yang tidak dijaga setiap saat, pura yang sedang ada kegiatan persembahyangan pun bisa bebas dimasuki turis asing. Uniknya lagi sang turis itu bukannya mengambil foto saja, tetapi melakukan khotbah atau mengkampanyekan agama lain. Ini kisah yang unik yang dimuat media online kumparan.com pada 11 September lalu. Berita ini jadi viral.

Adalah seorang turis warganegara Amerika Serikat yang juga seorang penginjil (penyebar ajaran Yesus) masuk nyelonong begitu saja di sebuah pura di kawasan Gianyar – dalam berita memang tak disebutkan lokasi sebenarnya. Turis itu adalah Angela Cummings yang masuk ke pura di tengah-tengah persiapan umat Hindu melakukan persembahyangan. Dalam akunnya dia YouTube, Cummings memang menyebut dirinya “pengkhotbah jalanan” atau street preacher. Dia memang punya misi Taking the gospel around the world --seperti juga menjadi judul salah satu video YouTube-nya.

Rekaman videonya ketika memasuki pura di Bali sudah dipublikasikan di YouTube dengan judul Bali Indonesia Idol Worshipers Warned by USA Street Preacher. Saat turun dari mobil dan berjalan menuju pura yang ramai dipenuhi umat Hindu yang hendak melakukan upacara persembahyangan, Cummings berkali-kali berbicara kepada orang-orang Bali yang sedang melintas, “Jesus, Jesus is the best.”

Apa reaksi warga Bali di pura itu? Tak ada reaksi yang berlebih. Malahan ada seorang warga Bali yang bertanya dari mana asalnya. Turis cewek ini menjawab Amerika lalu dia terus berkata:  “Yes. I just want to bring peace to Bali. Jesus wants to save you and show you the way. Put your faith in Him.Turn to Jesus Christ. Only one God, one way to heaven: Jesus Christ.”

Kenapa turis asing yang jelas-jelas menyebarkan agama lain itu dibolehkan masuk ke pura justru pada saat orang Bali pada berkumpul menjelang persembahyangan? Kenapa dia tidak diusir keluar apalagi setelah dari mulutnya keluar khotbah yang tidak boleh dilakukan di tempat suci agama lain? Ini tentu agak aneh. Bahkan anjing saja diusir ketika memasuki pura pada saat umat Hindu melakukan persembahyangan.

Ada yang menyebutkan ini toleransi umat Hindu dalam beragama. Tentu saja itu salah, ini bukan toleransi tetapi sebuah kebodohan. Kegiatan di pura itu bukan tempat untuk dijadikan tontonan. Kalau ada turis atau siapa pun yang ingin memotret atau menonton orang sembahyang, lakukanlah itu dari luar pagar. Jangan dibiarkan masuk gentayangan ke dalam pura. Lihat misalnya di pura besar seperti Pura Besakih. Kalau ada persembahyangan turis dilarang ke dalam pura dan mereka bisa saja mengambil foto dari celah-celah pagar yang dijaga oleh para pecalang. Justru pelecehan itu terjadi di pura-pura kecil, termasuk pura Kahyangan Jagat yang umumnya tidak dijaga setiap hari.

Solusi menyelamatkan pura dari “kekotoran” seperti ini sudah banyak dikumandangkan namun pelaksanaannya tidaklah mudah. Politikus PDI Perjuangan asal Gianyar, Nyoman Parta menyarankan agar pura dijaga secara khusus oleh petugas yang digaji untuk itu. Petugas itulah yang melarang apa yang tak boleh dilakukan turis jika berkunjung ke pura. Dari mana dana menggaji petugas? Tentu dari karcis masuk yang dipungut ke turis itu jika pura menjadi obyek wisata. Namun kalau pura tidak menjadi obyek wisata sehingga tak ada keharusan membeli karcis masuk, Parta memgusulkan agar dana menggaji petugas itu diambil dari Bantuan Keuangan Khusus (BPK) yang sudah diterima desa adat dari Provinsi Bali.

Sementara itu ada usul agar di pura dipasang CCTV. Dengan alat pengintip canggih ini akan ketahuan siapa yang melecehkan pura. Ini pun sebenarnya tidak mudah. Begitu banyak pura dari mana diambil dananya? Lagi pula CCTV itu lebih banyak untuk menelusuri siapa yang telah berbuat tak senonoh untuk kepentingan penyidikan tindak pidana. Ada pun soal kecemeran (tidak sucinya) pura secara niskala tetap saja sudah terjadi dan perlu ada ritual pembersihan. Kecuali jika umat Hindu belapang dada dan tentu berdasarkan keyakinan bahwa hal-hal seperti itu tidak harus dianggap cemer (kotor) sehingga tidak perlu dibersihkan dengan ritual yang memakan banyak biaya. Bisakah hal ini diterima? (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar