16 September 2018

Hindari Jadi Orang Jahat


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

AJARAN Hindu sangat menghargai perbedaan dan keberagaman. Dalam kitab-kitab suci Hindu selalu ditekankan untuk menyayangi satu sama lain, semua makhluk hidup tak hanya sesama manusia. Karena pandangan Hindu seperti itu maka tak dibolehkan menyakiti makhluk hidup termasuk hewan sekali pun. Kalau pun ada hewan yang dibunuh maka semua itu dalam tataran korban suci sehingga diperlukan ritual meski pun kecil. Bukan pembunuhan berdasarkan kebencian, apalagi membunuh sesama manusia. Misalnya, yang dilakukan para teroris itu.
 
Kitab Bhagawadgita mengajarkan dengan pasti, jika seseorang ingin mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi, maka persyaratan dasarnya adalah memiliki jiwa toleransi, yakni sayang terhadap semua makhluk hidup. Dengan kata lain, jika jiwa toleransi tak dimiliki seseorang, maka jangan harap dapat menapaki tangga spiritual.

Sloka Bhagawadgita XVI.16 mengajarkan bagaimana kita memiliki rasa kasihan, iba, simpati dan rasa sayang untuk setiap makhluk di dunia ini. Jangan sampai kita menjadi orang yang jahat yang kemudian dikepung oleh berbagai kecemasan, suka berilusi yang ujung-ujungnya hanya menemui kesengsaraan alias neraka.

Pada Bhagawadgita XVI. 7 sebelumnya sudah diuraikan bagaimana orang jahat itu tidak mengerti tentang apa yang patut dilakukan dan apa yang tidak pantas dilakukan. Mereka tidak pernah menjaga kebersihan lahir batin dan bagi mereka tidak pernah menjalankan kebenaran, termasuk mempertahankan tingkah laku yang baik dan terpuji.

Kita wajib untuk menghindari diri terjerumus menjadi orang jahat. Kita harus berusaha terus menerus tanpa henti untuk menjadi orang yang saleh dan berusaha untuk hidup bersih lahir batin. Kitab Bhagawadgita pada bab ke enam belas ini banyak mengajarkan bagaimana hidup seperti itu. Hidup yang penuh dalam kesucian namun bebas dari rasa takut. Hidup dengan selalu mengembangkan pengetahuan rohani, melakukan pengendalian diri dan menjadi seorang yang dermawan. Melaksanakan korban-korban suci dalam bentuk yadnya sesuai dengan ajaran Weda. Tidak melakukan kekerasan juga tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Kasih sayang terhadap semua makhluk harus menjadi kuncinya. Lemah lembut tetapi kuat dalam prinsip. Bebas dari rasa iri hati dan selalu menjaga kehormatan diri.

Di era sekarang ini, lebih-lebih di tahun politik menjelang pemilihan umum serentak, kita pasti lebih mudah terjerumus menjadi orang yang jahat ketimbang menjadi orang yang saleh. Kita lebih sering mencari-cari kesalahan orang lain sambil selalu mengakui kebenaran diri kita sendiri. Kita iri melihat orang lain, apalagi orang lain itu adalah lawan politik kita. Lalu muncullah sifat permusuhan dan kita pun mudah terjerumus menjadi orang jahat.


Kalau kita berpegangan pada ajaran yang tersurat dalam Bhagawadgita maka kita punya tameng untuk menangkal sifat-sifat jahat ini. Ada dua sifat yang segera mengunci diri kita untuk tidak terjerumus. Jauhi nafsu untuk melakukan kekerasan dan kasih sayang terhadap semua mahkluk hidup. Kalau dua sifat itu saja bisa kita pegang, astungkara kita terhindar untuk menjadi orang jahat.

Karena itu dalam Hindu selalu ditekankan untuk berbuat welas asih kepada semua orang, termasuk terhadap orang yang berbeda keyakinan. Sebab, roh kita sama. Sama-sama merupakan percikan dari Hyang Widhi (Tuhan YME). Kedudukan kita di mata Tuhan akan ditentukan oleh sejauh mana kita mengupay­akan perbuatan baik dan mulia. Bukan didasarkan atas klaim dan kepongahan kita sendiri.

Ada sloka suci yang termuat dalam kitab Sri Isopanisad. Bunyinya: yas tu sarvani bhutan, atmany evanupasyati, sarva-bhutesu catmanam, tato na vijugupsate. Terjemahannya adalah: Orang yang melihat segala sesuatunya berhubungan dengan Tuhan, dan melihat segala makhluk hidup sebagai bagian-bagian dari Tuhan, yang memiliki sifat yang sama seperti Tuhan, serta melihat Tuhan di dalam segala sesuatu, ia tidak pernah merasa benci kepada sesuatu atau makhluk mana pun.

Nah, di sinilah rahasia keunggulan Hindu ditunjukkan. Bagaimana caranya agar kita tidak benci pada orang lain, yakni dengan cara melihat penghuni setiap badan adalah percikan Tuhan itu sendiri. Dalam Bhagawadgita hal itu disebutkan sebagai  “Aku bersemayam pada semua makhluk, dan dia juga melihat semua entitas hidup di dalam diri-Ku. Memang, mereka yang telah insaf, melihat Aku ada di mana-mana.” Marilah kita menjadi orang yang saleh. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar