Ida Pandita
Mpu Jaya Prema Ananda
AJARAN
Hindu sangat menghargai perbedaan dan keberagaman. Dalam kitab-kitab suci Hindu
selalu ditekankan untuk menyayangi satu sama lain, semua makhluk hidup tak
hanya sesama manusia. Karena pandangan Hindu seperti itu maka tak dibolehkan
menyakiti makhluk hidup termasuk hewan sekali pun. Kalau pun ada hewan yang
dibunuh maka semua itu dalam tataran korban suci sehingga diperlukan ritual
meski pun kecil. Bukan pembunuhan berdasarkan kebencian, apalagi membunuh
sesama manusia. Misalnya, yang dilakukan para teroris itu.
Kitab
Bhagawadgita mengajarkan dengan pasti, jika seseorang ingin mencapai tingkat
spiritual yang lebih tinggi, maka persyaratan dasarnya adalah memiliki jiwa
toleransi, yakni sayang terhadap semua makhluk hidup. Dengan kata lain, jika
jiwa toleransi tak dimiliki seseorang, maka jangan harap dapat menapaki tangga
spiritual.
Sloka
Bhagawadgita XVI.16 mengajarkan bagaimana kita memiliki rasa kasihan, iba, simpati dan rasa sayang
untuk setiap makhluk di dunia ini. Jangan sampai kita menjadi orang yang jahat
yang kemudian dikepung oleh berbagai kecemasan, suka berilusi yang
ujung-ujungnya hanya menemui kesengsaraan alias neraka.
Pada Bhagawadgita
XVI. 7 sebelumnya sudah diuraikan bagaimana orang jahat itu tidak mengerti
tentang apa yang patut dilakukan dan apa yang tidak pantas dilakukan. Mereka
tidak pernah menjaga kebersihan lahir batin dan bagi mereka tidak pernah
menjalankan kebenaran, termasuk mempertahankan tingkah laku yang baik dan
terpuji.
Kita wajib
untuk menghindari diri terjerumus menjadi orang jahat. Kita harus berusaha
terus menerus tanpa henti untuk menjadi orang yang saleh dan berusaha untuk
hidup bersih lahir batin. Kitab Bhagawadgita pada bab ke enam belas ini banyak
mengajarkan bagaimana hidup seperti itu. Hidup yang penuh dalam kesucian namun
bebas dari rasa takut. Hidup dengan selalu mengembangkan pengetahuan rohani,
melakukan pengendalian diri dan menjadi seorang yang dermawan. Melaksanakan
korban-korban suci dalam bentuk yadnya sesuai dengan ajaran Weda. Tidak
melakukan kekerasan juga tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Kasih sayang
terhadap semua makhluk harus menjadi kuncinya. Lemah lembut tetapi kuat dalam prinsip.
Bebas dari rasa iri hati dan selalu menjaga kehormatan diri.
Di era
sekarang ini, lebih-lebih di tahun politik menjelang pemilihan umum serentak,
kita pasti lebih mudah terjerumus menjadi orang yang jahat ketimbang menjadi
orang yang saleh. Kita lebih sering mencari-cari kesalahan orang lain sambil
selalu mengakui kebenaran diri kita sendiri. Kita iri melihat orang lain,
apalagi orang lain itu adalah lawan politik kita. Lalu muncullah sifat
permusuhan dan kita pun mudah terjerumus menjadi orang jahat.
Kalau kita
berpegangan pada ajaran yang tersurat dalam Bhagawadgita maka kita punya tameng
untuk menangkal sifat-sifat jahat ini. Ada dua sifat yang segera mengunci diri
kita untuk tidak terjerumus. Jauhi nafsu untuk melakukan kekerasan dan kasih
sayang terhadap semua mahkluk hidup. Kalau dua sifat itu saja bisa kita pegang,
astungkara kita terhindar untuk menjadi orang jahat.
Karena
itu dalam Hindu selalu ditekankan untuk berbuat welas asih kepada semua orang,
termasuk terhadap orang yang berbeda keyakinan. Sebab, roh kita sama. Sama-sama
merupakan percikan dari Hyang Widhi (Tuhan YME). Kedudukan kita di mata Tuhan
akan ditentukan oleh sejauh mana kita mengupayakan perbuatan baik dan mulia.
Bukan didasarkan atas klaim dan kepongahan kita sendiri.
Ada
sloka suci yang termuat dalam kitab Sri Isopanisad. Bunyinya: yas tu sarvani
bhutan, atmany evanupasyati,
sarva-bhutesu catmanam, tato na vijugupsate. Terjemahannya adalah: Orang yang
melihat segala sesuatunya berhubungan dengan Tuhan, dan melihat segala makhluk
hidup sebagai bagian-bagian dari Tuhan, yang memiliki sifat yang sama seperti
Tuhan, serta melihat Tuhan di dalam segala sesuatu, ia tidak pernah merasa
benci kepada sesuatu atau makhluk mana pun.
Nah,
di sinilah rahasia keunggulan Hindu ditunjukkan. Bagaimana caranya agar kita
tidak benci pada orang lain, yakni dengan cara melihat penghuni setiap badan
adalah percikan Tuhan itu sendiri. Dalam Bhagawadgita hal itu disebutkan
sebagai “Aku bersemayam pada semua
makhluk, dan dia juga melihat semua entitas hidup di dalam diri-Ku. Memang, mereka
yang telah insaf, melihat Aku ada di mana-mana.” Marilah kita menjadi orang
yang saleh. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar