Mpu Jaya Prema
SUDAH lama saya tak
bersua dengan Made Mangku Pastika. Terakhir kali mungkin ketika saya diundang
ke rumah jabatannya dalam pertemuan Word Hindu Parisad. Padahal banyak kegiatan
beliau yang seharusnya saya hadiri, baik yang berkaitan dengan tugas
pelestarian budaya, adat dan agama, mau pun urusan keluarga. Misalnya, ketika
beliau menikahkan putranya, yang seharusnya saya datang untuk membalas
kedatangan Mangku Pastika ketika saya menikahkan anak.
Apa boleh buat. Saya
terkena serangan jantung dan harus dioperasi kateter memasukkan dua ring dan
kini lebih banyak istirahat dalam rangka pemulihan. Aktifitas sangat terbatas,
keseharian hanya membaca dan kadang menulis tanpa harus memaksakan diri. Di
saat “kesepian” itulah tiba-tiba saya tersentak, Made Mangku Pastika bukan lagi
Gubernur Bali. Beliau telah mengakhiri masa tugasnya selama 2 periode (10
tahun) sebagai Gubernur Bali pada 29 Agustus lalu. Penggantinya berstatus
pejabat karena Wayan Koster, gubernur terpilih Bali yang kebetulan juga kawan
lama saat mengurus ormas Prajaniti, masih menunggu jadwal untuk dilantik
Presiden Joko Widodo.
Mangku Pastika pensiun.
Tentu sebuah berita yang biasa saja dan sudah diketahui banyak orang
sebelumnya. Nikmat yang sangat luar biasa dari tibanya masa pensiun adalah
mengakhiri tugas tanpa ada masalah. Menyelesaikan tugas dengan tenang dan
menyenangkan. Berbeda dengan mengakhiri tugas karena dipaksa, misalnya, dipecat
karena terlibat dalam kasus pidana. Entah itu korupsi atau pidana yang lain.
Ketika saya menjelang
pensiun, pertanyaan besar yang muncul adalah, apa yang akan saya lakukan
menyelesaikan kehidupan ini? Banyak alternatif pilihan. Terjun ke bidang
politik karena banyak teman yang mau mengajaknya dari berbagai partai politik. Menjadi
pengusaha merintis bisnis pribadi sehingga tak bisa diperintah orang lain. Atau
tetap bekerja di bidang pers ikut ajakan teman di stasiun televisi. Namun semua
alternatif itu gugur karena saya ingin pulang ke Bali. Kalah oleh cita-cita yang
sederhana dan lugu, yakni, kenapa harus repot-repot mencari harta di hari tua?
Anak-anak sudah besar dan bisa membiayai hidup saya, kenapa tidak melakukan
tahap Wanaprasta Ashrama saja dan syukur bisa sampai ke tahap Bhiksuka Asrama.
Itu jadi pilihan..
Mangku Pastika pernah
berkelakar akan mengikuti jejak saya. “Apalagi saya sudah mangku, kan tinggal
mediksa,” katanya bergurau karena namanya ada kata mangku yang bukan berarti pinandita. Kelakar itu saya jawab dengan
serius, bahwa Mangku Pastika masih sangat dibutuhkan oleh Bali, sementara saya
tidak dibutuhkan orang, paling hanya dibutuhkan umat dalam komunitas terbatas.
Saya pikir, bagaimana
mungkin Mangku Pastika bisa pensiun dengan melepaskan semua apa yang
dicita-citakannya tentang Bali? Banyak pekerjaan yang masih harus
diperhatikannya setidaknya pekerjaan itu masih harus diawasi. Perjuangannya
untuk meningkatkan SDM Bali yang unggul sudah dimulai dengan hasil yang nyata, dan
kini harus terus dijaga. Yakni dengan membangun SMA/SMK Bali Mandara di Kubu
Tambahan Singaraja. Ini sekolah unggulan dengan syarat yang sesungguhnya sangat
aneh, yakni, hanya orang miskin yang boleh masuk ke sana. Namun tahun ini
Mangku Pastika sudah membuat sekolah sejenis di Kaliasem, masih kawasan
Buleleng, tanpa ada syarat hanya untuk orang miskin itu.
Ide tentang
penyederhanaan ritual keagamaan di Bali yang sesuai dengan sastra dan mengacu
kepada keinginan para pendeta Hindu, juga harus tetap dilakukan Mangku Pastika.
Tentu beliau tidak bisa intervensi langsung ke masyarakat karena hanya
menimbulkan polemik. Tetapi Mangku Pastika bisa menularkan gagasan dan
perbaikan itu lewat memberikan pencerahan dengan memberi wadah diskusi yang
lebih banyak merangkul tokoh-tokoh agama. Wadahnya itu pun kini sudah tersedia
lewat Word Hindu Parisad dan beliau sudah dikerumuni para ahli agama, baik yang
berlatar akademisi maupun yang berlatar budaya. Mangku Pastika adalah presiden
(pimpinan tertinggi) organisasi Hindu dunia itu.
Karena itu Mangku
Pastika memang tak boleh pensiun dalam arti “diam di rumah hanya momong cucu” karena
masih dibutuhkan gagasannya yang brilyan. Dalam bidang kebudayaan, misalnya,
langkahnya yang “memperpanjang” Pesta Kesenian Bali dengan tambahan Bali Mahalango
adalah langkah yang terpuji. Usai Mahalango masih ditambah lagi Gelar Seni
Akhir Pekan Nawanatya. Taman Budaya Denpasar menjadi tetap hidup meski Pesta
Kesenian Bali sudah berakhir. Kelompok-kelompok seni yang tidak mendapat tempat
di PKB bisa pentas di Bali Mahalango. Gagasan melestarikan dan mengembangkan budaya
Bali agar tetap eksis menjadi cita-cita yang harus didukung.
Jauh sebelum Pilkada
Bali berlangsung, saya sempat mengira Mangku Pastika akan didaftarkan sebagai
calon legislatif oleh sebuah partai di Bali begitu mengakhiri jabatan gubernur.
Di satu sisi saya suka, karena akan muncul tokoh Bali yang vokal. Kelemahan
tokoh Bali yang ada selama ini adalah pergaulannya di tingkat nasional kurang
sehingga “tidak bunyi” di kancah politik nasional. Mangku Pastika adalah
jenderal polisi bintang tiga dengan jaringan yang luas. Namun di sisi lain,
saya kurang sreg karena Mangku Pastika akan menjadi tokoh partai dan kita tahu
bagaimana wajah partai saat ini. Dia tak akan total mewakili masyarakat Bali,
dan hanya bisa menjadi tokoh yang terkotak-kotak mengikuti partai politik.
Ternyata perkiraan saya
salah. Mangku Pastika “tidak bersedia” menjadi wakil rakyat mewakili partai dan
dia memilih menjadi calon wakil rakyat sebagai Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Tentu saya teramat senang dengan pilihan ini. Kalau terpilih dia akan menjadi
wakil rakyat Bali tanpa terkotak dalam partai.
Saya kira akan menjadi
komplit pengabdian Mangku Pastika kelak jika dia berhasil menjadi anggota DPD
dari Bali. Dengan jabatan tambahan Presiden Word Hindu Parisad, pembina sekolah
unggulan, maka sebagian permasalahan Bali akan berada dalam genggaman
pengabdiannya. Saya apresiasi apa yang dilakukan Mangku Pastika, hanya pensiun
sebagai gubernur Bali tetapi tidak pensiun dari perjuangan membangun Bali.
Aspirasi juga saya berikan kepada tokoh-tokoh Bali lainnya, seperti Anak Agung
Gde Agung, mantan Bupati Badung yang juga mau berebut jabatan DPD. Bali
memerlukan tokoh yang sudah terbukti bekerja dengan baik dan tokoh seperti ini belum
layaknya pensiun. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar