04 September 2018

Mangku Pastika Pensiun


Mpu Jaya Prema

SUDAH lama saya tak bersua dengan Made Mangku Pastika. Terakhir kali mungkin ketika saya diundang ke rumah jabatannya dalam pertemuan Word Hindu Parisad. Padahal banyak kegiatan beliau yang seharusnya saya hadiri, baik yang berkaitan dengan tugas pelestarian budaya, adat dan agama, mau pun urusan keluarga. Misalnya, ketika beliau menikahkan putranya, yang seharusnya saya datang untuk membalas kedatangan Mangku Pastika ketika saya menikahkan anak.

Apa boleh buat. Saya terkena serangan jantung dan harus dioperasi kateter memasukkan dua ring dan kini lebih banyak istirahat dalam rangka pemulihan. Aktifitas sangat terbatas, keseharian hanya membaca dan kadang menulis tanpa harus memaksakan diri. Di saat “kesepian” itulah tiba-tiba saya tersentak, Made Mangku Pastika bukan lagi Gubernur Bali. Beliau telah mengakhiri masa tugasnya selama 2 periode (10 tahun) sebagai Gubernur Bali pada 29 Agustus lalu. Penggantinya berstatus pejabat karena Wayan Koster, gubernur terpilih Bali yang kebetulan juga kawan lama saat mengurus ormas Prajaniti, masih menunggu jadwal untuk dilantik Presiden Joko Widodo.

Mangku Pastika pensiun. Tentu sebuah berita yang biasa saja dan sudah diketahui banyak orang sebelumnya. Nikmat yang sangat luar biasa dari tibanya masa pensiun adalah mengakhiri tugas tanpa ada masalah. Menyelesaikan tugas dengan tenang dan menyenangkan. Berbeda dengan mengakhiri tugas karena dipaksa, misalnya, dipecat karena terlibat dalam kasus pidana. Entah itu korupsi atau pidana yang lain.

Ketika saya menjelang pensiun, pertanyaan besar yang muncul adalah, apa yang akan saya lakukan menyelesaikan kehidupan ini? Banyak alternatif pilihan. Terjun ke bidang politik karena banyak teman yang mau mengajaknya dari berbagai partai politik. Menjadi pengusaha merintis bisnis pribadi sehingga tak bisa diperintah orang lain. Atau tetap bekerja di bidang pers ikut ajakan teman di stasiun televisi. Namun semua alternatif itu gugur karena saya ingin pulang ke Bali. Kalah oleh cita-cita yang sederhana dan lugu, yakni, kenapa harus repot-repot mencari harta di hari tua? Anak-anak sudah besar dan bisa membiayai hidup saya, kenapa tidak melakukan tahap Wanaprasta Ashrama saja dan syukur bisa sampai ke tahap Bhiksuka Asrama. Itu jadi pilihan..

Mangku Pastika pernah berkelakar akan mengikuti jejak saya. “Apalagi saya sudah mangku, kan tinggal mediksa,” katanya bergurau karena namanya ada kata mangku yang bukan berarti pinandita. Kelakar itu saya jawab dengan serius, bahwa Mangku Pastika masih sangat dibutuhkan oleh Bali, sementara saya tidak dibutuhkan orang, paling hanya dibutuhkan umat dalam komunitas terbatas.

Saya pikir, bagaimana mungkin Mangku Pastika bisa pensiun dengan melepaskan semua apa yang dicita-citakannya tentang Bali? Banyak pekerjaan yang masih harus diperhatikannya setidaknya pekerjaan itu masih harus diawasi. Perjuangannya untuk meningkatkan SDM Bali yang unggul sudah dimulai dengan hasil yang nyata, dan kini harus terus dijaga. Yakni dengan membangun SMA/SMK Bali Mandara di Kubu Tambahan Singaraja. Ini sekolah unggulan dengan syarat yang sesungguhnya sangat aneh, yakni, hanya orang miskin yang boleh masuk ke sana. Namun tahun ini Mangku Pastika sudah membuat sekolah sejenis di Kaliasem, masih kawasan Buleleng, tanpa ada syarat hanya untuk orang miskin itu.

Ide tentang penyederhanaan ritual keagamaan di Bali yang sesuai dengan sastra dan mengacu kepada keinginan para pendeta Hindu, juga harus tetap dilakukan Mangku Pastika. Tentu beliau tidak bisa intervensi langsung ke masyarakat karena hanya menimbulkan polemik. Tetapi Mangku Pastika bisa menularkan gagasan dan perbaikan itu lewat memberikan pencerahan dengan memberi wadah diskusi yang lebih banyak merangkul tokoh-tokoh agama. Wadahnya itu pun kini sudah tersedia lewat Word Hindu Parisad dan beliau sudah dikerumuni para ahli agama, baik yang berlatar akademisi maupun yang berlatar budaya. Mangku Pastika adalah presiden (pimpinan tertinggi) organisasi Hindu dunia itu.

Karena itu Mangku Pastika memang tak boleh pensiun dalam arti “diam di rumah hanya momong cucu” karena masih dibutuhkan gagasannya yang brilyan. Dalam bidang kebudayaan, misalnya, langkahnya yang “memperpanjang” Pesta Kesenian Bali dengan tambahan Bali Mahalango adalah langkah yang terpuji. Usai Mahalango masih ditambah lagi Gelar Seni Akhir Pekan Nawanatya. Taman Budaya Denpasar menjadi tetap hidup meski Pesta Kesenian Bali sudah berakhir. Kelompok-kelompok seni yang tidak mendapat tempat di PKB bisa pentas di Bali Mahalango. Gagasan melestarikan dan mengembangkan budaya Bali agar tetap eksis menjadi cita-cita yang harus didukung.

Jauh sebelum Pilkada Bali berlangsung, saya sempat mengira Mangku Pastika akan didaftarkan sebagai calon legislatif oleh sebuah partai di Bali begitu mengakhiri jabatan gubernur. Di satu sisi saya suka, karena akan muncul tokoh Bali yang vokal. Kelemahan tokoh Bali yang ada selama ini adalah pergaulannya di tingkat nasional kurang sehingga “tidak bunyi” di kancah politik nasional. Mangku Pastika adalah jenderal polisi bintang tiga dengan jaringan yang luas. Namun di sisi lain, saya kurang sreg karena Mangku Pastika akan menjadi tokoh partai dan kita tahu bagaimana wajah partai saat ini. Dia tak akan total mewakili masyarakat Bali, dan hanya bisa menjadi tokoh yang terkotak-kotak mengikuti partai politik.

Ternyata perkiraan saya salah. Mangku Pastika “tidak bersedia” menjadi wakil rakyat mewakili partai dan dia memilih menjadi calon wakil rakyat sebagai Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Tentu saya teramat senang dengan pilihan ini. Kalau terpilih dia akan menjadi wakil rakyat Bali tanpa terkotak dalam partai.

Saya kira akan menjadi komplit pengabdian Mangku Pastika kelak jika dia berhasil menjadi anggota DPD dari Bali. Dengan jabatan tambahan Presiden Word Hindu Parisad, pembina sekolah unggulan, maka sebagian permasalahan Bali akan berada dalam genggaman pengabdiannya. Saya apresiasi apa yang dilakukan Mangku Pastika, hanya pensiun sebagai gubernur Bali tetapi tidak pensiun dari perjuangan membangun Bali. Aspirasi juga saya berikan kepada tokoh-tokoh Bali lainnya, seperti Anak Agung Gde Agung, mantan Bupati Badung yang juga mau berebut jabatan DPD. Bali memerlukan tokoh yang sudah terbukti bekerja dengan baik dan tokoh seperti ini belum layaknya pensiun. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar