Mpu Jaya Prema
SEBENTAR lagi kita memperingati hari kemerdekaan
17 Agustus. Bendera merah putih sudah banyak berkibar. Penjual
bendera pun sudah ada di mana-mana. Umumnya mereka adalah pendatang dan ke Bali sudah lengkap dengan bendera
yang akan dijualnya. Masyarakat Bali jarang yang mau mengambil peran sebagai
pedagang bendera pinggir jalan, bahkan untuk berdagang kambing menjelang Idul
Adha saja jarang.
Apakah masyarakat Bali belum merdeka
secara sosial budaya? Kenapa banyak kreatifitas sosial
budaya yang harus ditopang oleh para pendatang? Pertanyaannya bisa juga dibalik begini: Kenapa harus merdeka,
bukankah Bali tak pernah merasa dijajah secara budaya? Sebuah wilayah budaya yang merasa tak pernah
dijajah, tentu saja tak pernah merasakan apa artinya merdeka.
Masalah ini memang susah untuk dijelaskan. Sulit menjelaskan
bagaimana budaya yang terjajah dan bagaimana budaya yang merdeka. Orang Bali
merasa bebas merdeka mempergunakan bahasa, mau pakai bahasa Indonesia atau bahasa
Bali, terserah. Bahkan sudah banyak yang memakai bahasa Jawa sebagai ekspresi
kebebasan dan sekaligus menunjukkan pernah merantau ke Jawa. Atau untuk
gengsi-gengsian dan
juga guyonan. Contohnya orang sudah umum memakai kata “mbak” untuk menyebut
kakak perempuan, bukan lagi memakai kata “mbok”, karena “mbok” di Jawa artinya
ibu. Orang Bali sudah memakai kata “kates” untuk pepaya, bukan lagi kata
“gedang” karena “gedang” berarti pisang di Jawa. Bukankah Bali sudah dijajah
secara budaya lewat bahasa?
Bahasa Bali menjadi
terpinggirkan, tak diminati oleh anak-anak muda sebagai bahasa pergaulan. Penyiar radio swasta sudah
berkoar-koar dengan “bahasa gaul”, paduan bahasa Indonesia slank dan Jawa. Betul
mulai banyak ada kursus privat pelajaran bahasa Bali, les tambahan buat
anak-anak SD. Peserta kursus bukan turis asing, tetapi orang yang lahir di
Bali sendiri, yang tak mengenal aksara dan bahasa Bali secara benar, karena ibunya yang juga orang
Bali tak bisa mengajarinya. Malah ibu dan bapaknya berbahasa Indonesia.
Sastrawan Bali moderen mendiang Made Sanggra pernah
berkata, bahasa Bali "sedang terjajah dan berusaha untuk merdeka". Kenapa beliau menyebut berusaha
merdeka? Karena ada radio-radio swasta yang siaran dalam bahasa Bali. Bahkan ada radio yang saat itu sepenuhnya
siaran bahasa Bali. Sekarang dengan alasan iklan dan sponsor kurang, radio itu
kembali berbahasa campuran, bahasa Bali hanya untuk pengantar lagu pop Bali.
Kalau Made Sanggra masih hidup, pasti beliau kecewa, karena “bahasa Bali belum
juga merdeka” dari “penjajah bahasa” lain.
Budaya mendongeng dengan menggunakan bahasa Bali juga
mulai luntur. Ini menggerakkan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)
Singaraja menyelenggarakan Pelatihan Mendongeng bagi guru SD di Kabupaten
Buleleng. Kegiatan ini bekerjasama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB)
Bali yang melibatkan staf pengajar di tiga fakultas Undiksha. Sebuah usaha
pelestarian yang bagus sekaligus mengangkat kembali cerita-cerita rakyat Bali
yang bisa dijadikan bahan dongeng.
Sesungguhnya bukan cuma dalam bahasa daerah saja Bali
dijajah, tetapi juga dalam kehidupan sosial budaya keagamaan. Sarana yang
dipakai dalam ritual keagamaan
sudah
dijajah oleh budaya luar. Kebanyakan sarana ritual Hindu di Bali tidak lagi bisa diproduksi oleh alam Bali. Janur, kelapa, telur
hampir semua didatangkan
dari luar Bali. Bahkan bunga dan buah-buahan yang dipakai ritual juga datang
dari luar. Orang maturan sudah memakai apel dan buah pear impor yang dibeli di pasar
swalayan.
Kemana buah sotong, buah jambu, buah wani yang dulu banyak tumbuh di Bali?
Padahal hakekat maturan adalah mempersembahkan hasil alam sendiri. Dalam hal ini ide gubernur
terpilih Bali, I Wayan Koster yang punya program kemandirian pangan patut
diapresiasi.
Pantai di Bali sudah jarang dihiasi nyiur melambai,
sebagai mana lirik lagu wajib di masa lalu. Pantai sudah dihiasi beton hotel,
villa atau restoran. Pohon enau (jaka
menurut orang Bali) juga jarang, karena itu orang Bali bangga dengan adanya
“busung dari Sulawesi” yang kini berton-ton memasuki wilayah Bali lewat
pelabuhan Benoa.
Dupa yang banyak beredar di pedesaan Bali adalah dupa
yang mengandung zat kimia. Menurut seorang dokter di RSUP Sanglah sudah banyak
pemangku dan sulinggih yang menderita kelainan di paru-paru karena menghirup
asap dupa berzat kimia itu. Harganya memang murah. Syukur ada orang Bali yang
tergerak memproduksi dupa herbal, bahannya antara lain, bunga kamboja. Tetapi
dari mana datangnya bunga kamboja itu? Dari Kabupaten Probolinggo dan
Situbondo. Padahal di Bali banyak pohon kamboja, cuma pohon itu seperti tak
dipelihara dibiarkan tinggi sehingga bunganya sulit dipetik.
Di Pasar Sanglah dan Pasar Badung sudah banyak dijual
sarana upacara yang kecil-kecil seperti canang sari, daksina, pejati. Di antara
mereka ada yang bukan orang Bali dan bukan umat Hindu. Memang mereka mengaku
hanya menjualnya saja, yang membuat orang Bali. Tapi kenyataannya pedagang yang
non-Bali itu sambil menunggu pembeli sudah bisa merangkai canang sari dan
membuat ketupat untuk pejati.
Sudah saatnya dirumuskan kembali sebuah kebijakan
yang mendasar untuk membentengi budaya Bali dari "penjajahan budaya"
yang datang dari luar. Kita punya slogan yang mentereng soal ini, misalnya,
pariwisata budaya. Tapi,
tak
pernah lagi kita evaluasi, apa benar pariwisata yang ada sekarang ini
menguntungkan budaya Bali? Mari
kita duduk bersama untuk merumuskan kembali strategi kebudayaan di Bali, jangan hanya bisa menyalahkan
saja, berikan solusi. Budaya
berubah itu sudah jamak, tetapi biarlah perubahan itu dilakukan oleh pendukung
budayanya. Harapan kita kini tertuju kepada gubernur dan wakil gubernur Bali
yang baru, apa benar visi dan missi mereka untuk pelestrarian budaya Bali bisa
dilaksanakan. Agar kita bisa merdeka secara budaya. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar