14 Agustus 2018

Merdeka Secara Budaya


Mpu Jaya Prema

SEBENTAR lagi kita memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus. Bendera merah putih sudah banyak berkibar. Penjual bendera pun sudah ada di mana-mana. Umumnya mereka adalah pendatang dan ke Bali sudah lengkap dengan bendera yang akan dijualnya. Masyarakat Bali jarang yang mau mengambil peran sebagai pedagang bendera pinggir jalan, bahkan untuk berdagang kambing menjelang Idul Adha saja jarang.

Apakah masyarakat Bali belum merdeka secara sosial budaya? Kenapa banyak kreatifitas sosial budaya yang harus ditopang oleh para pendatang? Pertanyaannya bisa juga dibalik begini: Kenapa harus merdeka, bukankah Bali tak pernah merasa dijajah secara budaya? Sebuah wilayah budaya yang merasa tak pernah dijajah, tentu saja tak pernah merasakan apa artinya merdeka.

Masalah ini memang susah untuk dijelaskan. Sulit menjelaskan bagaimana budaya yang terjajah dan bagaimana budaya yang merdeka. Orang Bali merasa bebas merdeka mempergunakan bahasa, mau pakai bahasa Indonesia atau bahasa Bali, terserah. Bahkan sudah banyak yang memakai bahasa Jawa sebagai ekspresi kebebasan dan sekaligus menunjukkan pernah merantau ke Jawa. Atau untuk gengsi-gengsian dan juga guyonan. Contohnya orang sudah umum memakai kata “mbak” untuk menyebut kakak perempuan, bukan lagi memakai kata “mbok”, karena “mbok” di Jawa artinya ibu. Orang Bali sudah memakai kata “kates” untuk pepaya, bukan lagi kata “gedang” karena “gedang” berarti pisang di Jawa. Bukankah Bali sudah dijajah secara budaya lewat bahasa?


Bahasa Bali menjadi terpinggirkan, tak diminati oleh anak-anak muda sebagai bahasa pergaulan. Penyiar radio swasta sudah berkoar-koar dengan “bahasa gaul”, paduan bahasa Indonesia slank dan Jawa. Betul mulai banyak ada kursus privat pelajaran bahasa Bali, les tambahan buat anak-anak SD. Peserta kursus bukan turis asing, tetapi orang yang lahir di Bali sendiri, yang tak mengenal aksara dan bahasa Bali secara benar, karena ibunya yang juga orang Bali tak bisa mengajarinya. Malah ibu dan bapaknya berbahasa Indonesia.

Sastrawan Bali moderen mendiang Made Sanggra pernah berkata, bahasa Bali "sedang terjajah dan berusaha untuk merdeka". Kenapa beliau menyebut berusaha merdeka? Karena ada radio-radio swasta yang siaran dalam bahasa Bali. Bahkan ada radio yang saat itu sepenuhnya siaran bahasa Bali. Sekarang dengan alasan iklan dan sponsor kurang, radio itu kembali berbahasa campuran, bahasa Bali hanya untuk pengantar lagu pop Bali. Kalau Made Sanggra masih hidup, pasti beliau kecewa, karena “bahasa Bali belum juga merdeka” dari “penjajah bahasa lain.

Budaya mendongeng dengan menggunakan bahasa Bali juga mulai luntur. Ini menggerakkan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyelenggarakan Pelatihan Mendongeng bagi guru SD di Kabupaten Buleleng. Kegiatan ini bekerjasama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bali yang melibatkan staf pengajar di tiga fakultas Undiksha. Sebuah usaha pelestarian yang bagus sekaligus mengangkat kembali cerita-cerita rakyat Bali yang bisa dijadikan bahan dongeng.

Sesungguhnya bukan cuma dalam bahasa daerah saja Bali dijajah, tetapi juga dalam kehidupan sosial budaya keagamaan. Sarana yang dipakai dalam ritual keagamaan sudah dijajah oleh budaya luar. Kebanyakan sarana ritual Hindu di Bali tidak lagi bisa diproduksi oleh alam Bali. Janur, kelapa, telur hampir semua didatangkan dari luar Bali. Bahkan bunga dan buah-buahan yang dipakai ritual juga datang dari luar. Orang maturan sudah memakai apel dan buah pear impor yang dibeli di pasar swalayan. Kemana buah sotong, buah jambu, buah wani yang dulu banyak tumbuh di Bali? Padahal hakekat maturan adalah mempersembahkan hasil alam sendiri. Dalam hal ini ide gubernur terpilih Bali, I Wayan Koster yang punya program kemandirian pangan patut diapresiasi.

Pantai di Bali sudah jarang dihiasi nyiur melambai, sebagai mana lirik lagu wajib di masa lalu. Pantai sudah dihiasi beton hotel, villa atau restoran. Pohon enau (jaka menurut orang Bali) juga jarang, karena itu orang Bali bangga dengan adanya “busung dari Sulawesi” yang kini berton-ton memasuki wilayah Bali lewat pelabuhan Benoa.

Dupa yang banyak beredar di pedesaan Bali adalah dupa yang mengandung zat kimia. Menurut seorang dokter di RSUP Sanglah sudah banyak pemangku dan sulinggih yang menderita kelainan di paru-paru karena menghirup asap dupa berzat kimia itu. Harganya memang murah. Syukur ada orang Bali yang tergerak memproduksi dupa herbal, bahannya antara lain, bunga kamboja. Tetapi dari mana datangnya bunga kamboja itu? Dari Kabupaten Probolinggo dan Situbondo. Padahal di Bali banyak pohon kamboja, cuma pohon itu seperti tak dipelihara dibiarkan tinggi sehingga bunganya sulit dipetik.

Di Pasar Sanglah dan Pasar Badung sudah banyak dijual sarana upacara yang kecil-kecil seperti canang sari, daksina, pejati. Di antara mereka ada yang bukan orang Bali dan bukan umat Hindu. Memang mereka mengaku hanya menjualnya saja, yang membuat orang Bali. Tapi kenyataannya pedagang yang non-Bali itu sambil menunggu pembeli sudah bisa merangkai canang sari dan membuat ketupat untuk pejati.

Sudah saatnya dirumuskan kembali sebuah kebijakan yang mendasar untuk membentengi budaya Bali dari "penjajahan budaya" yang datang dari luar. Kita punya slogan yang mentereng soal ini, misalnya, pariwisata budaya. Tapi, tak pernah lagi kita evaluasi, apa benar pariwisata yang ada sekarang ini menguntungkan budaya Bali? Mari kita duduk bersama untuk merumuskan kembali strategi kebudayaan di Bali, jangan hanya bisa menyalahkan saja, berikan solusi. Budaya berubah itu sudah jamak, tetapi biarlah perubahan itu dilakukan oleh pendukung budayanya. Harapan kita kini tertuju kepada gubernur dan wakil gubernur Bali yang baru, apa benar visi dan missi mereka untuk pelestrarian budaya Bali bisa dilaksanakan. Agar kita bisa merdeka secara budaya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar