Putu Setia @mpujayaprema
Gempa itu peristiwa alam
biasa. Bukan rekayasa adu kebohongan atau mempermalukan orang seperti cara
memilih calon wakil presiden. Memang para ahli geologi belum bisa memprediksi kapan
gempa itu terjadi. Tapi, lempengan dan patahan yang ada di bumi, sudah bisa dipelajari
dan Indonesia
adalah negeri yang rawan gempa.
Namun kita akan menjadi
bangsa yang sulit maju –dengan bahasa lebih kasar tetap dungu – jika setiap ada
gempa dikaitkan dengan hal-hal yang tak nalar. Misalnya menyebut gempa 7 Skala
Richter di Lombok yang terjadi Ahad lalu disebabkan Gubernur NTB mengalihkan
dukungan ke Jokowi.
Bercanda? Bisa jadi, meski
kurang etis bercanda di tengah anak-anak pengungsi yang kelaparan. Juga kurang
elok jika gempa dikaitkan dengan ramalan yang nyaris takhayul. Contohnya
membuka primbon Jawa lalu menemukan
catatan, gempa bumi yang terjadi di bulan Dzul Qaidah
adalah alamat akan terjadi kekacauan dalam negara, ada perebutan kekuasaan.
Uniknya di setiap etnis budaya bertebaran primbon semacam itu. Di Bali ada primbon yang menyebutkan, gempa di Sasih
Karo (bulan kedua kalender Saka Bali) yang terjadi Ahad lalu pertanda banyak
orang saling memfitnah.
Kalau dikait-kaitkan dengan situasi saat ini, bisa jadi masuk
akal. Bukankah menjelang pemilu serentak
yang juga memilih presiden, kekuasaan diperebutkan dengan licik? Dan bukankah
dalam perebutan kekuasaan itu fitnah berseliweran, baik fitnah yang serius mau
pun fitnah yang rada bercanda, seperti adanya jendral kardus? Masalahnya,
apakah kita mau terseret pada cara-cara seperti ini untuk memaknai datangnya
gempa.
Harusnya kita berpikir yang jauh lebih rasional apa yang
perlu kita evaluasi setelah gempa terjadi. Yakni, kalau kita menyadari hidup di
negeri yang rawan gempa bagaimana seharusnya kita menyiasati hidup ini agar
korban tak banyak berjatuhan saat bencana alam itu datang. Posisi negeri kita
sudah jelas berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu lempeng Eurasia,
Indoaustralia dan Pasifik. Gempa sewaktu-waktu datang, bagaimana pemukiman dan kota-kota
yang berada di jalur lempeng utama dunia itu harus dibangun.
Gempa
besar dengan pusat di Bali Utara – masih dalam garis lempeng utama dunia
seperti halnya di Lombok – terjadi tahun 1976. Ribuan rumah luluh lantak, empat
ratus jiwa lebih korban tewas. Namun rumah-rumah tradisional Bali, terutama
lumbung padi yang hampir setiap keluarga memiliki, tak ada yang roboh. Di pusat
gempa seperti Seririt paling bangunan itu miring. Kenapa begitu sakti? Ternyata
leluhur kita punya teknik membuat bangunan yang tahan goyangan. Sambungan kayu
tak memakai paku tetapi menggunakan apa yang disebut lait dengan ikatan tali yang kuat tetapi elastis.
Direktorat
Cipta Karya kemudian menyebarkan teknik yang dikuasai para undagi (sebutan arsitek tradisional Bali) itu dengan menerbitkan
buku pedoman bagaimana membangun di kawasan rawan gempa. Masyarakat
mengikutinya karena memang trauma dengan musibah gempa.
Kini, masih adakah bangunan tahan gempa itu? Sudah lama hilang. Bahkan
pemerintah sudah tak lagi peduli apa itu bangunan tahan gempa, apalagi
rakyatnya mungkin juga tak tahu. Teori para leluhur bagaimana membangun di
kawasan rawan gempa barangkali cuma ada di rak perpustakaan fakultas teknik
arsitektur. Alasan kenapa hal itu dilupakan juga menarik: kan sudah lama tak
ada gempa.
Apa
kita cukup berdoa agar gempa tak datang? Lalu kalau ada gempa kita mencari siapa
yang disalahkan sembari mengkaitkan dengan situasi kekinian? Betapa dungunya
kita.
(Koran Tempo Akhir Pekan 11 Agustus 2018)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar